
"Inggit!" seru Ares tergesa.
Pekikan laki-laki itu menghentikan langkah ke tiga manusia di sana. Kompak, Inggit, Biru, dan juga Hilda berhenti dan menoleh ke sumber suara.
"Hai, Res," sapanya ramah.
"Kaki lo kenapa? Kok jalannya pincang gitu, ada yang terluka?" pria itu langsung berjongkok, meneliti kaki Inggit dengan wajah cemas.
Sementara Biru menyorot kaget dengan sikap pria yang sok care dengan istrinya. Mata Biru hampir meloncat, kala pria itu bertutur lebai, meneliti kaki Inggit dengan melepas sepatunya.
"Wah ... ini sih pasti dalem, obatin lagi yuk ... ganti perban."
"Nggak pa-pa Res, sakit dikit, kemarin tak sengaja nginjek beling. Nanti aja, ini baru di ganti tadi pagi."
"Ya ampun ... hati-hati dong, Nggi. Sampai kaya gini, ayo obatin lagi, gue antar ke klinik kampus," cemas pria itu.
"Lebai banget sih, luka dikit juga," celetuk Biru menyumbangkan suaranya.
"Ish ... itu namanya perhatian beb, aku mau dong ... di kasih perhatian kaya Inggit," ujar Hilda membenarkan.
"Emang lo sakit?"
"Enggak, tapi sumpah deh manis banget doi beb," ucap Hilda yang membuat Biru sedikit kesal.
"Jadi kantin nggak sih, keburu lapar."
"Lo, mau ke kantin?" tanya Ares yang langsung diangguki gadis itu.
"Ayo pegangan, gue bantu jalan."
Biru lagi-lagi mendelik mendengar tutur kelebaian pria bernama Ares itu. Mereka saling tahu nama tapi sama sekali tidak akrab. Dulu pernah satu kelompok ospek.
"Bisa kok bisa, aman," jawab Inggit tersenyum. Ares berjalan tepat di samping gadis itu, berjarak dengan Biru dan Hilda yang berjalan lebih dulu.
"Al, tunggu dong ... jalannya pelan-pelan," seru Hilda mengomel, tidak bisa mengimbangi langkah Biru yang lebar.
Sampai di kantin, mereka berada dalam satu meja, Inggit duduk bersebelahan dengan Ares, tepat segaris dengan Biru di hadapannya. Mereka tengah sibuk membuat daftar menu yang hendak di pesan.
"Mau makan apa?" tanya Ares lembut. Pria itu tak sadar bahwa ia tengah berhadapan dengan suami dari seseorang yang tengah ia ajak berbicara.
__ADS_1
"Bakso aja Res, enak kayaknya."
"Oke, gue pesenin ya, tunggu bentar," ujar Ares berlalu. Inggit refleks saja, tak peduli Biru yang terus menatapnya tajam seperti ingin menelan hidup-hidup.
"Beb, kamu mau makan apa?" tanya Hilda demi melihat kekasihnya yang hanya diam saja.
"Terserah!" jawab Biru ketus.
"Ikh ... kok terserah sih, jangan gitu dong, kan situ yang mau makan."
"Belum lapar," celetuk Biru ngasal.
"Katanya tadi cepet-cepet ke kantin karena lapar, kok sekarang nggak lapar, makan ya beb, gue pesenin dulu," ujar Hilda perhatian. Perempuan itu bangkit dari kursi dan memesan untuk ke duanya.
Tinggallah tersisa Biru dan Inggit yang berada di meja itu. Biru menatap tajam mata Inggit yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Ares?" tanyanya sinis.
Inggit menjeda aktifitasnya sejenak, memindai tatapan matanya pada laki-laki yang tengah menyorotnya tajam. Kemudian kembali sibuk dengan ponselnya tanpa berminat menjawab pertanyaan Biru.
"Lo budek ya? Setelah kemarin berusaha deketin Nathan gagal, lalu sekarang mencari mangsa baru gitu, lenjeh," celetuknya tanpa filter.
Hening ....
Biru yang kesal langsung berdiri dan hendak membawa Inggit ke luar, namun sebelum sempat angan itu menjadi nyata, Ares sudah lebih dulu muncul dengan membawa dua jus sirsak kesukaan Inggit ke meja.
