
Inggit berjalan mendekat, menyalami takzim satu persatu orang tua mereka. Biru terlihat sudah duduk di sana, mukanya di tekuk, sepertinya pria itu tengah kesal. Tapi apa yang membuat ia kesal? Pria itu memindai indera penglihatannya ke boneka yang Inggit bawa, setelahnya menatap tajam mata istrinya.
"Biar aku ambilkan minum dulu," pamit Inggit kikuk, terasa aneh saat tidak ada yang bersuara di antara mereka, hanya keheningan yang menyapa. Inggit ke belakang dengan langkah bingung, namun segera ia membuat jamuan untuk mertua dan orang tuanya.
Lima teh hangat tersaji di meja tamu, Inggit mempersilahkan dan mengangguk sopan, setelahnya terlihat Romo dan Pak Rasdan saling melirik dan berdehem keras.
"Kalian tahu kenapa kami berkumpul di sini?" Pak Rasdan membuka suara. Inggit hanya menunduk diam lalu menggeleng pelan, sementara Biru menjatuhkan kepalanya tenang, memilih menekuri lantai di depannya.
"Biru, Papa sudah memperingatkan kamu tapi sepertinya itu tidak berlaku di kamus kepercayaan dirimu. Mulai hari ini, dengan berat hati Papa menarik semua fasilitas yang Papa kasih. Kalian harus belajar mandiri," jelas Papa Rasdan tanpa basa basi.
Biru terdiam tanpa berani menyela, ia pasrah ketika Papa memberi titah.
"Inggit, Romo kecewa terhadapmu ndok, Romo tidak tahu lagi jalan pikiranmu. Kenapa kalian malah sibuk dengan asmara masing-masing."
Deg
Inggit terdiam sesaat, ia langsung bisa menyimpulkan sesuatu yang telah terjadi. Sepertinya para orang tua telah mengetahui perangai putra putri mereka.
"Sekarang kita bertanya, mau kalian apa?" Pak Rasdan nampak tenang menatap keduanya.
Kedua pasangan sah itu hanya mampu terdiam tanpa menjawab tuturan dari mereka.
"Papa tahu dengan perasaan kalian, mungkin memang cinta itu belum tumbuh, tapi setidaknya kalian berusaha dan saling menghargai pernikahan. Bukan malah sibuk dengan gandengan sendiri-sendiri, kalian berdua mengecewakan kami," tutur Pak Rasdan kalem.
"Papa sama Mama dan orang tua Inggit, akan memberikan kesempatan sampai kalian lulus kuliah, kalau di antara kalian belum ada cinta sampai waktu yang kami tetapkan, kalian boleh mengambil jalan pisah," imbuhnya tenang.
"Dan kamu Biru, Papa menarik semua fasilitasmu, jadi belajarlah mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan juga istrimu!" camnya lugas.
"Kunci motor, kartu ATM, kartu kredit, semua yang papa kasih, keluarkan Biru."
"Pah, tapi Pa, jangan sama motornya, itu 'kan buat pulang pergi kuliah," protes Biru tak terima. Pak Rasdan tidak mau tahu, namun dengan sedikit bujukan dari Mama Diana, laki-laki paru baya itu akhirnya membiarkan saja motornya tetap dipakai.
__ADS_1
"Beruntung mamamu tidak sekejam Papa, ingat Biru, kamu harus lulus dengan nilai yang bagus, Papa tidak mau tahu itu, kalau kamu belum bisa memberikan apa yang papa mau, setidaknya kamu membuat papa bangga dengan prestasimu. Setelah itu terserah kalian, mau melanjutkan atau berpisah."
Setelah sidang keluarga yang cukup mendrama, para orang tua pamit undur diri. Mama Diana dan Bu Tami terlihat memeluk Inggit dan mengelus kepalanya. Memberi semangat untuk mantu dan putri mereka. Biar bagaimanapun, hati kecil seorang ibu tidak tega melihat anak-anaknya dalam kesusahan. Tapi ia berharap dengan pikiran jernih dan mandiri bisa membuat mereka mengerti dan menghargai apa-apa yang telah diamanahkan untuknya.
Biru dan Inggit melepas dengan salim takzim, keduanya menjawab salam pamit mereka. Sepeninggalan orang tua mereka, Biru dan Inggit masih terdiam sejenak, sampai akhirnya suara Biru menghentikan pergerakan Inggit yang hendak beranjak.
