Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 96


__ADS_3

Inggit masih menatap layar ponselnya dengan ragu. Gamang menerima panggilan itu, lebih kepada takut suami posesifnya itu salah paham. Belakangan komunikasi yang kurang lancar saja membuat pria itu uring-uringan. Apa kabar kalau tahu hari ini ia terjebak macet dengan Daffa. Inggit membiarkan panggilan itu begitu saja. Sampai panggilan itu berakhir.


"Fa, bisa nggak? Masih lama?" keluhnya merasa gusar.


"Belum bisa, kayaknya kita perlu bantuan deh, telpon seseorang buat ngasih tahu kita, kalau nggak bisa terdampar di sini sampai sore."


"Ya udah, tunggu apa lagi, coba hubungi Tama," usul Inggit tenang.


"Ponsel aku nggak nemu signal, boleh pinjam punya kamu nggak?"


"Nih, cepetan, panas lagi," keluhnya seraya berjalan pelan. Berteduh di bawah pohon rindang pinggir jalan.


Daffa hendak menghubungi Tama dengan ponsel Inggit, ketika lebih dulu ada panggilan masuk dari Biru lagi. Kesempatan itu dimanfaatkan Daffa untuk mengangkatnya.


"Hallo sayang ...." sapa Biru begitu terhubung.


Daffa berdehem cukup keras untuk mengalihkan atensi pria di sebrang sana.


"Sorry, ini gue Daffa," jawabnya enteng tanpa beban.


"Eh! Kon handphone istri gue ada sama lo, Inggit mana?" tanyanya mulai ngegas.


"Adalah dia lagi jalan sama gue, tapi lo nggak usah khawatir, Inggit aman dan terjaga di sini."


"Eh, lo nggak usah banyak ngomong ya, terjaga apanya, kasih handphonenya ke Inggit."


"Sorry bro, gue nggak ada urusan sama lo, sebaiknya lo mulai tahu diri deh, gue dan Inggit, masih sama-sama saling mencintai."


"Bangs*t lo!" Panggilan langsung ditutup sepihak. Daffa tertawa puas menatap layar ponsel Inggit. Berhasil membuat pasangan yang sempat viral itu berantakan.

__ADS_1


"Syukur lo, mampus tuh cemburu!" umpatnya kesal.


Daffa baru menelpon Tama setelah selesai menerima telepon Biru. Baru pria itu mengembalikan ponsel itu ke Inggit.


"Udah?" tanya perempuan itu begitu ponselnya diberikan padanya.


"Udah, makasih ya, mungkin sebentar lagi ada yang mau ke sini," ujar pria itu duduk di samping Inggit.


Angin yang sepoi-sepoi menambah aksen cantik wajah ayu yang tertiup perlahan rambutnya. Inggit yang kepanasan sontak mengunci rambut itu dan menggelungnya menjadi satu. Kejadian itu tak luput dari pandangan Daffa yang tiba-tiba menatapnya begitu lekat. Pria itu menelan salivanya sendiri saat menyorot leher jenjang Inggit yang begitu menggoda.


"Kamu cantik," celetuk pria itu jujur.


"Eh, ngapain lihatin aku kayak gitu," jawabnya penuh waspada.


"Mata gunannya buat ngelihat!" jawab Daffa enteng.


"Duduk, Nggit, mau ke mana?" ucapnya mencekal tangan Inggit dalam genggaman.


"Eh, lepas Fa, jangan gini dong gue udah punya suami, nanti bisa bikin orang yang lihat salah paham."


"Nggak ada yang lihat, gue tahu lo punya suami, tapi itu nggak masalah, gimana kalau kita balikan?"


"Sinting!" umpat Inggit mencoba berdiri lagi. Dengan cepat pria itu menahannya, bahkan menjatuhkan kepalanya pada pangkuan mantan pacarnya itu. Kejadian tersebut sudah tertangkap seseorang yang tengah menghampiri dari jarak berpuluh-puluh meter.


Biru yang baru saja menyelesaikan kerangka untuk menyusun acara besok menyempatkan berkabar pada istrinya. Mumpung sudah selesai dan signal sedang memungkinkan. Alih-alih mendapat kabar sayang, ia dibuat jengkel dengan kelakuan Daffa yang menerima telponnya. Biru jelas murka, pria itu langsung meninggalkan poskonya dan menuju ke tetangga desa yang jaraknya bisa ditempuh tidak terlalu jauh dengan motor. Lima belas menit untuk normalnya, namun dalam keadaan panas, bahkan kurang dari sepuluh menit pria itu sudah sampai di posko KKN kelompok 15.


