
Keesokan paginya Biru terjaga dan ia menyadari kehampaan yang begitu nyata. Biasanya ia akan menemukan seseorang di sampingnya yang belakangan ini begitu manis untuk dipandang. Muka bantalnya yang imut, terngiang jelas di kepalanya. Sekilas ia tersenyum, lalu menyambar ponselnya yang terdampar di pinggiran ranjang. Niat hati menghubungi perempuan yang berstatus istrinya itu, urung sebab ponselnya mati, mungkin kehabisan daya saat semalam melakukan panggilan bersamanya.
Segera Biru bergegas mandi, jadwal hari ini cukup penuh diagendakan. Mulai dari penyelidikan dan pengintaian terhadap seseorang. Dibantu dua sahabatnya, Waluyo dan Suloyo yang selalu setia mendampinginya dalam suka maupun duka. Jangan lupakan Ares, dia adalah garda terdepan yang menyakinkan pihak kampus untuk segera menutup kasus ini, tentu saja dengan wewenang ayahnya.
Sejauh yang mereka bisa, semua membantu. Hari ini, mereka mengadakan pertemuan bersama di Hugo's cafe. Salah satu tempat hiburan yang berbentuk cafe dan diskotik itu tujuan utama trio bossy dan Ares. Tempat yang diprediksi sering dikunjungi Hilda.
"Gue bakalan mengambil bukti dengan sidik jari, tapi masalahnya kita cukup kerepotan karena harus melibatkan semua mahasiswa kampus ini. Tentu saja itu tidak muda, kita harus mengambil semua data mahasiswa untuk mengetahui detailnya. Orang yang memasang gambar-gambar itu sudah pasti orang yang bekerja sama dengan penyebaran di internet. Kita harus bergerak cepat, untuk sementara kita mencari bukti yang paling natural dulu."
"Gue udah ngode orang suruhan Papa, yang pertama foto itu harus segera dilenyapkan dari bumi, tidak boleh ada satu pun yang tersisa, ini menjadi pukulan terberat untuk Inggit sebagai korban, dan gue adalah orang pertama yang terdampar kehancuran. Bahkan sekarang kita dihukum untuk tidak boleh bertemu," curhat Biru sendu. Kedua sahabatnya memberikan semangat untuk Biru.
Ares masih tenang mengamati, "Gue nggak tahu ini karma atau apa buat lo, tapi kalau sampai perpisahan lo menjadi nyata, jangan salahkan untuk gue berjuang dengan cinta," ucap pria itu cukup yakin.
Biru yang tengah terpuruk menyorot tak percaya, ia sadar ada cinta lain yang lebih besar dari seorang pria yang juga mengagumi istrinya.
"Izinkan gue membuktikan dulu, kalau memang skenario Tuhan berbeda dengan ekspektasi yang ada, gue harap lo adalah orang yang cukup sportif dalam menjalani hidup," ucapnya mantap. Walaupun tersimpan gurat cemas yang besar, Biru yakin Ares hanya ingin menjadi second lead jika dia benar-benar tumbang.
"Gue yakin dalang dibalik semua ini adalah Hilda, gue tidak pernah membagi dengan siapapun foto tersebut, namun perempuan itu pernah meminjam laptop gue, dan waktu itu cukup lama dia menguasai laptop gue. Pasword juga belum gue ganti, dan salah satu orang yang tahu cuma Hilda," terang Biru yakin.
"Lo punya ide?" Nathan menimpali.
"Kita harus bisa membuat perempuan itu ngaku dengan sendirinya, sepertinya kita butuh bantuan Okta." Devan menyumbangkan suaranya.
"Okta, apa hubungannya dengan Okta?"
__ADS_1
"Okta itu menangani les renang untuk anak-anak, dan gue pernah lihat Om-om yang jalan sama Hilda mengantar putrinya di sana. Waktu itu gue menemani cewek gue jemput ponakan di sana. Itu artinya, Pria tua itu punya keluarga, kita ancam saja si Hilda untuk jujur, kalau tidak kita laporin tuh ke maminya bocah kecil itu. Pastilah huru hara tuh, secara Hilda bermain api dengan pria beristri. Sedikit kejam sih, namun untuk membalas pada orang yang jahat kita harus lebih jahat."