"Kenapa kamu pergi dengan Ares? Hampir sesorean mengabaikan pesan dan telpon aku?" tanya Biru geram. Inggit ingin abai dan berlalu, tapi Biru mencekal lengan gadis itu.
"Maaf Al, aku capek, bisakah kita tidak membahas apapun," jawab Inggit dingin. Ia selalu marah saat Inggit dengan pria lain, tapi dirinya bahkan melakukan hal yang sama.
Inggit mengurai cekalan suaminya, namun Biru menekan semakin erat. Netra pria itu menyala, menyorot makhluk di depannya dengan tajam.
"Sakit Al," desis Inggit mengaduh. Yang Inggit yakini pasti membekas. Perlahan pria itu mengendurkan genggamannya. Gurat merah jari membekas di sana.
"Maaf," lirih Biru, meninggalkan wanita itu dan berlalu begitu saja.
Suasana rumah mendadak hening dan kaku. Inggit yang enggan berbicara lebih dulu, dan Biru yang masih setia membisu. Sama sekali tidak ada obrolan di antara mereka. Hingga menjelang makan malam, keduanya tidak ada yang menyambangi meja makan. Keduanya masih memilih sendiri, bungkam adalah cara terampuh untuk menghindari percekcokan mulut yang bisa mengeluarkan kata menyakiti.
Suatu sore, saat Inggit tengah fokus menatap layar ponselnya. Tiba-tiba koneksi wifi terputus. Rupa-rupanya itu tak luput dari kejahilan Biru yang jengah karena Inggit sibuk sendiri tanpa menoleh pada pria itu. Biru merasa kesal, dengan tingkah Inggit yang semakin cuek, dan tak peduli.
"Al, kok wifi aku nggak konek, punya kamu konek nggak?" tanya Inggit menilik suaminya yang tengah duduk di ruang belajar.
"Masak sih, punya aku lancar," jawabnya datar tanpa dosa.
"Ikh ... nyebelin banget sih, mana gue lagi nugas juga, 'kan sayang kalau harus beli kuota," keluh gadis itu gusar.
"Nugas, apa nugas? Bukannya dari tadi senyum-senyum nggak jelas sama ponselmu itu?" sindirnya sengit.
"Apaan sih, orang lihat yang lucu yang senyum lah, dari pada kamu hidupnya manyun terus dari kemarin, emang nggak pegel tuh mulut," selorohnya tak kalah sengit.
"Sini aku pinjem laptop kamu." Inggit ikut nimbrung di sampingnya.
__ADS_1
"Pakai punya kamu sendiri lah, gangguin aja." Biru pura-pura jual mahal karena kesal, ia sengaja diam-diam mengganti pasword wifi rumahnya.
"Ihk ... beneran nggak bisa, kamu ganti paswordnya ya?" tuduh Inggit gusar. Biru hanya mengedikkan bahu acuh.
"Ya ampun ... rese' banget jadi orang, kasih tahu nggak?" cecarnya.
"Nggak, siapa yang ganti sih, kurang kerjaan."
"Biru! Jahat!" Inggit merajuk.
"Kamu yang jahat!" serunya tenang. Ia muak melihat Inggit sibuk dengan chat dan telponan, sementara dirinya bahkan nelangsa sendirian. Walaupun Hilda terus menghubunginya dan mengirim pesan, pria itu tidak menanggapi. Ia benar-benar memutus akses kontak dan sosial media perempuan itu.
"Kasih tahu nggak!" Inggit menggebrak meja karena kesal.
"Ada syaratnya," jawab Biru santai.
"Apa! Nggak usah aneh-aneh deh, pelit banget sih." Biru menatap tajam kekasih halalnya itu, ia mendekat yang membuat Inggit terkesiap beku dengan jarak mereka yang semakin dekat.
"Buang boneka dari Ares," bisiknya lembut di telinga istrinya, sedikit mengendus, pasti pria itu modus.
"Ikh ... 'kan lucu, nggak mau, lagian kita tidak boleh membuang pemberian orang."
"Kata siapa?"
"Kata aku lah, lagian kamu nggak ada hak, nyuruh aku lakuin itu," jawabnya mantap.
"Owh ..., hak ya? Ngomong-ngomong hak, aku berhak apapun atas apa yang melekat padamu." Biru nampak manggut-manggut.
"Lo ngapain deket-deket!" Inggit salting sendiri.
"Meminta hak."
__ADS_1
"Hah, maksudnya?"