
Inggit dan Biru tengah sibuk menyiapkan barang bawaan ke dalam tas. Nanti sore mereka sudah harus sampai di kampus untuk pembekalan dan keberangkatan secara serempak menuju tempat KKN.
"Sayang, almamater aku mana?" tanya Biru menilik lipatan pakaian di lemari.
"Ada kok, udah aku deketin sama punya aku," jawab Inggit yang tengah sibuk memasukkan barang pribadinya.
"Ini punya kamu doang, punya aku mana sih?" tanyanya mulai jengkel, sudah pusing mencari hasilnya nihil.
"Ish ... tinggal di cari juga, dibuka tuh lemari panjang lebar, terus cari dengan teliti, kebiasaan banget ribut, giliran mau dipakai geger, kamu mah gitu."
"Astaghfirullah ... nggak ada yang, sini bentar deh." Biru menarik tangan Inggit yang tengah sibuk mengepak barang ke tasnya.
"Bentar, aku lagi siapin punya kamu juga." Biru yang tidak sabar, menarik tangan istrinya dan membawanya ke depan lemari.
"Sok cari, mana nggak ada?" protes Biru jengkel. Inggit meneliti dengan seksama, ia tidak percaya kalau tidak ada, pasalnya dirinya yang kemarin menyetrika almamater suaminya.
Biru ikut meneliti, pria itu berdiri persis di samping istrinya yang tengah fokus.
"Tuh, nggak ada 'kan?" selanya di tengah tanya.
"Ada, minggir jangan menghalangi jalan." Inggit sedikit mendorong pria itu agar memberikan jalan untuk istrinya lewat. Perempuan itu lekas meneliti di gantungan belakang pintu dan menemukan apa yang di cari ada di sana.
"Nih, cari yang bener, barang sendiri kebiasaan lupa."
"Siapa yang naroh di sana, ya mana aku tahu sayang." Biru menggeleng pelan, masih mengekor istrinya.
"Tangan pastinya, udah sana mandi, atau ngapain kek, kalau udah selesai nyiapin semuanya, mandi atau apa gih, jangan ngintilin aku mulu."
"Mandinya nanti aja, habis dhuhur, ini masih ada lumayan beberapa jam sebelum berangkat, gimana kalau kita memanfaatkan waktu kita berdua dengan baik," ucap Biru nyengir, pria itu menaik-turunkankan alisnya.
"Apa sih, jangan mulai deh, nggak mau." Inggit langsung menghindar.
__ADS_1
"Eits, mau ke mana nggak boleh nolak, dosa lho ... buat bekal berangkat, please ...." mohon pria itu mengerling.
"Nggak mau, orang mau perjalanan jauh juga, masa dibuat ngoyo dulu, belum ngilunya, nyerinya, nanti aku nggak nyaman," Inggit mrengut. Mencurahkan risalah hatinya sehabis sayang-sayangan.
"Sayang, jangan tegaan jadi orang, aku puasanya lama lho ini, bagaimana kalau tidak kuat, 'kan aku dosa, ayok ...." Pria itu ngeyel sekali, tubuhnya mulai mengikis jarak, memeluk istrinya dari belakang yang masih ogah-ogahan.
Inggit mrengut, bukannya menolak pahala, namun bayangan capek yang melanda setelah pergulatan sengit terngiang di kepalanya.
"Kenapa harus ngeyel sih, aku tuh nanti nggak nyaman," tolaknya dengan nada sehalus mungkin.
"Ya udah nggak usah, nggak pa-pa," jawab Biru dengan wajah ditekuk, terlihat kecewa namun tetap meninggalkan jejak sayang pada istrinya untuk menjaga perasaannya. Pria itu melepas pelukan itu dan berlalu keluar dari kamar.
Inggit menjadi bingung, ia merasa bersalah sekaligus berdosa. Perempuan itu keluar kamar, menemukan suaminya sedang tiduran di sofa ruang tengah dengan satu lengan kirinya menutupi mata. Sementara tangan kanan memegangi remot TV. Sepertinya menyalakan televisi, namun tidak ditonton.
Inggit yang merasa berdosa pun akhirnya mendekat, perempuan itu mengikis jarak dan membungkukkan badanya. Hingga menemukan bibir mereka, dengan kecupan lembut Inggit menyapa. Biru terkesiap, pria itu langsung membuka mata dan menatapnya dengan wajah masih ditekuk.
