
"Ih ... ya mana aku tahu, itu 'kan kebijakan dari kampus, dipilih acak dari berbagai fakultas, kok ngambeknya sama aku sih?" Inggit ikut cemberut.
"KKN itu lama Inggit, bisa bayangin sebulan lebih bareng-bareng sama orang yang pernah ada rasa, siapa yang nggak khawatir," jelas Biru kesal.
"Terus salah aku gitu? Tergantung orangnya lah, berbulan-bulan juga kalau nggak ada perasaan ya biasa," sanggahnya meyakinkan.
"Termasuk sama aku gitu?" Mendadak pria itu sensitif.
"Apaan sih, kok jadi merembet ke mana-mana, kesel ah ...." Inggit bangkit dari ranjang.
"Mau ke mana? Aku tuh nggak kesel sama kamu, cuma kesel sama keadaan saja," keluhnya seraya bangkit dan mengejar Inggit yang sudah beranjak keluar kamar. Pria itu memeluk dari belakang.
"Aku nggak mau pisah, ah ... ini berat," sambungnya dengan nada lesu.
"Kalau kamu kaya tadi, itu sama aja nggak percaya sama aku, emangnya masih kurang yakin gitu?"
"Iya, yakin nggak yakin sih, aku bakalan marah kalau kamu sampai deket-deket sama cowok lain."
"Aku nggak gitu kali, Al, ya ... paling deket dikit, sih. Hehehe."
"Tuh ... 'kan, roman-romannya bakalan jadi ancaman buat kita, ah aku nggak mau itu terjadi."
"Nggak akan, Al, aku malah sangsi sama kamu, yang patut dicurigai tuh kamu, kali aja udah punya istri tebar pesona sama cewek lain? Kamu 'kan player bin playboy," sindirnya dengan lirikan paling mematikan.
"Ya ampun ... ralat, Nggit, lebih tepatnya mantan playboy, jadi dijamin sekarang setia lahir batin."
"Masa'?" Inggit jelas menggoda.
"Ya Tuhan ... gemes banget sih, bikin pengen." Pria itu mencubit gemas pipi istrinya.
"Aww ... sakit, Al." Inggit memegang pipinya sendiri yang baru mendapat cubitan sayang.
"Den Biru, Non Inggit, sudah ditunggu ibu, sarapan," ujar mbok menginterupsi.
"Iya, Mbok. Siap, lima menit lagi nyusul." Art itu mengangguk sopan lalu pergi.
Inggit dan Biru menuju ruang makan. Di sana nampak sudah ada Pak Rasdan dan Bu Diana yang menunggu keduanya.
__ADS_1
"Masih sakit, Nggit?" tanya Mama Diana perhatian.
"Udah mendingan, Ma, alhamdulillah," jawab Inggit dengan anggukan. Langsung mengambil duduk dan bersiap mengisi piring Biru terlebih dahulu, setelah Mama dan Papa mertuanya sudah lebih dulu mengambil bagiannya.
"Makasih, sayang," ucap Biru tersenyum, saat istrinya mengambilkan untuk dirinya terlebih dahulu. Persis seperti yang Mama lakukan ke Papa, membuat Biru sendiri begitu tersanjung dan bahagia.
"Iya, ayo makan, Al," jawab Inggit cukup tenang.
Mereka mulai sarapan dalam diam, menikmati hidangan yang tersaji di depan matanya.
"Hari ini ke kampus nggak, Al?" Pak Rasdan tumben menanyakan hal itu.
"Ada rencana sih, Pah, tapi sebenarnya udah nggak ada kegiatan juga, 'kan baru selesai UAS tinggal nunggu hasil saja. Paling persiapan buat KKN."
"Ikut Papa ke kantor bisa?" tawarnya penuh semangat. Biru bukannya langsung menjawab malah melirik istrinya.
"Ada apa, Pah, tumben?"
"Biar kenal sama dunia yang Papa bakal serahin ke kamu, jadi nanti terbiasa setelah lulus, sekarang belajar dulu mumpung belum berangkat KKN."
"Iya aja Al, kalau kamu nggak sibuk, atau lagi mager ya pingin berduaan terus," seloroh Mama tak pernah salah.
"Berarti bisa dong, nanti Papa tunggu ya, Inggit boleh ikut kok kalau nggak mau terpisah sejengkal pun." Pak Rasdan melobi putranya, spontan membuat menantu itu menunduk malu, merasa telah memonopoli anaknya.
