
"Maafin aku, Nggit. Gara-gara aku, kamu jadi sasaran kemarahan Hilda, aku mohon jangan terpengaruh apapun dengan omongannya, aku sudah lama tidak berhubungan dengannya."
"Lepasin, Al. Kamu nggak harus minta maaf, hubungan kita itu rumit, tolong selesaikan dulu apa-apa yang menyangkut masa lalumu, aku capek terlibat dalam masalahmu, sudah cukup selama ini aku diam, ketika hatiku terusik oleh tuduhan tak mendasar itu sakit, dan itu yang aku takutin dari pertama kita menjalin sebuah ikatan. Sayangnya aku tak punya pilihan, andai waktu bisa aku putar, aku memilih menentang Romo dan pergi, sekalipun mungkin Romo membenci, tapi tak akan tega menyakiti. Tapi, sayangnya aku terlalu takut untuk tidak berbakti, dan pilihan itu kini menyakiti banyak orang."
"Please ... jangan ngomong gitu lagi, jangan biarkan aku merana sendiri, sekuat tenaga aku membentengi diri untuk tidak lagi mengulang kebiasaan aku dulu, denganmu aku merasa nyaman, dan kehadiranmu telah banyak memberi kesempatan untuk aku menjadi orang yang lebih bisa bersikap selayaknya manusia yang bermoral. Jangan benci aku, Nggit. Tolong, beri aku kesempatan untuk tetap mempertahankan hubungan ini."
Inggit mengurai pelukan Biru yang semakin erat, ia mendes@h lelah saat pria itu tetap setia menempel tanpa mau tahu bagaimana perasaan Inggit saat ini yang tak mau diganggu.
"Lepas, Al, aku capek berdiri terus, kakiku pegel!" sentaknya kesal.
"Nanti aku pijetin," jawab pria itu datar. Tak menghiraukan kekesalan Inggit, ia bahkan langsung mengangkat tubuh wanita itu tanpa permisi.
"Aaa ... turunin, Al, turunin!" Inggit memberontak dalam gendongan.
"Katanya capek, biar aku gendong," selorohnya tak peduli.
"Tapi aku nggak suka digendong kamu, turunin!" Inggit memukul-mukul dada Al.
"Diem, Nggit, sakit, kamu bisa jatuh." Biru mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukannya di ranjang. Melepas sepatunya dan melepas tas yang masih setia menempel di punggung istrinya.
"Ngapain?" tanya Inggit tak habis pikir, saat tangan pria itu bergerak menyusuri kakinya yang jenjang. Inggit langsung beringsut melipat kakinya.
"Katanya pegel, mau mijitin lah," jawab pria itu enteng.
"Hish ... nggak usah, keluar sana tinggalin aku sendiri, males lihat muka kamu!" usirnya galak.
"Kalau aku nggak mau, gimana dong?" tanyanya cukup kuat dengan pertahanan dirinya.
"Biar aku yang keluar, kamu lebih cocok jadi penghuni kamar," jawab Inggit bangkit. Biru langsung mencegatnya, menyorot manik hitamnya begitu lekat.
"Ngapain sih, minggir!" usir Inggit mendorong dada Al yang menghalangi jalan. Jangankan beringsut mengalah, Al justru tetap berdiri kokoh menyebalkan.
"His ... cowok nyebelin banget sih!" pasrah Inggit kesal. Ia kembali duduk dan membuang muka saat tak berhasil mengusir suaminya.
"Nggit, jangan marah-marah terus, jutek kamu bikin aku gemesh." Rupanya Biru sama sekali tidak terusik, ia duduk di bibir ranjang tepat di samping Inggit yang masih posisi memunggunginya.
"Hey, kenapa diem, semakin kamu bersikap begini, aku semakin ingin menempel," ucap Biru yang membuat Inggit bergeser sedikit menjaga jarak aman.
"Jangan ngadi-ngadi, tidakkah kamu lupa tidak pernah suka jika dekat denganku, aku pikir kamu belum amnesia, dan aku tidak mau terlibat kontak fisik di kamar dalam bentuk apapun."
"Hmm, oke baiklah, aku masih ingat, tapi sepertinya undang-undang yang aku buat harus segera aku revisi, itu sangat tidak adil, mana ada seorang suami istri tidak boleh kontak fisik, itu terdengar sangat menyangsikan," jawab Biru datar, tidak ada raut jengkel ataupun tersinggung dengan perkataan yang Inggit muntahkan.
__ADS_1
Inggit bergeming, ia malas meladeni Biru yang semakin berani dan tak berujung. Tangannya sibuk menyambar ponsel dan berbalas chat dengan Okta. Mengabari perihal tawaran tadi yang meminta melatihi anak-anak yang belajar les renang.
Ia bangkit dari ranjang, menuju lemari dan langsung memilih pakaian yang pas untuk dibawa ke kolam renang. Aktifitas Inggit tak lepas dari pandangan Biru yang sedari tadi menikmatinya.
"Mau ke mana?" tanyanya mulai penasaran saat Inggit memasukkan baju ganti ke dalam tasnya.
"Kepo!" jawab Inggit datar.
"Inggit Prameswari, aku tanya, susah banget ya buat jawab." Biru mulai terusik dengan sikap ketusnya.
"Nggak usah sok peduli, aku punya alasan untuk tidak menjawab pertanyaanmu, begitupun dengan kamu yang punya alasan untuk tidak usah ikut campur dalam urusan pribadiku!" jawab Inggit menantang.
