
Nathan sangat bersemangat menanti panggilan dari Inggit. Pria itu merasa di PHP setelah sempat mengobrol dan tak tahunya Inggit malah menyampaikan amanatnya Hilda yang katanya ingin bertemu. Pria itu menggerutu dengan wajah masam. Sementara Biru dan Devan ngeledek Nathan atas kasus itu.
"Makanya nggak usah ge er dulu Suloyo, gue bilang juga apa, Inggit tuh nggak mungkin suka sama lo. Eh tunggu-tunggu, tapi kenapa si Hilda yang jadi pingin ketemu, jangan-jangan setelah putus dari Kartoyo, dia ngincer elo Than," serbu Devan berapi-api.
"Nggak mungkin, pikiran loe terlalu jauh, gue nggak akrab-akrab banget sama bekas Kartoyo," jawab Nathan yakin.
"Hish ... tuh cewek drama banget, mungkin sengaja gitu ngetes reaksi lo Al, kalau gue dan Hilda deket otomatis 'kan bisa memicu konflik antara gue dan elo, pikirnya Hilda."
"Bodo amat, mau sama elo silahkan, mau ngapain aja gue nggak peduli, gue mau insyaf mau fokus sama yang halal," jawab Biru mantap.
"Widih ... bahasa lo, mantab bro!" Devan mengacungkan dua jempolnya.
Tak berselang lama Nathan pun memutuskan bertemu dengan Hilda. Masih di lingkungan kampus, jarak menuju jam ke dua memang cukup longgar. Sementara Inggit, tidak ingin terlalu ikut campur terlalu jauh perihal privasi Biru, dan juga Hilda, gadis itu memilih tetap diam tanpa membantu atau melarang. Biarlah keduanya menyelesaikan masalahnya tanpa campur tangan dirinya. Tidak ada seorang pun wanita yang rela berbagi cinta, begitu juga dengan Inggit, sejauh mana kesungguhan pria itu berniat menyakinkan hatinya, apakah layak untuk memaafkan atau malah mengikhlaskan. Biar bagaimanapun, ikatan mereka sah di mata Tuhan.
Tenggelam dalam diam, lebih memilih menghabiskan waktu di ruang lab komputer, selain hanya untuk menghindari dari kejenuhan panjang, ia bisa memanfaatkan untuk mengerjakan tugas karena akses wifi yang patas.
Inggit tengah fokus menatap monitor ketika tiba-tiba seseorang sudah menempati ruang kosong di sebelahnya. Ruangan yang lumayan sedikit pengunjung itu terlihat tenang ketimbang di longue atau lobby belakang, cenderung rame karena banyaknya mahasiswa yang menempati.
"Hai ... " sapanya mengerling. "Sejak kapan kamu suka menyendiri di sini?" tanyanya basa-basi, menggeret kursi di sebelah dan langsung menempatkan di sisi gadis berparas ayu itu.
"Ngapain lo ke sini?" jawabnya ketus, tanpa mengalihkan tatapan dari layar monitor.
"Ini 'kan tempat umum, jadi boleh dong gue menempati, termasuk sekarang ini," ujar pria berkemeja dongker itu.
"Ish ... empet mata gue ketemu lo mulu, sana gih jauh-jauh," usir Inggit kesal, Biru bermuka masam.
__ADS_1
"Tega banget sih Nggit. Emmm ... ngomong-ngomong kenapa tadi tidak berterus terang saja sama Hilda, gue udah nggak ada urusan lagi sama dia," curhat Biru apa adanya.
Inggit memindai netra dari layar komputer ke wajah yang tengah menatapnya lekat.
"Lo berharap apa dengan hubungan kita, seneng gitu kalau semua orang, seluruh kampus ngecap gue sebagai pelakor, perebut pacar orang, ya masih mending kalau yang direbut seseorang yang kita beneran sayang, kalau 'lo' yang ada gue rugi, nol besar!" sarkas Inggit dengan nada penuh penekanan.
Sejenak Biru terdiam, memikirkan sebab dan akibatnya. Baru ia kembali bermuram durja setelah menelaah kalimat istrinya. Apa memang benar tidak ada sedikit ruang untuk dirinya di hatinya. Kenapa kata-kata Inggit begitu menyesakkan dada, apa maksudnya rugi?? Gue setidak berharganya di mata dia.
Inggit kembali tenggelam dengan aktivitasnya, sementara Biru memilih diam di sampingnya. Memperhatikan tangan lincah Inggit menari di atas keyboard. Sepertinya perempuan itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya.
"Apa kamu sering ke sini?" tanyanya tak mau menyerah. Ia mulai terbiasa dengan sikap ketus Inggit, walaupun kadang merasa kesal tetapi ada benarnya, kalau bocor sekarang Inggit pasti jadi bulan-bulanan sahabatnya itu, mungkin sedikit waktu lagi untuk bersabar, sambil benar-benar mengumpulkan bukti tentang kebenaran yang pernah terucap Inggit untuk Hilda, supaya wanita itu tidak ada alasan lagi untuk menyangkal, dan tetap bersikeras mempertahankan hubungan mereka.
Biru keluar dari ruangan, tak berselang lama ia masuk kembali dan menenteng dua cup boba di tangannya. Ia menaruh minuman yang tengah di gandrungi remaja kekinian itu di samping komputer.
