Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 72


__ADS_3

Biru terus menggerutu seraya mengikuti mereka yang dengan santainya pada nyelonong mengikuti Okta ke kamar.


"Inggit, ya ampun ... kaki lho separah ini? Lekas sembuh ya?" Okta langsung berhambur mendekat begitu menyembul dari ambang pintu yang memang sebelumnya tidak tertutup. Diikuti ketiga pria yang juga sama kepo dan mencemaskan kondisi Inggit saat ini.


"Terima kasih sudah datang, kok tahu rumahnya, perasaan aku belum membagi alamat ini ma kalian." Ares berdehem pelan mendengar itu.


"Tuh ... si Aries, gercep dia," tunjuk Okta dengan dagunya. Sementara Biru menyorot penuh selidik. Ya pantas saja Ares tahu, pria itu 'kan dulu pernah bertamu ke rumahnya, dan sukses membuat Biru cemburu waktu itu.


"Sakit nggak, Nggit?" Nathan hendak menyentuh kaki Inggit yang berbalut kain kassa, namun dengan cepat Biru menepis tangan nakal itu.


"Jangan disentuh," tukasnya ketus. "Jangan pegang-pegang, atau sentuh-sentuh apa yang seharusnya tidak kau sentuh!" peringatnya lugas.


"Ish ... lebay amad Kartoyo, gue tengah mengamati, meneliti, memastikan, siapa tahu rasa sakit itu berkurang setelah bertemu dan tersentuh olehku, iya 'kan, Nggit?" Nathan mengerling. Biru melotot garang, sementara yang lainya tertawa melihat kekonyolan empat pria seumuran itu.


"Cepet sembuh, Nggit, kita belum melewati petualangan panjang bersama, gagal dong lari paginya buat ngilangin stress, besok kalau udah sembuh gue jemput ya?" Ares dengan sengaja memanas-manasi pria yang berstatus suami sahabatnya itu. Rasanya puas melihatnya dongkol, seperti ... balas dendam yang tersirat. Hahaha.


"Kamu membuat janji dengan manusia ini?" Suara Biru sedikit kesal. Inggit tersenyum dengan anggukan.


"Hish ... aku nggak ngijinin, pokoknya dilarang keras pergi dengan laki-laki lain dalam bentuk apapun, nggak ada ya?" protes Biru cemberut.


"Dasar, bucin! Makanya, punya istri cantik tuh dijaga, dirawat dengan kasih sayang, dipupuk dengan cinta, biar nggak berpaling, 'kan nyesek jadinya kalau cinta sendiri," jelas Ares kalem, namun cukup dalam.


"Ini gue lagi berusaha, lo bisa nggak sih nggak ngrecokin rumah tangga orang. Noh, si Okta, kalau mau pacarin yang masih single." Tunjuknya semangat empat lima.


"Gaya lho makcomblangin orang, padahal juga masih mode acc, ya 'kan Nggit?" Okta menyela dengan cibiran.


Heboh, tegang, berantem, tapi seru. Mereka punya jargon dan banyolan yang kadang bikin gedeg, bahkan sakit hati. Tapi, sejauh itu, semua merasa aman, Inggit dan Biru akhirnya mengungkapkan perihal hubungan mereka, itu artinya dengan kasus yang menimpanya saat ini akan banyak membantu.


Okta terlibat obrolan kecil dengan Inggit di kamar. Sementara keempat cowok itu berunding di ruang tengah, mereka sepertinya membahas perihal kasus Biru Inggit, dan menyusun strategi.


"Inggit, kaki lo 'kan sakit gitu, terus kalau ke kamar mandi gimana?" tanyanya dengan tingkat kepo yang haqiqi.

__ADS_1


"Digendong sama Biru," jawab Inggit cuek.


"Tuh anak romantis juga, semoga langgeng deh."


"Aamiin," sambung Okta. Doa sendiri diaminin sendiri.


"Doa baik tuh, diaminin Inggit, bukan malah diem," tegurnya tak terima.


"Aamiin!" Inggit akhirnya menimpali.


"Sebenarnya tujuan gue ke sini, selain jengukin lo, ada juga yang lainnya. Gue mau bahas tugas kelompok yang dikasih Pak Darren, berhubung yang satunya Hilda dan kayaknya lo keberatan. Gue juga nggak nyaman, kalau ada yang berselisih, jadi kita tukeran dengan Melly. Nggak pa-pa, 'kan?"


"Terbaik deh, makasih Ta, sebenarnya gue sih pinginnya nggak berselisih, tapi kayaknya keadaan yang memaksa begitu. Aku juga sudah berusaha untuk menjauh dari Biru, tapi nyatanya pria itu malah menginginkan keseriusan, apa aku salah ya Ta, kalau mempertahankan hubungan ini?" curhat Inggit sendu, merasa pahit persahabatannya dengan Hilda berakhir permusuhan karena seorang pria.


