Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 60


__ADS_3

"Boleh?" pintanya dengan nada serak dan mata berkabut.


Ya Tuhan ... jangan bilang Biru minta 'Haknya' mati gue, mikir Nggit, mikir. Sungguh gue belum siap. Tolong ...!


"Inggit ... " Suaranya semakin berat. "Boleh?" mohonnya sekali lagi.


Inggit mulai gusar, saat tatapan sayu dengan dekapan Biru mulai mengendur, pria itu gemas sendiri, tanpa jawaban Inggit, langsung menyesap leher jenjangnya yang terekspos nyata. Inggit meringis, dan merasa geli, dengan sejuta pikiran yang mulai melingkupi diri.


Dalam sekali hentakan, kini pria itu telah merubah posisi, Inggit di bawah Biru dengan pria itu mengungkung dan mengurungnya posesif. Tak peduli wajah bingung dan gusar istrinya, Biru menerjang dengan memberi sensasi lain dibibirnya. Inggit tidak merespon tamu bibir yang bertandang dadakan tanpa permisi, gadis itu membelalak kaget, berbeda dengan Biru yang sangat menikmati, netranya berkedip lembut merasakan sensasi yang lama menghinggapi.


Sadar gadisnya tidak merespon apapun, Biru menghentikan aksinya. Jeda, menatap lekat netranya lalu kembali mengikis jarak, mendaratkan kecupan panas yang berlanjut lum*tan dan gigitan kecil. Dalam benak pria itu berseru senang saat Inggit mulai menyambut lembut. Hati dan pikiran gadis itu mulai tidak singkron, otak memerintah untuk menolak, tapi tubuhnya merespon lain, sungguh hati tidak bisa berbohong, naluri galau sendiri?


Saat tangan pria itu mulai berani dengan kurang ajarnya membuka kancing piyama Inggit, gadis itu tersentak, reflek tangannya menghentikan aksi Biru.


"Kenapa?" tanyanya mulai merasa resah. Inggit menggeleng sebagai jawaban. Biru terdiam sesaat, "tapi kamu istriku, sudah kewajibannya kamu melayaniku, Inggit?" tandasnya sedikit maksa.


"Maaf, aku belum siap," jawabnya lirih, hampir tidak terdengar.


"Sampai kapan? Aku ini pria normal, butuh pelepasan, dan kamu harus mau dengan ikhlas."


Kok jadi maksa sih, 'kan nggak gini konsepnya?


Inggit hampir menangis, saat pria itu berusaha mendekat kembali. Satu kecupan hangat pria itu daratkan di kening istrinya. Lama, cukup lama, lalu pria itu memisahkan diri.


"Maaf, aku tidak akan memaksamu lagi," ucapnya dengan nada lesu, tersirat kilat kecewa di matanya. Pria itu bangkit dan melesat secara suka rela. Seketika Inggit bernapas lega, seperti baru saja terbebas dari jerat mangsa. Terdiam hingga beberapa saat, mencoba menyelami hatinya yang entah, lalu gadis itu bangkit, merapikan sedikit tatanan dirinya yang cukup berantakan.


Saat gadis itu masuk ke kamar, menemukan suaminya yang sudah berpakaian rapi dengan rambut basah. Sekilas netra mereka bertemu, Inggit langsung mengalihkan tatapannya dan melesat ke kamar mandi, rasanya begitu canggung setelah apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.


Inggit keluar dari kamar mandi dengan setelan rapi, bersiap memulai hari. Seperti biasa, pagi hari sebelum berangkat kuliah, gadis itu hendak menyiapkan sarapan. Namun, ia baru menyadari ternyata stok bahan di kulkas habis. Ia mendes@h kecewa, keuangan juga semakin menipis, dan hidup terus berjalan. Seketika otaknya berpikir keras, untuk menciptakan sesuatu ide kreatif yang menghasilkan.


Biru yang entah dari mana muncul dengan membawa dua bungkus sterefom. Rupanya pria itu baru saja keluar mencari sarapan, dan bubur ayam adalah pilihannya.

__ADS_1


"Sarapan dulu, baru berangkat, maaf mungkin ke depan nanti kita akan berhemat, Papa benar-benar menarik semua akses keuanganku, jadi ... aku minta maaf kalau belum bisa memenuhi kebutuhanmu," sesalnya sendu. Inggit hanya mengangguk paham sebagai jawaban.


Mereka berdua makan dalam diam, membersihkan sisa kotor sendiri-sendiri lalu berniat berangkat.


"Nggit, berangkat bareng ya?" tawarnya sungguh-sungguh.


"Emm ... sendiri-sendiri aja, ada hal lain yang tak terduga," tolaknya halus.


"Mau ke mana sih? Oke, biar aku antar dulu."


Hening untuk beberapa saat, sepertinya Inggit berusaha menghindarinya. Biru tak gentar, ia mencoba lebih peka dengan modal ngeyelan.


"Berdua lebih baik, lebih hemat dan bisa membuat kita lebih mengenal satu sama lain, kita ini pasangan halal tapi berasa asing," ucap pria itu menarik tangan Inggit dan mematahkan kegalauannya.


