Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 61


__ADS_3

"Trik kuno, lo pikir gue percaya! Lo salah, udah Da, jangan banyak drama, jangan kira lo pikir gue nggak tahu kelakuan lo di belakang gue, dan sekali lagi gue tandaskankan, kita udah lama nggak saling dekat, lo bisa menghitung mundur dari sekarang kapan kita berbuat lucknut, jadi ... jangan membodohiku dengan bualan lo itu? Seandainya lo beneran berbadan dua pun, seribu persen itu bukan anak gue!" camnya tegas. Biru berlalu begitu saja meninggalkan Hilda yang tampak menampakkan muka kesal.


Perempuan itu langsung mencari Inggit, siapa lagi yang tahu catatan hitamnya selain sahabatnya itu. Sejenak Hilda merasa menyesal pernah menjadikan perempuan itu tempat curhatnya. Ia masuk ke kelas dan langsung menarik tangan Inggit dengan tergesa.


"Ikut gue, Nggit! Lo hutang penjelasan sama gue!" Hilda terus menarik tangan Inggit dengan kasar. Membuat gadis itu tak bisa berontak dan pasrah saat banyak pasang mata memperhatikannya.


"Da, Da, tunggu, ini sebenarnya lo mau bawa gue ke mana sih, sebentar lagi dosen datang dan gue nggak mau bolos!" bentak Inggit kesal, menghempaskan tangannya dengan kasar. Netra mereka saling menyorot, Inggit dengan penuh tanda tanya dan Hilda dengan emosi yang menyala.


"Sejak kapan lo suka sama cowok gue! Biru berubah sejak dekat dengan lo!" semprot Hilda tak terima. Satu tamparan keras bersarang di pipi Inggit.


"Hah!" Inggit memegang pipinya yang terasa panas. Netranya nyalang menyorot kesal.


"Apa?! Nggak suka!" bentak Hilda murka. Tangan kanannya siap mengudara, namun Inggit langsung sigap menangkis.


"Gue bisa jelasin semua, sejela-jelasnya!" tukasnya mulai kesal.


"Ya, lo emang wajib jelasin!" jawabnya cepat.


"Sebelumnya gue minta maaf, tapi gue nggak ada maksud buat ngerebut Biru dari elo, apalagi khianatin persahabatan kita, tapi keadaan yang menyatukan kita."


"Nggak usah basa-basi, gue nggak nyangka ternyata lo itu tidak lebih dari perempuan 'murahan' yang tega mengambil pria lain dari sahabatnya sendiri!" sarkasnya tanpa jeda.


"Lo boleh marah, tapi lo juga harus tahu fakta yang ada, gue dan Biru----"


"Apa! Mau bilang saling mencintai, cih, persetan dengan kalian berdua." Hilda langsung menyela, menanggalkan fakta yang hampir terucap.


"Kita tidak saling mencintai, tapi kita punya ikatan yang sah, jadi lo bisa tanyakan sendiri mengapa Biru berubah, karena sampai detik ini, gue masih stay demi menjaga perasaan persahabatan kita."


"Apa maksud lo? Kalian tidak lebih dari pasangan selingkuh, memuakan! Dasar ja*lang! Perayu laki orang, murahan, pengkhianat!"


Plak! Plak!


Inggit tak bisa menahan diri, dua tamparan itu cukup menghentikan si mulut jahat. "Stop ngatain gue! Apa kabar elo yang bisa booking sana sini! Lo nggak malu? Tanpa sadar, lo itu ngomongin diri lo sendiri!" Inggit tak gentar, dirinya jelas tak terima dikatain sedemikian rupa.

__ADS_1


"Sialan, lo!" Hilda siap meluncurkan tangan kanannya, lagi Inggit berusaha menahan dan menghempaskan dengan kasar. Kali ini Inggit benar-benar kepancing emosinya.


"Lo berani ngelawan gue?!" bentaknya sekali lagi, tangan Hilda mengudara, dengan gerakan cepat Inggit menangkisnya lagi.


"Gue nggak suka kekerasan, tapi kalau lo mancing, gue pasti balas, kalau lo ada masalah bisa tanyakan baik-baik, nggak gini caranya, lo sebenarnya hanya membuang waktuku saja!"


"Ck, nggak usah pura-pura bodoh deh lo, masih nanya lagi? Dasar pengkhianat, pelakor!" sarkasnya menjengkelkan.


"Hah, lo menyalahkan gue atas apa yang terjadi pada diri lo, mati-matian gue jaga perasaan ini demi persahabat kita, dan asal lo tahu, gue nggak pernah berkhianat, kalau pun ada yang berubah dengan pasangan lo, seharusnya lo tanyakan pada hati lo sendiri, ke mana saja lo membaginya. Bukan malah nyalahin orang lain!"


"Lo bener-bener kelewatan, demi mendapatkannya membongkar semuanya, lo pikir gue terima, ini yang disebut sahabat, menusuk dari belakang!"


Hilda mendorong Inggit hingga wanita itu terhuyung, untung Ares yang baru datang tepat di belakangnya, pria itu sigap menangkap tubuh gadis itu.


