
Biru tersenyum simpul menatap sprei yang acak-acakan sisa pergulatan mereka semalam. Masih begitu membekas, bahkan ingin mengulangi lagi dan lagi. Istrinya benar-benar sukses membuat pria itu candu. Sembari menunggu perempuan itu membersihkan diri yang pastinya akan lama, Biru membenahi kamar, lagi-lagi senyum itu terukir saat melihat noda merah membekas di sana. Merasa menjadi orang paling beruntung bisa mendapatkan perempuan yang bisa menjaga itu hanya untuk suaminya.
Biru juga sengaja menyiapkan sarapan untuk istrinya, pria itu sweet sekali. Ia akan membuat perempuan itu benar-benar merasa nyaman dan betah bersanding dengan dirinya. Menikmati setiap moment indah bersama.
Sementara Inggit sendiri, sengaja berlama-lama berendam untuk menghalau rasa remuk pada tubuhnya. Biru benar-benar membuat dirinya habis tak bertenaga, semalam ia meminta beberapa kali hingga perempuan itu merasa susah untuk sekedar berjalan.
Inggit mengakhiri sesi berendam dan membilasnya setelah mendapat gedoran pintu dari luar. Rupanya suaminya itu mencemaskan dirinya yang tak kunjung usai.
"Inggit, sayang ... jangan lama-lama mandinya, are you oke?"
Perempuan itu tidak menjawab, ia melangkah perlahan meninggalkan kamar mandi. Membalut tubuh polosnya dengan bathrobe.
"Astaghfirullah ... Al, ngagetin ih ...." Inggit mrengut menemukan suaminya di depan pintu. Perempuan itu berjalan pelan, bahkan sangat pelan, hingga membuat suaminya itu gemas sendiri dan tak tahan untuk tidak menggodanya.
"Jalan kamu lucu, 11 12 sama robot," ledek pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan gagah. Inggit berhenti, menyorot kesal penuh dendam.
"Kamu yang bikin aku kaya gini, awas aja nggak bakalan aku kasih," ancam Inggit kesal.
"Eh, jangan! Becanda sayang, kok ngambek sih, adududu ... ada yang ngambek." Biru terus mengekor istrinya yang sibuk memilih baju.
"Ngapain ngikutin sih, sana jauh-jauh," geram Inggit kesal.
"Mana bisa aku jauh, yang ada ingin selalu didekatmu, yang," jawab pria itu nyengir.
"Mandi lagi yuk ... tapi habis ini, nggak usah pakai baju gini aja, biar nanti gampang," ujar pria itu menahan tangan istrinya.
"Ya ampun ... kamu mau lagi?" tanyanya tak percaya.
"Ya nggak pa-pa, 'kan halal." Biru menjawil dagu istrinya.
"Kamu nggak capek?"
__ADS_1
"Masih semangat banget."
"Kamu semangat akunya ....." jawab perempuan itu meragu.
Inggit kembali masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti.
"Sayang, jangan lama-lama," seru pria itu terus mengekor. Sesekali menggedor pintu dengan gemas, sengaja membuat huru hara. Menggoda istrinya memberikan semangat tersendiri untuknya.
"Berisik, Al!" jawab Inggit kesal.
"Habisnya kamu lama, dipanggil nggak nyaut, bikin aku khawatir" ujarnya merangkum bahu istrinya.
"Nggak pa-pa, pingin berlama-lama aja," jawab perempuan itu lalu. Menyampirkan bathrobe pada tempatnya dan menuju meja rias. sementara Al, bergelayut manja, memeluk dari belakang seraya menghujani tengkuknya yang terekspos dengan kecupan-kecupan nakal.
"Jangan, Al, ini aja yang semalam masih banyak bekasnya," keluh Inggit kesal, mengurai pelukan suaminya yang terus menempel.
"Hmm ... sini aku bantuin keringin rambut kamu." Biru mengambil hairdryer dan menyalahkannya. Membuka handuk kecil yang membungkus kepala perempuan itu.
"Wangi banget sih, bikin aku pengeni?" ujar pria itu tanpa dosa. Mengendus rambut istrinya yang masih tahap pengeringan.