"Selamat menikmati, baksonya bentar lagi dibuatin," ujar pria itu perhatian. Menaruh jus tepat dihadapan gadis itu.
Sok perhatian!
"Makasih Res, jadi ngrepotin," ujar Inggit sungkan.
"Nggak sama sekali, jangan sungkan gitu dong," jawab Ares jujur. Dirinya bahkan sangat senang, setelah hampir dua hari Inggit mengabaikan pesannya, ia bisa bertemu di kampus bahkan ke kantin bareng dengan suasana sedekat ini.
Biru berdehem keras, memutus perhatian Ares ke Inggit yang terlihat begitu memuakan di matanya. Tatapan penuh pemujaan dan cinta, pria itu paham, karena dirinya juga begitu saat tengah jatuh cinta pada seseorang.
"Hai, Al. Sorry gue lupa kalau lo juga ada di sekitar sini," sesal Ares nyengir. Ajaib sekali ya saking fokus ke Inggit sampai benar-benar tidak memperhatikan, atau lebih tidak peduli dengan sekitar.
"Lo pikir, gue di sini apaan, setan!" jawab Biru nyolot.
__ADS_1
"Sorry, Al, gue lagi fokus sama cewe cantik soalnya, harap maklum ya bro," ucap Ares tanpa dosa.
Biru tidak menanggapi, lebih kepada kesal yang mendarah daging, seandainya tidak lapar, sudah pasti lebih baik pergi dari sana dari pada terjebak dengan dua manusia yang paling menyebalkan saat ini.
Pesanan mereka datang dibarengi Hilda yang duduk di sebelah Biru. Lengkap dengan botol minuman kemasan yang telah dibelinya.
"Beb, ini aku pesenin mie ayam buat kamu, suka kan?"
Biru tidak menanggapi, pikirannya entah lengser kemana. Mendadak pria itu tidak fokus dengan kenyataan yang ada.
"Al, dengerin gue ngomong nggak sih!" bentak Hilda kesal.
"Eh, sorry Da, gue dengerin kok, denger, iya makasih," jawabnya spontan sama sekali tidak ada manis-manisnya.
Mereka tengah makan dalam diam, tiba-tiba tangan Ares terulur mengumpulkan rambut Inggit menjadi satu, kemudian mengaretinya agar tidak merepotkan saat gadis itu menyantap makanan di depannya. Sontak pemandangan manis itu tak luput dari pelototan Biru yang nampak merah padam.
Makasih," jawabnya tersenyum.
"Begini lebih baik, udah makan lagi, habisin ya?" ujar pria itu tersenyum kalem.
Brakk!!!
Tak sadar respon Biru menggebrak meja saking kerasnya. Sampai mangkuk itu bergetar dari sana dan menimbulkan perhatian orang di sekitar.
"Panas!" celetuk Biru geram.
"Ya, ini kan emang masih panas, baru juga dipesen, makannya pelan-pelan." Hilda memperingatkan, tangannya terulur menyodorkan minuman dalam kemasan yang tadi ia beli.
"Minum dulu," ujar Hilda perhatian.
"Gue mau udah, udah kenyang," jawab pria itu berdiri dari sana.
Makanannya bahkan baru tersentuh sekali suapan, namun karena pemandangan lebai yang diciptakan Ares dan Inggit membuat pria itu mendadak kenyang. Rasa lapar yang sempat terasa menguap begitu saja, tergerus oleh angan emosi yang menguasainya. Hatinya dongkol bukan main, ia bersumpah akan memberi hukuman yang setimpal atas perbuatan Inggit yang bahkan sudah berani bertingkah semaunya.
"Ikh ... beb, mau kemana sih, belum makan juga." Hilda ikut bangkit dari kursi, mengejar Biru yang sudah berlalu.
Sementara Inggit dan Ares sama sekali tidak terpengaruh dengan tingkah ke dua pasangan di depannya. Mereka tetap santuy makan pesanan mereka sampai habis tak tersisa.
"Dua hari ini kemana? Kenapa tidak pernah membalas pesan dariku?" tanya Ares penasaran. Setelah kenyang, ia pikir mengobrol akan lebih nyaman.
__ADS_1