"Kalau nggak mau jangan mancing-mancing sayang, itu nggak baik buat kesehatan jantung dan kesejahteraan Bondan," ucapnya seraya memposisikan diri memunggungi istrinya. Pria itu merajuk.
"Jangan gini Nggit, jangan mancing-mancing, kalau pada akhirnya kamu nggak mau, ini menyiksaku tahu nggak sih," geram Biru merasa gemas. Saat istrinya tidak mengindahkan kata-katanya dan malah bergerak nakal dibagian tubuh pria itu.
"Hmm ... beneran nih, nggak jadi?" bisik Inggit tepat di belakang tengkuk suaminya.
Biru membalikkan badanya, jadilah mereka saling berhadapan. Mata mereka saling bersirobok, menatap penuh cinta dan hasrat yang dalam.
"Emang boleh? Tadi katanya nggak mau, ya udah aku nahan-nahan," jawab Biru seraya menatap begitu dalam.
"Emang kuat ditahan?" tanyanya meragu.
"Nggak lah, mana kuat," ucap pria itu tak mau membuang waktu. Langsung mempertemukan bibir mereka dengan pagutan lembut. Keduanya begitu menikmati, benar kata Biru, hari ini harus meninggalkan kenangan manis sebelum mereka berangkat dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Saat pria itu sibuk membuat lukisan bintang di leher jenjang istrinya yang mulus, Tiba-tiba suara tidak sopan itu mampir di telinga pasangan yang tengah memadu kasih.
__ADS_1
"Sosor terus, isep yang kuat Al," ucap seseorang dengan nada guyonan. Spontan membuat konsentrasi keduanya ambyar dan langsung menghentikan kegiatannya. Terlihat duo rusuh, Waluyo dan Suloyo ada di ruangan yang sama.
"Astaghfirullahalazim ... kalian ngapain ada di sini?" tanya Al, sembari bangkit duduk. Sementara Inggit sibuk merapikan diri, dengan pakaian yang sedikit lusuh dan terbuka.
"Bertamulah, ketuk pintu, salam, teriak-teriak, nggak ada sahutan, eh ... malah orangnya lagi sibuk, ehem ehem," jawab Nathan tanpa dosa.
"Set*n ya lo pada, kunjungan nggak tahu waktu, emang dasar teman nggak ada akhlak, masuk ke rumah orang tidak sopan!" ketusnya kesal, hasrat yang sudah diubun-ubun dengan susah payah meminta istrinya berakhir ngenes.
"Pulang sana gangguin aja, gue nggak mau diganggu," usirnya ketus.
"Rusuh bet ah, kita tuh di sini mau ngadain reuni perpisahan, sebelum bertolak nanti sore, secara kita 'kan bertiga tidak ada yang bareng, jadi mari kita meriahkan dengan ngumpul bareng."
"Ogah, lebaynya ... kita tuh masih satu kabupaten tempatnya deket juga tetangga desa, jadi bisa mampir suka-suka, udah sana pulang, kita ketemu nanti sore aja di gedung serba guna."
Inggit yang sudah melesat sedari tadi datang dengan menenteng nampan berisi tiga cangkir teh.
"Sayang, nggak usah dibuatin minum segala, udah mau pulang kok mereka," ucap Biru resah.
"Enggak kok, Nggit, masih pingin main, makasih ya tehnya, kebetulan lagi haus, baru mendaki gunung, melewati lembah," sindirnya yang langsung mendapat pelototan Biru.
"Diminum tehnya, gue tinggal dulu, masih ada banyak yang belum selesai gue packing."
"Oke, Nggit, semangat, perlu bantuan Bang Nathan nggak nih sayang."
Bugh
Satu bantal sofa sukses mendarat cukup keras di kepala pria yang tengah mengaduh kesakitan, seraya memegang kepalanya cukup lebay.
"Ngomong sayang lagi ke istri gue, gue lempar ke mars lo," hardik Biru gemas.
"Idih ... mulut, mulut gue, kenapa jadi elo yang repot!"
__ADS_1
"Mulut lo ngeselin, sana pada pulang gih, bikin rusuh rumah tangga orang aja, pada nggak kasihan apa ya sama yang mau LDR?" keluhnya ngenes.