Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 37


__ADS_3

Biru berjalan mendahului Inggit, ia membuka pintu utama dan cukup ternganga dengan tamu yang nekat datang ke rumahnya malam-malam.


"Ngapain lo ke sini? Kami tidak menerima tamu malam-malam!" tukas Biru ketus. Suasana di luar tengah hujan, Biru sudah berekspektasi melewati malam yang romantis terhadap istrinya terancam gagal dengan kedatangan Ares.


"Gue ingin bertemu Inggit, gue hanya memastikan dia baik-baik saja."


"Tentu saja dia baik-baik saja, sana pulang! Kehadiran elo, sama sekali tidak diharapkan, gangguin aja!" Biru menutup pintu dengan cepat, namun Ares menahannya seraya berteriak menyerukan nama gadis itu.


"Inggit, aku datang Nggit!" pekiknya.


"Heh, nggak sopan ya teriak-teriak di depan rumah orang, pulang nggak, atau gue panggil warga buat usir lo secara masalah," ancamnya dengan nada tak ramah.


"Siapa yang datang, Al?" Itu suara Inggit yang berjalan ke arah depan. Ares bukannya gentar dengan ancaman Biru malah semakin kencang menyerukan nama Inggit.


"Inggit, aku Ares Nggit!" teriaknya lebih kencang dari yang pertama.


"Breng*sek lo malam-malam ngajak ribut di rumah orang." Biru sudah sangat kesal.


"Ares? Kamu yang datang?" Inggit menemukan mereka yang tengah ribut di depan pintu.


"Nggit, kamu nggak pa-pa, aku khawatir, sorry nekat ke sini?" sesalnya tanpa memberi tahu. Kemarin waktu Ares berinisiatif menjemput, Inggit menolak, takut terjadi keributan dan salah paham yang berbuntut panjang, tapi nyatanya Ares bahkan sudah tahu kediaman mereka sejak jauh hari, karena Edo si asisten yang lihai.


"Aku nggak pa-pa Ar, kasihan banget malam-malam sampai ke sini, kenapa nggak telfon aja? Mana hujan lagi." Inggit merasa tak enak, pria itu sangat baik dan perhatian, tentu tak sampai hati Inggit bersikap cuek padanya, apalagi Ares adalah orang yang telah menyelamatkan dirinya tempo lalu, Inggit merasa harus berbalas budi.


"Udah jelas kan, Inggit baik-baik saja, udah sana pulang!" usir Biru ketus, sejak kedatangan pria di depannya dirinya sudah menahan emosi yang hampir meledak.


"Aku boleh masuk?" pinta Ares tenang. Di luar dingin bahkan hujan menyambangi bumi mengakibatkan pakaian Ares sedikit basah.


"Iya, sepertinya kamu butuh minuman hangat untuk tubuhmu, ayo masuk Res," ajak Inggit begitu saja.

__ADS_1


"Gue nggak ngijinin, jangan nglunjak jadi orang!" sergah Biru cepat. Inggit menyorot tajam suaminya yang berdiri tak jauh darinya dengan bersedekap dada.


"Apaan sih lo, Biru, jangan keterlaluan deh, Ares hanya mampir, baju dia sedikit basah." Inggit tidak terima.


"Kenapa? Ini rumah gue, gue berhak menentukan siapa yang boleh masuk atau tidak," jawabnya songong.


"Fine, Al, ini memang pemberian orang tua lo, tapi tante Diana juga masrahin ke gue, nggak pa-pa juga sih, kalau lo nggak ngijinin masuk, kita bisa ngobrol di luar," jawab Inggit berani. Biru mendelik kesal, ia tambah tidak rela kalau Inggit di bawa keluar malam-malam begini.


"Ya udah masuk, tapi sebentar aja!" ketusnya mengalah. Diam-diam Inggit tersenyum simpul, ia hampir nekat keluar bersama Ares dan tidak peduli dengan waktu malam sekali pun.


Mereka tengah di ruang keluarga, Ares sudah duduk dengan tenang, sementara Biru menatap tajam manusia yang tidak tahu aturan itu.


"Ini Ar, minum dulu biar tubuhmu hangat," ujar Inggit membawakan secangkir teh hangat.


"Makasih, Nggit."


