Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 41


__ADS_3

"Punya siapa, Al?" selidiknya


"Ada, punya seseorang," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari layar ponselnya.


"Al, lo lihatin apaan sih, kita ketemu buat have fun lho ya." Hilda kesal sendiri ketika Biru tidak begitu meresponnya.


"Iya, sorry Da, lo mau pesen apa?" Biru menyimpan ponselnya di saku. Pria itu memesan makanan untuk mereka berdua.


Biru makan dalam diam, konsentrasinya terpecah antara Inggit dan Hilda yang terus mengajak mengobrol. Pria itu benar-benar kepikiran postingan Bram.


"Al, habis ini kita jalan yuk, udah lama nggak jalan berdua, atau kamu punya ide mau ke mana?"


"Pulang, Da," jawab Biru cepat.


"Kok pulang sih, 'kan baru makan, belum juga jalan." Hilda terlihat bete.


"Lain kali kita jalan ya, gue pulang dulu," pamit Biru berlalu. Hilda semakin merasa curiga dengan gelagat Biru akhir-akhir ini.


Biru langsung pulang ke rumah, tapi bukan ke rumahnya melainkan rumah Mama Diana. Hampir pukul 9 malam waktu pria itu sampai di depan gerbang. Mama kaget ketika putranya pulang malam-malam tanpa istrinya.


"Biru! Kamu pulang? Inggit mana?" Mama Diana clingukan, mencari sosok menantunya. "Kalian bertengkar?" tuduhnya.


"Pinjam mobil Biru Ma," pintanya tak sabaran. Selama tinggal di rumah sederhana yang diberikan orang tuannya. Biru tidak membawa mobil, ia sebenarnya lebih senang memakai motor, namun perjalanan jauh akan sedikit merepotkan, di tambah motornya masih dalam perbaikan.


"Kamu mau ke mana? Nanti Papa bisa marah kalau kamu turun ke jalan tak terarah."


"Mama ngomong apa sih, Biru mau ke Jogja Ma, nyusul istri."


"Inggit ke Jogja? Kenapa kamu tidak ikut saja?" Mama Diana dibuat pusing dengan polah anaknya.


"Acara kampus Ma, nggak bisa gabung gitu aja, cuma Biru kepikiran, ini mau nyusul ke sana."


"Oalah ... bucin toh ternyata, bilang aja nggak bisa jauh, dasar anak Mama gengsian." Mama Diana tersenyum senang. Celotehan perempuan paruh baya itu cukup jelas terngiang di telinga Biru.


"Bucin? Mama terlalu berlebihan, mana ada Biru bucin," gumamnya lirih seraya menyambar kontak mobil di gantungan.


"Hati-hati sayang, jangan ngebut-ngebutan." Nasihat Mama Diana. "Dasar anak muda, ditinggal sebentar uring-uringan nggak betah." Mama Diana jelas senang, itu artinya mereka orang tua menganggap hubungan rumah tangga anaknya harmonis dan saling sayang. Terbukti putranya tak bisa jauh dari istrinya.


Biru mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya dengan bantuan satpam yang tengah berjaga.


"Pak, tolong bukain Pak, saya buru-buru!" seru Biru memerintah. Pak satpam mengangguk patuh.


Pria itu langsung melajukan mobilnya. Biru menghubungi dua sahabatnya Nathan dan Devan.


"Yes Bro, lo berubah pikiran? Gue baru masuk, di klub biasa," jawab Nathan dari sebrang sana.


"Gue tunggu di depan, keluar lo sekarang," titah Biru cukup keras.


"Lo yang masuk, bukan gue yang keluar."


"Gue tunggu di luar, nggak ada tawar-menawar, temenin ke Jogja sekarang." Panggilan langsung diputus sepihak, Biru kembali fokus menyetir.


"Hah!" Nathan masih melongo menatap ponsel miliknya yang baru saja menerima panggilan. "Nggak jelas nih orang!" gerutunya kesal.

__ADS_1


Selang lima belas menit ponsel Nathan kembali berbunyi, Biru mengabari dirinya sudah menunggu di parkiran. Karena rasa penasaran Nathan dan Devan langsung keluar segera.


"Lo kenapa? Tadi bilang ke Jogja maksudnya apa? Gue gagal paham."


"Masuk! Nanti gue ceritain di dalam sambil jalan."


"Ini beneran? Mobil gue gimana nasibnya? Terdampar di parkiran klub."


"Tinggal minta sopir buat ngambil ribet lo, ah. Ini bawa mobil gue, tolong setirin." Biru melempar kontak mobil dari tangannya. Nathan gelagapan menerima dalam sekali tangkap.


"Bukan gitu, gue ini anak kesayangan Mami, apa kabar kalau anaknya main di klub malam, lagian gue juga harus pamit atas tujuan apa minggat dari rumah sampai nggak pulang."


"Ribet lo ya, persis kaya anak TK. Tinggal telfon Than, nggak usah lebay! Bilang aja nemenin Biru yang paling tampan seantero planet, gue yakin nyokap lo ngerti!"


"Ish ... udah ngajakinnya mendadak, ngegas lagi."


