Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 42


__ADS_3

"Gue mau jawab sekarang, tapi sayang jauh dari rumah sakit, takutnya lo pada kejang terus wassalam, 'kan ngrepotin gue," jawabnya lebay.


"Tahan ya Bro, tahan. Besok siang kalau lo sudah pada sarapan, dalam keadaan siap menerima kenyataan baru gue kasih cerita yang sesungguhnya berdasarkan fakta yang ada."


Sebenarnya kalau boleh jujur, Biru yang meminta waktu karena selama ini mengibarkan bendera anti perasaan, dan malah sekarang terjerat virus penasaran. Eh, malah nyangkut harapan, membuat pria dua puluh satu tahun itu dilanda kegalauan akut yang perlu diluruskan.


"His! Ribet Kartoyo mah, bilang aja lo lagi ngincer mangsa selanjutnya, mana ada istri yang mau tinggal terpisah. Antara Jakarta dan Jogja ... membelenggu rinduuuu ... " Nathan autho nyanyi.


"Terserah! Percaya syukur nggak percaya syukurin, salah siapa nggak percaya. Gue mah jujur, siapa tahu setelah badai akan ada pelangi."


"Tetep nggak per ca ya," ucap Nathan berjeda.


"Ya ampun ... capek juga nyetir dari Jakarta, cepetan gih gue pengen istirahat." Nathan memarkirkan mobilnya di sebuah halaman penginapan khas Jogja. Berdasarkan informasi dari Bram, rombongan field trip menginap di Omah Petruk.


"Tempatnya sejuk bingit, ini mah siang sebentar cocok buat penyejukan mata," celetuk Devan.


Setelah memesan layanan kamar, trio bussy segera menuju kamar yang telah di booking. Nathan dan Devan langsung tertidur karena hari masih terlalu pagi, sementara Biru sibuk sendiri mengintai tempat sekitar.


Di sisi lain Inggit baru saja sampai di penginapan sejam yang lalu. Gadis itu baru saja menyelesaikan mandi pagi setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Inggit tidak sendiri, ia sekamar dengan Mala dan Okta.


Inggit baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang ketika ponselnya berdering. Terlihat jelas nama Biru yang tertera di sana, gadis itu melihat sekilas lalu membiarkan saja handphonenya memekik.


"Nggit, HP lo bunyi tuh, angkat dong berisik tahu," protes Mala merasa terganggu.


"Iya, siapa tahu penting, sepagi ini kalau bukan doi siapa lagi yang bakalan hubungin seseorang," timpal Okta.


"Ini orang ngapain sih nelfonin gue pagi-pagi, kurang kerjaan banget," gerutu Inggit lirih. Menatap layar ponselnya dengan malas.


Setelah deringan ketiga yang cukup membuat ruangan tak nyaman. Inggit dengan malas menerima panggilan dari seseorang yang tidak ingin Inggit sapa.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Al, kenapa?" sapanya lembut.


"Waalaikum salam, apa lo sudah sampai, kenapa tidak memberi kabar?" tanya seseorang di ujung telfon.


"Gue sudah sampai sejam yang lalu, ini baru selesai mandi, masih ada yang mau ditanyakan, maaf Al, telfonnya gue tutup dulu."


"Owh ... syukurlah, gue cuma mau bilang gitu sih, good luck buat hari ini, semangat!" ucapnya mendadak gugup.


"Makasih." Sambungan telfon langsung dimatikan. Ini adalah panggilan pertama Biru untuk Inggit dengan nada yang berbeda, entah mengapa Biru mendadak gugup mendengar suara lembutnya. Perasaan apa ini, Biru bahkan tidak pernah terkena termor cemas sedikitpun jika berhubungan dengan seorang wanita, semua terasa hambar dan tidak pernah terbesit untuk memperhatikan lebih detail. Tapi kalau boleh jujur, kali ini benar-benar beda, hanya mendengar lewat panggilan telfon saja membuat hatinya ser-seran.


"Ah ... jantung gue." Biru meraba dadanya sendiri. Sayangnya pria itu bahkan tidak menyimpan satu foto pun istrinya. Ia senyum-senyum sendiri tidak jelas.


Lain Biru lain juga Inggit, perempuan itu bahkan menganggap telfon dari Biru biasa saja dan tidak berefek apapun pada dirinya, ia malah menganggap itu hal yang aneh, mengingat suaminya itu sangat tidak menyukai dirinya. Terlalu sering mendrama, membuat Inggit tidak merespon kelakuan Biru yang kadang perhatian, kadang juga menjengkelkan. Ia malah semakin waspada, karena polah pria tersebut suka sulit ditebak, kadang kelakuan dan kenyataan di lapangan tidaklah sama.


