
Inggit mendadak galau, kalau boleh jujur ... hati Inggit belum yakin. Kemarin Inggit bahkan hampir yakin, berusaha menjalani dengan apa menurut hatinya, nyatanya ia dibuat sakit dan kecewa secara bersamaan.
"Inggit, sayang ... kenapa meragu? Aku mencintaimu, bisakah kita mulai dari awal? Aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin menua bersamu, mempunyai keluarga kecil yang indah bersama membesarkan anak-anak kita kelak," ucapnya yakin.
Tidak bisa dipungkiri, hati wanita itu menghangat mendengar penuturan itu. Inggit memberanikan diri menatap mata pria itu, berusaha melihat kesungguhannya di sana. Tak terbaca kebohongan di sana, haruskah Inggit menerima cinta suaminya?
"Aku bakalan maafin kamu, dan ... bersedia hidup denganmu, dengan syarat?"
"Apa itu, Nggit? Apapun itu akan aku lakukan," jawab Biru cepat.
"Yang pertama, dalam suatu hubungan mutlak hanya ada aku dan kamu, jika suatu hari nanti kamu tidak bisa menjaga itu, aku tidak akan memberikan kesempatan yang lainnya." Biru mendengarkan dengan seksama.
"Yang kedua, kamu harus bisa membuktikan, bahwa bukan kamu penyebar foto itu, bukan hanya itu, kamu juga harus bisa menghapus peredaranya dalam waktu singkat, serta bersedia membersihkan nama baikku yang sudah tercoreng seantero kampus dan planet bumi."
"Pasti Nggit, tanpa kamu meminta pun pasti akan ku bersihkan namamu dan foto itu."
"Untuk yang terakhir ... aku ...."
Ayo sayang ... ungkapin semuanya, bilang kalau kamu juga mencintaiku.
Inggit mendadak bingung dan kelu, untuk mengucapkan hal itu.
"Apa, hmm ... katakan saja, kenapa kamu terlihat gelisah?' tanyanya lembut.
"Aku ... menunda untuk punya anak," jawab Inggit cepat. Biru nampak menghela napas dalam.
"Kenapa? Kamu tidak yakin? Sampai menolak mengandung anakku?" tanyanya sedikit kecewa.
__ADS_1
"Aku masih kuliah, dan aku ingin menyelesaikan study aku dulu baru memikirkan lainnya."
"Kalau itu alasanmu, itu berarti hanya menunda sebentar saja, tapi aku menginginkannya keturunanku tumbuh di rahimmu? Bolehkah aku merasa keberatan dengan syarat yang ketiga?"
"Percaya Nggit, aku tidak akan membatasi ruang gerakmu, selama dalam konteks yang normal dan wajar, kamu masih bisa berkarya dan meraih cita-citamu, aku tidak mau menjadi penghalang, namun biarkan itu berproses alamiah, artinya jangan menundanya suatu kebaikan," jelas Biru. Entah mengapa pria itu mendadak Ingin sekali mempunyai keturunan dari istrinya, karena hanya itu yang bisa membuat Inggit akan bertahan, sekuat apapun cobaan itu, jika ada pengikat anak, Biru yakin akan sulit untuk mereka berpisah.
Inggit jelas meragu, hello ... hati terdalam manusia siapa yang tahu. Kalau mendadak ia hamil, lalu Biru berulah, apa itu tidak semakin nyesek. Jadi, segala sesuatu harus dipertimbangkan dulu, termasuk perencanaan perihal momongan.
Biru harus bisa menyakinkan diri istrinya, kalau dirinya benar-benar sudah berubah dan layak menjadi suami yang seutuhnya.
"Inggit, aku sangat setuju dengan semua syarat itu, walaupun yang ketiga sedikit meragu, tapi kalau boleh jangan membatasi kontak fisik antara kita dalam bentuk apapun, aku menuntut hakku, dan kamu juga boleh meminta hakmu. Jalani rumah tangga ini dengan sebenar-benarnya." Inggit mengangguk kecil, seketika wajah lega dan senyum merekah menghiasi wajah tampannya.
"Apa itu artinya aku boleh ngekiss kamu?" tanyanya penuh harap.
"Ih ... nggak boleh! Baru dimulai, udah mesum aja otak kamu."
"Kan cium doang, masa' nggak boleh?"
"Seingatku, aku simpan di laptop, dan .... astaghfirullah ... iya aku baru ingat, laptopku pernah dipinjam Hilda, cukup lama waktu itu pas kita terakhir jalan." Biru baru ingat, mungkinkah Hilda pelakunya, sangat mungkin mengingat wanita itu kesal dengan dirinya dan juga Inggit. Biru benar-benar mendapat clue.
