Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Bab 57


__ADS_3

Pagi harinya, Inggit terjaga dan menemukan dirinya tidur di ranjang. Pantas saja tidurnya semalam terasa begitu nyenyak. Ia hampir spot jantung saat melihat ke samping pria yang berstatus suaminya itu ada di sana. Ternyata mereka semalam tidur di ranjang yang sama, dan sudah pasti pria yang masih terlelap damai itu yang memindah dirinya.


Perlahan dengan pikiran mengambang, Inggit melangkah ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan bersiap aktifitas pagi seperti biasa. Ia membuat sarapan nasi goreng untuk mengisi perutnya pagi ini. Tak lupa menyisakan untuk Biru yang masih setia di ujung mimpi.


Hingga menjelang gadis itu berangkat, Biru belum keluar kamar, mungkin pria itu masih mengantuk dan tidak ada kuliah pagi. Entah semalam Biru pulang jam berapa, Inggit tidak tahu pasti. Seperti ada dorongan, pagi ini rasanya Inggit ingin melakukan sesuatu yang lebih baik.


Sebelum berangkat ke kampus, gadis itu menyiapkan sarapan untuk Biru, bukan hanya itu ia juga menyiapkan pakaian gantinya. Terlihat seperti istri sungguhan, walaupun terus menyangkal, tapi nyatanya pagi ini ia terus melakukannya. Anggap saja itu bentuk balas budi karena semalam membereskan buku belajar dan membuat ia bisa tidur nyaman. Hah, ngomong-ngomong nyaman, Inggit rasa ia mulai gila, kenapa tidur sekamar dengan Biru terasa nyaman.


Seperti biasa, Inggit berangkat dengan scoopy kesayangannya. Sampai di sana, memarkirkan di tempat biasa dan menuju kelas.


"Hai," sapa Inggit terhadap sahabatnya. Hilda menanggapi dengan senyuman simpul.


"Lo pucet, sakit?" tanya Inggit perhatian.


"Hanya sedikit pusing," keluhnya datar.


"Mau gue antar ke unit kesehatan?" tawarnya sungguh-sungguh.


"Nanti aja, masih kuat, lagian nanti Pak Darren mau ngasih kisi-kisi buat UAS, sayang banget kalau absen."


"Serius lo bisa?"


"Iya, dua rius malah."


"Oke, fine, kalau berubah pikiran bilang aja nanti gue antar." Hilda mengangguk kecil.


Sementara Biru terjaga saat matahari sudah meninggi, ia begitu santai hari ini. Hanya ada satu makul dan itu siang hari. Ia sudah membuat jadwal bertemu dengan saudara dari Waluyo itu untuk mengunjungi temannya yang mau membantu pekerjaan. Semangatnya menambah saat keluar kamar menemukan seporsi nasi goreng yang menggugah selera. Ia mendekat dengan antusias.


"Aku yang masak, kamu yang cuci piring"


Sebuah memo terselip di samping piring nasi goreng, tiba-tiba hatinya menghangat seketika, sudut bibirnya melengkung menampilkan deretan gigi putihnya. Menatap kertas itu dan segera mengisi perutnya yang sudah protes sedari tadi. Usai menghabiskan seporsi nasi goreng spesial telur dadar, Biru membersihkan perkakas yang sudah menunggu untuk dibersihkan. Baru bergegas ke kamar dan segera melakukan ritual pagi. Bersih-bersih singkat hanya dengan kurang dari lima belas menit, pria itu sudah memungkasinya.


Ia mengambil pakaian yang tersusun rapi di lemari. Saat melempar handuknya ke ranjang, sudut matanya menangkap bayangan baju dan celana yang masih terlipat rapi di ujung bibir ranjang. Ia mendekat, otak cerdasnya langsung bisa menyimpulkan, tapi tidak ingin ge er dulu, mengingat Inggit wanita yang sulit ditebak.


Biru mengembalikan pakaian pilihan dirinya, dan lebih memilih pakaian yang sudah tersedia. Kalau benar iya, bukankah itu satu kemajuan untuk hubungan mereka. Ah ... indah sekali rasanya, apabila rumah tangga saling mencintai yang udah halal.


Ganteng


Biru tengah mematut dirinya di cermin, sambil bergumam-gumam pelan ketika ponsel miliknya memekik. Nama Devan tertera di sana. Memberi kabar ia sudah menunggu di tempat janjian. Betgegas pemuda dua puluh satu tahun itu meninggalkan rumah dan memacu motornya ke tempat tujuan. Begitu ia sampai, dan memarkirkan motornya dengan nyaman, ia langsung bergegas masuk. Netranya menyapu kesepenjuru ruangan, Devan nampak mengangkat tangan dengan menyerukan namannya.

