Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 21


__ADS_3

Dua hari menginap di hunian orang lain itu rasanya jelas aneh, terlebih orang asing yang baru saja Inggit kenal. Tidak begitu dekat, tapi care dan perhatian. Itu benar-benar ngebuat Inggit bingung sendiri menyikapi.


"Sorry Res, hari ini gue harus pulang. Makasih udah ngijinin gue singgah di rumah lo dua hari ini, makasih udah selamatin hidup gue malam itu, gue berhutang budi sama lo," ucap Inggit sungguh-sungguh.


"Lo bisa ngebalasnya dengan tetap tinggal di sini, kalau lo ngerasa nggak nyaman, gue bakalan pulang ke rumah bunda, lo bilang nggak ada tempat tinggal? Pulang ke mana rumah yang yang lo maksud?"


Inggit sendiri bingung pulang ke mana, tapi tinggal di rumah Ares sungguh bukan solusi baginya. Pulang ke rumah Biru, tentu itu sesuatu yang menakutkan untuk saat ini, Inggit benar-benar takut dengan karakter Biru yang tegaan, dirinya dalam guncangan kebimbangan.


Dua hari ini Inggit bahkan tidak masuk kuliah, dan itu membuat Inggit merasa tidak nyaman, Inggit juga butuh untuk pulang mengingat semua keperluan kuliah dan barang-barang gadis itu ada di rumah Biru, gadis itu berpikir bagaimana caranya pulang tanpa sepengetahuan Biru.


"Gue pulang ke kost, kemarin gue hanya syok jadi merasa takut sendirian di kost, tapi hari ini gue merasa lebih baik, thanks ya buat semuanya," ujarnya mencoba mencari solusi yang tepat.


"Gue udah mengambil surat izin lo selama lo dua hari ini nggak kuliah, jangan terlalu beban, sebaiknya lo merasa tenang dulu baru beraktifitas."


"Kok bisa?" tanyanya bingung. Kenapa semua terasa mudah padahal Inggit juga belum bercerita apapun tentang dirinya.


"Bisa lah, masalah izin tentu gampang, apalagi kamu kemarin hampir celaka, sudah barang tentu butuh ketenangan minggir dari rutinitas yang membuat hidup lo nggak nyaman."


Otak Inggit nggak nyampai untuk mengulik asal muasal semua dimudahkan, dirinya hanya menduga Ares salah satu orang yang kenal dengan orang dalam di kampus itu, buktinya pria itu bahkan bisa dengan mudah mengurus izinnya.


"Gue antar ya?" tawarnya senang.


"Makasih, tapi beneran nggak usah, sekali lagi terimakasih banyak untuk semuanya."

__ADS_1


"Nggit, kenapa nggak tinggal di sini aja sih, apartemen ini kosong, setiap hari aku pulang ke rumah Bunda, jadi ... dari pada tidak ada yang nempatin, lebih baik kamu tinggali," ujarnya ngeyel.


Inggit tentu merasa sungkan, dirinya tidak mau berhutang budi terlalu banyak dengan pria itu. Walaupun pada kenyataannya Ares memang sudah banyak membantu, entah menjadi seperti apa malam itu jika Ares tidak datang tepat waktu, mungkin kehancuran bahkan bisa jadi hanya tinggal nama dirinya.


"Baiklah, kalau lo tetep dengan pendirian itu, gue berharap lo balik lagi ke sini jika di luar sana merasa tidak nyaman. Tempat ini selalu terbuka untukmu, jangan pernah sungkan atau ragu jika membutuhkan bantuanku," ucap pria itu sendu. Jujur Ares merasa berat gadis itu ingin meninggalkan apartemennya. Ada rasa tidak rela, setelah dua hari bersama, fiks Ares telah jatuh cinta.


Setelah berpamitan, Inggit memutuskan untuk pulang ke rumah Biru terlebih dahulu. Sebenarnya ia enggan, tapi Inggit harus mengambil barang-barang pribadi penting yang tertinggal di rumah itu. Kemudian, jalan yang terbaik saat ini adalah hidup misah dengan manusia batu bin tega itu.


Sesampai di halaman rumah, Inggit merasa lega karena motor suaminya tidak ada di garasi rumahnya. Hanya tersisa motor dirinya yang masih stay menunggu Inggit menjemput. Gadis itu langsung masuk begitu saja, mengingat rumah yang ia tinggalkan dua hari lalu tidak terkunci.