"Makasih," jawab Inggit langsung mengambil dan mengalirkan minuman dingin itu ke tenggorokannya yang terasa kering. Rasa haus berangsur hilang setelah beberapa tegukan strawberry macchiato menyambangi kerongkongannya.
"Punya kamu kayaknya lebih enak," celetuk Biru menyorot minuman berwadah cup itu. Tangannya terulur menyabotase yang tak dinyana Inggit hendak mengambil cup yang sama. Dalam seperkian detik, tangan mereka tak sengaja bertemu, keduanya termangu sesaat hingga gadis itu sadar mereka seperti sedang saling menggenggam.
"Lo mau," gugup Inggit berujar, spontan melepaskan genggaman tangan yang menumpuk di atas tangan Biru. Sejenak ia salah tingkah membuat Biru mesem-mesem nggak jelas.
"Emang boleh?" tanyanya ragu. Inggit tidak bersuara, tapi gadis itu mengangguk, tanpa ragu Biru langsung mengambil minuman warna pink itu yang masih tersisa separohnya.
"Enak," celetuk Biru setelah meneguk beberapa teguk dari sedotan. "Apalagi bekas kamu, rasanya beda," ujarnya menyeringai manis. Inggit bergeming, walaupun dia akui ada rasa yang entah saat Biru berkata demikian.
"Bestie, kita romantis banget ya, minum satu cup berdua." Biru mengangkat gelas cup yang hampir tak tersisa isinya lalu mengabadikan dengan kamera ponselnya. Ia mengambil gambar beberapa jepretan.
__ADS_1
"Alay banget sih, ngapain coba di ambil gambarnya kaya gitu." Inggit cemberut, lebih tepatnya pura-pura merajuk. Biru tak menggubris wajah ayu istrinya yang manyun.
"Aku kelas dulu ya, jangan kelamaan di sini, konon katanya tempat ini tidak baik untuk anak gadis sendirian," usilnya mencoba membuat manuver-manuver peringai menyeramkan.
"Apaan sih Al, becanda kamu nggak lucu." Inggit menyipit dengan tangan meraih ujung kemeja Biru. Ia mengedarkan ke penjuru ruangan hanya segelintir orang di ruang lab komputer yang sedang nampak serius.
"Takut ya?" Biru berkata dengan gemas, tangan kekarnya bergerak lembut di atas pucuk kepalanya. Memberikan sentuhan halus yang mampu membuat si empunya terdiam sesaat.
"Aku becanda sayang, semangat nugas, aku kelas dulu ya?" imbuhnya dengan nada lembut, membuat Inggit terheran sesaat. Sampai pria itu menghilang di balik pintu, entah mengapa gadis itu masih belum bisa menangkap dengan jernih kata keramat itu.
"Ah ... dasar, play boy," gumam Inggit menepis prasangka hati yang mulai berdesir. Ia mengikuti langkah Biru ke luar ruangan. Benar saja cukup lama menghabiskan waktu di sana, Inggit bergegas menuju kelas untuk mengikuti makul kedua. Hingga pelajaran usai, gadis itu memutuskan untuk langsung pulang.
Biru menawarkan tumpangan dengan menunggu di depan halte kampus untuk meminimalisir penglihatan orang, tetapi begitu gadis itu sampai, ia lebih dulu menemukan Hilda yang tengah menaiki si kuda besi kesayangan suaminya itu.
"Tuh kan, gue bilang juga apa, katanya putus tapi tetep jalan berdua, emang dasar play boy," tukas perempuan itu bergumam lirih. Menyorot motor suaminya yang melaju berboncengan Hilda. Entah mengapa Inggit sedikit kesal, bukan rasa cemburu tetapi lebih kepada sudah menawarkan untuk pulang bareng giliran gadis itu mengiyakan malah berakhir PHP, tentu itu membuat Inggit kesal.
TINTIN
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan kecil gadis itu, segera ia menoleh menemukan sosok berperawakan manis itu menyapa.
"Mau bareng?" tawarnya setelah menurunkan kaca mobilnya. Tanpa banyak berpikir Inggit mengiyakan ajakan Ares.
Baik Biru dan juga Inggit tenggelam dengan aktivitas sore mereka. Keduanya berjalan dengan pasangan masing-masing. Ares dengan Inggit yang sore itu menghabiskan waktu di mall dengan mengunjungi time zone, dan Biru dengan Hilda yang mengantar mantan kekasihnya itu membelanjakan sesuatu.
Keduanya dalam wilayah yang sama. Di tempat itu juga tak sengaja mama Diana dan Bu Tami yang tengah asyik habis berbelanja bulanan bersama, tak sengaja ekor matanya menangkap bayangan anak-anak mereka, memergoki mereka dari kejauhan. Karena merasa tidak begitu yakin refleks mama Diana mendekati di mana Inggit bermain, sedang Bu Tami mendekati Biru yang tengah di toko pakaian. Kedua orang tua itu berucap istighfar sebisa mungkin melihat pemandangan di depan matanya yang membuat hati menohok kesal. Tidak ada yang menegur, namun hanya saling melaporkan dan mengangguk dalam kesepakatan.
__ADS_1