"Terima kasih, Pa, Inggit lain kali saja mainnya, kebetulan ada agenda lain," tolaknya halus.
"Iya, nggak pa-pa, itu berlaku untuk Biru, barang kali sedang nggak mau jauh dari kamu, dia kemarin 'kan hampir stress waktu disuruh pisah sama kamu, Nggit." Papa yang biasanya pendiam, pagi ini begitu antusias menceritakan penderitaan putranya beberapa hari yang lalu.
"Pah, suka bener kalau ngomong, tapi jangan dibuka juga kali, Pa. Tuh Inggit jadi senyum-senyum," tuduhnya melirik istrinya.
Sarapan pagi yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Bu Diana sangat bersyukur menatap anaknya. mereka kali ini benar-benar terlihat nyata saling mencintai tulus satu sama lain.
"Papa berangkat dulu, semuanya, Al, jangan lupa, nanti Papa kenalkan sama relasi Papa."
"Insya Allah, Pa," jawabnya mengiyakan.
"Kalian mulai sekarang tinggal di sini saja ya, tidak usah kembali ke rumah itu lagi," ujar Mama Diana usai sarapan. Inggit dan Mama Diana tengah membereskan sisa sarapan dibantu mbok.
__ADS_1
"Kita sudah sepakat untuk kembali, Ma, insya Allah, Biru juga sudah bersiap untuk menjadi pemimpin rumah tangga yang sesungguhnya. Sedikit demi sedikit Biru juga kerja, jadi ... mau belajar mandiri yang sesungguhnya," jelas Biru cukup mengharukan. Bu Diana merasa bangga dengan putranya, rupanya menantunya itu benar-benar membawa dampak positif yang luar biasa.
"Kalau itu keputusan kalian, Mama bisa apa, hanya bisa mendoakan, semoga selalu bahagia dan dilimpahkan dengan rahmat dan kasih sayang-Nya."
"Aamiin ...."
"Inggit, yang sabar ya, kalau Biru berani macam-macam, getok saja kepalanya, Mama ngijinin."
"Nggak Ma, paling satu macam." Biru sengaja membayol.
"Siap, Ma. Ish ... sepertinya mau berulah."
"Nggak sayang, Mama mah suka gitu, kompor mledug."
"Astaghfirullah ... ngatain Mama!" suara wanita itu melengking.
"Nggak Ma, berbicara sesuai realita yang ada." Ibu dan anak itu saling ngeledek satu sama lain.
Usai membereskan sarapan, mama sibuk dengan agenda lainnya, sementara Inggit dan Biru kembali ke kamar. Mereka juga akan bersiap beraktivitas untuk pagi ini yang cukup cerah.
"Nggak pa-pa, Al, kalau papa nyuruh ke kantor, itu tandanya papa mulai percaya sama kamu," ujar Inggit berpendapat.
"Nantilah gampang, masih terlalu gamang, tapi pasti aku coba, secara tidak langsung, papa memang sudah memberikan banyak untuk aku, tapi mungkin memang aku yang kurang bersyukur dan memanfaatkannya, padahal banyak sekali di luar sana orang serba kekurangan, denganmu aku bahagia, semakin mengerti indahnya hidup sederhana sesuai kebutuhan, bukan kemauan."
Inggit yang tengah berjalan santai sambil ngobrol mendadak menjerit girang saat Biru yang gemas sendiri langsung menggendong tubuh istrinya begitu saja, kemudian membaringkannya perlahan.
"Al, ya ampun ... ngagetin aja sih," protesnya setengah nada kesal. Pria itu tidak peduli malah senyum-senyum sendiri seraya mengamati wajah istrinya begitu lekat.
"Terima kasih, sayang, jangan pernah berubah, tetap menjadi Inggit yang manis dan selalu menebar kebaikan," ucap pria itu lembut penuh penghayatan, Inggit mengangguk dengan senyuman.
"Inggit,' panggilnya lirih. Jarak mereka begitu dekat, matanya saling bersirobok.
"Apa, Al," jawabnya terdengar begitu seksi.
"Ayo!"
"Ayo?" Inggit membeo. Menatap pria itu dengan kening mengeryit bingung. "Ke mana?"
__ADS_1
"Bikin anak!"