"Diem, duduk dengan manis kaya Devan noh, nggak nyerocos aja kaya burung beo."


"Gue sebenarnya kepo, tapi gue kalem, coba lo jelasin deh, alasan lo ngajakin kita ke Jogja malam-malam gini, kenapa nggak besok saja, libur juga lebih nyantai. Emang mau ngapain sih?" tanyanya meminta penjelasan.


"Liburan," jawab Biru cepat. Nathan dan Devan melongo, sedetik kemudian berbinar senang.


"Gratisan nih ceritanya, tumben lo baik?"


"Gue baik sepanjang hidup, udah puas! Jalan cepet!"


Nathan mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia paling jago menguasai jalanan diantara mereka bertiga.


"Belum lah, ngapain milih Jogja, mendadak lagi, sumpah lo mencurigakan!" tuduhnya meninggi.


"Semacam detektif kah?"


"Conan, gue keren juga jadi detektif!" ujar Devan bangga.


"Terserah kalian deh, tapi tugas kalian mengintai seseorang."


"Siapa?"


"Istri gue!"


Ckiiit ...!!!


"Astaghfirullah ... Nathan, lo mau mati?!" Bentaknya kesal, memegang jidatnya yang hampir terbentur dashboard. Nathan menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Lo kira-kira dong, Than, kalau ngerem," gerutu Devan terjungkal diantara jok tengah.


"Devan, lo denger nggak sih apa yang barusan Biru bilang?"


"ISTRI!" Devan dan Nathan terpekik kompak.


"Sumpah demi apa lo udah punya istri?" tanyanya setengah tidak percaya. Masih di suasana tegang Nathan dan Devan malah ngakak bersama.


"Udah puas ketawanya, ini gue baru intro, belum sebut nama, gue curiga lo pada pingsan." Seketika Nathan dan Devan menatap serius sahabatnya yang sedari tadi berwajah sangat serius.

__ADS_1


"Lo beneran udah nikah? Atau ... jangan-jangan lo buntingin anak orang, ya Tuhan, Biru ... parah lo, sungguh bej*at!" Nathan geleng-geleng kepala.


Seketika tangan kanan Biru menoyor kepala Nathan yang bermulut serampangan.


"Sakit se*tan!! Kepala gue, bisa miring kalau sering main sama lo!"


"Ini aja sekarang udah miring, otak lo jauh amad mikir ke sana, dibilangin udah nggak pernah 'gituan' gimana ceritanya hamilin anak orang."


"Ya kali aja itu benih yang lo tanam di suatu dulu, dan sekarang harus mempertanggungjawabkannya."


"Gue nggak separah itu, main cantik tanpa jejak, emang lo mau sembarangan orang lo tanam?"


"Najis mughaladhah!" jawabnya sinis.


"Beh ... sok pesantren lo, gaya lo." Biru geleng-geleng kepala.


"Beneran lo udah nikah? Siapakah gerangan yang mau sama cowok rongsokan kaya lo, Biru."


"Njir ... gue tersinggung sumpah, gue jelek banget apa di mata kalian."


"Bukan hanya jelek sih, tapi lebih kepada ba*ingan." Nathan dan Devan ngakak bersama, lihat Biru yang hampir melayangkan pukulan candaan, pria bernama Nathan langsung menghindar.


"Lo kalau aniyaya gue terus, gue lempar ke jalan," tukasnya sengit.


"Makannya jangan ngledekin orang terus, orang mau insyaf tuh di support bukan buat bahan candaan."


"Lo tuh nggak cocok kalau jadi anak baik, jiwa bad boy sudah karatan di jiwa lo."


"Terserah!!"


"Ngomong-ngomong lo tadi bahas istri, jadi menurut lo istri lo yang keberapa yang musti kita selidikin?"


"Emang lo pikir istri gue ada berapa? Satu aja belum jelas endingnya kaya apa, apa iya gue mau jadi duda muda." Biru menerawang.


Tangan kiri Nathan teluruh mengecek jidat Biru, "Tidak panas, tapi sepertinya lo stress," ucap pria itu geleng-geleng.


"Hais ... gue sehat Suloyo!" Biru menepis tangan Nathan yang bergerak perhatian.


"Sebaiknya sesama saudara Kartoyo dan Suloyo dilarang berantem," ucap Devan seraya bersedekap dada. Trio bussy memang selalu memberi julukan absurd untuk sahabatnya. Entah tercetus dari mana, tapi semua keluar dari mulut tanpa direka.


"Dev, lo telfon Bambang coba?" titah Biru.


"Bram manajemen?" Devan bingung sendiri.


"Iya, siapa lagi? Buruan gih, mereka nginep di hotel mana?"


"Lo sebenarnya selidikin siapa sih, nggak jelas banget jadi orang."


"Buruan gih, Bambang ikut field trip 'kan?"


"Sepertinya iya, tapi apa hubungannya dengan kita ke Jogja."


"Istri gue ikut rombongan mereka!" jawabnya ngegas.

__ADS_1


"Istri, istri, dari tadi lo ngomongin istri, siapa yang lo maksud Biru?"


__ADS_2