
Setelah teman-temannya pulang, tinggalah mereka berdua. Inggit langsung beristirahat di kamarnya di bantu Biru, sementara pria itu membersihkan kekacauan yang diakibatkan teman-temannya. Kedatangannya yang rusuh tak ubah kaya kapal pecah. Sofa bergeser, lantai kotor, dan pastinya sampah bekas makan menodai mata di sana sini.
"Aku bersih-bersih dulu ya?" ujarnya setelah memberi kenyamanan pada istrinya.
"Emang bisa?" tanyanya meragu, selama mereka menikah, Biru selalu cuek untuk hal itu.
"Kalau tidak bisa, ya dicoba, nyapu sama ngepel doang, gampanglah," jawabnya enteng. Cukup lama pria itu membuat rumah mereka kinclong kembali. Sore menjelang berganti petang,
Ia menghampiri istrinya di kamar.
"Nggit, sibuk ya?" tanyannya mendekat, Inggit tengah memangku laptop dan terlihat fokus pada layar.
"Hmm, sedikit, kenapa Al?" Aktivitasnya terjeda, gadis itu menengadah memindai Biru.
"Aku harus kerja, kalau aku tinggal sendirian nggak pa-pa?" Entah mengapa, Biru mendadak khawatir meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
"Owh ... kerja ya? Nggak pa-pa, kamu langsung kunci pintunya saja dari luar, hati-hati di jalan!"
"Nanti kalau kamu butuh apa-apa gimana? Mau aku bantu ke kamar mandi dulu, sebelum aku berangkat."
"Nggak ada, udah berangkat aja, udah nggak begitu sakit juga, kamu yang terlalu memanjakan aku."
"Salah ya, aku lakuin itu, kamu nggak nyaman?"
"Nggak gitu Al, cewek mana sih yang nggak seneng dimanjain suaminya, pasti seneng lah, cuma ... ngerasa aneh aja, masih suka aneh sama sikap kamu."
"Maaf untuk waktu yang dulu, Insya Allah nggak aku ulang lagi, eh iya, tadi kamu sebut aku suami, berarti sekarang sudah diakuin dong," godanya mengulum senyum.
"Terpaksa, 'kan status kita gitu, ya ... gitu lah pokoknya."
"Ya gitu apa, ngomong yang jelas sayang," tanyanya menggoda, Biru duduk lebih dekat.
__ADS_1
"Udah sana berangkat, katanya kerja, kok malah diem." Biru bergeming, memperhatikan Inggit yang terlihat sibuk sendiri.
"Nggit, fokus sini bentar."
"Apa sih?" Netranya bertemu dengan netra hitam pria itu, Biru masih setia menatap lekat.
"Apa Al?" Inggit salting sendiri ditatap suaminya tanpa jeda.
"Apa sih, malah lihatin aku kaya gitu." Inggit langsung memutus kontak mata mereka, mengalihkan pada objek lain, dan terlihat sibuk sendiri.
Bukan Biru namanya kalau nggak pandai menyikapi moment. Pria itu mengbil laptop di pangkuan Inggit, lalu bergerak cepat mengikis jarak.
"Al, aku lagi merampungkan tugas yang tertinggal," protesnya tak terima, ketika laptopnya dijauhkan Biru.
"Sebentar sayang, bentar doang." Biru fokus menyorotnya lembut, mendadak ia gugup sendiri dihadapkan situasi sedekat ini.
"Mau minta yang tadi, biar aku semangat kerjanya," ujarnya langsung mengikis jarak. Sebelum sempat menjawab, Biru sudah dulu menyerang tanpa jeda. Pria itu takut ada bala benalu lagi, yang menggagalkan misinya.
Biru memberikan jeda beberapa detik untuk Inggit memasok oksigen, saat napas mereka masih memburu, pria itu kembali menautkan, mempertemukan indera pengecap mereka kembali. Seakan tak rela, pria itu enggan melepasnya. Dalam sekejap saja, aktivitas itu menjadi candu baginya. Ibu jarinya terulur mengelap sisa saliva yang menempel di bibir istrinya.
"Makasih, ini adalah ciuman terindah yang pernah aku rasakan," ucapnya sungguh-sungguh. Inggit tersenyum mendengarnya.
