Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 59


__ADS_3

Cup


"Assalamu'alaikum ... " satu kecupan Biru daratkan di pipi diakhiri salam. Membuat gadis yang belum genap dua puluh satu tahun itu terbengong di tempat. Sementara pelakunya pun sudah lebih dulu melesat, sebelum si empunya pipi mengamuk.


"Waalaikumsalam ...." Inggit meraba pipinya sendiri, ia yakin saat ini tengah merona, tanpa sadar senyum manis tersungging di sana.


Kok gue aneh banget sih, apa iya si playboy itu beneran berubah? Ah, terlalu menyangsikan, kalau suka, buktinya sampai sekarang nggak pernah ngungkapin. Emang dasar tuh cowok, modus.


Inggit terus menyangkal, tidak ingin jatuh terlalu dalam, karena melepas seseorang yang sangat kita cintai itu sakit, ia tak ingin terluka lagi, cukup sudah pernah merasakan harus mengakhiri hubungan menyakitkan karena pacar sendiri lebih memilih orang lain, dan itu teramat sakit.


Pengalaman adalah guru terindah, sudah sepantasnya gadis itu berhati-hati melabuhkan hatinya kembali. Walaupun itu dengan suami sendiri, apalagi treck rekord Biru yang teramat frontal di kalangan antero kampus, membuat gadis ayu itu benar-benar harus menyiapkan diri. Mengapa Inggit terus menyangkal dengan pesona itu, ia tidak ingin jatuh cinta, selepasnya nestapa sendirian.


'Ngomong-ngomong Biru kerja apa malam-malam begini?'


Inggit bergumam pelan, ia sungguh kepo, namun masih bisa menguasai diri. Sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Inggit lelah sendiri dan memutuskan untuk tenggelam ke dalam sosial media. Ya, bergelut dengan sejuta aplikasi di sana, bisa membuat hiburan sejenak dikala sepi beranjak.


Malam kian menanti, Inggit merasa lapar, Biru bilang ia akan pulang larut malam ini. Mendadak ia merasa kesepian, sendirian di meja makan, sungguh membuat ia merasa ada yang kurang, rumah terasa begitu hampa, walaupun jarang berdua dan akur, tapi jam-jam seperti ini biasanya mereka akan sibuk dengan tugas bersama.


Sementara Biru sendiri menutup perfom hari ini cukup malam. Pengunjung kafe yang rame menyebabkan pria itu lebih semangat mengisi acara. Tepat pukul setengah sebelas malam, Biru dan kedua sahabatnya memutuskan pulang. Ia tersenyum senang, entah mengapa rumah sederhana itu sangat membuat ia betah ketika Inggit berada di sana.


Cukup berkendara dua puluh satu menit, Biru sudah sampai di halaman rumah mereka. Lampu-lampu sudah gelap, hanya lampu kamar yang meremang yang tersisa. Biru yakin, istrinya pasti sudah terlelap.


Dengan hati-hati pria itu masuk ke dalam kamar, menaruh tas besarnya yang berisi gitar, dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Pria itu menilik istrinya yang sudah terlelap damai, pelan ia merangkak ke atas ranjang, menyusul istrinya dan membaringkan tubuhnya yang penat seharian, lalu menarik selimut yang sedang dipakai Inggit.


"Gemes banget sih kalau lagi bobok, nggak cerewet, nggak ketus, nggak ngeselin kalau ngomong, beda banget kalau udah bangun, cueknya minta ampun." Biru bergumam-gumam lirih. Menatap lekat wajah istrinya yang terlelap damai. pelan tangannya terulur menepikan anak rambut yang menghalangi pipi.


Inggit sedikit terusik, namun ia tak sampai bangun, tanpa sengaja tangan gadis itu melingkar di atas tubuh Biru, pria itu berseru senang dalam hati, tanpa canggung langsung merapatkan diri, balas memeluk istrinya itu, persetan dengan esok hari, seandainya Inggit mengamuk karena mencuri pelukannya, ia akan mendengarkan saja. Pria itu tertidur dengan hati membuncah bahagia.


Keesokan paginya, Inggit merasa sesuatu yang aneh tertangkap tangannya. Ia meraba dalam gramang, sebelum akhirnya benar-benar terjaga. Saking paniknya pagi-pagi dalam dekapan seorang pria, refleks Inggit mendorong pria itu hingga terjungkal ke lantai.


Biru yang masih terlelap, tergeragap kaget dan meringis mendapati dirinya terdampar tak berperasaan di atas keramik.