Pria itu datang dan langsung mendatangi rumah itu dengan mencoba untuk tenang. Pas saat Tama keluar dari rumah.


"Tama? Gue mau ketemu Inggit, ada?" tanyanya mulai tak ramah. Dadanya bergemuruh jengkel saat pria itu menyebut istrinya sedang kebagian tugas bersama Daffa.

__ADS_1


"Kebetulan gue mau ke sana, mereka terjebak macet di jalan jadi tidak bisa pulang," jawab Tama jujur.


"Lo gimana sih, kenapa membiarkan Inggit hanya sama Daffa, emang nggak bisa banget gitu ganti orang lain kalau hanya berdua."


"Eh, kita profesional kerja ya, dalam kelompok kadang random dan nggak pilih-pilih. Sama satu lagi, ini kelompok kita jadi elo nggak bisa masuk ngatur gitu aja dong," sela Tama tak terima.


"Iya gue tahu, tapi lo tahu sendiri lah mereka itu pernah punya hubungan dan sekarang malah dapat kabar kaya gini, siapa yang nggak marah coba."


"Lo jangan ngegas dulu deh, mereka 'kan cuma pergi untuk keperluan kelompok bukan semata-mata pergi untuk lainnya. Jadi gue rasa lo hanya salah paham. Gimana kalau kita samperin bareng, gue nebeng elo sekalian, susah nyari pinjaman motor."


Tama dan Biru langsung menyusul Daffa dan Inggit ke lokasi. Dilihat dari jauh, kedua orang terjebak macet itu tengah berteduh di bawah pohon rindang pinggir jalan dengan posisi tidak normal. Suasana terik matahari yang panas, menambah panas hati Biru melihat itu.


Tak sabar Biru langsung turun dari motor dan mendekati keduanya. Di mana Daffa tengah menahan Inggit untuk tetep duduk dengan dirinya tiduran pada pangkuan cewek itu. Benar-benar pandangan yang bisa merontokkan kesabaran hati seorang suami.


"Brengs*k lo Fa!" Biru langsung menarik pria itu dan menghadiahi dengan tinjuan di pipinya.


Inggit jelas syok, pada dasarnya perempuan itu tengah berjuang mati-matian menjauh, namun si rese' Dafa malah menarik dan menahannya seolah ia tengah bermesraan. Inggit menjerit histeris melihat mereka saling pukul.


"Kenapa, lo marah kalau kita masih saling mencintai, hah!" jawab Daffa cukup berani. Membalas pukulan itu. Inggit dibuat kaget dengan spekulasi jawaban pria itu. KKN baru saja berjalan kurang dari tiga minggu namun mereka dalam masalah. Tama yang melihat itu langsung melerainya.


"Sudah-sudah, tolong jangan berkelahi di tanah orang, kalian di sini sedang mengabdi kebaikan, bagaimana kalau ada warga yang tahu tidak sengaja melihat ini. Semua akan menjadi masalah. Tolong selesaikan dengan kepala dingin."


Inggit jelas menangis ketakutan melihat Biru kesetanan. Pria itu tak berhenti mengumpat untuk Daffa, matanya merah menyala. Keduanya benar-benar beradu kekuatan, andai saja Tama tidak melerainya dan mengingat posisi ada di mana, sudah bisa dipastikan Daffa lebih parah dari sekarang.


"Kenapa? Mau jelasin apa? Ditelpon nggak diangkat, diajak ketemuan susah, ini jawaban sebenarnya, iya!" bentak Biru murka. Menyorot istrinya yang tengah menangis sesenggukan.


"Kamu salah paham, Mas! Itu tidak seperti apa yang kamu lihat!" jawab Inggit di tengah tangis.


"Oh ya, salah berarti penglihatan aku, masih mau ngeles, kamu nggak menghargai perasaan aku sedari kemarin udah nahan rindu, kamu benar-benar membuat aku kecewa Inggit!" hardik Biru tak sabar.

__ADS_1


__ADS_2