Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 94


__ADS_3

"Kalian berdua kapan pulangnya sih? Ini sudah siang, sebentar lagi juga aku mau siap-siap," keluh Biru nelangsa.


"Satu jam lagi lah, baru jam satu, kita ngumpul pelepasan 'kan jam tiga sore, masih ada dua jam buat santai," jawab Nathan terlanjur santai.


"Terserah lo pada lah, gue tinggal ya, awas jangan gangguin lho, gue pening, sumpah!"


"Gila, lo beneran mau gituan? Emang nggak kasihan ama bini lho, nanti 'kan mau perjalanan jauh bro, kasihan masa dibuat capek dulu."


"Istri gue pengertian, makanya pulang sana!" usirnya sebal.


"Dih ... beneran Kartoyo ngefek, ayo ah cabut, kasihan juga yang nggak bisa bercocok tanam. Mau LDR lama lagi."


"Nah ... gitu dong, terbaik!" ucap Biru mengacungkan dua jempolnya.


Sepeninggal dua temannya, Biru langsung mengunci pintu rapat-rapat dengan senyum sumringah.


"Sayang ...! Sayang ....!" seru Biru lantang. Suaranya nyaring di seluruh isi rumah.


"Yah ... tidur?" ucap pria itu bernada kecewa. Menemukan istrinya yang tengah terlelap begitu anteng. Sebagai suami yang baik dan pengertian, tentu pria itu tak sampai hati membangunkannya.


"Duh ... gemes banget sih punya istri ini," gumam Biru menatap perempuan itu. Pria itu ikut merangkak ke kasur, bergabung dengan istrinya, namun tak sampai hati mengusik tidur nyamannya.


"Imut banget sih sayang," bisiknya tepat di atas kepalanya. Biru mengecup puncak kepalanya. Perempuan itu sedikit terusik, sayup-sayup membuka matanya dan langsung mendusel pada dada pria itu.


"Teman-teman kamu udah pulang," tanya Inggit sembari memberikan pelukan hangat untuk suaminya.


"Udah dari tadi, kamu boboknya nyenyang banget," ujarnya sembari mengelus puncak kepala istrinya.


"Ngantuk, nungguin kamu lama, ya udah ketiduran."


"Nungguin apa?" tanyanya ambigu.


"Tauk ah," Inggit menyembunyikan mukanya pada dada bidang pria itu.


"Nggak mau maksa tapi kalau kamu pingin, ya oke aja sih," ujarnya sambil senyum-senyum.


"Ayo ... habis itu mandi, terus berangkat."


Mareka berdua bertemu tatap, kemudian tersenyum satu sama lain. Kadang merasa lucu dengan tingkah absurdnya tetapi kadang juga bikin kangen.


"Saat seperti ini nih pasti yang bikin kita rindu, tawanya, candanya, cerewetnya, berantemnya, ngeyelnya dan yang pasti romantisnya."


"Ini jam berapa sih emang?" tanyanya memicing, satu tangannya menyambar ponsel di atas nakas, melewati suaminya begitu saja, dia yang tengah mode pingin tentu merasa ser-seran nempel dikit aja.

__ADS_1


Cup cup


Dua kecupan langsung mendarat mulus di pipinya.


"Astaghfirullah ... hampir jam tiga, bisa telat ini, duh ... cepet yank, mandi!" Inggit berseru lantang. Sementara Biru sendiri hanya bisa menggaruk tengkuknya dengan bingung.


Sabar Al, selamat berpuasa Bondan. Sabar ini ujian ...


"Iya sayang, ayo mandi," ajaknya lesu.


Seandainya durasi tidak menghimpitnya, sudah pasti pria itu hendak memangsa istrinya. Sayangnya mereka sudah sedikit terlambat, apalagi jika harus memenuhi kebutuhan biologisnya dulu, bisa jadi malah nggak berangkat karena keasyikan.


Biru tipikal laki-laki yang tidak egois, ia selalu bermain dengan penuh perasaan dan juga harapan. Jadi, pria itu selalu membuat istrinya merasa nyaman dan selalu dihargai. Bukan tipe grusa-grusu yang hanya mementingkan kepuasaan dirinya sendiri saja.


Tentu saja berbeda, wanita yang menemani saat ini adalah calon ibu dari anak-anaknya. Sudah pasti ia akan melakukan dengan penuh kasih sayang.


