Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 92


__ADS_3

"Al, Al ... kamu salah paham?" ujar Inggit menyela. Biru terus menyeret istrinya hingga keluar dari kafe.


Pria itu mengunci mulutnya rapat-rapat,berusaha menahan emosi agar tidak pecah di tempat umum. Netranya menyorotnya tak ramah. Tangannya sibuk memakaikan helm pada istrinya dan segera menstater motornya.


Inggit menurut saja, hawa panas dan merasa tak enak masih menyelimuti suasana hatinya. Tentu saja Biru tidak akan marah di sana. Ada Daffa yang akan menyaksikan hal itu, pasti membuat pria itu senang berhasil membuat huru hara.


Biru akan menceramahinya nanti setelah sampai rumah. Pria itu mengendarai motor bagai pembalap handal, gesit dan cepat. Mungkin efek marah, membuat pria itu sedikit nekat. Untung selamat sampai rumah. Perempuan itu mengelus dada lega turun dari motornya.


"Masuk, cuci tangan kamu pakai kembang tujuh rupa, ada bekas Daffa di sana," celotehnya yang membuat Inggit melongo seketika. Mereka berdua hanya sedikit bersenggolan itupun menurut Inggit tidak disengaja.


"Kita nggak seperti apa yang kamu pikirkan, Al, tadi tuh Daffa mau pinjam handphone," jelasnya mencoba mencari pembelaan.


"Oh ya, kamu baru ketemu di kafe loh itu, apa kabar nanti kalau seatap hampir dua bulan? Kok aku nggak yakin itu hanya kebetulan, itu alibinya dia Inggit, modus, kamu paham nggak sih!" tukasnya kesal. Mereka baru saja masuk rumah, Biru langsung menyerangnya.


"Astaghfirullahalazim ... kamu kok mikirnya gitu, aku tahu batasan," jawab Inggit ikut terpancing emosinya.


"Batasan apa? Diam saja saat pria lain menyentuh tanganmu!" sanggahnya jengkel. Merasa kecolongan di situasi yang paling tak menentu.


"Nggak Al, itu penglihatanmu yang keliru, kamu salah paham," jelas Inggit benar-benar kesal.


"Kamu nggak usah ikut saja, mengulang satu tahun nggak pa-pa, dari pada endingnya kita bubaran aku nggak mau."


"Kok gitu, nggak mau, ini nggak adil banget buat aku, aku nggak mau, aku mau lulus tahun ini, bahkan aku mau ambil skripsi semester tujuh."


"Rumah tangga kita bisa hancur kalau KKN kamu diterusin, ada bahaya menyerang dari dalam. Kamu tahu nggak sih aku khawatir?"


"Nggak! Kamu terlalu Al, pokoknya aku nggak mau, aku udah nggak ada hubungan apapun sama Daffa, nggak ada perasaan apapun sama dia, kenapa kamu jadi seposesif ini sih?" keluhnya merasa kesal.

__ADS_1


"Aku khawatir Inggit, aku hanya seorang suami yang takut istrinya ketikung orang lain."


"Maksudnya? Kamu terlalu parno, sama saja tidak percaya dengan pasanganmu sendiri."


"Bagaimana aku bisa tenang, kalau di luar sana, banyak pria yang menginginkanmu?"


"Daffa itu cuma mantan, Mas Biru sayang?" Inggit mencoba menenangkan.


"Panggil apa?" terdengar menggelikan namun Biru suka. Merasa dihormati dengan panggilan itu.


"Nggak ada udah ketilep napas, sana ah ... capek!" Inggit gantian yang pura-pura merajuk.


"Inggit, kamu bikin aku resah," rengeknya mengekor istrinya ke kamar.


"Kamu lebih bikin aku gundah, tenangin diri kamu dulu Al, aku capek kalau harus berantem, emang belum cukup masalah kemarin? Aku tidak mau rumah tangga kita cekcok gara-gara tuduhan yang tidak jelas."


"Jangan pernah dekat-dekat, tidak usah bertegur sapa, dan buat laporan setiap hari kegiatan kamu di lokasi nantinya. Aku tidak ingin kita berakhir seperti kisah tragis lainnya. Putus, gara-gara ketikung pas KKN. Amit-amit jangan sampai."


"Kamu sekarang posesif, bikin aku gemes, tapi nggak gitu juga caranya, ya kali bikin laporan setiap saat, setiap hari, kamu tenang aja dong sayang, di sana tuh dua belas orang, ditambah pemilik rumah, jadi tidak mungkin kita terlibat moment berdua saja."


"Bisa saja mungkin Inggit, sangat mungkin apalagi kalau keduanya menginginkan."


"Eh, kamu benar-benar meragukan kepercayaan aku, Al."


"Waspada itu perlu Inggit, aku tidak tenang pokoknya, ah ... ini menyebalkan." Biru semakin dibuat frustrasi.


"Albiru Rasdan, aku hanya mencintaimu," kata Inggit mulai mengeluarkan jurus paling mujarab. Perempuan itu menangkup pipi pria itu, dan mengecupnya sekilas.

__ADS_1


Biru masih terbengong-bengong syok mendengar pengakuan istrinya dan gerak tubuhnya yang semakin berani.


"Mungkin aku percaya denganmu, tapi aku tidak yakin dengan pria-pria rese' di luar sana yang jelas-jelas masih menginginkanmu," ungkapnya resah.


"Cemburu ya, ah ... kamu manis dan lucu sekali kalau cemburu, seposesif ini, cinta banget sama aku? Takut kehilangan, ah ... terharu aku." Inggit malah mendrama, seakan tidak prihatin dengan keresahan jiwa suaminya yang akan berpisah dalam waktu yang lumayan lama.


"Salah gitu kalau suami cemburu?" tanyanya kesal bin ketus.


"Salahlah kalau tuduhannya tidak benar, tapi kamu lucu, bikin aku gumush." Inggit mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.


"Sakit sayang, hoby banget bikin galau orang, seneng banget kayaknya lihat aku sengsara. Aku tuh orang yang nggak kuat nahan diri kalau rindu, apa jadinya kalau aku kangen. Hampir dua bulan loh ya, apa iya aku betah, ah ... ini berat. Sungguh kasihan kau Bondan," keluhnya merasa nelangsa.


"Lebainya suamiku, kita masih satu kabupaten Pak, bisa ketemu seminggu sekali diakhir pekan."


"Seminggu masih terlalu lama, kenapa harus gini sih, berpisah oleh jarak dan waktu di saat lagi pingin dekat terus gini, ini tuh bikin aku kesiksa lahir dan batin."


"Puasa dong Al, kemarin aja bisa tahan berbulan-bulan, masak sekarang cuma seminggu nggak kuat, cemen ih."


"Kamu nggak tahu rasanya jadi cowok normal, mana bisa puasa, baru juga buka, yang ada ingin mengurungmu terus di kamar," jawabnya mulai menyorotnya dengan tatapan begitu dalam.


"Eh, jangan bilang mau mangsa aku sekarang, masih jam dinas Pak!" Inggit menatap penuh curiga.


"Bodo amat, jam kantor, jam dinas, jam kerja, hayuk ....!" Pria itu mulai rusuh.


"Bentar-bentar, kabooor!!"


"Inggit, astaghfirullahalazim ....!"

__ADS_1


__ADS_2