__ADS_1


"Hai bro," sapa Devan, mereka berdua ber- fist fight akrab, dengan Biru mengangguk sopan dan refleks tangannya terulur berujar kenal.


"Saya Biru Bang, maaf sedikit terlambat," ucapnya sungkan.


"Rendra." Pemuda berkisar empat tahun lebih tua itu menyambut uluran tangan Biru.


"Dia owner di sini Bro," timpal Devan. Biru mengangguk ramah.


"Devan udah cerita, gimana kalau hari ini kamu langsung test aja, sekalian membuktikan omongan Devan kalau kamu jago," ucap Rendra ramah. Pemuda itu langsung terlihat lebih akrab.


"Abang terlalu berlebihan, tidak sepenuhnya yang di katakan Devan benar."


"Gue suka gaya lo, sok merendah," cibir Devan.


"Hmm .... "


"Tunggu apalagi, semangat, tunjukan pesona lo!" seru Devan antusias.


Biru langsung menuju panggung, suasana kafe di siang hari tidak begitu rame. Hanya sekedar test saja, dirinya mulai memetik gitar dengan alunan lagu akustik yang mendayu, penuh dengan penghayatan, seketika semua orang yang ada di sana tertuju pada objek yang sedang menyumbangkan suara emasnya.


"Oke juga," celetuk Rendra seraya tepuk tangan. Kafe ini sungguh asyik, tempat nongkrong anak muda, selain ada indoor ada outdoor. Tersedia wahana bermain game, dan juga rooftop, satu kata keren bagi mereka yang baru pertama singgah.


"Gimana Bang, apa ada kesempatan untuk saya?" tanyanya harap-harap cemas.


"Nanti malam, kamu langsung perfom ya, saya tunggu di sini, jangan telat."


"Siap Bang," jawab Biru semangat.


"Alhamdulillah, makasih Van udah bantuin gue." Biru berseru senang seraya merangkul pundaknya.


"Yoi sama-sama. Kita langsung kampus atau lo mau ke mana?"


"Kampus, udah kangen pingin lihat dia," celetuknya dengan cengiran.


"Roman-romannya sedang jatuh cinta nih."


"Dev, cewek lo selain suka buatin makanan buat lo, dia buatin apa lagi."


"Buat anak," jawab Devan ngasal.

__ADS_1


"Sialan, ditanya serius juga."


"Habisnya pertanyaan lo itu aneh, emangnya kalau orang pacaran ngapain?"


"Ya maksud gue, kaya pernah nyiapin baju ganti, atau apalah."


"Itu namanya istri, kalau nggak gundik, eh ralat, kasar banget gue ngomongnya istri simpanan. Ya baru bener. Ngapa sih nanya-nanya?"


"Nanya aja, gue lagi seneng," jawabnya kalem.


"Syukur deh, kuy lah berangkat." Mereka menuju kampus bersama dengan kendaraan yang berbeda. Cukup berkendara lima belas menit, motor CBR hitam pria itu sudah nyaman di parkiran.


Biru bersiul senang, memainkan kontak motornya dengan mengayun ke atas udara dan menangkap. Ketika melewati gedung fekon, matanya menyipit sejenak mengamati dengan jeli siapa tahu seseorang yang ia cari ada di sana.


Pucuk di cinta, ulama pun tiba. Inggit yang tengah gojek dengan teman sekelasnya, berjalan mundur dan hap, ia tak sengaja menabrak dada bidang Biru.


"Auww ... " desisnya mengaduh. "Tembok atau apa sih, keras banget," celetuknya ngasal, ia meringis mendapati muka pria itu mendelik kesal.


"Sorry, gue meleng," ucapnya kemudian, meneliti pakaian yang di pakai suaminya reflek Inggit tersenyum.


"Ngapain senyum-senyum, nggak pernah lihat orang ganteng ya?" selorohnya mengerling.


"Nggak, ge er!" ketusnya lalu mlipir dengan tenang, meninggalkan Biru yang masih betah berlama-lama menatapnya.


"Sepertinya gue bakalan dapat gratisan satu bulan, hilalnya sudah mulai nampak," seloroh Devan.


"Cocok nggak?" Biru malah meminta pendapat.


"Kaya Tom and Jerry," jawab Devan cuek.


"Berarti cocok dong, jangan tegaan jadi orang, lagi miskin masih juga dipalak."


"Owh tak peduli."


"TERLALU!"


***


Usai kelas, Biru berniat langsung pulang. Namun, langkah pria itu melambat, setelah mendapati notifikasi pesan beruntun dari nomor yang tidak berada di kontaknya.

__ADS_1


[Temui gue, di klinik kampus]~


__ADS_2