Ares langsung menghampiri Inggit dengan menjemput langsung ke kamarnya. Mereka akan melakukan sarapan bersama sebelum acara dimulai.


"Gue siap-siap bentar, Res, lo tunggu depan aja, nggak enak sama yang lainnya," ucap Inggit sungkan. Jelas merasa tidak enak, dan aneh. Ares mengiyakan, ia tersenyum simpul sebelum pergi dari depan kamar Inggit.


"Ck! Pagi-pagi nyamperin istri orang." Biru berdecak sebal, laki-laki itu mengamati dari penginapan sebelah dengan teropong monocular di tangannya. Benar-benar seperti pengintai sesungguhnya.


Biru mengawasi pergerakan Inggit dari jauh, istrinya terlihat sangat antusias mengikuti semua kegiatan bersama kelompoknya. Mulai dari kunjungan ke museum Demata yang memberikan tric 3 dimensi. Pusat kerajinan perak kota gede. Berkunjung ke sebuah usaha bahan makanan Djamuran, usaha yang berasal dari jamur. Bahkan di sana Biru sempat membelinya sebagai cemilan. Inggit masih belum tahu bahwa Biru mengintai dirinya.


Perjalanan berlanjut ke sebuah Desa Kasongan, atau biasa disebut Desa penghasil gerabah. Di sana Inggit terlihat ikut praktik membuat gerabah dan berdiskusi dengan para pengrajin. Dilihat dari sudut manapun, perempuan berstatus istrinya itu terlihat berbeda di matanya. Inggit terlihat begitu mempesona, entah Biru yang baru menyadarinya atau karena sebenarnya percikan rasa itu sudah mulai ada. Bahkan laki-laki itu sempat mengambil beberapa gambar istrinya dalam beberapa pose sederhana.


"Cantik," gumamnya pelan, tanpa sadar pria itu memuji seseorang yang dulu tidak pernah ada di dalam daftar list kriterianya.


Biru masih setia bagai penguntit yang handal. Laki-laki itu bahkan meninggalkan dua sahabatnya di kamar penginapan begitu saja. Kendati demikian, Nathan dan juga Devan tidak ambil pusing, keduanya cukup menikmati area terbuka sekitar penginapan yang nampak sejuk dan asri.


Inggit tidak menyadari kalau selama perjalanan dua harinya mengikuti kegiatan field trip diikuti sosok Biru. Perempuan itu baru saja selesai bersih-bersih di kamarnya setelah berkegiatan di luar seharian. Hampir semua mahasiswa yang mengikuti kegiatan berniat menikmati malam hari suasana kota Jogja yang menawan. Begitu pula dengan Inggit, ia berniat keluar dari penginapan malam ini untuk sekedar jalan-jalan di sekitar Jalan Malioboro.

__ADS_1


"Dari mana aja lo, kerjaannya ngilang mulu, bosen dua hari cuma di penginapan, nggak jelas!" gerutu Nathan kesal.


"Mau ikut nggak?" tawarnya seraya berjalan menuju kamar mandi.


"Kemana? Lo sudah menemukan yang katanya istri lo itu?"


"Udah dari kemarin," jawab Biru cuek. Berlalu begitu saja, pria itu membersihkan diri di kamar mandi dengan cepat.


"Asyik ... gitu dong keluar."


"Emang dua hari nggak keluar? Menurut lo?"


"Iya keluar tapi cuma di sekitaran doang tanpa tujuan."


"Menikmati hidup nggak usah harus banget kemana, di rumah pun jadi asal dengan orang yang kita cintai."


"Anjir! Lo sok puitis banget, gue jadi penasaran siapakah gerangan yang perlahan merubah mindset lo."


"Ada lah, kuy lah gas." Mereka bertiga hengkang dari penginapan. Mlipir di tengah malam indahnya Jalan Malioboro.


"Eh, bentar-bentar, kok itu kaya Inggit sama Ares?" Nathan berseru sebal. Biru dan juga Devan langsung mengikuti arah pandang sahabatnya.


"Iya bener, mereka mau kemana, keluar berdua dari penginapan." Perkataan Devan sukses membuat Biru meradang, tanpa di suruh pun Nathan langsung berinisiatif mengikuti mereka berdua.


"Kok mereka deket banget, ya ampun ... so sweet banget sih pakai naik becak berdua."


"Bisa diem nggak Waluyo!" Biru dan Nathan kompak menyeru bersama. Menatap tajam ke arah Devan.


"Lo berdua kenapa???"

__ADS_1


__ADS_2