Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 46


__ADS_3

Inggit langsung berlari menuju kamar mandi, ia merutuki kejadian hari ini yang cukup memalukan baginya. Pasti laki-laki itu akan meledek dirinya habis-habisan. Inggit langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Cukup lama ia merampungkan mandinya, melangkah keluar dengan perasaan ragu.


Biru menoleh seiring derit pintu kamar mandi terbuka. Pria itu tengah mengantri giliran memakai kamar mandi. Inggit melirik sekilas pria yang tengah duduk di bibir ranjang dengan bertelanjang dada. Karena malu, Inggit langsung melewati begitu saja dengan membuang muka. Mengabaikan Biru yang menyerukan namannya bermaksud menggoda.


"Inggit!" seru Biru menyebut namannya, Inggit bergeming dan pura-pura tidak mendengar.


Ya ampun ... bisa-bisanya hal konyol itu terjadi


Inggit berencana mengabaikan Biru seharian, ia tidak punya muka hanya sekedar bertegur sapa. Gadis itu memutuskan untuk duduk di kursi teras luar halaman belakang. Sambil menikmati rintik hujan, ia menyibukkan diri mengerjakan tugas kuliah yang tertunda. Tempat ini adalah tempat yang paling fleksibel, sepertinya Biru tidak mungkin melewatinya.


Ia tengah sibuk menatap layar laptopnya hingga kedatangan seseorang di sampingnya tidak terbaca. Inggit nampak serius, di luar masih gerimis dan udara di luar cukup dingin. Sepertinya Inggit mengabaikan hal itu, terbukti gadis itu cuma memakai hot pant dan kaus biasa. Jari-jemarinya nampak lincah menari di atas keyboard.


"Sibuk banget sih, sampai kedatangan aku tidak ke notice." Suara bas yang terdengar langsung menghentikan gerakan Inggit dari aktifitasnya. Ia melirik singkat, yang dibalas tatapan lembut.


"Kenapa Al, lo nggak ngerjain tugas juga?" tanyanya basa-basi, sedikit canggung tapi ia tidak boleh terlalu kentara.


"Udah tadi pagi, masih banyak tugas sih, salah satunya ini," jawab Biru terus menatap istrinya.


"Ini?" Inggit kali ini memberanikan diri menatap Biru lebih lama, pria itu sejak tadi memperhatikan istrinya begitu lekat. Inggit bukannya tidak tahu, diam-diam ia merekam moment itu, ada sedikit risih ditatap lama-lama oleh pria berstatus suaminya itu.

__ADS_1


Jangan bilang, Biru sedang berfantasi liar atas tubuhku, oh ya ampun ... jangan sampai pikiran gila itu mampir dan bersarang di otaknya.


Sadar Biru masih terus memperhatikan, Inggit benar-benar tidak nyaman. Ingin mengusir merasa tidak enak. Biru merasa gemas memperhatikan istrinya yang nampak malu-malu. Sengaja mengabaikan dirinya di belakang rumah, biasanya juga lebih menyukai ruang tengah sebagai teman untuk menyelesaikan tugas.


"Tugas kamu masih banyak? Nanti kalau hujan sudah reda kita jadi ke rumah Mama ya?" pintanya lembut. Inggit hanya mengangguk tanpa memperhatikan wajah suaminya yang masih betah berlama-lama duduk di dekatnya.


Ini orang kenapa nggak pergi-pergi sih, bikin nggak konsen.


"Nggit, aku mau minta maaf atas perlakuan aku dulu ke kamu, aku merasa bersalah, nggak seharusnya aku bersikap demikian walaupun diantara kita belum ada chemistry apa-apa," ucap Biru tulus. Inggit yang nampak sibuk, langsung berhenti dan mendengarkan penuturan pria itu dengan diam.


"Lupakan saja, Al, gue udah lupain kejadian itu, walaupun jujur gue sedikit trauma. Sumpah itu kejadian paling mengerikan dalam hidup gue, dan gue ngerasa beruntung karena waktu itu ada seseorang yang nolongin gue."


"Maaf Nggit, aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik, padahal sudah jelas Romo menitipkan kamu padaku, jangan khawatir, aku akan menebusnya," ucap Biru sungguh-sungguh. Tangannya terulur mengacak rambut istrinya dengan lembut.


Ya ampun ... hati please, jangan oleng. Lo hanya perlu bersikap baik, bukan berarti menginginkan lebih. Ah ... gue rasa sikap play boy memang semanis ini, jangan sampai lengah Inggit, lo tidak boleh punya perasaan terhadap suamimu atau lo bakalan merasa sakit hati seperti yang lainnya. Habis manis sepah di buang.


Inggit terus bermonolog dalam hatinya, ia perlu waspada pada jenis pria yang berstatus suaminya itu. Bukan Inggit tidak tahu, ia paham betul gelagat pria model kaya Biru, hampir sebelas dua belas dengan Daffa mantan pacarnya dulu. Inggit tidak mau terlibat perasaan dengan orang yang tidak bisa setia, atau ia akan menyesal dengan nasib yang sama. Jauh-jauh hari, gadis itu sudah membentengi diri untuk tidak terlibat perasaan dalam bentuk apapun.


"Udara di luar dingin, apa nggak sebaiknya mengerjakan tugas di dalam, hari juga sudah senja," kata pria itu seraya berdiri, melangkah meninggalkan Inggit dengan kesibukannya sendiri.

__ADS_1


Inggit bergeming, ia tidak suka sebenarnya suasana kecanggungan macam ini. Rasanya membingungkan sekali, serba salah dalam menyikapi. Tak menggubris omongan Biru, bahkan terkesan abai bagai angin lalu. Ia cukup menikmati gerimis sore hari pengantar kesibukan dirinya.


Aroma coklat yang menenangkan tiba-tiba menguar di area sekitar, rupanya pria itu kembali dengan secangkir coklat panas di tangannya.


"Inggit, sepertinya secangkir coklat panas sangat cocok menemani senja mu," seloroh Biru tersenyum. Biru tahu betul minuman itu favorit untuk gadis berkulit sawo matang itu.


Ah ... sial! Kenapa Biru mendadak perhatian sekali. Bisa nggak sih, bersikap biasa saja seperti hari kemarin.


"Makasih," jawab Inggit sungkan.


"Aww ... " Rasa panas itu begitu terasa membakar kulit gadis itu ketika tidak sengaja Biru sedikit menumpahkannya, sebelum Inggit menerima dengan benar.


"Aduh ... sorry, sorry nggak sengaja." Cemas Biru menaruh cangkir di samping laptop dan segera meneliti pangkal pa*a istrinya. Karena tidak menemukan tisu di sana, reflek Biru menarik ujung kaus yang sedang dipakainya dan membersihkan sisa coklat yang menempel pada kulit istrinya.


"Sorry, Nggit, sakit ya?" pria itu meniup-niup lembut dengan wajah cemas.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2