Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 66


__ADS_3

Okta berlari-lari di koridor kampus begitu melihat Inggit berjalan ke arahnya.


"Ikut gue," cemas gadis itu menarik tangan Inggit agar menjauh dari kelas dan pastinya menghindar dari orang-orang di sana.


"Ada apa, Ta? Apa yang terjadi, kenapa lo panik?" tanyanya yang tak mendapat jawaban, sampai gadis itu menjauh dan mengamankan sahabatnya di tempat yang agak sepi.


"Coba priksa ponsel lo, seharusnya lo hari ini tidak usah datang ke kampus!" tukas Okta cepat.


"Ponsel? Kenapa ya ... gue belum buka benda pipih itu sedari pagi," jawab Inggit seraya mengobok benda kesangan sejuta umat itu dari dalam tasnya.


"Buka cepat, dan segeralah pulang, hari ini mending lo jangan berkeliaran di kampus." Inggit semakin penasaran, dengan gerakan cepat ia segera meneliti ponselnya, dan betapa dia syok, saat melihat gambar dirinya yang tidak sepatutnya ada di mana-mana. Foto-foto itu menyebar dengan cepat, tanpa bisa dicegah ia langsung lemas dan seakan tak bertenaga.


"Kenapa gambar kamu memenuhi beranda? Inggit, ini bukan elo, 'kan? Tidak mungkin lo ngelakuin hal serendah itu." Kata-kata yang terlontar dari mulut gadis itu hanya berdengung tak mampu dicerna dengan baik, pikirannya langsung kalut, bercampur marah dan benci dengan satu titik. Siapalagi kalau bukan yang menciptakan foto tersebut.


"Kenapa jahat banget ngelakuin ini ke gue, gue salah apa?!" ratap Inggit frustasi, Okta langsung memeluknya untuk menenangkan gadis itu.


"Lo yang tenang ya, gue yakin ini tidak benar, tidak mungkin lo menjerumuskan diri lo sendiri." Inggit tidak lagi menanggapi, ia sudah bercucuran air mata, hancur sudah reputasinya, nama baiknya, bahkan prestasinya, atau mungkin terancam drop out dari tempat belajarnya. Inggit kalang kabut, kacau, ia berlari dan lebih baik menghindar untuk sementara.


"Inggit, mau ke mana? Di sini lebih aman, kalau lo keluar, lo bisa jadi bulan-bulanan anak-anak!" seru Okta cemas, sayangnya gadis itu sudah cepat melesat.


"Wao ... berapa semalam Inggit, boleh aku mencobanya?" Terdengar nada sumbang yang cukup jijik untuk didengar. Semua orang menatap aneh, dan mencemooh gadis itu.


Inggit yang berniat keluar dari kampus dicegat segerombolan mahasiswa, jelas menatap tubuh gadis itu dengan giuran merendahkan.


"Minggir, gue mau lewat!"

__ADS_1


"Woho ... galak-galak menghanyutkan!"


"Ayolah sayang, kartumu sudah terbuka, jangan malu-malu!"


"Open BO."


"Nggak nyangka, tubuhmu tempat bercocok tanam!"


"Gue mau jadi cowoknya di foto itu, asal dapat servisnya."


Masih banyak lagi bualan menjijikkan yang keluar dari mulut-mulut kurang ajar itu. Inggit jelas meraung marah, namun bukan waktunya untuk membalas diri, menghindar adalah solusi yang tepat untuk saat ini.


Gadis itu menerjang pria-pria bermulut pedas itu dengan cepat, telingannya panas, hatinya hancur lebur tak berbentuk.


"Makasih sayang, aku tahu kamu itu juga sebenarnya ada perasaan untukku, tapi masih malu," gumam Biru pelan seraya menyambar baju yang telah Inggit siapkan. Usai bebenah kamar, melipat selimut kembali bagi penghuni terakhir, pria itu bergegas keluar. Lagi-lagi bibirnya membuat lengkungan saat menemukan bungkusan sterefom di atas meja, lengkap dengan krupuk udang di sampingnya, sudah bisa di tebak, tak lain dan tak bukan isinya sarapan pagi untuk dirinya.


