
Biru memasuki halaman rumah mamanya saat matahari masih malu-malu di peraduannya. Suasana udara pagi yang segar menambah aksen sejuk lingkungan sekitar.
"Udah sampai, Nggit, bobok lagi ya?" Motor sudah berhenti dari dua menit yang lalu, namun gadis itu masih betah memeluk suaminya, Biru pun mengelus punggung tangan istrinya yang masih mengunci tubuhnya.
"Hmm ... nggak, males mau turun," ujarnya menjatuhkan dagunya di pundak Biru. Pria itu tersenyum mendengar keluh istrinya.
"Manis banget sih kalau manja gini, ya udah deh ... terserah mau berapa menit lagi kita seperti ini?" ujar pria itu santai seraya melepas helmnya.
Inggit turun dari motor dengan muka manyun. Lagi PMS itu emang hawa-hawanya malas aja mau ngapa-ngapain, andai kaum cowok tahu hal itu, dunia indah sekali.
"Kenapa nggak semangat, sini kasih vitamin dulu biar ada senyumnya," ujar Biru menarik tengkuk istrinya dan mengecup begitu saja.
"Ish ... jangan asal dong, nanti ada orang," protesnya kesal, meninggalkan Biru dan masuk begitu saja. Biru hanya menggeleng pelan dengan senyuman, mengekor istrinya yang entah sudah menghilang ke mana. Padahal baru beberapa detik masuk lebih dulu.
"Assalamu'alaikum ...." suara bas pria itu menggema.
"Waalaikumsalam ... Den Biru, tumben pagi-pagi baru pulang."
"Iya, Mbok, edisi numpang sarapan, hemat uang jajan," selorohnya tersenyum.
"Bisa aja, Den. Non Inggit nggak ikut kah?"
"Ikut kok, tadi ada, di mana ya?" Pria itu celingukan.
"Hayo-hayo ... istri sendiri sampai lupa narohnya." Mama tiba-tiba muncul dan langsung bergosip.
"Apaan sih, Ma, tadi aku datang berdua," jawabnya yakin. Ya sudah, mungkin saja Inggit langsung ke kamar, Biru cek dulu."
Biru yang penasaran, langsung cek ke kamarnya. Tidak biasanya Inggit bersikap ngilang, apalagi baru datang belum menyapa Mama.
"Sayang, kamu di dalam!" teriak pria itu begitu memasuki kamarnya, dan mendengar gemericik air di dalam kamar mandi. Inggit membuka pintunya perlahan seraya meringis memegangi perutnya.
"Kenapa?" tanya Biru khawatir, langsung memapah istrinya menuju ranjang.
"Perut aku nyeri, biasa gini sih kalau lagi halangan, tapi ini sakit banget, makanya tadi pingin langsung ke kamar mandi." Inggit mendesis kesakitan.
"Sakit banget ya? Aku panggil mama deh kalau gitu, kamu pucet."
__ADS_1
"Jangan, Al." Inggit menahan lengan suaminya. "Jangan panggil mama, aku malu ... aku tiduran sebentar ya?"
"Ya udah, kamu istirahat saja." Biru mengelus rambutnya pelan, lalu meninggalkan jejak sayang di pucuk kepalanya.
"Al, eh ... sorry, Mama masuk boleh?" izinya melihat anak dan menantunya lagi uwu-uwuan di kamar.
"Masuk saja, Ma?"
"Mama, maaf Ma, datang belum sempat nyapa," sungkan Inggit merasa tak enak. Mencoba bangkit walau nahan nyeri, menyalami mertuanya dengan takzim.
"Nggak pa-pa, sayang. Kamu kenapa? Sakit perut?" tanya Mama ikut cemas.
"Nyeri datang bulan, obatnya apa ya Ma? Sepertinya terlalu sakit, sampai merah padam gitu." Biru yang aktif menjawab.
"Owh ... nanti biar mbok beliin Kiranti, jamu kunyit asem mau? Biar nanti Mama beli kalau ada yang lewat."
"Nggak terbiasa minum jamu sih, Ma, tapi kalau nggak pahit boleh juga."
"Enggak kok, yang ini nggak pahit, malah seger rada asem gitu," jelas Mama.
"Ya sudah, temenin aja, Al."
"Aku mandi dulu ya, tadi belum sempat mandi di rumah kamu." Inggit tidak menyahut, bahkan abai dengan celoteh Biru, gadis itu sibuk sendiri meremas perutnya.
"Ya ampun ... nyeri banget emang ya, apa biasa begini?" Biru yang tidak tega ikut menghangatkan dengan memberi pelukan. "Ke dokter saja, mau?" Inggit menggeleng.
"Beliin Kiranti saja, biasanya nyeri tapi nggak separah ini, ah ... ini terlalu sakit," keluhnya mendrama.
"Aku keluar sebentar, lihat mbok, sudah berangkat belum." Biru meninggalkan kamarnya dan segera mencari art rumahnya.
