Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 29


__ADS_3

"Udah, nggak usah nangis, cuma diajak pulang pakai acara ngeyel segala, drama banget sih!" omel Biru sembari melajukan mobilnya.


Inggit tidak merespon, gadis itu masih tersedu dengan perasaan kesal. Tindakan Biru yang pemaksa dan otoriter benar-benar membuat Inggit semakin tidak respect.


Biru melirik gadis cantik berstatus istrinya itu dengan perasaan kesal, bisa-bisanya Inggit malah lebih memilih pulang bareng Ares dari pada dirinya.


"Ada hubungan apa lo sama Ares?" tanya Biru penuh selidik. Mulutnya menggerutu, namun netranya tetap menghunus ke depan, fokus pada jalanan.


Hening untuk beberapa menit, sampai pria itu membelokkan mobil di prapatan jalan.


"Nggit, gue dari tadi tanya baik-baik lho, lo nggak budeg 'kan?"


"Bukan urusan lo?" jawab Inggit kesal.


"Ya, memang bukan urusan gue sih, tapi sayangnya lo terikat pernikahan yang sah sama gue, jadi ... gue berhak tahu dong setiap laki-laki yang deket sama lo?" jelasnya percaya diri.


"Apa peduli lo, nggak usah sok care, gue sama sekali tidak berminat mempunyai hubungan apapun sama lo!" tukasnya sengit.


"Sayangnya udah, gimana dong, mau nepatin janji, atau ... " Biru menggantung perkataannya.


"Atau apa? Gue nggak pernah mangkir dari perjanjian pra nikah yang telah kita sepakati, tapi nyatanya lo yang selalu ingkar."


"Gue juga nggak pernah ingkar, kapan gue doyan sama lo?"


Inggit tersenyum sinis mendengar penuturan Biru. Gadis itu semakin ilfeel dengan pernyataan pria itu. Munafik, arogan, dan super songong. Begitulah kata yang tepat untuk pria batu seperti Biru.


"Kok pulang ke sini?" tanyanya kesal. Biru membawa pulang Inggit ke rumah mereka.


"Emangnya kamu punya rumah selain di sini? Tinggal masuk, nurut aja jadi istri, nggak usah banyak ngeyel, sama satu lagi, selama lo jadi istri gue, gue nggak suka lo sama lawan jenis terlalu dekat."


"Seharusnya kata itu paling cocok untuk dirimu sendiri Al," kata Inggit lugas. Membanting pintu mobil begitu keras.


Biru tersenyum tipis, menatap punggung istrinya yang setengah berlari masuk ke rumah dengan wajah kesal. Pria itu turun dengan santai, dan melangkah gontai menyusul istrinya yang melangkah lebih dulu.

__ADS_1


Begitu masuk rumah, Inggit langsung melesat ke kamar dan membersihkan diri sebelum tidur. Tak ingin banyak drama dan interaksi terhadap pria itu, Inggit langsung berinisiatif tidur di sofa ruang tengah saja seraya mengerjakan tugas yang belum rampung.


Biru cukup mengamati tanpa merespon kelakuan istrinya yang menurutnya lucu. Padahal seandainya berbagi ranjang pun, Biru tidak akan menyentuh gadis itu sesuai perjanjian yang telah disepakati.


Setelah membersihkan diri, pria itu tidak lantas menuju ranjang, ia memilih bergabung dengan Inggit seraya menenteng laptopnya. Memposisikan diri duduk di sebrang Inggit dan mulai fokus dengan laptopnya. Namun, pria itu sedikit merasa nyeri pada sudut bibirnya yang sedikit robek, akibat bogem mentah yang di daratkan Ares.


"Nggit, bisa minta tolong," ucapnya lembut. Langkahnya menuju kotak obat dan mengambil wadah di sana. "Tolong dong bantu obatin," titahnya seraya menyodorkan kotak P3K.


Inggit menatap jengah, menerima kotak obat tersebut lalu duduk di sofa. Biru duduk di sebelahnya, memperhatikan Inggit yang tengah membuka cairan obat untuknya. Ia mulai mengobati luka Biru walaupun hatinya enggan dan kesal.


"Pelan-pelan, Nggit, perih, penuh dengan perasaan dong yang lembut," ujarnya mengomel, refleks menggenggam tangan gadis itu yang tengah mengolesi obat.


Inggit bergeming, menatap tangan dirinya yang tanpa sengaja di genggam Biru.


"Tangan lo, Al," tolaknya jengah.


"Eh, sorry ... refleks aja," jawab pria itu cuek dan langsung melepas begitu saja.


Setelah selesai mengobati luka Biru yang cukup menahan gejolak kesal dan malas. Inggit kembali sibuk dengan laptopnya.