"Gombal banget, udah sana berangkat," usirnya pada pria yang masih menempel di sampingnya.
"Pengen libur, sayang banget ninggalin kamu di rumah sendirian," ujarnya jujur. Rasanya enggan untuk melangkah, terlalu sayang momen yang indah ini terlewat begitu saja.
"Kok gitu, kalau gitu mending tadi aku tolak aja, malah nggak bikin kamu semangat."
"Jangan! Aku semangat banget malah, aku kenapa ya, hawanya kangen terus sama kamu, ah ... benar, sepertinya karma Devan berlaku."
"Karma apa?" Inggit menyorot bingung.
__ADS_1
"Dikutuk jadi bucin sama kamu." Inggit tertawa mendengar celotehan jujur Biru.
Cup
Biru mendaratkan satu kecupan di pipi, Inggit yang masih cengengesan langsung terdiam.
"Aku bahagia lihat kamu tertawa kaya gini, aku berangkat kerja dulu ya," pamitnya yang terasa berat, padahal cuma untuk beberapa jam ke depan. Inggit mengangguk, saat tangan Biru meminta pamit, gadis itu menyambut dengan takzim. Terakhir meninggalkan jejak sayang di keningnya.
Sepeninggalan Biru, rumah terasa begitu sunyi, Inggit juga merasa ada yang hilang dari momen-momen manis tadi. Mungkin benar, cinta itu telah tumbuh di hati keduanya. Hingga terpisah sebentar sudah membuatnya merindu.
Pukul sepuluh malam, Biru belum juga kembali, ada rasa khawatir yang mulai melingkupi hati, Inggit tidak bisa memejamkan matanya. Otaknya terus mencemaskan pria itu. Hingga jarum pendek di angka sebelas malam, Inggit tidak tahan untuk tidak menghubunginya. Gadis itu langsung menyambar ponsel dan mencari kontak suaminya.
"Kenapa nggak diangkat sih," gerutunya kesal. Inggit berjalan tertatih keluar kamar, mencoba mengintip halaman depan, menunggu itu cukup menyebalkan.
Lelah hayati membawa gadis itu terlelap di sofa, menunggu Biru pulang yang entah jam berapa. Inggit sampai tertidur di ruang tengah.
Cukup larut pria itu pulang, rasa tak sabar bertemu membuat pria itu semangat melangkahkan kakinya menyambangi rumah. Biru mendengus elah, mendapati istrinya tidur di sofa, Biru pikir Inggit sengaja menghindari dirinya.
"Kenapa tidur di sini sih?" Pria itu langsung memindahkan ke kamar, Ikut terlelap setelah sebelumnya membersihkan diri di kamar mandi.
Keesokan paginya, Biru terjaga lebih dulu. Ia menyiapkan semuanya sendiri. Inggit baru terjaga setelah pria itu kembali membeli nasi sarapan dari sebrang jalan.
"Al, kamu udah rapih aja, semalam pulang jam berapa?"
"Lain kali jangan tidur di sofa." Bukanya menjawab, Biru langsung mengalihkan pertanyaan. "Sarapan dulu Nggit, udah aku siapin. Hari ini, kita dimintai keterangan untuk ke kampus," ujarnya di sela-sela sarapan.
"Aku malu datang ke kampus," jawabnya mendadak lesu.
"Kita harus jelasin pada pihak kampus kalau kita adalah pasangan halal, dan kamu, aku harap jangan terlalu dekat dengan sahabatmu itu, karena aku yakin ini ulah dia, tolong jangan percaya apapun yang keluar dari mulutnya," nasihatnya sebelum berangkat.
Usai pripare, Biru membantu Inggit membimbing berjalan, Inggit yang masih sedikit kesusahan berjalan itu terpaksa menyambangi kampus di dampingi suaminya. Kasus itu juga menyeret kedua orang tua mereka yang dihubungi langsung dari pihak kampus.
__ADS_1
Ruangan mendadak genting, dan mencekam, bukan hanya kedua orang tua inggit yang meminta penjelasan, kedua orang tua Biru juga menatap gadis yang berstatus menantunya itu dengan mata kecewa. Terlibat obrolan yang cukup private dan serius di dalam ruangan.