"Apa, Al?" seru Mama menemukan putranya celingukan.
"Mbok mana, Ma, katanya beliin Kiranti?" tanya Biru tak sabar.
"Udah berangkat, kalau sedikit lama maklum saja, mungkin sambil cari bahan sayuran sekalian keluar," jelas Mama.
Biru kembali ke kamar, dilihatnya istrinya yang masih dengan posisi semula. Pria itu mendekat, mengelus punggungnya barang kali bisa mengurangi rasa sakit dengan sentuhan itu. Tak berselang lama, Mama masuk ke kamar membawa wedang jahe anget, menaruhnya di nakas.
__ADS_1
"Sayang, minum yang anget-anget dulu, ini bagus untuk pereda nyeri perut juga," ujar Mama menginterupsi.
"Makasih, Ma. Maaf, datang-datang bikin repot Mama," sesalnya merasa sungkan, mungkin kalau tahu bakalan nyeri hebat lebih baik tadi tetap di rumah Ibu dulu. Inggit bangkit dari ranjang, dan segera meraih gelas itu dengan semangat, aroma khas jahe yang menguar sejenak menenangkan.
"Nggak merasa direpotkan dong sayang, dulu juga waktu Mama masih gadis, sering nyeri kaya gitu, tapi semenjak nikah hilang sendiri, mungkin kalau kamu nanti sudah terbiasa dengan aktivitas suami istri akan hilang dengan sendirinya, itu hanya hormon bawaan masa gadis." Mama tersenyum sambil mengerling, lalu keluar, memberikan kesempatan mereka berdua yang tak ingin jauh walau sejenak.
"Mama kayaknya paham banget deh, merasa tersindir aku belum bisa jadi pria yang sesungguhnya," curhatnya seraya menatap wanitanya.
"Denger sendiri 'kan, nanti ilangnya kalau udah banyak melakukan aktivitas suami istri, berarti kita harus sering-sering dong, yang." Biru senyum-senyum sendiri, mendaratkan kecupan-kecupan cepat di pipinya. Pria itu jelas menggoda.
"Al ... jangan nakal, masih sakit," keluhnya mrengut, namun jujur hatinya senang Biru menemani dirinya dan memberikan sentuhan-sentuhan itu.
Ah dasar, cewek ma suka gitu, mulut dan hatinya tidak sinkron. Pengen di sayang-sayang tapi gengsi untuk mengatakan.
"Sayang, cepet sembuh ya, biar kita bisa keliling ke nirwana," selorohnya menaik turunkan alisnya. Pria itu mengacak rambut istrinya dengan gemas.
Setelah minum wedang jahe buatan mertuanya, tubuhnya merasa hangat, sedikit memanipulasi rasa nyeri yang lumayan memudar.
"Ngampus jam berapa? Sepertinya ada pengumuman pembagian KKN untuk hari ini?" Inggit mengiyakan. Perempuan itu ngangguk, beringsut mendekati Biru yang duduk tak jauh darinya, memposisikan paha pria itu sebagai bantalan. Sementara Biru sembari mengotak atik laptopnya.
"Udah nggak sakit?" tanyannya sesekali melirik istrinya dari atas, yang sedang bermanja di pangkuan suaminya.
"Sedikit," keluhnya seraya memainkan kaus suaminya. Sementara Biru sendiri tangan kirinya sibuk mengelus-elus rambutnya, sementara tangan kanannya memegang mouse.
"Adoh ... anjir, beneran kita nggak satu kelompok," keluhnya mengumpat kesal. Saat Biru kembali meneliti nama-nama kelompoknya yang sudah terbagi secara acak.
Inggit langsung menengadah, "Apa, Al?" tanyanya tidak begitu fokus.
"Kita beda kelompok KKN, sayang, ah ... ini membuatku kesal." Biru menyingkirkan laptopnya.
"Beneran, sudah kuduga sih ... dari sekian banyaknya mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut, kalau kita dalam satu kelompok itu benar-benar kebetulan yang paling kebetulan. Aku kelompoknya siapa aja?" Biru bukannya menjawab malah mrengut.
"Tauklah ... cek aja sendiri!" ujarnya hilang semangat.
"Kok ngambek?" Karena merasa penasaran, Inggit langsung membuka laptop Biru dan masuk ke web kampus, informasi yang dibagikan ke setiap kelompok kelas.
"Eh, yes ... gue bareng Okta," serunya girang ketika menemukan satu anak yang satu jurusan yang sama plus sudah akrab dengannya jadi nggak berasa kaya orang ilang.
__ADS_1
"Seneng, bangga, dapat satu kelompok sama mantan," sindirinya ketus.
"Apaan sih, emang iya?" Inggit kembali meneliti nama-nama kelompoknya. Benar saja, dari dua belas nama peserta salah satunya ada nama Daffa, pantas saja Biru sedikit kesal.