
"Ngapain lo, lihatin gue kaya gitu?" Inggit menyorot waspada menangkap seringai di wajah Biru.
Biru bergeming, berjalan terus mendekat, spontan Inggit mundur teratur. Telapak tangan Biru terulur membatasi kepala Inggit saat perempuan itu hampir menghimpit tembok. Biru menatap mata istrinya lekat, membuat Inggit mati gaya, mengalihkan tatapan matanya yang bertabrakan.
"Sejauh apa hubungan lo sama Ares?" tanyanya dingin. Embusan napas Biru yang terlampaui dekat begitu terasa menyapu pipi.
"Sejauh jengkal napas yang tersisa, kenapa?" jawab Inggit mencoba tenang. Jujur ia tidak nyaman dan juga takut, namun tentu tidak mau terlihat lemah di mata pria itu.
"Bukan urusan lo, mundur Biru!" Inggit mendorong dada suaminya. Jangankan terjungkal, bergeser pun tidak, situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi Inggit.
"Apakah seperti ini?" Biru mulai mengendus pipi Inggit. Perempuan itu membuang muka dengan mata berkerut takut. "Atau seperti ini?" Biru hampir menyentuh bibir Inggit, namun perempuan itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Owh ... mungkin sudah lebih dari semua ini, mengingat kamu sudah sering berkunjung ke apartemennya ya? Bagaimana rasanya Nggit? Apakah begitu manis, hingga kamu menjadi murahan?" Biru terkekeh sinis.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Inggit saat ini. Kacau, takut, deg degan dan pastinya marah dan benci dengan pria yang tengah menghimpitnya.
"Aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan Biru! Berhenti berbuat kurang ajar padaku!" Lagi-lagi Biru terkekeh dengan tatapan menerkam.
"Lo tahu gue orang yang nggak suka maksa, tapi ... kali ini gue mau buat perhitungan sama lo," ucapnya dingin. Inggit menatap horor.
"Lo sama sekali tidak menghargai gue di depannya, lo bahkan sering main ke apartemennya, perempuan macam apa kamu Inggit!" bentaknya kesal.
__ADS_1
"Apa peduli lo, Al, gue bukan cewek lo yang bisa tidur dengan banyak pria, berhenti menjudge seseorang dari pandangan lo!" Inggit tak gentar.
"Lo tidak berhak menilai cewek gue sembarangan, bahkan lo itu sahabat dia, lo sengaja bikin gue benci sama dia?"
"Beri gue alasan, apa untungnya gue ngelakuin ini semua, semua buat lo, Al, gue cuma minta buat lo nggak ikut campur tentang privasi gue, gue bahkan tak pernah mengusik urusan lo sama Hilda mau kaya apapun, gue berharap lo bisa menyikapi dengan bijak, jangan seolah-olah lo yang tersakiti di sini. Pernikahan kita itu pernikahan toxic, gue harap semua ini cepat berak--"
Biru langsung menarik tengkuk Inggit dan menyumpal celoteh istrinya dengan bibirnya. Inggit memberontak, ia tidak terima sekaligus tidak suka dengan sikap agresif Biru.
"Berhenti, Biru!" Inggit menampar wajah suaminya cukup keras, Biru bergeming, menarik tengkuk Inggit lalu kembali menyambar bibir ranum itu dengan luma*tan kecil di sana.
"Kenapa? Mau nampar lagi? Berapa kali lo ngelakuin sama Ares?!"
"Nggak jelas, lo!" Inggit memutar tubuhnya meninggalkan Biru yang tengah menahan kesal yang memburu.
"Gue mau mengakhiri hubungan kita baik-baik, Al, mari kita bicarakan ini semua pada orang tua kita. Sesuatu yang dipaksakan tidak pernah akan menjadi baik, lo bisa kembali dengan hidup lo tanpa melibatkan gue."
"Lo mengingkari semuanya, apa lo pernah berpikir gue juga menyelamatkan keluarga lo, Romo sakit, lo tidak takut itu akan memperburuk kesehatannya."
Inggit terdiam, ia dilanda dalam kebingungan.