"Aku udah siapin sarapan untukmu, ayo kita makan," ajaknya semangat.
"Kamu udah siapin? Masak apa?" tanyanya tak percaya. Menikmati jari-jemari Biru yang masih telaten menyisir dan merapikan rambutnya.
"Belilah, aku 'kan tidak bisa masak, hari ini kamu nggak usah sibuk pekerjaan apapun, cukup di kamar aja beristirahat, aku tahu kamu lelah," ujarnya tersenyum.
"Hmm, kamu benar Al, aku benar-benar capek dan masih terasa mengantuk," keluhnya jujur.
"Kamu boleh kembali istirahat setelah sarapan, aku bawain ke kamar aja, masih susah buat jalan? Aduh kasihat banget, maafkan Bondan yang terlalu bersemangat." Pria itu mengerling.
"Ini masih terlalu ngilu, ah ... sepertinya aku kapok," kata Inggit sengaja menggoda.
__ADS_1
"Eh! Kok ngomongnya gitu? Nggak baik sayang, aku janji akan membuatmu candu." Al mendadak sedikit waswas, apa jadinya kalau istrinya kapok, tentu itu buruk baginya.
"Sayang ... apa aku terlalu keras, maafkan aku, membuatmu harus susah berjalan, kita bisa mencobanya lagi untuk tahap demi tahap yang lebih asyik. Semangat!" Biru meyakinkan istrinya yang nampak galau.
Sebagai wanita normal, tentu ia juga menginginkan sentuhan itu dari suaminya. Hanya saja rasa yang masih tertinggal ngilu membuat ia membunuh rasa semangat itu. Apalagi menjaili Al itu cukup menarik, bagaimana kalau ia pura-pura merajuk dan menolaknya, apakah akan berhasil? Sungguh pria itu tak ada capeknya, menginginkan berkali-kali di tengah rasa yang masih ....
Usai sarapan, mereka hanya diam diri di rumah. Tidak melakukan aktivitas yang berarti. Hanya sekitar, kasur, kamar mandi, dan makan. Semua dilakukan dengan rasa membuncah bahagia. Nikmatnya pengantin baru, selalu ingin berdekatan dan tidak mau jauh.
"Sayang, kamu ingin punya anak berapa?" tanya Biru di sela santai di depan TV. Mereka tengah duduk lesehan, dengan kepala Biru tidur di pangkuan istrinya. Pria itu menatap dari bawah, sesekali menciumi perut Inggit dengan sengaja dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Belum ada rencana," jawab Inggit datar. Tangan kanannya sibuk memindai chanel TV, sementara tangan lainnya, menyugar dan bermain-main lembut dengan rambut suaminya.
"Ayo kita rencana dari sekarang, aku ingin anak yang banyak, rame kali banyak saudara, tidak kaya aku di rumah yang selalu sepi, tidak ada teman main waktu kecil."
"Sedikasihnya aja, tidak mau program atau promil, aku mau menyelesaikan kuliah dulu, semester tujuh mau ambil skripsi, ini akan merepotkan kalau aku hamil," ujarnya berasumsi.
"Tapi jika Tuhan kasih cepet, aku seneng aja kok, cepet tumbuh ya, Biru junior," gumam Biru lirih berdialog di hadapan perut istrinya.
"Kamu udah ada teman yang nginvite grub KKN, belum?"
"Udah, nggak ada yang menarik, nggak ada kamu di sana, ah ... galau aku jadinya. Semingguan lagi kita harus berpisah."
"Masih satu kabupaten juga 'kan? Kita bisa ketemu di akhir pekan," ujarnya menenangkan.
"Kalau aku tahan, kalau nggak gimana ya?"
"Bisa Al, ya ditahan-tahanlah, kita harus semangat untuk tugas semester ini biar cepat lulus, kita balapan, barang siapa yang skripsi duluan boleh minta apa saja tanpa penolakan."
"Siapa takut?" jawabnya semangat.
"Inggit, sayang," panggilnya manjah.
__ADS_1
"Hmm, apa Al ...."
"Bondan mau bertamu lagi boleh?"