Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 97


__ADS_3

"Sabar Al, sebaiknya selesaikan dengan kepala dingin, biar Daffa gue yang tangani," ujar Tama menengahi.


Biru terlihat masih sangat kesal, pria itu menatap marah, dan kecewa pada istrinya yang masih menangis.


"Inggit, cari kebahagiaan kamu sendiri, sedari awal kamu tuh udah nggak cocok sama Biru, terlalu banyak bertingkah pria itu!" seru Daffa memanasi.


"Diam lo, lo nggak berhak menilai rumah tangga orang! Tama, bawa pergi atau gue habisin di sini!" hardik Biru tak sabar.


"Oke, tolong selesaikan ini semua dengan baik, Inggit, lo malam ini boleh absen, nanti gue bilang ke anak-anak. Buat acara besok, biar kita pikirkan besok."


"Makasih Tam," tutur perempuan itu.


Daffa menuntun motor yang mogok diikuti Tama membawa barang belanjaan. Sementara Inggit dan Biru masih di sana, keduanya saling terdiam memyelami hati masing-masing.


"Pulang!" kata Biru pada akhirnya setelah hampir dua puluh menit hanya saling membisu.


Inggit tidak berani menyela, ia berharap masih bisa melanjutkan kegiatan KKN tanpa adanya konflik yang berarti. Jika mungkin, jangan hanya karena kesalah pahaman menyebabkan rugi pada diri sendiri.


"Mau kamu apa? Balikan lagi?" tanyanya dengan sorot mata tajam. Perempuan itu menunduk takut, Biru benar-benar marah, rahangnya yang kokoh terlihat mengeras.


"Kamu percaya sama aku, atau sama Daffa?" tanya Inggit balik bertanya.


"Sulit buat aku, Nggit, kalau penglihatan mata yang berbicara, nggak tahu aku cemasnya kaya apa, siang malam kepikiran, kamu malah enak-enakan sama mantan, boncang-bonceng berduaan, duduk santai menikmati angin berhembus dengan saling berpangku kasih sayang, sakit Nggit!" Biru menepuk dadanya sendiri.


"Sudah aku bilang, itu nggak seperti yang kamu lihat Al," sanggah perempuan itu cepat.


Ya Tuhan ... semua terasa sakit saat yang berada di genggaman tak bisa menghargai. Apakah ini termasuk sebuah hukuman, sering mengecewakan orang diwaktu dulu.


Pria itu menatap istrinya lama, diam dan lekat.


"Aku nggak tahu pria seperti apa yang bisa membuatmu bahagia dan nyaman, tolong bantu aku yang sedang berusaha untuk memantaskan diri," ucap Biru sendu. Pada kenyataannya pria itu tak bisa marah, tatapan mata istrinya selalu meneduhkan.

__ADS_1


"Ayo naik, kita bicarakan ini di tempat yang lain," ucap Biru seraya menstater motornya.


Inggit menurut, langsung membonceng di kursi penumpang. Ia diam saja hingga motor itu melaju jauh.


"Kita mau ke mana? Ini beneran mau pulang?" tanya perempuan itu meneliti jalan.


"Nanti juga bakal tahu, kita butuh waktu berdua untuk menyelesaikan masalah ini."


"Kenapa nggak bilang langsung aja Al, mana yang masih membuatmu ngganjal, bagian mana yang harus dibahas, sudah jelas ini cuma salah paham."


"Mungkin iya, tapi aku masih tidak terima. Enak saja, Daffa pegang-pegang tangan kamu, dikira nggak sakit hati apa lihatnya."


"Kamu salah lihat, kita nggak pegangan tangan, itu Daffa yang narik aku, terus nahan tangan aku," sanggah Inggit tak terima.


"Kamu juga diam aja, ikut menikmati 'kan?" tuduhnya menjengkelkan.


"Berhenti-berhenti!" Inggit menepuk pundak suaminya.


"Males bareng sama kamu, dari tadi dijelasin nggak mau ngerti, udahlah kita sama-sama merenung sendiri dulu. Kamu kiri aku kanan, lebih baik begitu." Inggit turun dari motor dan benar-benar ngambek.


"Inggit, mau ke mana? Apa maksudnya aku kiri kamu kanan, masalah itu diselesaikan bukan dihindari apalagi memilih pergi, ikut, Mas sekarang, cepet naik atau aku gendong."


Inggit tidak menggubris perkataan suaminya, iya terus berjalan di pinggiran menjauh dari pria itu.


"Astaghfirullah ... cobaan apalagi ini, kenapa malah istri aku yang merajuk." Biru geram sendiri. Pria itu berlari dengan cepat dan langsung mengangkat tubuh istrinya.


"Lepasin Al, lepasin, aku mau ngambek!" perempuan itu memukul kecil punggung suaminya.


"Di acc setelah interview masalah selesai, ikut Mas pokoknya, jangan berontak nanti dikira orang aku mau apa-apa kamu."


"Bodo amad, aku sebel sama kamu, tadi aja bentak-bentak aku!"

__ADS_1


"Mas ada apa ya, mau nyulik? Lepasin ceweknya Mas, jangan main kasar." Terlihat warga yang melintas tak jauh mulai berkerumun mendekati mereka.


"Eh, enggak Pak, ini istri saya lagi ngambek, mau diajak pulang nggak mau?" Biru langsung waspada, seandainya Inggit tidak membenarkan sudah pasti pria itu menjadi sasaran amukan warga karena dituduh berbuat tindakan asusila.


"Kalau ada masalah sebaiknya diselesaikan di rumah jangan dibawa ke jalan, nanti bikin orang salah paham!" tegur seorang bapak memperingatkan.


"Iya Pak, Maaf, ini sedang berusaha." Biru meminta maaf pada warga dan mereka membubarkan diri.


"Tuh 'kan, Mas bilang juga apa? Jangan berontak, kamu sih nggak percaya, bisa mati aku dikroyok warga. Mau kamu jadi janda muda?"


"Astaghfirullah ... nggak lah, jangan sampai, ngomongnya serem amad."


"Sama, aku juga nggak mau, makanya nurut, aku yang harusnya marah bukan kamu, aneh banget sih, udah salah malah ngambek."


"Eh, mulai lagi, sana pergi, aku mau balik sendirisendiri."


"Emang tahu jalan pulang?" godanya cukup menantang.


"Tanya orang lah, punya mulut, mata dan telinga, bisa lah punya akal."


"Iya sih, tapi pas kalau ada orang yang beneran ngasih tahu, kalau jalannya sesat gimana?"


"Tauk ah, gelap!"


Suara petir tiba-tiba menggelegar, sepertinya mau turun hujan.


"Ayo Nggit, cepetan naik?"


"Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanyanya bingung.


"Ikut saja, istri sholehah dilarang protes atau banyak bertanya."

__ADS_1


"Ish ...." Perempuan itu bungkam. Namun, segera sadar ketika Biru menepikan motornya di sebuah penginapan.


__ADS_2