
Usai kelas, Ares sudah menunggu Inggit di depan kelas tempat Inggit mengikuti makul. Pria itu kepo maksimal perihal kepulangan Inggit bersama Biru kemarin, ia merasa harus mengoreksi lebih detail, mengingat setahu Ares, Biru adalah kekasih sahabatnya Inggit.
"Hey ... " sapa pria itu tersenyum, menyorot Inggit dengan lembut.
"Kok di sini? Nungguin siapa?" tanyanya sedikit bingung.
"Yang lagi ngomong lah, siapa lagi. Ikut gue sebentar bisa nggak? Ada yang pingin gue omongin."
"Yah, Nggit, katanya janji ke perpus. Bantuin gue please ...!" mohonnya dengan memelas.
"Mau kemana emangnya, aku pinjam Inggitnya bentar ya, Da. Ada yang pingin gue omongin," ujarnya seraya mengangguki Inggit.
"Bentar Da, lo tunggu di gazebo dekat gedung fekon aja, sekalian numpang wifi kampus," ujarnya mengerling.
"Oke deh, jangan pakai lama ya?"
Hilda menuju gazebo yang dimaksud, sementara Inggit mengikuti Ares yang berjalan ke sebelah utara gedung Teknik.
"Mau kemana sih, jauh banget," keluhnya seraya mengekor Ares yang berjalan semeter lebih cepat di depannya.
"Sini, di sini kayaknya aman. Lo bisa jelasin ke gue hubungan lo sama Biru kaya apa?"
"Ya ampun ... jauh-jauh jalan kaki, cuma mau bahas si batu, nggak penting banget," omelnya kesal. Ares tersenyum mendengar gerutuan Inggit.
"Nggit, nggak penting bagi lo tapi informasi itu penting bagi gue, gue baru percaya dengan yakin setelah denger dari mulut lo, sejak kapan lo terikat dengan Biru? Sejauh apa hubungannya?" tanyanya penuh selidik.
"Itu sudah termasuk privasi gue, Res. Ada apa denganmu, seperti penyelidik?"
"Gue peduli sama lo, Nggit, gue sakit ngelihat lo terluka, kalau memang benar lo ada ikatan dengan Biru, kenapa lo ngebiarin ia tetap sama Hilda?"
"Lo nyelidikin gue? Lo seperti penguntit yang kurang kerjaan, sejak kapan lo tahu tentang gue?"
"Tidak penting sejak kapan gue tahu, yang gue mau lo jujur sama gue. Gue lihat, lo sama Biru itu beda, saling membenci tapi mengikuti, saling menjauh tapi dekat."
Hening
Mereka terdiam untuk beberapa menit, Inggit menghirup udara banyak-banyak lalu menghembuskan dengan kasar. Bergeming, sampai pada akhirnya mulut mungil itu mulai berjuang untuk menyerukan kata yang tersimpan rapi untuk dirahasiakan.
"Gue udah nikah sama Biru, Res. Pernikahan kita karena perjodohan orang tua dan itu hanya berlaku di atas kertas," ucapnya dengan nada berat.
Ares memejamkan matanya sejenak, berusaha menghalau perasaan yang terlampau jauh. Memburu angan untuk tetap mengukir namanya, yang terlanjur terukir di relung terdalam. Ada rasa nyeri saat mendengar kata demi kata, sampai kata di atas kertas yang terlontar dari mulut gadis yang mencuri sepertiga hatinya itu terucap.
"Nggit, kamu terlalu berharga untuk di duakan, bolehkah aku tetap berjuang untukmu?"
"Jangan membuang waktumu yang bahkan aku tidak tahu endingnya," kata gadis itu menerawang.
__ADS_1
Ya Tuhan ... nyess sekali rasanya, saat aku sedang berharap untuk tidak mencintai siapa-siapa, kenapa engkau datang Ares?
"Nggit." Ares menggenggam tangan Inggit dan meyakinkan gadis yang masih menampilkan raut bingung.
Sebelum Inggit menjawab, ponsel di tangan Inggit keburu memekik. Membuat tangan yang di genggam itu terurai. Nampak id caller Hilda terpampang di layar ponselnya.
"Gue angkat telfon bentar Res, sepertinya Hilda sudah tidak sabar menunggu," ujarnya merasa aman karena tidak harus menjawab pernyataan Ares sekarang.
Inggit mengangkat telfon sekilas, sebelum akhirnya kembali ke dalam kecanggungan yang teramat kentara.
"Gue ke tempat Hilda dulu Res, nanti bisa ngobrol lagi, bye ...!"