"Sama-sama. Kamu perlu ganti baju, sebentar ya aku cariin dulu, sepertinya aku punya kaus longgar," ucap Inggit berlalu. Biru langsung mengikuti Inggit menuju kamar.


"Apaan sih, gue cari punya gue, jangan khawatirlah nggak bakalan pinjem punya lo juga," sergahnya kesal.


Biru langsung menarik pakaian miliknya asal, "Kasih punya gue yang ini, jangan pernah berbagi barang apapun dengan dia," ucapnya dingin. Biru merasa tidak suka Inggit berbagi pakai dengan Ares.


Inggit bergeming, namun ia menurut dengan mengambil kaus Biru yang telah suaminya ambil dari lemarinya. Biru kembali menyerobot kaus miliknya yang hendak diberikan pada Ares. Ia melempar baju miliknya ke badan Ares.


"Pakai punya gue, cepetan ganti mumpung gue belum berubah pikiran!" Mata mereka saling menyorot permusuhan. Kendati demikian, Ares terpaksa mengambil baju Biru demi menghargai Inggit.


Biru menutupi pandangan Inggit ketika Ares mengganti kausnya. Pria itu seolah tak rela, Inggit melihat tubuh kekar Ares.


"Ngapain lo?" tanya Inggit kaget ketika Biru langsung berdiri di depannya menghalangi pandangan istrinya.

__ADS_1


"Kamu hanya boleh melihat tubuhku saja," bisik Biru dingin. Inggit berbalik badan dan langsung menuju ruang makan.


"Apaan sih tuh orang, sinting!" gumamnya gusar. Inggit sengaja membagi nasi goreng menjadi tiga, ia ingin mengajak Ares untuk makan bersama.


"Ar, kita tadi mau makan, sekalian makan di sini saja kalau mau?" tawar Inggit kembali ke ruang utama.


"Kebetulan aku juga belum makan, iya boleh," jawab Ares senang.


Lagi-lagi Biru mau protes tapi seperti tak punya wewenang, Inggit benar-benar tidak paham, atau memang sengaja menabuh genderang perang. Biru menatap sengit pria yang duduk di samping Inggit. Ia menyelesaikan makan dengan cepat, malas, satu meja makan dengan perhatian Ares yang memuakan membuat hati Biru dongkol dan panas.


"Nasi goreng kamu enak," pujinya jujur.


"Masak sih, habisin dong kalau enak," ujarnya tersenyum. Biru benar-benar jengah menatap keduanya, Inggit sama sekali tidak menghargai dirinya sedikit pun.


"Kapan-kapan main ke apartemen aku lagi, buatin buat aku ya?"


Lagi


Mendengar kata lagi dari mulut Ares membuat Biru berpikir, Inggit sudah sering menghabiskan waktu berdua di sana. Diam-diam Biru mengumpat kesal, ia merasa telah kecolongan, sejak kapan mereka dekat, kenapa rasanya begitu sesak melihat mereka bertegur sapa begitu lembut, sejauh apa hubungan mereka, apakah melampaui batas seperti dirinya dan Hilda? Biru mendadak sangat marah. Kalau saja, Inggit sekarang tidak di hadapannya, sudah pasti pria itu pulang dengan babak belur. Sayangnya ia tak bisa membalas sekarang, image kekerasan sangat tidak disukai wanita. Ia meninggalkan meja makan begitu saja, dengan rasa kesal yang tak berbentuk.


Cukup lama pria itu menguasai emosi di dalam kamar, suara cekikikan mereka yang mampir ke telinganya membuat ia tak tahan lagi. Ia keluar kamar dengan rasa marah yang siap menerjang.


"Ini sudah larut kenapa lo masih bertamu, tuan rumah mau istirahat!" usirnya ketus.


"Inggit, jaga dirimu baik-baik ya, kabari aku segera jika butuh apa-apa?" pesan Ares sebelum pamit pulang.


"Makasih Ar, hati-hati di jalan!" Inggit mengangguk patuh. Biru tersenyum miring menatap keduanya.


Sepulang Ares, Biru langsung menatap tajam pada perempuan yang berstatus istrinya tersebut.

__ADS_1


"Ngapain lo, lihatin gue kaya gitu?" Inggit menyorot waspada menangkap senyum smirk Biru.


__ADS_2