Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 88


__ADS_3

"Enggak, tapi bikin ser-seran, dan nyut-nyutan," jawabnya mengerling. Pria itu memainkan rambut dan mengendusnya.


"Nggak jelas, dipanggil Mama tuh …."


"Iya, kah? Bohong ya … kita 'kan cuma berdua."


"Beneran di ruang tamu, nungguin kamu dari tadi," jelas Inggit yang sibuk membuat minuman. 


"Mama tadi yang datang?" Inggit mengangguk. Segera Biru menuju ruang tamu, diikuti Inggit yang menenteng nampan berisi minuman. Mempersilahkan mertuanya menyeduhnya selagi masih hangat. 


"Tumben, Ma, datang, ada apa?" tanyanya mengambil posisi duduk. 


"Nggak suka Mama datang, emang nggak boleh?" Mama pura-pura merajuk. 


"Bukan gitu, Ma. Boleh aja, 'kan Biru cuma nanya, sensitif amad, lagi PMS ya?" Anak itu memang tidak ada akhlak becanda tidak tahu aturan. Inggit yang kesal, spontan menghadiahi cubitan gemas di pinggang suaminya. Sementara Mama Diana mendelik garang pada putranya. 


"Kalian berdua kenapa sih, aneh bad, bikin ribet," keluhnya merasa menjadi bulan-bulanan kedua perempuan spesial di hatinya. 


"Ngapain melarang Inggit menemani Mama ke acara arisan, Mama sudah glow up gini, Inggit juga udah setuju, kenapa kamu mendadak cancel?" semprot Mama tak terima.


"Bukan, Ma, cuma hari ini tuh … Biru rencananya mau …."


"Mau apa? Ish pelit amat, pinjam Inggit sebentar juga, nggak sampai berhari-hari, Mama janji bakalan kembaliin ke kamu? Inggit aja mau ya sayang." 


Gadis itu mengangguk, merasa sungkan untuk menolak. Mama tidak pernah meminta apapun darinya, sekali ini meminta ditemani karena acara arisan dilakukan di puncak sembari merayakan ulang tahun sahabatnya. Namun, Biru nampaknya keberatan ditinggal sendirian, mendadak melarang tanpa alasan yang jelas. 


"Ma, puncak itu lumayan jauh, kenapa musti ke sana sih, Mama juga, ribet amat, biasanya juga arisan di rumah, restoran, mall, kafe, ini kenapa mendadak ke puncak segala, kaya anak muda aja," protes Biru kesal, pasalnya ia sedang tidak ingin berpisah oleh jarak dan waktu sedikitpun dengan istrinya. Sepertinya virus bucin telah menguasai batinya, sehingga berpisah sebentar berasa lama dan menyiksa. 


"Ya ampun … kamu ikut aja deh, Al, nanti nginep di sana 'kan banyak kamar, kamu benar-benar bucin."


"Nggak bisa, Ma, Biru ada pertemuan kelompok untuk proker KKN, jadi weekend ini udah sepakat buat janji, masak tidak datang lagi, ya nggak enak lah."


"Lagi, emang pernah?"

__ADS_1


"Iya, seperti itulah, nanti Biru dijauhi teman-teman kalau seringan nggak datang, dikira tidak niat dan sebagainya. 


Mama Diana mendengkus resah, tidak bisa menculik menatunya terpaksa berangkat sendiri, berhubung suaminya sibuk tak bisa mengantar. 


"Ma, kenapa nggak ajak, mbok aja, sekalian ajak jalan-jalan, kasihan, Ma," usul Biru ada benarnya. 


"Boleh juga, sesekali senengin mbok, biar makin betah," ujar perempuan itu menemukan solusi. 


"Aman ….!" ucap Al, penuh syukur saat ibunya sudah pamit pulang. Segera ia mengunci pintu dengan tenang. 


"Kenapa Al, senyum-senyum nggak jelas, lagian kenapa sih, nggak ngebolehin aku ikut Mama, 'kan kasihan jadinya." Inggit mrengut. 


"Ya … nanti kamu capek, tenang sayang, 'kan Mama udah ada temennya," jawab Biru seraya duduk di sebelahnya dengan senyum yang tak pernah luntur. 


"Inggit," panggilnya lirih, menatapnya begitu dalam. 


"Apa, Al?" gadis itu tidak memperhatikan, sibuk membenahi gelas kotor untuk dibawa ke belakang. 


"Apa sih, mau nyuci ini juga."


"Biar nanti aku yang ngerjain." Inggit menaruh nampan kembali, lalu menyorot suaminya penuh selidik, melihat gelagat suaminya yang aneh, Inggit malah sengaja menggoda, perempuan itu bergerak cepat dan berlalu dari ruang tamu. 


"Inggit … sayang …." Biru terus mengekor istrinya. Inggit pura-pura sibuk untuk menghalau nervous yang mulai melanda. Sebenarnya Inggit tahu suaminya itu menginginkan dirinya, namun entah mengapa ia mendadak sedikit takut membayangkan hal itu. 


