Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 39


__ADS_3

Hingga menjelang pagi, pasangan yang tak pernah akur itu masih terlibat perang dingin. Inggit terlihat sibuk dengan aktivitas paginya dengan membungkam mulutnya rapat-rapat. Begitupun dengan Biru, mendadak irit bicara sepanjang paginya. Mereka sama-sama tidak ada kuliah pagi.


Inggit tengah menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke kampus. Biru masuk siang, namun, ada yang menarik di sini, Inggit yang terbiasa membuat sarapan, ia menyiapkan sarapan untuk porsi berdua seperti hari lalu. Inggit kesal dengan orangnya, tapi, ia mencoba untuk bersikap tenang dan biasa saja seperti sedia kala.


"Inggit, gue ... minta maaf, gue beneran nggak tahu malam itu lo dalam bahaya. Gue nyariin lo, tapi nggak ketemu."


"Habisin makanannya, Al. Jangan sambil ngomong," tegurnya dingin. Tidak menjawab maaf dari Biru, Inggit hanya ingin tetap hidup damai dan berusaha tenang. Melewati itu semua tanpa harus banyak drama kehidupan. Ia tidak ingin membahas tentang apapun yang berhubungan dengan malam itu, rasa sakit kembali menguasai dirinya bila mengingatnya.


Biru langsung terdiam, kata demi kata yang sudah tersusun rapi dalam memori otaknya, mendadak negeblank tak tersisa. Ia menghabiskan sarapan dengan diam. Setelah selesai, baik Biru ataupun Inggit membersihkan wadahnya sendiri-sendiri.


Inggit kembali masuk ke kamar, ia mengambil tas ransel dan mulai mengisi dengan beberapa baju ganti untuk 3 hari ke depan. Gadis itu ada kegiatan belajar di luar lingkungan kampus


Biru yang baru masuk ke kamar nampak bingung melihat Inggit yang tiba-tiba packing barang.


"Lo, mau kemana Nggit? Nanti kalau orang tua kita tahu, lo udah siap?" tanyanya mulai penasaran. Biru sudah menahannya tapi tetap tidak bisa, rasa kepo di hatinya semakin besar. Biru pikir, Inggit akan minggat dari rumah, mengingat pertengkaran mereka semalam.


"Ke Jogja," jawab Inggit datar.


"Jogja, ngapain?" Biru bersikap seperti suami yang khawatir. Inggit menjeda aktivitasnya sejenak, memindai tatapannya pada Biru yang tengah menatapnya dengan rasa ingin tahu.


"Kegiatan kampus, Al," jawab Inggit jengah. Kembali memasukan barang apa saja yang hendak dibawa.


Biru bergeming, namun ia tetap menikmati tatapan lembutnya dengan rasa bersalah yang teramat. Masih belum berani banyak bertanya, apalagi melarang apa yang akan dilakukan gadis itu, yang Biru tahu, jurusan Inggit mau mengadakan field trip.


"Kontak motor gue, Al," pintanya lirih, kalau tidak butuh-butuh amat Inggit sebenarnya malas berinteraksi dengan pria itu.


"Biar gue yang bawa, sekalian berangkat bareng ke kampusnya, motor gue belum dibenerin, nanti mungkin baru ada tukang bengkel langganan gue yang datang," ujar Biru.

__ADS_1


"Bukannya lo siang ada kelas, gue mau ke rumah sakit dulu, nanti sore baru ke kampus," ujarnya mencoba memberi penjelasan.


"Nggak pa-pa, gue antar ke rumah sakit, sekalian jenguk Romo," pintanya dengan senyum lembut.


Inggit mendesah pelan, rasanya benar-benar malas harus satu motor berboncengan dengan Biru. Tapi tidak ada pilihan, gadis itu mengalah, terpaksa berangkat bersama. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara, baik Inggit maupun Biru terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Mereka masuk ke ruangan rawat, terlihat Romo sedang duduk di ranjang. Mukanya sudah tidak sepucat kemarin, terlihat lebih baik, kata Ibu berangsur pulih. Hati Inggit berucap syukur, salah satu alasan gadis itu tetap bertahan adalah keluarga dan juga kesehatan Romo di pertaruhkan. Keluarga Biru sudah banyak membantu, itu kenapa gadis itu merasa sungkan dengan mertuanya yang teramat baik itu.