"Duh ... cantiknya, yang udah mandi, rapih," godanya sukses membuat rina di pipi perempuan itu.


"Kamu juga, arjunanya Mama Diana, bestie ter the best, thank for all and I love you Mas Albiru Rasdan," ucapnya dengan tatapan penuh cinta.


"Love you too, more than more," jawabnya sungguh-sungguh.


"Jangan kangen ya, aku aja yang kangen, nanti aku samperin. Kita LDR dulu, semangatin hati dulu walaupun sebenarnya nggak mau pisah."


"Hmm, makasih Mas." Biru selalu tersenyum mendengar penuturan itu. Ada yang lucu tapi ia senang.


"Kenapa, senyum-senyum terus, aneh banget kalau aku panggil gitu, ya udah deh ralat," ujarnya merasa aneh.


"Enggak, aku suka kok, itu 'kan artinya kamu menyebut aku dengan sopan, mama juga gitu sama papa." Pria itu tersenyum sembari membawa tangan istrinya dalam genggaman. Selama perjalanan menuju kampus, mereka nikmati moment indah mereka berdua.


"Pak, tunggu sebentar ya, kita ada acara pelepasan dulu, titip barang-barang dulu sebentar," pamit Biru pada sang supir.


"Siap, Den," jawabnya mengangguk.


"Almamaternya sayang, pakai?" Inggit selalu mengingatkan.


"Iya sayang, tolong dong bantu pakaiin." Perempuan itu lekas membantu suaminya merapikan penampilan mereka.


"Cie ... yang mau LDR, tangannya gandengan terus," lirik Nathan julid.


"Iya dong, sirik aja lo jadi orang."


"Okta!" seru Inggit melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Hai beb, cantik banget sih," pujinya tulus.


"Kalian datangnya barengan?" tanyanya penuh selidik. Menatap Ares dan Okta secara bergantian.


"Kebetulan aja, iya nggak Res?" Pria itu mengangguk.


Nathan yang rese' langsung merangkul Biru seraya berbisik, "Tadi jadi? Cetak gol berapa?" tanyanya ambigu.


"Gatot, alias gagal total, semua ini gara-gara kalian berdua yang ngapelin gue mulu," jawabnya kesal.


"Sumpah, pasti bini lo nggak mau ya ... kubilang juga apa, kalau mau perjalanan jauh tuh pasti nggak nyaman."


"Sotoy lo, sok tahu tingkat provinsi, faktanya nol besar, Inggit mau kok, jangan bergosip dan jangan kepo," sergahnya menutup sesi cerita.


"Nggak asik lo ah, bikin ngiri kita yang jomblo aja."


"Masuk, masuk, nggak usah pada ngrumpi aja, telat woi."


Pembekalan pelepasan KKN dilakukan di gedung serba guna. Mereka duduk berdasarkan kelompok KKN masing-masing. Semua mahasiswa yang mengikuti berkumpul di sana untuk diberi pengarahan langsung oleh rektor kampus sebelum berangkat sore ini.


Usai pembekalan, semua dihimbau untuk masuk ke dalam bus yang akan membawa rombongan ke tempat tujuan. Satu jalur kabupaten menempati bus yang sama Itu artinya Biru dan Inggit masih ada kesempatan bersama di dalam bus.


Biru lebih dulu mengambil tas dan bawaan yang masih di mobilnya.


"Makasih Pak, silahkan kalau mau pulang, saya pamit ya, titip salam sama mama dan papa," pamitnya pada sang supir.


"Siap, Den, hati-hati di jalan."


Biru sibuk memboyong tas mereka, sementara Inggit sudah lebih dulu masuk bus, nge-tag jok paling fleksibel pastinya.


"Ini cemilan kamu? Banyak amad, kapan belinya?" tanya Biru menilik jajanan di pangkuan istrinya.


"Nitip sama bestie?"


"Siapa? Aku buang nih kalau dari cowok," sergahnya mendadak kesal.


"Ikh ... duduk Mas," Inggit menarik tangannya, hingga pria itu terduduk dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Aku nitip sama Okta, Mas, tanya sendiri orangnya kalau nggak percaya."


"Beneran?"


"Iya, ikh ... posesif banget sih."

__ADS_1


Selama perjalanan, mereka begitu menikmati suasana. Mendengarkan musik bersama, nyemil, nonton film, keseruan itu dibumbui dengan tangan mereka yang saling menggenggam dan pundak yang menjadi sandaran.


__ADS_2