
Biru berjalan gontai ke ruang kerja papanya. Suasana hatinya sedang baik, jadi anak itu nyengir sendiri melalui undakan tangga. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu, masuk dan duduk persis di hadapan Papa setelah laki-laki paruh baya itu mempersilahkan untuk putranya.
"Sepertinya apa yang ingin Papa katakan cukup serius, bisa dimulai sekarang Pa?" nanti Biru tak sabar.
Pak Rasdan menatap putranya lama, ia menemukan gambar dirinya pada saat pria itu menginjak dewasa. Berapi-api, penuh ambisi dan pantang menyerah. Berusaha melakukan yang terbaik. Darah itu mengalir kental di tubuh putranya. Pribadinya yang keras, dan penyayang cukup mewakili bahwa ia mempunyai sisi yang sama.
"Al, Papa hanya punya kamu, Papa ingin yang terbaik untukmu dan kehidupanmu kelak, jadi apapun yang Papa lakukan sudah pasti beralasan. Tapi, Papa juga tidak segan membuangmu jika kamu menjadi anak yang tidak berguna," ucap Papa cukup tegas.
"Iya Pah, Biru tahu," jawab Biru tertunduk, siap mendengarkan apa saja yang keluar dari mulut papanya.
"Sejauh mana hubunganmu dengan Inggit? Apa kamu sudah bertanggung jawab dengan baik menjaga amanah yang di emban?"
"Biru sedang berusaha yang terbaik Pah, kami sedang menjalani masa pengenalan satu sama lain," jawab Biru tenang.
"Kamu yakin? Kamu tahu konsekuensinya bila mengecewakan Papa, Papa tidak akan berbelas kasihan sedikitpun jika kamu mengecewakan Papa." Biru mengangguk.
"Biru siap menerima hukuman bila Biru sampai buat Papa kecewa." Papa menyorot putranya ragu, pria itu mempunyai insting yang kuat dengan gelagat anaknya.
"Papa akan memberi kesempatan untukmu memperbaiki diri, jika Papa tidak menemukan itu dan kamu terbukti mengecewakan Papa, Papa akan menarik semua akses keuangan yang masuk ke saku mu."
Deg
Seketika Biru berpikir, apakah selama ini ayahnya memata-matai pergerakannya. Kenapa pria itu terkesan mengetahui sisi lain dari dirinya. Pasti akan sangat mudah untuk seorang Huditomo Rasdan melakukan itu, hanya menunjuk seseorang dan semua akan beres dengan uang.
__ADS_1
"Kamu boleh tinggalkan ruangan ini, istrimu pasti sudah menunggu, ingat pesan Papa, dan jangan lupa buat cucu yang banyak, Papa sudah semakin tua," ucap Pak Rasdan sebelum Biru beranjak. Mendengar kalimat terakhir dari ayahnya Biru menjadi senyum-senyum sendiri. Ia segera turun dan menuju kamar dirinya yang terletak di lantai satu.
Sementara Inggit merasa gusar di kamar Biru. Perempuan itu butuh penjelasan yang masih ambigu. Ia mondar-mandir di kamar menanti pria berstatus suaminya itu dengan tanda tanya.
Eh ... bentar-bentar , kok gue berasa lagi nunggu suami gue beneran sih, ada yang salah nih kayaknya, kenapa hati gue jadi deg degan. Ah! Hati, bisa nggak sih, bersikap biasa saja. Males banget nungguin Biru, sebodolah sama tingkah pria itu, mending gue tidur.
Baru saja Inggit bersiap merebah di sofa, sosok Biru menyembul dari balik pintu.
"Wah ... Nggit, kamu belum tidur? Sepertinya kamu beneran nungguin aku, kenapa sayang, apa kamu segitu gelisahnya bila tak ada aku di sisimu," goda Biru mengerling. Inggit muntah udara mendengar pernyataan pria itu.
"Lo konslet ya? Hallo ... lo nggak harus akting sok manis deh, ini di kamar, dan hanya berdua." Tangan Inggit terulur mengecek jidat Biru, barang kali pria itu berbicara ngawur karena demam.
"Gue sehat Inggit." Biru mengambil tangan Inggit yang bertengger di pelipisnya, lalu menggenggam dengan lembut.
"Lo ngomong apa sih." Inggit menarik tangannya dalam genggaman Biru, Kata-kata yang sudah disiapkan dari tadi dan saatnya siap meluncur menguap sudah bagai hantu. Ia bingung sendiri melihat tingkah Biru. Kenapa secepat itu pria itu berubah, ada apa sebenarnya dengan Biru?
