Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 80


__ADS_3

Walaupun berat meninggalkan pekarangan rumah Romo, setidaknya pria itu sudah bertemu dan memadu rindu. Walau sebentar, dan tentunya tidak puas, namun cukup mengobati dahaga selama tiga hari ini.


Pria itu harus memutar strategi untuk mencuri-curi waktu bertemu. Tentu saja untuk menghindari amukan Romo yang semakin posesif terhadap putrinya.


Ngomong-ngomong soal Romo, beliau sangat galak, untung orang tuanya Inggit, kalau bukan, pasti Biru sudah jengkel. Hehehe. Perjuangan masih belum berakhir, masa iya harus menunggu satu minggu kemudian untuk bertemu, tentu saja pria itu tidak betah.


Otak Biru berpikir keras untuk kelangsungan hidupnya. Seminggu itu terlalu lama. Libur kuliah yang seharusnya digunakan untuk belajar, malah pria itu sibuk memikirkan rasa kangen dan rindu.


Baru saja Biru memikirkan istrinya, tiba-tiba ponsel pria itu bergetar, sedikit mengintip, menemukan nama my love di layar ponselnya. Kedua sudut bibirnya melengkung tanpa permisi, dengan sigap menerima panggilan itu.


"Hai ... lagi apa? Ponsel kamu udah nggak disita?"


"Udah aman, baru dikasih Romo tadi. Kamu lagi apa?"


"Lagi mikirin kamu, kapan ya kita nggak LDR lagi, aku bisa peluk kamu sepanjang malam."


"Kapan-kapan, kamu buktikan dulu ke Romo."


"Iya, itu pasti. Nggit, besok kita ketemu ya?"


"Nggak dibolehin keluar, mungkin selama seminggu ini kita fokus dulu buat belajar, kita ketemunya nanti aja ya setelah UAS selesai."


"Ya Allah ... itu sih lama, tega amat."


"Dua minggu, selamat belajar, jangan lupa istirahat yang cukup, makan teratur, dan tetap mencintaiku walau rumit."


"Ah ... dua minggu, mungkin aku nggak kuat."

__ADS_1


"Bisa, Al. Selamat beristirahat sayang, have a nice dream."


"Panggil apa? Sekali lagi, aku pingin denger."


"Udah lewat, udah ya, dada ...."


"Inggit ... jangan dimatiin, aku pengen nemenin kamu belajar. Kita belajar bareng."


"Aku mau tidur, Al. Ngantuk ...."


"Bilang sayang dulu kaya tadi."


"Dih ... nggak mau."


"Inggit!"


"Apa, sayang?"


Pasangan muda itu kaya anak alay yang baru jadian. Spontan keduanya ngakak bersama menyikapi kelakuan masing-masing dirinya. Hampir setiap hari, malam, jam, menit, dan detik. Mereka selalu menyempatkan diri berhubungan via udara.


Seminggu lebih, mereka benar-benar menjalani LDR. Inggit dan Biru hanya berhubungan via telpon dan itupun tidak mesti Inggit bisa setiap saat seperti keinginan Biru. Hari-hari Inggit juga kembali seperti semula. Menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang, kuliah pulang. Nyaris tak ada kesempatan untuk Biru menemui. Mereka sibuk mengikuti UAS bersama. Inggit yang diharuskan pulang tepat waktu, rupanya Romo semakin protektif mengamati dirinya. Inggit juga sudah mewanti-wanti suaminya, kalau dirinya tidak suka mempunyai suami yang kurang pintar. Jadi, Biru teramat serius menjalankan belajar untuk ujian semester ini.


Dua minggu LDR itu rasanya biasa saja bagi Inggit, sebab masih berhubungan via handphone. Masih bisa telpon, chat, vidio call, yang pastinya membuat keduanya semakin dekat satu sama lain. Saling memberi semangat, dan support untuk belajar. Namun, tentu saja tidak untuk Biru, laki-laki itu sudah tidak tahan ketika hari terakhir mengikuti UAS, ia sudah menunggu Inggit di luar kelas. Sengaja menunggu gadis itu yang ternyata masih ada ujian praktik secara lisan.


Cukup lama Biru menunggu, tapi tentu saja tidak menjadi masalah. Walaupun setiap hari melakukan panggilan vidio, serasa cukup berbeda kalau bertemu langsung, dan itu membuat keduanya bagai senam ritmik. Mendadak deg degan tak tentu arah.