"Aku berhak mengetahui ke mana pun kamu pergi, kamu itu tanggung jawab aku, bisa nggak sih menghargai peran aku sebagai suami, kamu nggak ada sopan-sopannya, ngebantah mulu."
"Ribet banget deh, itu 'kan rumah tangga normalnya pasangan, kita itu beda, diem, no debat dan jangan kepo!"
"Nggak bisa gitu dong Nggit, aku nggak ngijinin kamu keluar dari rumah kalau gitu!" ancam Biru kesal.
"Kok posesif, lo siapa? Kaya suami sungguhan, Al, Al." Inggit merasa lucu Biru bersikap demikian.
"Apanya yang lucu, ya aku suami sungguhan lah, emang ada suami bohongan?"
"Kamu tuh seperti suami yang mengkhawatirkan istrinya, ini itu dilarang, aneh, setahuku Biru itu nggak respect sama Inggit, dia benci banget malah, 'kan nikahnya cuma di atas kertas!" sindirnya sinis.
"Nggak salah Al, tapi kamu juga harus tahu posisi aku, kalau aku tuh sedang kesal, marah, dan nggak mau diganggu, bisa nggak sih, minggat sebentar dari hidupku!"
"Ya, aku usahain, tapi jangan terlalu keras menghindari, aku yakin kamu akan membutuhkanku," ucapnya yakin.
"Nggak akan, udah sana pergi, keluar rumah kek, luar negeri, atau luar angkasa sekalian, nggak usah pulang!" usir Inggit menggebu.
"Seriusan aku nanya, kamu mau ke mana bawa baju ganti segala, masih marah masalah Hilda? Aku minta maaf, aku bakalan usahain tuh anak nggak buat masalah lagi."
"Menurutmu, setelah kejadian tadi di kampus, aku bisa tenang gitu, aku sampai dibawa ke ruang kemahasiswaan cuma gara-gara kamu, ya kamu sumber masalahnya, mendingan kamu selesaikan dulu deh masalah kamu sama Hilda, kesel aku tuh!"
"Kesel lihat aku sama Hilda? Cie ... cemburu ya?"
"Kok jadi ngawur sih, males banget cemburuin kamu." Inggit memutar bola matanya malas.
"Ya ... kalau cemburu nggak pa-pa juga, muka kamu lucu kalau jutek gitu."
"Selain keras kepala, kamu cukup ngeyelan, dan menyebalkan," tandas Inggit sengit, bergerak bangkit dan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Klik
Sehari tanpa menjaili Inggit, bagai hidup kurang tantangan. Sudah barang tentu rasa itu muncul secara alamiah, yang memerintah otak untuk berhuru-hara dengan seseorang yang sejatinya telah berhasil mencuri hatinya. Jadi, praktis idenya itu selalu bermaksud menarik perhatinya.
"Biru ...!!" suaranya melengking, naik beberapa oktaf, membuka pintu kamar mandi dengan kesal. "Jail banget jadi orang!" Inggit menyorot sengit. Biru hanya terkekeh pelan dengan berdiri santuy menyender tembok, tepat di samping pintu kamar mandi.
"Sekali lagi lo jail, gue murka beneran!" ancamnya seraya menyetel kembali saklar listrik kamar mandi.
Inggit baru saja masuk dan menutup pintu kamar mandi dengan kesal setelah sesaat tangan Biru kembali mengklik lampu saklar di kamar mandi.
"Rese' banget sih jadi orang, sudah tahu kamar mandi sini tuh gelap, mau kamu tuh apa sih!" Inggit benar-benar kesal.
"Pengen peluk kamu seharian, pengen denger kamu manggil sayang, pengen kamu bersikap lembut seperti kamu memperlakukan orang lain," jawab Biru santuy.
"Mimpi lo ketinggian, bangun woy ... lo sudah terlalu jauh gentayangan!" ejeknya sarkas penuh nada menyebalkan.
"Gumush banget sih kalau terus ngomel gini." Bukannya marah atau tersinggung dengan kata-kata Inggit, Biru malah bergerak menarik pipi Inggit yang terlihat menggemaskan.
"Hish ... sakit! Dibilangin jangan ada kontak fisik dalam bentuk apapun di dalam kamar!" tepis Inggit kesal.
Inggit menatap jengah, Ia sudah merasa tidak nyaman sedari tadi.
"Al, aku butuh ke kamar mandi, jangan matiin lampunya, aku takut gelap."
"Aku temenin kalau takut," candanya tak tahu tempat.
"Ngarang banget kalau ngomong!"
"Enggak lah, beneran aku temenin." Inggit melotot garang, sementara Biru cengengesan nggak jelas.
"Bilang dulu mau ke mana? Janji nggak jail lagi."
"Mau renang, awas aja matiin lagi!" ancamnya sarkas syarat akan kejengkelan.
Saat Inggit keluar dari kamar mandi, menemukan Biru yang sudah siap pergi.
"Ayo!" seru pria itu percaya diri
"Ayo?" Inggit membeo dengan dahi berkerut indah.
"Iya, katanya renang, ayo aku antar, nanti habis itu aku harus kerja." Inggit bergeming.
__ADS_1
"Berangkat Nggit, jangan bengong, ingat semboyan kita, berdua lebih baik, lebih hemat dan harmonis." Tangannya bergerak mengacak rambut Inggit dengan pelan.