
"Ada apaan sih?" Inggit bertanya-tanya.
"Ya mana gue tahu, 'kan baru datang, lihat gih ... heboh bener, siapa tahu bagi-bagi sembako gratis, lumayan ada minyak gorengnya yang lagi hits."
"Bisa aja lo?"
"Ye ... emang bener kok, emak gue gagal masak gara-gara stok minyak di warung ludes."
"Gagal tuh gagal panen, gagal move on, bukan gagal masak, itu mah tinggal beli di warung sebelah, delivery order, nggak usah ribet, drama perdapuran."
"Itu 'kan buat kita yang muda, versi emak mah beda, Nggit, eh ... ya ampun ... Hilda!" pekik Okta menutup mulutnya sendiri.
"Astaghfirullah ... ibu-ibu, ini ada apa ya?" Inggit bertanya-tanya. Netranya memindai satu-persatu orang-orang di sana yang tengah menghakimi sahabatnya.
"Biarin saja Mbak, dia itu perusak rumah tangga orang, biar kapok!" ucap Ibu bertubuh agak gempal.
"Tenang, Bu, teman saya itu sedang sakit, dia baru saja pulang dari rumah sakit, apa Ibu tidak kasihan?" tegurnya merasa prihatin, Hilda tanpak pucat di sudut ruangan.
"Owh ... jadi situ temannya, bagus lah, kasih tahu sekalian, jangan sok kecakepan deketin suami orang, ke ujung dunia pun, bakalan saya kejar kalau masih berani gangguin suami saya!" ancamnya seraya menggebrak pintu dengan lantang.
"Heh! Wanita tak tahu diri, awas lo ya, sekali lagi hubungi suami gue, gue puter tuh kepala!" hardik perempuan itu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Sedikit demi sedikit pasukan tak beraturan itu bubar.
Belum lama mereka bernapas dari lega, datang Ibu kost yang nampak murka. Menyorot Hilda dengan rasa muak dan tak suka. Rupanya karena insiden tadi cukup membuat pemilik kost itu malu, secara gamblang Ibu kost itu mengusir Hilda dari sana.
"Maaf, Bu, nanti saya pindah, maaf atas ketidak nyamanan ini," sesal Hilda sembari menangis, perempuan itu terlihat kuyu dan acak-acakan.
"Lo nggak pa-pa, Da?" Inggit dan Okta mendekat, keduanya nampak prihatin melihat Hilda yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Ngapain lo ke sini, puas, mau nertawain hidup gue yang hancur begini!" tuduhnya sengit.
"Kita ke sini mau jengukin lo?"
"Nggak usah sok care, lo seneng 'kan, Nggit, bikin gue menderita kaya gini, lo rampas Biru dari gue, lo seneng 'kan berhasil membuat Biru tak peduli lagi sama gue, puas lo, Nggit!" murka Hilda tak terima.
"Astaghfirullah ... Da, gue datang ke sini sebagai teman, sahabat, itu pun kalau lo masih nganggap itu, dan asal lo tahu, gue nggak pernah rebut Biru dari elo, gue nggak pernah rampas dia dari elo, Biru sendiri yang memilih jalan itu, dan bukannya elo sendiri yang tidak pernah nganggap serius, dengan hubungan lo. Cinta itu berbicara dengan tindakan dan perilaku, nyatanya lo tidak bisa memberi ketulusan untuk pasangan lo sendiri, jadi jangan salahkan orang lain kalau lo sendiri yang diam-diam membuangnya. Kami adalah pasangan halal yang sah, yang sedang berusaha memperbaiki diri. Tolong, Da, jangan seolah-olah elo yang paling tersakiti atas musibah yang menimpa lo, kami di sini prihatin melihat ini semua, lo sendiri yang bisa merubah diri lo sendiri." Nasihat Inggit panjang lebar.
__ADS_1
"Gue udah hancur, semua benci gue, semua orang ninggalin gue, gue dihukum dari kampus sampai waktu yang belum tentu rimbanya, gue terancam drop out, dan itu semua gara-gara elo, Inggit, gue benci sama lo, pergi!" Hilda menyambar gelas di meja dan melemparnya begitu saja pada Inggit, tepat pada pelipisnya, spontan darah segar itu mengalir tanpa permisi.
Gadis itu meringis menahan sakit, tangannya menyangga penuh lumuran darah. Terasa pusing, Inggit jatuh pingsan tak sadarkan diri. Sementara Okta histeris melihat itu, perempuan itu lekas mendekat dan menjerit meminta pertolongan.
Sementara Hilda sendiri tak merespon apapun, ia terlihat syok juga melihat Inggit yang terkapar di lantai tak sadarkan diri. Buru-buru perempuan itu dilarikan ke rumah sakit, Okta yang cemas, langsung menghubungi Biru.
