
Biru nampak berantakan ketika menghubungi teman-temannya. Ia benar-benar kecolongan selangkah lebih gesit dari si ular betina itu. Saking geramnya, pria itu langsung menuju kost-kostan Hilda, tentunya ditemani dua sahabatnya yang paling setia.
"Gila, Hilda beneran datang ke rumah?" tanya Nathan tak percaya.
"Lo harus bisa membuktikan dan menyeret perempuan itu, bahwa janin yang ia kandung bukan anak lo. Kita culik dia, terus bawa ke rumah sakit."
"Iya, itu yang sedang gue pikirin, bokap gue beneran marah, mertua gue apalagi, beliau langsung nyuruh kita pisah. Gue benar-benar hancur."
"Tenang, Al, lo hanya belum utuh saja, bukan hancur, jadi ... berhubung mantan lo itu super tembok alias tak tahu malu, kita kudu selangkah lebih pintar untuk membuat ia benar-benar jatuh harga dirinya."
"Eh, tapi ... gimana kalau yang ada di rahim Hilda beneran benih lo, ya 'kan walaupun dia terbukti tidur dengan banyak pria, namun kalau apes, bisa jadi itu beneran anak lo."
"Astaghfirullah ... gue emang brengs*k, tapi semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk gue memperbaiki hubungan gue dengan Inggit, dan gue tidak mau punya anak selain dari rahim istri gue. Jangan sampai terjadi, dan tidak boleh terjadi."
"Kita bayangin kemungkinan yang paling terburuk untuk diri lo, apa yang ingin lo lakuin jika beneran itu anak lo?"
"Gue tidak mau berandai-andai, tolong jangan membuat hati gue tidak tenang."
"Al, suka atau tidak suka, lo kali ini harus bermain cantik, Hilda banyak liciknya, gue takut cewek saiko kaya dia nekat ngelakuin apa saja."
"Terus, gue musti gimana?"
"Lo, harus main cantik, putar strategi. Pertama, lo baik-baikin dia, lo ajak tuh periksa ke dokter, terus lo 'kan bisa tahu berapa minggu atau bulan usia kandungan perempuan itu."
"Ogah, gue baik-baikin dia, nggak ada cara lain apa!"
"Itu cara yang paling halus, untuk cara yang kedua, tentu saja lo harus tes DNA untuk mengetahui secara jelas bahwa lo Ayah biologisnya atau bukan."
__ADS_1
Mereka bertiga sampai di kost Hilda dan menemukan kost-kostan perempuan itu terkunci. Artinya, Hilda tidak di rumah.
"Maaf, Bu, penghuni kost atas nama Hilda pergi ke mana ya?" tanya Biru menyambangi rumah pemilik kost yang bertempat tidak terlalu jauh.
"Hilda belum lama ini pindah, seminggu yang lalu lebih tepatnya."
"Owh ... gitu ya ...." Biru dan kedua sahabatnya mengangguk ngerti. "Terima kasih infonya, Bu, kami permisi." Pencarian dilakukan dengan tidak tahu arah.
"Cari ke mana tuh demit, lo ada ide?" Biru menggeleng.
"Lo coba hubungi ponselnya, siapa tahu dapat petunjuk!" titah Devan yang kadang ada benarnya.
Biru menurut, ia mendial nomor ponsel mantan kekasihnya itu dengan harapan menemukan perempuan itu, dan bisa segera terselesaikan masalah yang telah membuat ia tidak bisa hidup tenang.
"Nggak diangkat!" Biru mengumpat, sambungan ketiga kali tidak membuat panggilan itu terhubung.
"Gue sependapat sama lo, Dev. Sebaiknya, kita selidiki lebih lanjut, gue curiga, dia nggak beneran hamil dengan siapapun, namun sengaja memancing di air keruh karena merasa sakit hati dengan hubungan kalian yang berakhir."
"Kalau prediksi lo itu benar, gue lebih bersyukur. Tapi, kalaupun meleset, gue tetep yakin, itu bukan anak gue."
"Aamiin ... sebaiknya lo pulang dulu, tenangin diri lo, makan, istirahat, lo terlihat buruk dan acak-acakan."
"Bodo amat lah, gue udah nggak bisa tidur tenang selama dua malam ini."
