
Bus yang membawa rombongan KKN tiba di lokasi pada pagi harinya. Semua anggota berkumpul di alun-alun kota untuk mendapat sambutan dari kepala daerah setempat. Di alun-alun ini lah mereka terakhir berkumpul bersama sebelum mereka menyambangi desa masing-masing tempat KKN.
Sebelum berkumpul untuk acara penyambutan. Inggit dan teman-teman memilih untuk mandi terlebih dahulu baru sarapan.
"Mandi dulu biar seger," ujar Inggit menginterupsi suaminya.
"Udah aku siapin alat mandinya, kamu duluan, nanti aku ambilin sarapan. Masih terlalu ngantri, bakalan malas berdesakan."
Kabupaten kota menjamu menu sarapan untuk menyambut kawan-kawan KKN. Inggit, Okta, Biru, Nathan, dan Devan, berbaur menjadi satu. Hanya Ares yang tidak terlihat bergabung, pria itu menjadi pengurus kabupaten jadi super sibuk berbincang dengan dosen dan orang penting lainnya.
"Aku haus, mau dawet dong, sepertinya enak," pinta Inggit yang langsung diiyakan Biru.
"Sekarang banget." Pria itu menilik abang dawet yang tengah dikerubuti banyak orang yang mengantri.
"Huum, kayaknya enak," jawab Inggit seadanya.
"Jangan-jangan istrimu nyidam Al," ucap Nathan sok tahu.
"Beneran lagi hamil?" Devan ikut bergosip.
"Apaan sih, enggak lah ... aku nggak hamil, nggak nyidam juga, cuma pengen aja emang salah." Inggit mendadak ngegas.
"Udah sayang, diamainin aja doa baik itu, kalau hamil ya nggak pa-pa 'kan ada suaminya," ujar Biru menenangkan.
"Ish ... nggak gitu, Mas, mereka mah pada sok tahu, jadi beliin nggak?"
"Cie ... manggilnya, Mas, sejak kapan? Mas Al, oh so sweet, kapan aku dipanggil bang Nathan. Iya dek Inggit. Hahaha."
"Ngakak aja terus, jangan dengerin mulut lemes tanpa filter yank, dia iri," Biru mengusap pucuk kepalanya dengan sayang.
"Ish ... kalian mah, udah tahu ada yang jomblo, malah sok romantis gitu bikin hati panas aja."
"Nah 'kan, ngiri yank."
"Udah dong berantemnya, cepet kalau mau beli, mesti ngumpul lagi habis ini."
__ADS_1
"Syukurin pisah lagi?" Nathan gemas sendiri.
"Jahat! Mulut lo ngeselin."
"Bodo amat, sakit mataku lihat kalian uwu-uwuan mulu."
"Sayang, ini dawetnya, spesial for you, pakai cendol cinta," Biru mengerling.
"Makasih Mas Al, love you."
"Me too."
Usai mengikuti sambutan, rombongan bertolak ke desa masing-masing. Di mana tempat desa Inggit KKN dan Biru lumayan jauh, namun masih bisa dijangkau. Minggu pertama, adaptasi sesama warga dan dusun tempat tinggal. Semua berjalan terasa lambat. Rasa rindu itu kadang menyapa, walaupun bisa berkabar lewat dunia maya, semua terasa kurang bila tidak saling menyapa.
Akhir pekan yang sudah digadang-gadang menjadi hari pertemuan mereka, berakhir gagal total sebab ada agenda bersih jalan. Semacam kerja bakti warga desa. Sejoli itu terpaksa men cancel pertemuan mereka.
Setiap malam, usai kegiatan sebelum menyambangi mimpi, pasangan halal itu selalu menyempatkan dengan bertelepon, atau sekedar berkirim pesan. Signal oh signal, kadang gara-gara signal, membuat keduanya salah paham bahkan berantem. Menanti chat tanpa balasan, telpon yang sering terputus karena medan tempat mereka masih di kawasan cukup pelosok.