"Jangan banyak mikir, pakai helmnya?" Inggit masih saja terlihat gamang, dengan cekatan Biru memasangkan helmnya, saat merapikan rambut agar terkumpul ke belakang, sudut matanya menangkap tanda merah berkerlipan di leher jenjang istrinya, yang iya yakini ulah dirinya tadi. Seketika bibir pria itu membuat lengkungan.


'Baru segitu aja udah seneng banget, apalagi bisa buat tanda di tempat yang lainnya. Mungkin aku akan berjingkrak syukur untuk merayakannya,' guman Biru dalam hati.


"Gini aja," tolak Inggit datar.


Saat motor mulai melaju, Biru sesekali memperhatikan wajah istrinya lewat rear vision mirror. Tetiba tak sengaja mata mereka bertemu lewat pantulan spion, Biru tersenyum tipis, sementara Inggit membuang muka, terlalu malu tertangkap memperhatikannya. Biru menjadi gemas sendiri, sengaja ia menarik dan mengegas pedal rem, membuat Inggit terpekik takut, Biru malah terkikik geli.


"Makanya pegangan, nanti tergelincir bahaya!" peringatnya sungguh-sungguh.


"Gini aja," lagi jawaban Inggit datar saja, Biru kembali melancarkan aksinya yang kedua, sehingga gadis itu menjerit di atas motor, reflek tangannya mencengkram kemeja suaminya.


"Nah, gitu dong pegangan, biar aman," selorohnya sesekali melirik tangan Inggit yang bertahta di pinggangnya.


Inggit yang merasa gemas refleks mencubit pinggang Biru, pria itu mengaduh lembut, namun terdengar tertawa renyah.


"Aw ... aduh, jangan sayang, geli, bahaya ini lagi fokus nyetir," protesnya terkikik.

__ADS_1


"Habisnya rese' banget sih ngerjain orang, gojek di atas motor bahaya."


"Kamu yang mulai, makanya nurut sama suami, pasti aman."


"Kamu menyebalkan, besok aku mau bawa motor sendiri," jawabnya mencari alasan.


"Berdua lebih baik, lebih hemat dan lebih harmonis, ini semboyan kita, jadi ... jangan lupa harus selalu diingat."


Tak terasa mereka sudah sampai di area kampus. Inggit yang sadar hal itu langsung mengurai pegangannya. Ia cukup menjaga jarak sopan.


"Makasih," ucapnya setelah turun dari motor. Biru mengangguk dengan senyuman tipis bahagia. Sampai gadisnya melesat jauh menghilang dari pandangannya, pria itu masih betah bertengger di atas motornya dengan perasaan bahagia.


Senyumnya lenyap sudah berganti dengan tatapan sengit saat nada sarkas mampir di telinganya. Seseorang yang sudah tereliminasi dari hatinya menampakkan wajahnya dengan muka kesal, namun Biru tidak peduli.


"Cih, bahagia di atas penderitaan orang lain, setelah lo buang gue dengan seenak hati, sekarang lo dengan gamblang mau mempublikasikan dengan yang baru, lo sadar nggak sih, lo seperti pecundang kesiangan!" Hilda datang dengan raut kecewa.


"Sorry Da, tapi bukannya lo cukup bahagia jalan dengan om-om pilihan lo itu?" tandasnya melumpuhkan tuduhannya. Hilda tergeragap sesaat, mukanya merah padam. Perempuan itu lekas mendrama.


"Kenapa lo blokir semua kontak gue, Al, lo nggak harus ngelakuin itu. Apa tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal di hatimu, gue sakit dua hari ini, dan lo, orang satu-satunya yang selalu peduli, lo bahkan tega tidak datang di saat gue butuh bantuan."


"Tapi, gue rasa lo salah orang untuk meminta tolong, karena ada perasaan seseorang yang harus gue jaga."


"Inggit, iya, sejak kapan lo menyukai sahabatku, bukankah itu bisa membuat masalah antara gue dan dia."


"Hubungan kita telah berakhir lama Da, jauh sebelum gue memutuskan untuk jatuh cinta dengan orang lain, hubungan kita yang tidak sehat, gue sadar gue salah, dan kita seharusnya menyudahi sebelum semuanya terlambat."


"Tapi bagaimana dengan perasaan gue yang masih menggebu, tidakkah lo membuat huru hara di antara kami?"


"Gue nggak peduli, itu derita lo sendiri."


"Bagaimana kalau ada kehidupan lain di rahim gue, apa lo masih sanggup mangkir?" Biru tidak begitu kaget, ia cukup tenang menghadapi situasi yang ada, ini bukan kali pertama dirinya dituduh seorang wanita harus bertanggung jawab karena dulu pernah menjadi partner ranjangnya. Pria itu tertawa sumbang.

__ADS_1


"Trik kuno, lo pikir gue percaya! Lo salah, udah Da, jangan banyak drama, jangan kira lo pikir gue nggak tahu kelakuan lo di belakang gue, dan sekali lagi gue tandaskankan, kita udah lama nggak saling dekat, lo bisa menghitung mundur dari sekarang kapan kita berbuat lucknut, jadi ... jangan membodohiku dengan bualan lo itu? Seandainya lo beneran berbadan dua pun, seribu persen itu bukan anak gue!" camnya tegas.


__ADS_2