"Gue akan mempercepat negoisasi terhadap Papa kalau ini memang menyiksa lo. Gue juga tidak mau mempunyai hubungan yang lo sendiri tidak menginginkannya. Tapi tolong, batasi hubungan lo dengan Ares, itu tidak baik untuk reputasi lo. Apalagi sampai bertamu ke apartemen lelaki itu, kamu seorang istri Inggit."
__ADS_1
"Apa peduli lo, ngelarang gue sama Ares, kalau seandainya itu di putar, apa lo mau menjauh dari Hilda, nggak bisa 'kan?"
"Gue peduli sama lo, Inggit! Jangan keras kepala! Selama lo berstatus istri gue, gue tetap ngelarang lo dekat dengan dia."
"Lo tidak pernah peduli Al, lo itu cuma mentingin diri lo sendiri, lo bahkan tega ngebiarin gue di hamparan gelap dan sepi, Ares yang datang, bukan lo!" tunjuk Inggit murka. Masih begitu sakit bila mengingatnya.
"Entah menjadi seperti apa hidup gue sekarang kalau waktu itu Ares tidak datang nolongin gue, mungkin hidup gue hancur karena menjadi santapan preman di sana. Sakit Al, dibuang, tidak dianggap, ditinggal gitu aja, lo tahu betapa takutnya gue malam itu, takut Al, sangat takut, gue nangis dan Ares yang datang nyelamatin gue, terus sekarang salah gitu kalau gue bersikap baik padanya. Gue benci sama lo, sejak malam itu gue semakin benci sama lo," jelas Inggit berderai air mata. Sedikit lega telah menumpahkan rasa sesak di dada yang terpendam.
Biru bergeming, ia seperti terhantam batu besar yang menghimpit dada, sesak, kaget dan hampir tidak percaya. Ternyata kesalahan Biru malam itu yang bersifat gertakan, hampir membuat istrinya celaka. Biru terdiam kaku, rasa bersalah menguasai dirinya begitu dalam.
Inggit meninggalkan Biru yang masih terdiam di pijakan. Gadis itu masuk ke kamar dengan lelehan bening menyerbu pipi. Ia menangis, untuk pertama kalinya Inggit menangis dalam rumah tangganya. Cukup lama gadis itu berhasil menguasai dirinya, hingga lelah, tertidur begitu saja.
Biru masih terdiam di ruang keluarga, duduk termenung dengan banyak pikiran. Berusaha menyelami hatinya yang sulit dimengerti. Perasaan dengan Hilda juga sudah tidak seperti dulu, namun, ia juga tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Inggit terhadap Hilda. Sejauh mereka berhubungan, Hilda yang paling mengerti.
Pria itu menunduk lesu, memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut. Cukup lama terdiam seorang diri. Terngiang dengan gamblang perempuan berstatus istrinya itu begitu terluka atas sikap dirinya yang membiarkan begitu saja. Sungguh dirinya tidak berniat mencelakainya, bahkan malam itu Biru putar arah, namun tidak menemukan Inggit di sana.
Seketika ia berpikir keras, malam itu Inggit tidak pulang, dan itu artinya gadis itu menginap bersama Ares? Rasa kesal dan bersalah yang sempat menguasai berubah menjadi dongkol setengah mati. Mengingat pria itu begitu manis memperlakukan istrinya kenapa Biru semakin kesal. Biru akui, dirinya salah dan mungkin harus berterima kasih padanya, namun mengingat ia pernah tidak pulang dua malam, bahkan mengabaikan telfon darinya tentu Biru merasa sangat kesal.
"Arkkhhh ...!!" Biru mengacak rambutnya frustasi.
Setelah berperang dengan perasaannya yang kacau, pria itu masuk ke kamar dan mendapati Inggit sudah terlelap. Sudut mata gadis itu masih mengembun. Sisa air mata masih begitu kentara di sana.
__ADS_1
"Maafkan gue, Nggit, hampir membuat lo dalam bahaya," gumamnya lirih, merapikan anak rambut yang menghalangi wajah. Membenahi selimutnya dan meninggalkan kamar dengan perlahan. Malam itu, Biru tidur di sofa.