"Kamu masih jalan sama Hilda?" tanyanya sedikit kesal.
"Bukan jalan yang sebenarnya, waktu itu aku sudah menyudahi semuanya, namun Hilda selalu menolak dan tidak terima, ia memintaku untuk yang terakhir menemani, itu di hari yang sama saat kamu juga jalan dengan Ares, aku benar-benar kesal kalau ingat itu, pas hari di mana kita disidang dan mendapat hukuman yang sama."
"Aku kesal lah, kamu bilang nunggu depan halte, mau pulang bareng, nyatanya kamu dengan gampangnya ninggalin aku, dengan tidak merasa bersalah apapun kamu jalan dengan Hilda. Padahal waktu itu, aku sudah hampir sampai di tempat itu. Tiba-tiba Ares datang menghiburku, ah ... dia ... memang selalu baik." Inggit tanpa sadar tersenyum membayangkan pria itu.
"Ish ... ini namanya pelanggaran Inggit, kita itu sedang membahas tentang kita, kenapa kamu memuja pria lain, aku cemburu dan sakit hati," protes pria itu mrengut.
__ADS_1
"Emangnya player bisa merasakan sakit hati?" tanyanya sedikit mengulum senyum.
"Menurut kamu? Hatiku terbuat dari apa? Sungguh ini membuatku ingin mati saja. Kamu adalah orang pertama yang mampu memporak-porandakan hatiku, kamu adalah wanita pertama yang sepertinya tidak tertarik padaku, dan berhasil membuat aku patah hati sebelum sempat memiliki."
Inggit tersenyum, kali ini sampai tertawa dengan suara. Sementara Biru hanya memperhatikan garis wajahnya yang ayu, tanpa sadari pria itu terpusat menatap bibirnya, seketika Biru menelan salivanya sendiri.
Inggit langsung menghentikan tawa renyahnya begitu menyadari Biru terus menatapnya tanpa jeda.
"Kenapa, kok lihatin aku kaya gitu, serem ikh." Tangan kanan gadis itu bergerak meraup muka pria itu agar tidak memperhatikan dirinya begitu lekat. Namun, Biru langsung menangkap tangan Inggit yang usil menghalangi mata, menggenggamnya, dan menempelkan pada dada pria itu tepat di jantungnya.
"Inggit, rasakan getaran ini, ia meminta untuk dicintai, dan diberi kasih sayang, izin untuk mencuri start," ujar Biru langsung merapatkan diri. Inggit mendadak waspada, Biru mulai mendekat mengikis jarak.
"Boleh? Boleh ya, just a kiss, Nggit? Janji, sumpah nggak lebih, ya lebih dikit boleh lah?" negonya terus mengikis jarak.
Inggit ingin menolak, tapi entah mengapa tubuhnya tak bisa menghindar, bahkan matanya spontan menutup seakan memberi izin untuk pria itu masuk dan mengambil sungai madu dari bibirnya.
Kedua sudut bibir pria itu membuat lengkungan, Biru hampir saja memulai dengan perasaan bahagia, ketika ketukan pintu di luar rumah begitu menggema.
Inggit yang sudah merem, kembali membuka matanya dan sedikit memberi jarak, diam-diam Biru mengumpat kesal saat hampir saja bibir mereka bersilaturahmi gagal total.
"Ada tamu, Al, lihat gih?"
"Ya ampun ... sabar, Al," gumanya pada diri sendiri, pria itu mengelus dadanya dramatis, bergerak menjauh dengan muka masam.
"Halloo ....!" Seketika rumah mendadak heboh kedatangan dua manusia rusuh plus satu cewek bar-bar. Eh jangan lupakan, pria bersahaja yang menenteng buket bunga dan paper bag di tangannya, datang pada barisan terakhir saat pria itu hendak menutup pintu.
"Kamu dilarang masuk, dasar tamu tak diundang!" ketus Biru kesal. Melihat Ares datang begitu tenang.
__ADS_1
Bukannya marah, pria itu tersenyum. "Aku datang untuk Inggit, bukan untukmu? Dasar, pecemburu!" ucapnya tenang dan kalem, menerobos masuk dan langsung mengikuti Okta dan kedua sahabatnya yang berjalan menuju kamar.
"Astaga! Kalian ngapain sih, bertamu tidak ada aturan. Dasar, teman nggak ada akhlak!"