"Dasar ceroboh," gumam Inggit seraya memasuki rumah dengan perlahan. Gadis itu sudah berancang-ancang dengan kunci cadangan malah dengan mudah mengakses rumahnya. Inggit langsung masuk kamar, mengambil kontak motor yang tergantung di dinding kamar, laptop pribadinya, dan tak lupa mengeluarkan koper miliknya. Inggit harus segera keluar dari rumah ini sebelum suaminya pulang.


Sementara Biru yang tengah duduk seorang diri di halaman belakang lambat laun merasa mendengar seseorang memasuki rumahnya. Pria itu ada di rumah, tengah duduk di bangku belakang depan bersibuk ria di depan laptopnya. Rasa penasarannya membawa langkah pria itu mendekat. Pria itu hampir terkesiap mendapati istrinya sudah di rumah sedang mengemas barang pribadi dirinya.


"Inggit!" seru Biru mendekat.


"Astaghfirullah ... " Inggit terkesiap kaget, mendapati pria yang paling ingin dihindarinya saat ini. Gadis itu mengelus dadanya sendiri.


Inggit yang sempat hampir melompat karena suara Biru yang mengagetkan, lantas kembali fokus menata bajunya lagi hingga koper itu terisi penuh. Mengabaikan, dan mungkin menganggap tidak ada manusia selain dirinya di sekitar itu.


"Lo kemana selama dua hari ini nggak pulang Nggit? Lo tuh nyusahin tahu nggak, gara-gara lo ngilang, liburan gue batal dan Hilda ngambek sama gue," curhatnya tanpa perasaan. Sama sekali tidak peduli dengan perasaan perempuan itu yang tak terbentuk sejak malam itu, benci, marah dan kecewa.


Inggit tidak berharap cinta, karena memang ke duanya menikah dengan terpaksa. Bahkan baik Inggit dan Biru sepakat ingin mengakhirinya. Namun perlakuan Biru yang sangat keterlaluan membuat luka mendalam sekaligus trauma yang tersimpan dalam memori otaknya.

__ADS_1


Inggit bergeming, tidak berminat menanggapi celotehan Biru yang bagi dirinya sangat tidak penting.


"Nggit! Kalau ditanya itu di jawab, lo dari mana? Terus, kenapa sekarang lo mengemas semua baju lo, lo mau pergi lagi?"


Inggit menghentikan tangan trampilnya yang tengah sibuk mengemas, lalu menyorot pria itu dengan datar. Hatinya terlalu sakit, menumpahkan semua rasa yang dialami.


"Aku ingin kita bercerai!" jawab Inggit lugas, jelas dan smart.


Biru terkekeh hambar, pria itu hampir tidak percaya, setelah dua hari menghilang tanpa kabar, dan pulang, bukannya menjelaskan, minta maaf malah ingin membuat masalah baru.


"Lo nggak usah khawatir lah, gue pasti kabulin permintaan lo itu, tapi tentu saja tidak sekarang, atau lo ingin melanggar janji?"


"Gue tidak pernah melanggar janji apapun, gue tahu kita memang tidak pernah dekat satu sama lain, gue tahu lo benci sama gue, gue tahu pernikahan kita memang cuma di atas kertas, jadi ... mari kita akhiri hubungan ini secara diam-diam."


"Jadi ... setelah menghilang tanpa kabar, membuat orang khawatir, mengacaukan semua rencana indah gue, lo mau bikin gue kena murka keluarga gue karena hubungan kita harus berakhir. Lo pikir semudah itu? Mimpi kamu!" bentaknya sinis.


"Kenapa Biru? Sekarang, nanti, ataupun lusa pada akhirnya sama saja, kita tetap akan bercerai, dan bukankah itu hari yang lo tunggu-tunggu."


Biru bergeming, mendadak bibirnya kelu hendak berucap. Perceraian itu memang diinginkan pria itu tapi kenapa untuk mengatakan hal itu terasa berat baginya.


"Terserah, kalau kamu tidak mau mengatakan sekarang, yang jelas aku tidak mau tinggal seatap denganmu," ngalah Inggit pada akhirnya. Melangkah keluar, meninggalkan kamar dengan menggeret kopernya.


Biru bingung sendiri dengan respon tubuhnya, tapi kaki itu memaksa melangkah lebar dan tangannya langsung merebut koper yang dibawa Inggit, lalu melemparnya ke sembarang arah.

__ADS_1


Inggit menatap marah pria di depannya yang tengah menyorotnya tajam.


__ADS_2