Sementara Biru sendiri mendadak sibuk dan tidak bisa dihubungi. Nyatanya pria itu meninggalkan ponselnya di ruangan kerja ayahnya. Pria itu tengah mengikuti pertemuan penting dengan relasi ayahnya di luar kantor.
"Siang, Pak, maaf sedikit terlambat, saya Rasdan, dan ini putra saya yang akan membantu menjalankan proyek ini," ujar Pak Rasdan memperkenalkan putranya.
"Zidan," pria itu menyambut uluran tangannya. "Senang bekerjasama dengan Anda, semoga produk dan bahannya cocok untuk bahan baku yang ada." Mereka saling berjabat tangan.
"Maaf, Om, telat juga." Ares nyengir dengan rasa sungkan.
"Lo? Ngapain di sini?" tunjuk Biru mengarah seseorang yang baru datang.
"Kalian saling kenal?" tanya Zidan memindai keduanya.
"Iya, Om, teman gue di kampus yang paling rese' sekampus," jawab Ares datar.
"Wah ... jadi kalian sudah saling akrab, bagus kalau begitu, akan sangat mudah untuk kalian bertukar pendapat dan saling bekerjasama satu sama lain."
"Bagus dan kreatif, sama-sama masih kuliah tapi sudah berani terjun membantu, salut sama yang muda-muda," imbuh pria bertubuh tegap itu.
Mereka terlibat obrolan yang cukup serius, dilanjutkan makan bersama.
"Nggak yangka orang kaya lo jadi andalan nyokapnya juga."
"Eh, ngremehin gue, biar lo anak dosen, gue tantang IPK lo nantinya?" tantang Biru percaya diri.
"Oke, kalau lebih unggul, gue dapat apa?"
"Nggak mungkin lah, gue pasti lebih cerdas dari lo!" ucapnya tenang dan yakin.
"Bagaimana kalau lo kalah, dan gue terbukti lebih pintar, lo lepas Inggit ya?" Seketika gurauan hangat yang mereka lontarkan sedari tadi luntur dari muka Biru.
__ADS_1
"Maksud lo apaan, Res, lo masih ngarepin istri orang?" tuduhnya tak terima, mereka berdua sengaja duduk terpisah sedikit menjauh dari para orang tua, sengaja mengobrol santai setelah sesi tanda tangan kerja sama.
"Barang kali player lo kumat, gue adalah orang pertama yang bakalan jemput Inggit di depan pintu." Biru mendengkus kesal mendengar celotehan Ares yang cukup berani.
"Dasar, rival sejati, nggak usah ngimpi dan berharap lebih, gue dan Inggit tidak akan berpisah. Sekalipun lo ganti dengan semua apa yang lo miliki, gue tetap akan menjaganya sampai akhir hayat ini."
"Bagus lah kalau lo bisa setia, gue harap lo pegang janji lo itu," ujarnya mengingatkan.
Tiba-tiba ponsel Ares berdering, ada nama Okta di sana, pria itu menerima panggilan dan cukup terperangah dengan informasi yang baru saja didengar.
"Inggit, Al?" serbunya mendadak cemas.
"Istri gue kenapa? Ponsel gue? Oh ya ampun ... nggak ada, ketinggalan di ruang papa."
"Udah ambil nanti, buruan Inggit masuk rumah sakit diserang Hilda!"
"Apa!" Biru dan Ares bergegas dari sana dengan segera.
"Pah, Biru pamit dulu ya, Inggit masuk rumah sakit!" seru pria itu berlari. Ares mengekori sama paniknya.
Mereka menuju rumah sakit bersama, Biru langsung turun dari mobil begitu saja, sedang Ares memarkirkan mobilnya. Terlihat Okta tengah menunggu dengan wajah cemas.
"Okta, Inggit kenapa?" tanya Biru tak sabaran.
"Lo ke mana aja sih, dihubungi dari tadi nggak diangkat," keluhnya kesal.
"Sorry, Ta, ponselnya ketinggalan di meja kerja, papa. Inggit kenapa, Ta, apa yang terjadi? Hilda ngapain Inggit, Ta?" cemas Biru tak sabar.
"Di serang, Hilda," jawab Okta menyayangkan.
"Ya ampun ... parah nggak?"
Perawatan nampak selesai memberi penanganan pada pasien. Inggit sudah bisa ditemui masih di ruang UGD. Biru langsung masuk begitu dipersilahkan seorang suster. Pria itu langsung berhambur mendekat dan meneliti istrinya. Perban putih nampak membalut pelipis Inggit.
"Kok bisa gini? Apa itu sakit, kamu nggak pa-pa, 'kan sayang?"
__ADS_1