"Kamu nggak pa-pa?" tanyanya memastikan dengan muka khawatir. Pertengkaran mereka menjadi sorotan dan menyebabkan orang lain berbondong mendekat, karena sampai mengganggu ketertiban area kampus, keduanya pun di gelandang ke ruang kemahasiswaan untuk diarahkan.


Cukup lama kedua gadis yang berkongsi sengit itu mendapat wejangan hangat dari pimpinan fakultas, mereka hanya diam tanpa menyela. Tak ingin banyak pasang mata menaruh curiga, terlebih urusan privasi yang sangat riskan. Baik Inggit dan Hilda memilih berakhir dengan berjabat tangan. Tapi itu hanya berlaku di ruangan kemahasiswaan saja, sebab dalamnya hati masih membara.


Keduanya diberi peringatan sangsi lisan dan tulisan. Sebuah surat pernyataan dan peringatan tegas untuk tertib di area kampus yang notabene tempat belajar. Apabila kurun waktu yang ditentukan mereka berdua terbukti mendapat pelanggaran, keduanya akan diberi sangsi lanjutan.


"Nggit, kamu nggak pa-pa, apa Hilda nyakitin kamu?" tanyanya cemas. Inggit menyorot malas, ia berlalu begitu saja tanpa kata, meninggalkan Biru dalam kecemasan dan Ares yang berdiri tak jauh darinya.


"Wao ... sok perhatian, tapi di cuekin, ka si han ....!" Suara sumbang itu cukup mengusik pendengaran Biru. Langkah yang hampir terayun terpaksa berhenti dan berbalik menghadap wanita yang tak ingin lagi ditemui.


"Apa yang lo lakuin ke Inggit, Da? Lo kalau mau marah ke gue, jangan lampiasin orang lain, jangan libatin dia."


"Itu karena lo yang mulai, gue pasti balas rasa sakit hati ini!" Hilda berlalu dengan perasaan marah. Jelas tergambar di sudut mata Al, pria itu begitu khawatir dengan Inggit, bahkan dengan dirinya dulu, Al tidak pernah peduli.


"Lo nggak pa-pa?" Okta teman sekelasnya yang belakangan dekat menghampiri. Inggit memilih menepi di ruang perpustakaan.


"Nggak pa-pa, Ta, kok lo di sini, bukannya kelas udah mulai?"


"Dosennya nggak datang, cuma ngasih tugas kelompok, lo sama gue dan juga ... Hilda," jawabnya jeda.

__ADS_1


"Males banget bareng dia," celetuk Inggit tak semangat.


"Kalian sahabat, ada masalah? Terlihat seperti musuh yang bersebrangan arah."


"Lo lihat semuanya?" Okta mengangguk. "Lo percaya dengan apa yang lo dengar?"


"Bukankah Biru itu emang playboy, nggak salah sih, cowok ganteng dan setajir dia emang wajar direbutin," selorohnya ngeledek.


"Sialan, gue pikir lo bakal kasih solusi atau wejangan yang bijak, nyatanya tak lebih dari menyebalkan."


"Hilda marah karena elo dekat dengan Biru?" tanya Okta lirih.


"Gue dan Biru udah nikah," jawabnya meluncur tanpa beban.


"What!" pekik Okta syok, telapak tangannya langsung menutup mulutnya yang menganga dengan mata bulat.


"Jangan pingsan, Ta, woy ... kondisikan suara lo, ini di perpustakaan!"


"Ini terlalu amazing Nggit, lo berhasil mematahkan semangat para ladies yang ingin mengajukan kencan dengan Biru," jawab Okta ternganga. Inggit malah tertawa kecil.


"Lebay lo, dah lah, gue harus pulang, rasanya tidur adalah solusi yang paling tepat untuk menengkan diri."


"Tunggu, Nggit, gue beneran kepo?" Okta masih semangat.


"Makasih udah peduli, tapi sepertinya gue butuh waktu sendiri."


"Yakin? Sore ini gue ada kelas berenang sama anak-anak, lo boleh datang sebagai guru mereka, katanya kemarin butuh kerjaan. Kebetulan gue kurang pelatih, dan lo 'kan jago renangnya, bisa bantu gue sore nanti. Lumayan, uangnya bisa buat jajan, dan juga bisa refresing karena berbaur dengan banyak orang, paling tidak masalah lo tersamarkan."


"Ide menarik, nanti gue pertimbangkan, jam berapa?"


"Tiga mulai, jadi ... setengah tiga udah stay." Inggit mengiyakan, dari pada bengong di rumah, dan pastinya malas berinteraksi dengan Biru, lebih baik Inggit mencari kesibukan yang menghasilkan uang untuk bertahan besok.


Inggit mendes@h malas ketika sampai rumah mendapati motor pria itu terparkir rapi di garasi, itu artinya Biru ada di rumah. Begitu membuka pintu, dan menutupnya pelan, sesuatu yang asing langsung menerjang punggungnya, tanpa aba-aba Biru langsung memeluk dari belakang.

__ADS_1


"Maafin aku, Nggit."


__ADS_2