
Seharian di rumah sakit, walau enggan, Biru merasa kasihan. Tidak ingin membuat istrinya salah paham, Biru pun berniat menghubungi Inggit perihal Hilda. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban. Entah ke mana Inggit berada, gadis itu tidak memberi kabar dan juga tidak menghubunginya sejak tadi siang.
Karena merasa cemas, dan kepikiran. Biru akhirnya meninggalkan Hilda, dan menyambangi rumah istrinya. Dengan percaya diri, pria itu melangkah mendekati pintu. Martabak manis spesial kesukaan Ibu, tak lupa sebagai buah tangan penyogok rindu.
"Nak, Biru?"
"Sore, Bu. Boleh Biru masuk? Sekalian ada yang ingin Biru sampaikan pada Romo," ujar pria itu sopan, menyalam takzim Ibu mertuanya.
"Masuk, Nak, tunggu sebentar, biar Ibu panggilkan Romo." Biru mengangguk, menuju sofa untuk duduk, namun netranya meneliti sekitar, mencari sosok cantik yang amat ia rindukan.
Inggit ke mana ya? Handphonenya juga mati.
"Al, kamu ke halaman belakang saja, Romo masih sibuk memberi pakan ikan."
"Siap, Bu. Eh, Iya, Inggit di rumah 'kan?" tanyanya sebelum beranjak. Bu Tami mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya, Biru mengecek ponsel, handphone istrinya online tapi pesan dan panggilan darinya sama sekali tidak ada yang dibalas.
Inggit kenapa sih? Nggak tahu orang cemas, dan gelisah apa?
Biru menuju halaman rumah yang cukup luas. "Sore, Romo, Biru datang untuk menjemput Inggit," pintanya sopan.
"Kamu bawa apa?"
"Hmm ... bawa cinta, kasih sayang, dan harapan. Eh, ada satu lagi, sama martabak, Romo mau?"
"Kalau belum pinter pulang aja sana, Inggit nggak boleh nangis lagi."
"Aku sudah belajar semangat, Romo. Insyaallah tidak akan membuat Romo kecewa lagi."
"Bisa tunjukin bukti yang Romo minta."
"Bisa, Romo. Mm ... teman Biru tidak benar hamil anak Biru Romo, Biru tahu, Biru pernah salah, tapi itu dulu sebelum nikah, dan semenjak nikah, Biru tidak lagi suka main dengan perempuan manapun. Kemarin hanyalah kesalahpahaman yang sengaja dibuat karena tidak suka dengan hubungan Biru dan Inggit."
"Biru juga punya bukti autentik, kalau wanita itu tidak hamil anak Biru, jadi ... boleh 'kan Biru jemput Inggit sekarang. Gambar yang Biru kirim ke Romo adalah benar adanya, Romo bisa cek langsung ke rumah sakit kalau masih belum percaya."
"Mau kasih Romo berapa cucu?" Biru tersenyum mendengar lontaran pertanyaan mertuanya.
"Sedikasihnya Yang Maha Memberi, Romo."
"Kamu sudah siap menjadi suami dan Ayah yang baik?"
"Insyaallah siap lahir dan batin."
__ADS_1
"Tidak ada kesempatan ketiga, Al, kamu harus bisa mewujudkan apa yang sudah kamu ucap." Biru tersenyum dan mengangguk yakin.
"Jadi, sekarang Biru boleh nemuin Inggit, Romo."
"Hmm ...." jawab Romo dengan gumaman.
"Yes, terima kasih Romo." Biru langsung melesat ke lantai atas. Perlahan pria itu mengetuk pintu dan langsung membukanya.
"Sayang, Inggit." Biru mendekati ranjang. Terlihat istrinya tengah sibuk dengan ponselnya, sama sekali tidak notice dengan panggilan Biru.
"Inggit, aku datang, ayo kita pulang," ajak pria itu seraya duduk di pinggir ranjang. Inggit bergeming, wajahnya nampak mrengut tak bersahabat.