Ares mengangguk ngerti, melepas Inggit dengan senyuman tipis yang menyambangi bibirnya.
"Nggit!" panggil pria itu, spontan Inggit menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Iya, kenapa?"
"Bukannya tadi ngeluh capek, mau gue gendong sampai gazebo?" selorohnya berjalan cepat, menghampiri Inggit dengan gaya coolnya.
"Gue nggak yakin lo kuat," tantang gadis itu lalu.
"Siapa bilang, tunggu Nggit," Ares mensejajarkan tubuhnya agar berjalan beriringan.
"Eh, enggak ya, emang gue bayi, kemarin itu ... termasuk pengecualian," sanggahnya malu-malu.
Mereka berpisah di depan gedung A multimedia. Inggit mengarah ke gazebo sementara Ares menuju arah selatan.
"Sorry, Da, nunggu lama," sesalnya seraya memposisikan diri duduk bersebrangan arah.
"Lama banget sih Nggit, bahas apa?" tanyanya dengan tingkat kekepoan yang haqiqi.
"Seputar field trip buat besok," jawab Inggit sekenanya.
"Owh ... jadi ikut? Emang bareng?"
"Huum, kapan lagi bisa hang out sambil belajar."
"Iya juga ya, asyik tuh kayaknya."
"Pastinya. Udah sampai mana lo nugasnya?"
"Belum lah, kan nungguin elo. Hehehe ... " Hilda nyengir.
"Ish ... kebiasaan, nggak gratis ya."
__ADS_1
"Siap lah, habis ini gue traktir lo ke kafe."
"Kuy lah."
Mereka langsung kepada topik, Inggit membantu gadis itu mengerjakan tugas yang terbengkalai. Santai dan cukup lama, setelah selesai mereka masih duduk-duduk di sana seraya mengamati anak Filsafat yang berseliweran melintasi depan gazebo.
"Di sini oke juga ya, bisa sambil cuci mata," serunya seraya mengamati dengan seksama.
"Lumayanlah, hiburan akhir nugas," jawabnya datar. Inggit malah tidak begitu memperhatikan sebab ia tengah berbalas chat dengan Ares. Rupanya laki-laki itu tengah di kantin sebelah gedung Ekonomi.
"Njir ... trio bossy yang datang," gumamnya menyorot Biru, Nathan dan Devan yang datang menghampiri. "Gangguin aja tuh orang," imbuhnya menggerutu. Menampilkan senyum palsu penuh kemalasan.
"Hai beb," sapa Hilda senang.
"Hai, udah selesai?" tanya pria itu memposisikan duduk di sebelah Inggit, bersebrangan dengan Hilda. Netra Biru melirik Istrinya yang tengah asyik sendiri dengan ponselnya, mengabaikan kedatangan Biru, Nathan dan Devan.
"Asyik banget Nggit, chat dengan siapa sih?" tanya Nathan penuh selidik. Pertanyaan Nathan cukup mewakili Biru yang sama halnya juga merasa ingin tahu.
Inggit memindai netranya dari layar ponsel ke pria yang menyerukan protes terhadap dirinya. Ia hanya tersenyum sekilas tanpa menimpali sedikitpun, kembali berbalas dengan muka senyum-senyum.
"Nanti sore nonton yuk, gabut," usul Hilda yang langsung disetujui Nathan.
"Ide bagus, gimana Nggit, mau nggak, kita triple date," ucap Nathan antusias.
Biru tidak menjawab, pria itu malah melirik Inggit yang sedari tadi masih setia sibuk sendiri.
"Ya ampun ... kesambet apa lo Nggit!" Devan menggelengkan kepalanya.
"Eh! Sorry, sorry, gue denger kok."
"Apa coba," tantang Biru.
"Mau pada nonton kan? Kalian duluan aja nanti kita ketemu di sana, gue sore masih ada urusan," ucapnya kalem.
Biru pikir urusan Inggit pasti jengukin Romo ke rumah sakit. Mengingat mertuanya itu masih dalam perawatan.
"Oke, deal ya, berarti nanti jadi, Nggit, lo gue jemput aja ya?"
"Nggak perlu!" seru Inggit dan Biru kompak. Hilda dan Nathan menatap bingung. Terang saja Inggit menolak bareng Nathan, gadis itu sudah ada janji berangkat dengan pria lain.
.
TBC
Mohon dukungannya gaes ... novel ini sedang mengikuti lomba yang muda yang bercinta. Jangan lupa tinggalkan jejaknya dengan like, vote, dan komen. Terima kasih🙏🙏🙏
__ADS_1