"Sayang …." bisiknya pelan, tepat dibelakang tengkuknya. Tubuh Inggit meremang seketika saat sapuan napasnya menyerbu pipi. Perutnya yang keras, menempel sempurna pada punggung dirinya. Sedang kedua tangannya menjulur, mengikuti gerakan Inggit yang tengah sibuk mencunci mug. 


Posisi tersebut bagai adegan slow motion yang dirinci dengan perasaan setiap detiknya. Mendadak jantungnya rancak, lebih dari normal. Saat tangan keduanya terbilas bersih, Biru membalik tubuh istrinya agar menghadap dirinya. 


Sepasang netra Anak Adam itu saling bertaut dalam diam, menyelimuti rasa hasrat yang ingin segera disambut. Biru mengikis jarak, dengan lembut membuka penyatuan mereka dengan kecupan kecil, yang disusul lum*tan hangat nan menggelikan. 


Keduanya hanyut dalam gelora hasrat yang sama, saling mencecap, menggulat lidah mereka yang lincah tak terarah. Mengabsen setiap inci rasa manis yang tersuguh dalam cum*buan yang selaras. Inggit mencengkram erat kaus Biru, gadis itu sangat gugup, detak jantungnya seakan maraton dari tempatnya.


Sensasi yang diberikan Biru mampu memberikan efek yang luar biasa pada dirinya. Menimbulkan getaran yang berbeda bagai diserang arus tegangan ribuan volt di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Pria itu menjeda sebentar, memberikan kesempatan istrinya memasok udara setelah sempat tersengal karena ulah dirinya yang nakal. Sebelum akhirnya melakukan serangan yang kedua, dengan lebih berani dan semakin menuntut. Suguhan pembuka cinta yang epik. 


"Kamar, sayang," bisik pria itu parau. Mengangkat tubuh gadis itu tanpa melepas pergulatan indera perasa mereka. Tubuhnya bergerak begitu saja hingga sampai di ruang kamar. Derit pintu Biru tutup dengan satu kakinya,  terayun keduanya ambruk di atas ranjang besar dengan napas terengah. 


Pria itu tersenyum tipis, menatap begitu dalam dan lekat. 


"Al …." Inggit jelas gugup.


"Iya sayang," jawabnya menenangkan, seakan paham dengan kekhawatiran istrinya. Biru memang sudah khatam, namun pengalaman yang bersegel jelas yang pertama, membuat ia harus sedikit sabar dan pelan-pelan saja. 


"A-aku … takut," cicit Inggit pelan. Menggigit bibir bawahnya yang membuat pria itu semakin gemas, dan tidak tahan untuk meraupnya. 


"Aku akan pelan-pelan, I love you Inggit Prameswari," ucapnya tersenyum. Mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya. Beralih turun ke kedua pipinya lalu berbisik di ujung telinganya yang seketika membuat tubuh perempuan itu meremang.


"Percayalah, hanya sakit sebentar, selebihnya akan terasa enak," bisik Biru parau dengan tatapan gairah di netranya. 


Inggit memejamkan matanya, gadis itu seakan memberikan izin suaminya memulai lebih dalam, dengan perasaan gugup bercampur takut dan resah. 


"Inggit … rileks sayang .…" Biru membimbing istrinya yang terlihat gelisah. 


"Al .…" Inggit merasa malu bercampur rasa penasaran. Takut tapi juga siap secara keseluruhan. 


Biru tak ingin menunda lagi, namun pria itu paham betul istrinya sedang bergetar, gugup dengan rasa sejuta penasaran. Sama dengan perasaan Biru yang diselimuti gugup dan bahagia luar biasa, lebih kepada bangga bisa menjadi orang pertama yang menyentuhnya.


Pria itu mulai melepaskan semua yang menempel pada istrinya, satu persatu pakaian itu meluncur bebas berserakan tak bertuan. Tubuh gadis itu terpampang nyata dan sangat menggairahkan hasrat kelelakianya. 


Setelah membuat istrinya tanpa selembar benang pun, dengan gerakan cepat pria itu melepas semua yang menempel pada dirinya. Inggit memalingkan wajahnya dengan pipi yang terasa memanas dan jantung yang memompa lebih cepat dari normalnya.


"Lihat aku sayang." Biru mencium kening istrinya lama sembari menggumamkan doa kebaikan. Beralih turun ke kedua pipinya dan langsung bertandang pada bibir istrinya yang sedari tadi melambai untuk menyapanya. 


Sesuatu yang kasar itu bermain di dalam mulutnya, mengabsen setiap sudut dan sisi, mengeksplor dengan lincah dan nakal. Sesekali ia juga menghisap kuat dan mengigit dengan lembut. Mencecapi bibir ranum itu bagai madu manis yang sukses membuatnya candu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2