"Manis banget sih kamu, kalau setiap hari gini, sudah pasti aku tidak bisa untuk tidak jatuh hati padamu," gumanya lagi, pria itu sarapan dengan hati senang.


Walaupun masih terlalu awal dari jam makul hari ini, Biru berinisiatif berangkat saja, siapa tahu di sana bertemu dengan pujaan hatinya. Inikah yang namanya jatuh cinta, indah dan tak ingin berpisah walau sebentar saja. Perasaan ingin selalu dekat, dan terus ada di sampingnya. Sebelumnya Biru sering berpacaran dengan sejumlah wanita. Tapi tidak pernah sekali pun merasakan getaran cinta, yang sampai membuat ia bahagia seperti sekarang.


Pria itu berangkat dengan motor kesayangannya, melaju dengan kecepatan sedang. Ia sudah merencanakan agenda siang nanti ingin menghampiri gadis itu dan mengajak kesuatu tempat, mulai membangun kemistri kedekatan untuk memulai sebuah hubungan yang baik, mungkin harus dimulai dengan awalan, seperti mengajaknya kencan atau sekedar dinner romantis berdua di tempat yang spesial.


Pria itu dibuat kaget setelah memarkirkan motornya menemukan Nathan yang tengah mengamuk dan mencopoti gambar-gambar di tembok kampus, di mading dan di mana-mana sepunjuru koridor gedung.


Biru berjalan cepat, ia segera mendekat dan langsung syok begitu menemukan wajah istrinya tercetak jelas di gambar itu, dengan seorang pria yang diblur wajahnya. Namun, sudah bisa ditebak itu adalah dirinya sendiri.

__ADS_1


"Siapa yang ngelakuin ini, Than?" geram Biru dengan rahang mengeras.


"Nggak tahu, yang pasti ini orang pasti sengaja menghancurkan Inggit!" jawab Nathan yang masih sibuk mencopot-compot gambar lucknut itu.


"Inggit, Inggit mana?" tanya Biru langsung panik.


"Nggak tahu, gue hubungi handphonenya langsung tidak aktif, tadi kata Okta udah masuk, tapi sekarang nggak tahu ke mana, gue udah muterin kampus berhektar-hektar tapi nggak nemu tuh cewek, kasian, Inggit pasti syok berat," ratap Nathan prihatin.


"Sial, tersebar juga di sosial media, ya Tuhan ... gimana ini, Inggit, ayo angkat sayang!" celetuk Biru reflek menggumamkan kata sayang, membuat Nathan dan Devan langsung menyorotnya.


"Apa maksud lo, Al!" bentak Nathan tak terima. "Jangan bilang, foto di dalam ini lo cowoknya!" murkanya marah. Biru terlihat kacau, ia tidak fokus dengan kemarahan sahabatnya yang sudah menggebu.


"Lo suka sama Inggit? Sudah gue ingatkan, jangan merusaknya, bego!" Nathan yang salah paham langsung mencengkram kemeja Biru.


"Katakan Al, itu bukan elo!" desis Nathan geram. Devan mencoba mengurai cekalan Nathan yang menghimpit leher pria itu.


"Iya itu gue," jawab Biru tertunduk lesu. Nathan yang tadinya mencoba rileks langsung berbalik dan menghadiahi satu telakan ke wajah sahabatnya.


"Sudah gue bilang jangan merusaknya, dia itu tidak sama dengan perempuan lain. Lo lancang, Biru!" murka Nathan tak terima, Nathan pikir Biru mengkhianati dirinya.


Perih, itu yang dirasakan Biru, darah segar menghiasi sudut bibirnya, tapi tak apa, lebih perih hatinya melihat kenyataan pagi hari ini atas apa yang dulu ia anggap hanya sebagai jepretan iseng saja.


"Lo! Benar-benar player sejati!" sarkas Nathan murka, kembali ingin memukul Biru, namun Ares datang dan dengan sigap melerainya.


"Berhenti berkelahi, sebaiknya kita mencari Inggit sekarang, dan bagaimana caranya melenyapkan foto-foto itu dari jejaring media."

__ADS_1


__ADS_2