__ADS_1


"Awww ... Nggit, apa sih, rusuh banget!" kesal Biru mengaduh. Bokongnya berdenyut pegal bersilaturahmi dengan lantai dasar.


"Eh, sorry, sorry, gue refleks aja, habisnya kamu sendiri ngapain tidur deket banget, ya gue ... kaget," sesalnya nyengir.


Biru mrengut, ia berdiri dengan tangan mengelus pinggang yang terasa encok.


"Sakit ya?" tanya Inggit penasaran, spontan ia pun mendekat.


"Coba sini gue lihat, butuh krim otot kah?"


"Butuh kasih sayang!" jawabnya kesal, berlalu dan langsung meninggalkan Inggit begitu saja.


"Al, sorry ... kok ngambek sih, ya salah siapa tidur nempel-nempel aku."


"Cuma nempel Inggit, sekedar memeluk, itupun kamu juga entah sadar atau enggak melakukan hal yang sama, kalau nggak suka dan ngerasa risih ya tinggal bilang, dan menyingkir, nggak harus dorong juga, mana kenceng lagi, sakitnya tuh di sini." Biru menunjuk dadanya sendiri. Entah apa yang merasukinya, ia mendadak dongkol setengah mati.


"Aku 'kan udah minta maaf, kok marah-marah terus sih, ngeselin banget jadi cowok!" kesal Inggit lalu, menghentakkan kakinya ke lantai sebagai bentuk protesnya.


"Mana yang sakit?" Inggit kembali dengan menenteng krim otot, sepertinya gadis itu berniat mengobati.


"Sini, sini, sini." Biru menunjuk asal semua punggungnya, diam-diam ia berseru senang saat Inggit perhatian.


"Nih obatin, biar pegelnya ilang." Inggit mengangsurkan krim di hadapan pria itu, Biru bergeming, ia tidak mau melakukannya sendiri.


"Obatin," pintanya manja.


"Hah! Sendiri lah," sergahnya sungkan.


"Ya sudah, nggak usah aja, nggak ikhlas banget niat bantuin."


"Iya, iya, bawel banget sih." Inggit mengambil duduk di samping Biru. Pria itu melepas kausnya, Inggit memalingkan muka untuk menghindari hawa aneh yang mulai melingkupi hati.

__ADS_1


"Yang mana?" Inggit bingung sendiri. Mendadak ia grogi.


"Sini, Nggit." Pria itu menggenggam tangan istrinya dan mengarah asal pada pinggangnya, sebenarnya sudah tidak sakit tapi tentu saja Biru ingin diperhatikan lebih, kapan lagi bisa saling menempel begini.


Inggit mengoles secara perlahan, rasanya begitu aneh, terlalu dekat dengan Biru membuat degup jantungnya memacu lebih cepat.


"Udah, udah nggak sakit 'kan?" tanyanya lirih. Biru bergeming, terlalu menikmati pijatan lembut Inggit membuat pria itu senyum-senyum sendiri.


"Al, udah ... masih ada yang sakit?" Biru berbalik badan, Inggit tergeragap bertemu pandang, spontan ia mengalihkan untuk meminimalisir degup jantung yang semakin rancak.


"Masih," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


"Hah," Inggit kembali menatap. "Mana?" tanyanya bingung.


"Sini kalau dibentak-bentak terus." Biru mengambil tangan Inggit dan menempelkan pada dada bidangnya.


"Apaan sih, modus!" Inggit berkilah, berusaha mengalihkan dan beranjak dari sana. Namun, Biru menarik tangan gadis itu hingga ia terjerembab di atas pangkuannya.


Inggit hendak berontak, tapi Biru mendekapnya erat.


"Diem Nggit, semenit saja, biarkan aku memelukmu, aku sedang merindukan Mama, please ...." curhatnya lirih. Inggit yang hendak bangkit urung, terdiam sesaat, ia membiarkan pria itu mendekap tubuhnya.


Biru mendekap kuat, sesuatu yang di sana meminta dituntaskan, namun ia tak sampai hati mengutarakan. Ia menenggelamkan wajahnya di cerukan leher istrinya, menghirup wangi tubuhnya yang terasa mendamaikan.


"Al, ini sudah lebih dari satu menit," keluhnya merasa gusar, saat ia merasakan sesuatu yang di bawah sana kepunyaan Biru terasa mengeras.


"Ya, sebentar lagi," jawab pria itu yang masih setia menenggelamkan wajahnya di antara cerukan leher Inggit yang jenjang. Dengan mata terpejam, pria itu begitu menikmati moment ini.


"Inggit," gumamnya gusar.


"Ya."

__ADS_1


"Boleh?"


__ADS_2