Agenda untuk besok sabtu pagi, mahasiswa kelompok 15 rencananya mengadakan sosialisasi ke Sekolah Dasar. Mas dan mbak KKN akan bersosialisasi tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mencuci tangan dengan baik dan benar. Sebelumnya, mereka selalu membagi tugas di dalam posko. Semua anggota akan terbagi untuk saling kerja sama.
"Inggit, lo ke pasar ya, beli cemilan plus susu kotak, rencananya mau kita bagiin pada anak-anak setelah kegiatan usai," ujar Ridho lagi.
"Gue sendiri?" tanyanya pada diri sendiri.
"Temenin deh, siapa yang cowok biar bantuin bawa motor, pinjam punya warga dekat," ujarnya menyarankan.
"Lainnya pada sibuk semua, semua udah kebagian tugas. Tinggal Inggit sama ...."
"Sama gue aja, ada motor Rahmad, nanti gue pinjam buat ke pasar."
"Lo nugas bungkusin kado?"
"Aman lah tinggal dikit, dibantu Rena juga."
"Oke deh, Nggit, lo sama Daffa beli susu kotak ke pasar, biar dapat harga yang lumayan miring, belinya di pasar grosiran."
__ADS_1
Inggit mengangguk paham. Sebenarnya merasa enggan kalau cuma berdua sama Daffa, tapi untuk kepentingan kelompok, ya sudahlah mengalah.
"Ayo Nggit, bonceng!" seru Daffa percaya diri.
"Pakai motor ini?" tunjuknya pada motor setengah butut itu.
"Iya, emang kenapa, aku sering pinjam kok, masih layak pakai."
Sejak awal berangkat, hati Inggit mulai waswas. Semoga tidak ada gosip tentang dirinya. Terlebih hanya berdua. Sepanjang menuju pasar, Inggit mengingat-ingat peta lokasi berdasarkan petunjuk Bu Lurah. Tidak ingin menjadi konyol dengan kata tersesat.
Setelah melewati perjalanan dengan batuan aspal romplak, alias aspal rusak parah berlubang sana sini. Inggit tiba di pasar.
"Aku tunggu di sini ya, kamu cari yang mau dibeli," ujar Daffa tidak mau masuk ke pasar.
"Kok gitu, nanti yang bawa siapa? 'Kan berat," keluhnya merasa sebal.
"Kamu telfon aku kalau udah dapat barangnya, aku tidak nyaman kalau harus muter-muter." Inggit mencebik kesal. Pria itu masih manja aja ternyata.
Inggit terpaksa membayar kuli dengan merogoh kocek pribadi untuk sampai ke motor. Usai membeli barang yang diinginkan, keduanya langsung memutuskan pulang.
"Bawa motornya jangan kenceng-kenceng, Fa, nanti barangnya jatuh."
"Makannya pegangan, Nggit, susah amad," Daffa menarik tangan perempuan itu hingga memeluk dirinya. Tentu saja Inggit tidak nyaman, perempuan itu langsung melepaskan dan berganti memcengkram kaus pria itu tepat di pundaknya.
"Motornya kenapa Fa, kok berhenti?" tanya Inggit mulai gusar.
"Turun dulu, gue cek deh, perasaan tadi masih oke, bahan bakar juga." Mereka turun dari motor. Suasana terik membuat gerah, keduanya dibanjiri keringat. Ternyata motor mereka ngadat alias mogok, mungkin busy atau apa, entahlah. Daffa terlihat sibuk mengotak atik. Mereka terjebak macet di jalan.
"Ya ampun ... panas banget, masih lama nggak Fa,"
"Kamu berteduh dulu dibawah pohon yang rindang, gue benerin sebentar," ujarnya. Inggit mengiyakan.
Sungguh hari tak terduga, saat jam genting melanda, tiba-tiba handphone Inggit berdering. Suaminya menelpon.
"Astaga ... mati aku!"
__ADS_1