"Romo senang kalian akur, selalu kompak seperti ini," ucapnya pelan. Inggit dan Biru hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Biarlah Romo tahunya kita baik-baik saja. Urusan huru-hara, nanti dipikir belakangan, yang penting Romo sehat, Inggit baru akan menjelaskan pelan-pelan.


Setelah berbincang cukup lama di rumah sakit, Inggit dan Biru pamit. Inggit sekalian mengabari Bu Tami perihal keberangkatannya ke Jogja.


"Biru tidak ikut?" tanya Ibu tiba-tiba.


"Nggak Buk, beda jurusan," jawab Inggit adanya. Keduanya salim dengan takzim.


"Bareng aja Nggit, satu tujuan juga, 'kan?"


"Lo yakin, kita arah kampus lho, gue nggak mau ada gosip di antara kita, terlebih lo itu pacar sahabat gue, gue nggak mau bersitegang dengan Hilda, gue malas. Gue lelah. Gue nggak mau ada orang lain tahu tentang status kita, biarlah tetap diam-diam married dan sampai waktunya tiba, kita pisah tanpa harus banyak drama."


Biru terdiam, ada perasaan yang entah setiap kali membahas perpisahan. Hatinya mulai terusik.


"Cuma bareng sampai kampus, gue rasa nggak ada orang yang peduli dengan pandangan kita. Gue bawain tas lo," ujar Biru mengambil ransel yang terasa berat di punggung Inggit. Ia menaruh di bagian depan motor.


"Jangan bengong, Nggit." Biru memakaikan helmnya. "Bisa berangkat sekarang? Gue ada kelas," ucapnya mengangguk. Biru langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Ini kontak lo, Nggit. Makasih udah nebeng," ucap pria itu lembut. Mereka sudah sampai di parkiran kampus khusus mahasiswa.

__ADS_1


"Lo bisa bawa motor gue pulang, Al. Gue nanti langsung kegiatan kampus, beberapa hari nggak pulang," kata Inggit menjelaskan.


"Field trip kemana? Untuk berapa hari?" tanyanya mendadak khawatir.


"Jogjakarta, untuk 3 hari."


"Hati-hati di jalan, jangan lupa oleh-olehnya," selorohnya. Inggit tersenyum tipis.


Tanpa Inggit dan Biru sadari, interaksi mereka disaksikan Devan yang tak sengaja datang berbarengan. Pria itu sedikit berlari menyamai jalan Biru, menepuk pundak sahabatnya hingga si empu hampir terjingkat sempurna.


"Woi ... roman-romannya, gue bakalan makan gratis sebulan."


"Njir ... kaget be*go!!" Biru ngegas.


"Lo ngapain bengong, lihatin Inggit sampai kaya gitu, lo juga tadi barengan satu motor, jangan bilang lo janjian berdua berangkatnya."


"Berisik!!" Biru teriak di pinggiran telinga Devan.


"Set*n lo, budeg kuping gue." Devan merangkul leher Biru dan berjalan rusuh menuju kelas.


Sementara Inggit sudah berkumpul bersama teman-temannya yang hendak mengikuti kegiatan bersama. Mereka ngumpul di lobby belakang kampus, sambil duduk santai di sofa yang tersedia. Ares belum datang, pria itu masih sibuk di kantor untuk hari jumat. Rombongan akan berangkat malam nanti dari kampus dengan bus.


Inggit tengah memainkan ponselnya sambil nyemil ketika pria yang di gadang-gadang tiba paling akhir datang menghampiri.


"Hai ... udah pada ngumpul, asyik nih pada bawa cemilan banyak. Geseran, Bram, gue butuh ruang," ucapnya mengambil duduk di samping Inggit.


"Ish ... baru datang main serobot," keluh Bram menggerutu. Ares terkekeh pelan.

__ADS_1


"Lo bawa apa aja Nggit? Nanti duduknya bareng ya?" pintanya berbinar. Inggit mengangguk dengan senyuman.


__ADS_2