"Ya elah, lo nggak usah ngerasa bersalah gitu lah ... bagaimanapun keputusan lo itu yang terbaik, Biru sepertinya tulus mencintaimu." Okta memberi semangat, keduanya saling berpelukan bak teletubies.


"Gue laper, ada makanan nggak, Al?" Itu suara Nathan, pria itu bangkit seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Nggak ada, air putih sama es batu doang di kulkas," jawab Biru sedikit keras, orangnya sudah melesat tak terlihat, hanya suara yang mampir ke telinganya cukup gaduh, sepertinya Nathan sedang membuat huru hara di dapurnya.


"Al, lo kalau miskin kira-kira dong, masak stok kulkas habis, lo diemin aja, 'kan gue nggak bisa merusuh," protesnya kesal.


"Ngak usah ngatain, biarkan kulkas kosong, asalkan hati gue tetap terisi dengan cintanya Inggit," jawab Biru lebay.


"Dasar bucin!" Kali ini kompak ketiga pria itu menyerukan suaranya.


"Terus kita makan apa dong, masak tamu dianggurin?" dengkusnya kesal.


"Makan angin, nggak usah ribet, gue sama Inggit tuh nyantai, ada bahan dia masak, nggak ada bahan beli di luar, sesimple itu hidup kita."


"Iya kah? Duh ... Inggit kok mau-maunya ya hidup susah bareng lo, seandainya gue yang jadi suaminya, pasti gue manjain dengan kekayaan nyokap gue yang haqiqi." Nathan paling seneng buat huru hara. Seru juga ngata-ngatain Biru dongker biar nyadar kalau ia udah bucin dan terjatuh miskin.

__ADS_1


"Ngledekin gue ya, besok kalau gue sukses, lo adalah orang pertama yang pengen gue depak ke planet mars. Gue nggak mau bangga sama harta nyokap yang katanya nggak akan habis tujuh turunan. Gue pingin nunjukin ke Papa, kalau anaknya ini bisa mandiri dan sukses sendiri."


"Daebak! Rupanya Kartoyo benar-benar insyaf, semoga diberi kelancaran dalam setiap langkahnya. Aamiin ....!"


Selang beberapa menit, obrolan mereka terjeda. Rupanya ada paketan makanan yang datang. Pizza dengan ukuran besar, martabak, dan roti terang bulan. Emang kalau lagi asyik ngumpul ya sambil nyemil. Rupanya Biru gercep delivery makanan untuk menjamu mereka. Seakan tahu, kedua sahabatnya itu pasti akan protes bila keadaan lapar.


Inggit ke ruangan tengah dibantu Okta yang memapahnya. Biru yang melihat itu langsung datang menghampiri.


"Kalau mau keluar kenapa nggak manggil?" omelnya seraya mengangkat tubuh istrinya begitu saja.


"Ih ... Al, turunin, malu banyak orang," tegurnya dengan muka memerah.


"Astaga, mata polos gue ternodai," celetuk Devan tiba-tiba. Ares dan Nathan yang tengah asyik menyantap martabak mengikuti arah pandang Devan, keduanya menyorot sinis.


"Dasar bikin ngiri, dan ngenes aja. Derita jomblo, nasib mblo," celotehnya nelangsa.


"Cup cup cup!" Ares menepuk-nepuk pundaknya, sok tegar dan drama.


"Kalian bisa tahan nggak sih, sebentar saja nunggu kita pulang kalau mau bermesraan," protes Nathan menggerutu.


"Sakitnya tuh di sini, it's my dream, not her!" Sambung Nathan mendrama. Biru muntah udara mendengar celotehnya.


Yang lainnya bahkan hanya tertawa kecil melihat pertengkaran kecil manusia dewasa itu. Cukup lama mereka bertamu, setelah membahas sesuatu yang cukup penting, menghabiskan makanan bersama dengan ditemani bayolan yang cukup menguras energi dan emosi jiwa. Mereka tak kunjung pulang.


"Kalian kapan pulangnya sih, totalitas banget merusuhnya." Biru menggerutu panjang pendek melihat teman-temannya masih santai tak berperasaan.


"Gue mau nginep, siapa tahu entar malam saat lo tidur, Inggit membutuhkan bantuan gue!"


"Wah, ada yang minta di kirim ke Antariksa nih kayaknya, bosen hidup di dunia."


"Ngeri bat, Kartoyo ngamuk! Pulang woi ... jangan gangguin orang lagi pengen unboxing. Hahaha!"

__ADS_1


"Se*tan lo pada!" Biru menggerutu, netranya melirik Inggit yang mendelik kearahnya.


Mampus gue, si Nathan mulutnya ngeselin banget! Efek kurang belaian dan kasih sayang, emosian.


__ADS_2