Sayangnya, saat Biru tengah menunggu, pria itu mendadak mendapat panggilan dari Ares. Rival yang menjelma jadi sahabat itu, mengabari kalau dirinya melihat Hilda yang tengah berkeliaran disekitar jalan kampus. Biru pun dengan berat hati meninggalkan Inggit, dan langsung menuju tempat lokasi yang ditunjuk Ares. Benar saja, ada Hilda di sana. Perempuan itu terlihat sedang menikmati makan siang dengan santainya di kedai yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus. Saat Biru hendak mendekat dan menyapanya, tanpa diduga, seorang Ibu sebaya dengan Mama Diana nampak mengamuk memasuki kedai. Biru menyaksikan sendiri, perempuan yang tak lagi muda itu menyerang Hilda secara tiba-tiba.

__ADS_1


Bukan hanya mengata-ngatai dengan umpatan kasar, wanita itu rupanya juga bertindak kasar. Menyiram tubuh Hilda dengan minuman yang ada di mejanya, dan naasnya itu panas, membuat Hilda menjerit kesakitan. Belum genap rasa hati dibuat melongo, Biru yang masih mematung di tempatnya dibuat lebih kaget saat perempuan itu menarik lengan Hilda dan menghempaskannya hingga perempuan itu membentur sudut meja. Spontan darah segar nampak keluar dari ************ wanita itu. Hilda pingsan, Biru yang berada di lokasi kejadian, langsung sigap membantu dan membawanya ke rumah sakit.


Setelah Hilda mendapat perawatan, Biru segera menghubungi Inggit untuk memberi kabar perihal dirinya yang sedang di rumah sakit. Namun tak ada sahutan, berkali-kali Biru telpon, panggilan itu tidak diangkat. Biru pun menjadi cemas sendiri.


Setidaknya dengan dirinya terjebak di rumah sakit, Biru menjadi tahu seputar kondisi Hilda yang sesungguhnya. Ini adalah kesempatan pria itu untuk mengetahui kondisi kehamilan mantan pacarnya itu.


"Dengan keluarga pasien Hilda Wulandari?" Seorang Dokter berseru.


"Saya, Dok. Bagaimana kondisi Hilda?"


"Mas suaminya?"


"Mmm ... apa Hilda baik-baik saja, mm ... maksud saya, apa dia hamil dan baik-baik saja."


"Bapak yang sabar ya, benturan yang cukup keras membuat Ibu Hilda keguguran, kondisi kehamilan yang masih begitu muda, seharusnya Bapak bisa menjaga istri Bapak dengan hati-hati."


"Maaf, Dok, saya bukan suaminya, tapi saya yang akan membantu biaya perawatan saudara Hilda. Jadi, dokter sampaikan saja informasi mengenai kondisi pasien."


Dokter menjelaskan, kesempatan Biru untuk mengetahui kondisi kehamilan Hilda yang sesungguhnya. Mungkin itu berita buruk untuk Hilda, namun entah mengapa Biru mendadak lega. Bukan berarti jahat, atau bahagia di atas derita orang lain. Biru yang memang sedang mencari tahu kondisi kehamilan Hilda yang sesungguhnya menjadi tahu. Benar saja karma di bayar kontan. Hilda benar-benar mendapat ganjaran dengan kelakuan dirinya, terbukti perempuan itu kehilangan janin dan juga menurut keterangan dokter akan sulit untuk mempunyai keturunan lagi.


"Tolong sampaikan ke keluarga pasien, Mas. Pasien harus menjalani rawat inap karena kondisinya yang butuh penanganan lebih lanjut."


"Lakukan saja, Dok. Saya yang bertanggung jawab untuk biayanya, kebetulan kami teman dekat, teman saya di tanah rantau sendirian."


Usai berbincang dengan Dokter, Biru menemui Hilda di ruang rawat. Perempuan itu nampak pucat, dengan selang infus yang menghiasi tangannya.


"Terima kasih, Al. Aku tahu kamu masih peduli sama aku, kamu sebenarnya masih sayang 'kan Al, sama aku?"

__ADS_1


"Kamu salah, Da, aku tidak peduli, tapi aku kasian terhadap dirimu. Setelah ini, aku mohon, jangan ganggu lagi hubunganku dengan Inggit, sudah cukup banyak kamu membuat istriku menderita dengan fitnah yang kamu buat, aku rasa ini adalah sebuah karma untukmu," jelas Biru menohok. Hilda nampak muram, namun Biru tak peduli, setidaknya ia mendapat petunjuk dari kejadian ini, Biru menjadi tahu kalau Hilda tidak benar-benar mengandung anaknya.


"Iya, aku berjanji, tapi tolong jangan kasih tahu kondisiku dengan orang tuaku, sama terakhir permintaanku, aku mau selama di rumah sakit, kamu yang menemaniku, Al?" pintanya penuh pengharapan.


__ADS_2