
Minggu terakhir, semua kelompok sibuk menyiapkan acara perpisahan. Mahasiswa kelompok 15 akan mengadakan perpisahan yang berkesan bertetapan dengan kegiatan desa yang berkolaborasi dengan dusun yang lain. Masih dalam satu kawasan, berbaur menjadi satu dengan warga kampung yang masih lumayan kental adat istiadat dan budaya.
Mahasiswa juga mengadakan lomba-lomba untuk anak-anak yang selama ini ikut berpartisipasi dalam kegiatan mereka. Memeriahkan acara dengan mengisi panggung pentas. Siang harinya sebelum hari H warga kampung gotong royong membuat panggung. Semua yang terlibat terlihat antusias. Anak-anak sibuk berlatih menari untuk tampil acara nanti malam
Sementara para kakak KKN, sibuk membungkus kado yang akan dibuat hadiah, dan juga teropi penghargaan yang akan diberikan pada mereka peserta lomba yang menyabet juara, dan juga orang-orang yang terkait dalam kegiatan itu.
Suasana cukup ramai di rumah Pak Kadus. Semua berkumpul menjadi satu, full tak ada yang absen. Adapun dari mereka keluar sebentar membeli keperluan untuk hadiah yang masih kurang. Hadiah-hadiah itu sendiri berupa alat perlengkapan sekolah seperti buku dan teman-temannya. Ada pula yang terkhusus untuk ibu PKK yang akan disemangatkan langsung karena ikut memeriahkan acara.
Sebagian dari mereka ada yang membantu di dapur Bu Kadus ada juga para cowok yang membantu di lapangan untuk membuat panggung gembira. Sudah bisa dibayangkan acara besok malam akan semeriah apa. Kekeluargaan masih sangat kental di desa ini, jadi gotong royong is number one.
"Ta, Ta Ta, lempar lem dong, ini perekatnya habis."
"Eh, tolong gunting dong!" seru yang lainnya.
"Juara satu dapat yang paling banyak, semoga bermanfaat," gumam Inggit sembari membungkus buku-buku itu. Membungkus dengan kertas samak berwarna coklat. Dominan tak apa, kalem, yang penting isinya, bukan bungkusnya.
"Eh, isoma dulu yok ... pegel nih gaes ....!" Okta meregangkan otot-otot tangannya.
"Sempit woe ... geser ....!" celoteh Dara tak terima.
"Ada yang mau nggak?" Kholid datang dengan membawa segelondong buah nangka.
"Apaan?" Semua ikut menengok.
"Ini, dikasih warga saat tadi pulang, dipinggir jalan lagi ngerumput, enak nih matang dari pohonnya."
"Ih ... lengket, nggak mau ah ... itu 'kan mengandung pelet."
__ADS_1
"Kalau dibukain tinggal makan mau, tapi kalau suruh ngerusuh sendiri, mending nggak usah nyicip, tangan kita bakalan kena getah," ujar Inggit sok manjah.
"Eleh ... Bu Albir, nanti gue tempelin tuh ke rambut lo, biar nangis nggak kelar-kelar!"
"Nggak mungkin, bisa kena sleding sama ayank embeb kalau berani," guraunya percaya diri.
"jadi pada nggak mau nih, ya udah biarkan saja nanti biar ada yang suka rela buat belahnya."
"Belah apaan?" celetuk Daffa.
"Belah duren, alias duda keren ... hahaha si Eni galau, mau pisahan sama anak Pak Lurah."
Merasa disebut namanya, gadis berambut ikal itu mendrama.
"Jaman modern lah, libas semua hambatan dan rintangan, dari ujung ono, sampai ini, bisa gue liwati."
Semua bebas saja bagi yang single, tetapi akan menjadi ancaman bagi mereka yang sudah mempunyai pacar. Bukan tidak mungkin berbelok, setelah hidup satu atap selama kurang lebih empat puluh hari dengan frekuensi yang sama bukan tidak mungkin di antara kelompok timbul benih-benih asmara.
Mulai dari yang KKN (Kisah Kasih Nikah) yang ini cinlok membawa berkah, karena berakhir di pelaminan. Tetapi berbeda dengan yang KKN ini (Kisah Kasih Nestapa) mereka putus hubungan karena ditikung mantan, ditikung sahabat, bahkan ditikung dibelokan alias sering mojok berdua di lain kesempatan menjadi ada harapan. Ea ....
Kalian tahu nggak sih, kenapa di posko kelompok lima belas selalu ramai. Ya karena semuanya suka ngumpul, wira-wiri KKN juga (Kuliah Kerja Nyantai) kaya sekarang ini. Mereka tengah menikmati kopi dan cemilan gratis tanpa harus repot sewa tempat, di posko gratis dan ramai lancar.
"Woi ... sholat woi, jangan pada mojok aja, bubarkan barisan, Nggit dicari laki lo!" seru Tama menyambangi cewe-cewe yang baru saja rehat habis seru-seruan bungkus kado.
"Di mana? Ke sini tuh bocah, emang nggak sibuk?"
"Tahu ... di tungguin di teras rumah Pak Kadus, buruan gih ngamok entar."
__ADS_1
"Ish ... bentar, mau sholat juga," tukasnya mrengut.
"Ceileh yang disamperin kekasih halal setiap saat dan waktu. Mas, adek rindu. Hahaha." Anak-anak tertawa ngledek.
"Astaga ... ghibahin gue, gue kutuk lo pada bucin sama pasangan lo!" Inggit melesat setelah menyumpahi teman-temannya.
"Hai Mas, kenapa? Emang nggak sibuk?"
"Hallo sayang, sibuk lah, sibuk mikirin kamu. Hehehe." Pria itu nyengir.
"Ish ... apa kamu Mah, suka bikin aku gemes," jawabnya menimbulkan rona di pipi.
"Besok ikut ya, sebelum pulang mau pada nyelfi dulu di tempat obyek liburan. Kita gabung aja, random kok."
"Perasaan kamu tuh sering minggat dari kelompok, itu kenapa nggak ditelpon aja, udah sana balik dicariin kelompoknya, nanti dideportasi baru tahu rasa."
"Mana bisa ditelpon orang tujuannya pingin lihatin kamu juga. Jangan mengusirku nanti kangen."
"Jangan menggodaku, nanti susah move on nih, aku mau curhat dulu sama yang membolak-balikan hati manusia, sana pulang!"
"Mushola depan sayang, kita jamaah sekalian, aku juga belum sholat," ujarnya mengerling.
"Boleh banget Mas, tunggu sebentar pamit sama anak-anak dulu."
"Ayo ... jaga jarak aman Mas, kawasan bebas tikungan."
"Ngomong apa sih."
__ADS_1
"Tikungan mesra Mas ...."