Inggit melirik sekilas pria yang mengunci mulutnya semenjak duduk di sebrang dirinya. Gadis itu juga bersikap cuek dan datar saja. Tiba-tiba handphone Inggit bergetar saat ia tengah fokus mengerjakan tugas kuliah.


Ares calling


Inggit tersenyum simpul melihat id caller si penelphon. Ibu jarinya hendak bergerak menggeser tombol hijau, ketika suara bass Biru menyeru.


"Jangan diangkat!" cegahnya dingin, menatap Inggit dengan wajah garang. "Kalau lagi belajar itu fokus aja, jangan mainan ponsel," imbuhnya dengan nada kesal.


Inggit mencebik kesal, melirik wajah datar Biru lalu melempar ponselnya ke sofa. Kembali merampungkan tugasnya dan ingin cepet beristirahat. Malam sudah cukup larut, dan Inggit baru saja selesai, ia mengemas laptopnya dan mulai memposisikan dengan tidur di sofa. Rasa lelah membuat gadis itu cepat terlelap damai ke alam mimpi.


Biru baru saja menutup laptopnya, pria itu menatap Inggit yang sudah singgah ke alam mimpi. Terlihat begitu tenang, ada perasaan bersalah dan juga kesal kala menatap wajah ayunya. Ia bangkit, merapikan selimut Inggit yang menjuntai ke lantai. Kemudian meninggalkan gadis itu dan kembali ke kamar untuk istirahat.


Keesokan paginya, Inggit bangun seperti biasa. Ia merasakan sedikit pusing, kendati demikian, gadis itu tetap beraktifitas seperti biasanya. Setelah mandi, membuat sarapan untuk dirinya.

__ADS_1


Biru ikut nimbyung di dapur. Pria itu membuat minuman teh hangat dan duduk di meja makan.


"Punya gue mana? Nggit, gue mau juga sarapan," celetuknya menyeru.


Inggit menatap sekilas, sebelum akhirnya menyerahkan satu porsi miliknya ke Biru. Mulutnya diam, namun gerakan tubuhnya cukup mewakili apapun yang di butuhkan pria itu.


"Besok-besok buatnya agak banyak, gue bosen sarapan di kantin terus," celotehnya seraya membagi nasi goreng buatan Inggit menjadi dua. Pria itu makan dengan tenang, tidak peduli dengan sikap Inggit yang begitu dingin dan pendiam.


Usai sarapan, mereka berangkat dengan kendaraan masing-masing. Baik Inggit dan juga Biru ada kuliah pagi. Sampai di parkiran juga hampir bebarengan.


"Inggit, pinjem tugas lo dong, gue kelupaan!" seru Hilda menghampiri.


"Udah gue kirim via email, deadline-nya kan jam dua belas semalam, lo belum mengumpulkan?" tanyanya penuh selidik.


"Belum, gue lupa, pagi tadi baru pulang," bisiknya lirih.


Inggit melirik tidak percaya, gadis itu menggeleng jengah. "Kebiasaan banget sih, salah sendiri klayapan mulu jadi mahasiswa," omelnya manyun.


"Please, copy ya ... santuy lah, dosen nggak begitu jeli, okey!" Perempuan itu nyengir tanpa dosa.


"Nggak oke, nggak, nggak, dosen Darren jeli banget malah, udah gitu pelit nilai, nggak mau nanti kaya yang sudah-sudah gue terpaksa mikir ulang biar nggak sama persis."


"Ih ... pelit banget sih, bantuin kalau gitu, telat nggak pa-pa yang penting ngumpulin, dari pada ngulang," rengeknya.


"Gue nggak yakin diterima, yang ada setelah dapat siraman rohani lo kena tugas dobel," ucapnya yakin.


"Bantuin, perpus ah yuk, biar fokus."


"Nggak bisa lah, ada kelas pagi ini, usai kelas nanti gue bantuin."


"Janji ya." Hilda merangkul Inggit dan berjalan beriringan.


Tanpa mereka sadari, interaksi ke duanya diamati Biru yang tak jauh berdiri dari sana. Istri dan kekasihnya itu terlihat akrab satu sama lain. Ia menatap datar, memasukan kontak motor di tasnya, berjalan gontai menyusuri koridor kelas.

__ADS_1


Tak sengaja netranya menangkap bayangan Ares yang tengah melintas. Pria itu berhenti tepat di hadapannya, saling menatap tajam mengibarkan bendera permusuhan. Ares bergeming, melangkah dengan gagah tanpa mempedulikan tatapan Biru yang seakan menerjangnya.


"Songong banget sih nih orang, mentang-mentang yang punya kampus. Gue beli bila perlu!" gumamnya kesal. Melirik pria tersebut dan berlalu.


__ADS_2