Inggit berusaha mengalihkan tatapan matanya supaya tidak berbenturan dengan manik hitam yang tengah menatapnya begitu lekat. Saat Biru hendak berbicara kembali, handphone pria itu memekik, membuat si empunya mengalihkan ke layar ponsel yang teronggok di atas nakas. Diliriknya sekilas ada nama Hilda di sana, seketika Biru menatap Inggit dan layar ponselnya secara bergantian.
"Kenapa nggak diangkat, siapa tahu itu penting," ucap Inggit menerka.
"Aku sudah putus," jawab Biru datar. Seketika raut wajah Inggit berubah tak percaya.
Masa sih, kok Hilda nggak cerita, atau jangan-jangan ini cowok sedang merencanakan sesuatu??
__ADS_1
Ingin sekali Inggit menanyakan alasannya, tapi tentu saja itu mengarah arah privasinya. Tidak ingin terlalu banyak ikut campur, Inggit memilih diam dan tidak mau tahu urusan keduanya. Jika itu benar, semoga tidak ada permusuhan di antara keduanya.
"Kamu tidak tanya mengapa aku putus?" tanya Biru cukup penasaran dengan ekspresi datar istrinya. Tidak begitu senang, atau tidak begitu ingin tahu. Apa memang Inggit tidak pernah mempunyai perasaan apapun untuk Biru??
"Bukan urusanku, kamu tidak harus menjelaskan apapun padaku, karena aku bukan siapa-siapa bagimu." Entah mengapa Biru merasa sakit mendengar pernyataan itu, sepertinya gayung tak bersambut, ia hanya perlu lebih lama untuk mengenal hatinya.
"Sudah malam istirahatlah, lelah tidak baik untuk bertukar pendapat dan pikiran," kilah Biru mengalihkan topik pembicaraan. "Sebaiknya kamu istirahat di ranjang, Nggit, aku tidak akan memangsamu," ucap Biru lembut.
"Aku di sini saja, sofa lebih menggoda dan kelihatan lebih nyaman dari pada ranjang kamu." Inggit jelas beralasan, bukan tidak mungkin pria yang mendadak baik itu berbuat yang bahkan Inggit sendiri begidik ngeri membayangkan. Inggit bergeming, tidak mengindahkan kata-kata suaminya, ia tetap merebahkan tubuhnya di sofa, membungkus tubuh dengan selimut dan bersiap memejamkan mata.
"Mau pindah ke ranjang sendiri, atau aku gendong." Suara Biru terdengar cukup jelas karena Inggit belum menyambangi ke alam mimpi.
Inggit tengah berpikir dengan apa yang seharusnya ia pilih, ketika merasakan tubuhnya melayang. Biru benar-benar memindah tubuhnya menuju ranjang. Inggit hampir menjerit, saat tiba-tiba sesuatu yang dingin itu menyentuh bibirnya. Biru membungkam mulut istrinya dengan kecupan tertahan yang membuat perempuan itu kaget setengah mati.
"Jangan berteriak di kamar malam-malam Inggit, nanti orang yang mendengar, mengira kita sedang melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan." Mendadak pipi Inggit memanas mendengar penuturan suaminya, ia mendorong tubuh Biru yang hampir tidak berjarak.
Biru terkekeh gemas melihat raut wajah Inggit yang bersemu merah, istrinya itu ternyata sangat menggemaskan sekali, sebenarnya ia kasihan menggodanya, tapi entah mengapa menjadi candu untuk dirinya.
"Jangan mendorongku, nanti kamu kangen, kamu tidak ingin menciptakan moment yang indah untuk malam ini, terlalu sayang di lewatkan begitu saja, mumpung di sini ranjangnya besar dan cukup nyaman." Biru mengerling.
Dengan posisi tubuh Biru yang masih membungkuk membuat jarak mereka dalam radius peringatan, kewaspadaan, dan cukup deg degan.
"Menyingkir dari hadapanku atau aku akan mengutuk perbuatanmu hari ini," ancam Inggit garang. Biru malah terkekeh sendiri melihat raut wajah istrinya yang menahan kesal.
__ADS_1
"Kamu galak banget, aku jadi gumush, selamat beristirahat," ucap Biru seraya mengacak puncak kepalanya lembut.