"Iya, setuju, itu juga bisa membuktikan sanggahan yang paling masuk akal agar perempuan itu tidak menuntut gue untuk bertanggung jawab atas kehamilannya?"
"Hilda hamil!" Ketiga pria seumuran itu ternganga bersama.
"Belum lama ini dia mengaku-ngaku hamil dan meminta pertanggungjawaban dari gue, terang saja itu nggak mungkin, jelas sudah selama gue nikah sama Inggit gue nggak pernah kaya begituan," curhat Biru yakin.
"Eh tunggu-tunggu, belum pernah kaya gituan setelah menikah dengan Inggit? Apa itu berlaku untuk lo dan juga istri lo?" Nathan menyorot penuh selidik. Sementara Biru sendiri nampak kebingungan menjawab.
"Jiahhh ... lo puasa selama tiga bulan? Parah sih, player digosthingin. Hahaha." Nathan, Devan, dan juga Ares ngakak bersama.
"Nggak usah ketawa se*tan! Seneng banget lihat orang sengsara," gerutunya kesal.
"Gue cukup prihatin dengan apa yang menimpa lo, tapi gue lebih prihatin sama Bondan yang kelewat sabar." Lagi-lagi tiga pria berbeda hobby itu tertawa puas.
"Pengen ketawain hidup lo!" Puas ketiga pria itu mencibir tak berperasaan.
"Ya Tuhan ... dosa apa sih, punya teman nggak berakhlak semua," keluhnya sendu.
"Dosa lo banyak, A sampai Z nggak bisa kehitung, nggak usah mendrama."
"Kalau lo pada ngeledek mulu, gue pulang aja lah. Lo pada nggak prihatin apa, ini masalah lebih dari serius, hidup dan mati pernikahan gue, pendidikan dan karir gue, dipertaruhkan di sini."
__ADS_1
"Banyak hal yang membuat kita terbuka dan menyadari dengan semua yang telah terjadi. Tuhan menciptakan masalah bukan tanpa solusi, sebab di dalamnya pasti ada hikmah yang tersirat. Lo diuji kaya gini, supaya lo sadar, seberapa besar lo menghargai seseorang yang ada di samping lo, menjadi tahu cara bersikap yang lebih beraturan dengan mempertimbangkan untung dan ruginya. Lo juga tahu arti cinta yang sesungguhnya, karena dia yang menyayangi tidak akan pernah menyakiti. Jangan bermain dengan hati kalau tidak bisa berkomitmen, karena ada perasaan yang harus dijaga," tutur Ares bijak.
"Ya ampun ... gue mendadak insyaf kalau main sama lo, besok-besok lagi, gue nggak mau mainin cewek lagi," Devan menimpali.
"Termasuk ghostingin cewek di beranda instagram, hadeh ... udah gitu tebar pesona di depan fakultas hukum. Bikin baper cewek orang, ah ... itu lo banget," tuduh Nathan yakin.
"Bakalan insyaf nunggu bulan maret," jawabnya ambigu.
"Apa hubungannya Suloyo?"
"Biar bulan februari masih urakan dulu, nanti bulan depan insyafnya. Hehe."
"Sekalian aja tahun depan, keburu wasalam."
"Astaghfirullah ... jahatnya jadi orang." Pria itu mengelus dadanya dramatis.
"Ajebune, pucuk dicinta ulam pun tiba, target kita datang dengan sendirinya. Bro, merapat!" Nathan berseru girang melihat Hilda yang tengah menjadi perbincangan tiba-tiba muncul di sekitar kafe tempat mereka berdiskusi.
Mereka secara diam-diam mengintai, mengikuti gerak-gerik perempuan itu, hingga sampai memasuki sebuah private room. Keempat pria itu membuntutinya.
"Maaf, mas-mas dilarang masuk," larang seorang penjaga di pintu masuk private room.
"Kasih Bro!"
__ADS_1
"Lo mau ini!' Nathan menimpuk bibir pria itu dengan uang. "Atau ... berurusan dengan kami berempat berakhir di meja hijau," ancamnya dengan gigi gemretak. Devan sungguh geram.
Setelah berhasil menguasai tempat, mereka bersiap menciduk perempuan kurang beruntung itu.