"Iya, iya, gue ngerti lo kangen 'kan sama istri lo, tapi, Inggit bakalan sedih kalau lihat lo berantakan gini tak beraturan, yang ada kadar ketampanan lo tereliminasi dan tidak cakep lagi.
Kita bakalan bantuin lo lagi besok, sekarang juga udah malam, kita butuh otak yang fresh untuk bisa mikir."
__ADS_1
"Oke, terima kasih kawan, sampai ketemu besok." Mereka sepakat pulang ke rumah masing-masing.
***
Kasus viral foto-foto itu sudah diluruskan. Pihak kampus juga sudah mendapatkan bukti dan laporannya. Inggit hanyalah segelintir korban dunia sosial media. Cukup menjadi pelajaran bagi semua, siapapun itu, untuk berhati-hati dalam bersosial media. Berhati-hati menggunakan barang elektronik yang efektif dan banyak manfaatnya. Salah-salah bisa menghancurkan dan mendapat banyak kemudharatan. Apalagi sampai bergaya tidak senonoh, atau merekam aktivitas menyimpang. Sangat tidak dianjurkan karena bisa menjadi boomerang.
Kabar bahagia itu tentu saja sampai ke telinga keluarga Inggit dan Biru. Satu bukti telah menguatkan, dan setidaknya keduanya terbebas dari sanksi karena sebagai korban. Pihaknya memberikan sanksi yang tegas dengan orang yang telah menyebarkan tindakan asusila tersebut. Bahkan melimpahkan kasus tersebut pada pihak keluarga yang Bersangkutan untuk melanjutkan tuntutan ke meja hijau.
Biru dan Inggit juga lepas dari sanksi. Keduanya dianggap aman karena merupakan pasangan halal. Mereka diperbolehkan mengikuti serangkaian kegiatan kampus kembali. Bisa belajar dengan nyaman setelah kasus ini ditutup dan mengumumkan pernyataan pihaknya tidak bersalah, hanya sebagai korban fitnah dunia.
Kendati demikian, Inggit masih belum menampakkan batang hidungnya di kampus. Padahal sesi terakhir pengumpulan tugas akhir sebelum minggu depan mulai libur tenang menghadapi ujian semester genap.
"Okta! Inggit belum masuk?" Biru menghampiri salah satu teman istrinya, ia begitu khawatir dan cukup merindukan Inggit. Hanya di kampus kesempatan untuk bertemu dengan Inggit, ia dapatkan, tapi sepertinya tidak akan menjadi nyata. Bahkan, sampai Kelas terakhir Okta mengabari Inggit tidak datang hari ini.
"Ya Tuhan ... sampai kapan kita terpisah jarak dan waktu," keluhnya pilu.
Sudah dari tiga hari yang lalu, Inggit dan Biru tanpa komunikasi. Ponsel Inggit juga tidak bisa dihubungi, entahlah, itu membuat Biru tak bisa menahan rindu lagi. Bisa dibayangkan, hari ini adalah hari terakhir mereka sebelum libur tenang selama seminggu. Itu artinya, mereka tidak akan bertemu seminggu ke depan. Biru tentu saja merasa berat. Saking tidak kuatnya menahan kangen, pria itu nekat mendatangi rumahnya. Tentu saja hal itu dilakukan secara diam-diam.
Inggit yang tengah sibuk belajar dikagetkan dengan bunyi lemparan batu yang menerjang jendela kamarnya. Perempuan itu terjingkat kaget, hampir histeris sebelum akhirnya mendapatkan batu berbalut kertas penuh tulisan.
[Keluar dan lihat ke bawah, arjuna Biru menunggumu] lengkap dengan emoticon love dua ribu dua puluh dua.
Inggit menuju balkon, mengintip ke bawah dan benar saja, sosok yang tiga hari ini ia rindukan ada di sana tengah melambai ke arahnya. Kedua sudut bibir gadis itu membuat lengkungan, saat melihat suaminya berhasil memanjat dengan tangga.
"Kamu nekat ke sini? Ya ampun ... Romo bisa marah kalau tahu ini," sela Inggit di tengah rasa khawatir dan haru.
"Aku tidak peduli, aku merindukanmu, sayang."
__ADS_1