"Kamu kenapa sih, jutek gitu aku datang, telfon nggak diangkat, WA nggak dibalas, aku salah apa? Jangan diemin aku kaya gini Inggit, ayo kita pulang."
"Ngapain kamu ke sini, bukannya sibuk ngurusin man-tan!" sindir Inggit menjeda.
"Astaghfirullah ... kamu salah paham, sayang. Aku hanya menolongnya saja, nggak lebih."
"Masa', kok tadi aku perhatiin kamu kaya panik gitu lihat Hilda terluka."
"Kamu juga di sana, kenapa nggak langsung ikut, biar kamu nggak salah paham. Aku minta maaf, aku juga sekaligus nyari bukti buat yakini Romo, kalau Hilda itu bohong, alhamdulillah semua udah clear. Kita pulang ya?"
"Tadi tuh orang pingsan, demi rasa kemanusiaan saja, sumpah nggak ada maksud apa-apa. Kamu cemburu?" Biru mengulum senyum.
"Nggak, ngapain juga cemburu," jawab gadis itu ketus, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sayang ... jangan ngambek lagi dong ... please ... aku kangen." Biru ikut merangkak ke atas kasur, menelusup masuk ke dalam selimut dan memeluknya.
"Inggit." Biru mengendus-endus tengkuk gadis itu.
"Ikh ... geli, Al, jauh-jauh sana, habis nempelin Hilda jangan deket-deket."
"Aku udah cuci tangan lah, lagian tadi gendongnya juga udah dari tadi siang udah ilang bekasnya."
"Masih, tetep nggak suka."
"Iya deh iya, aku mandi dulu." Biru bangkit dari kasur dan segera membersihkan diri dari kamar mandi. Usai membersihkan diri, pria itu dibuat bingung dengan pakaiannya karena tidak membawa ganti.
"Sayang, pinjam kaus boleh?"
Inggit melirik, menemukan suaminya yang bertelanjang dada, hanya memakai handuk sebatas pinggang ke bawah lengkap dengan rambut basah yang menguar wangi sampo. Memberi evek gugup bagi siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
"Ya," jawab Inggit langsung mengalihkan pandangannya. Saat tangan lembut itu memilih baju di setumpukan lemari, Biru tiba-tiba sudah berada tepat di belakangnya. Mengikuti gerakan Inggit yang memilih pakaian untuknya.
Tubuh Biru sengaja menempel punggung istrinya, mengurung posesif. Inggit yang sedikit kaget, spontan menghentikan gerakan tangannya. Ia ngeblank, mendadak hawa panas menyerbu pipinya.
"Sayang, sepertinya ... aku belum butuh pakaian," ucap Biru seraya mengendus tengkuk istrinya. Memutar tubuh yang menjeli agar menatap dirinya. Biru tersenyum melihat Inggit yang malu-malu, benar-benar menggemaskan. Dengan sekali gerakan, pria itu menggendong Inggit dan membawanya ke ranjang.
"Di sini lebih nyaman," ucap pria itu tersenyum, menyorot begitu lekat dan dalam.
"Mmm ... kata Romo, kita harus membuat cucu yang banyak," ujarnya tersenyum.
"Romo bilang gitu?" tanyanya grogi.
"Hu'um ... apa ... aku boleh mengambil hak aku malam ini?" tanyanya penuh harapan.
"Mm ... aku takut, itu akan sakit," jawab Inggit jujur.
"Sakitnya sedikit kok, tapi aku jamin, bakalan bikin kamu candu dan susah buat nolak ataupun berhenti. Kita coba ya, pelan-pelan saja." Jemari tangan kanan pria itu mengelus wajahnya, gadisnya benar-benar masih polos, membuat Biru merasa bangga menjadi orang yang pertama akan menyentuhnya.
"Al ... aku ...." Inggit bingung sendiri, mendadak cemas itu menyambangi hati. Bukan berarti belum siap, namun lebih ingin menjelaskan sesuatu.
Rasa ingin, malu, dan ... entahlah. Gadis itu mengigit bibir bawahnya untuk menetralisir gugup yang menyerbu. Gerakan itu tentu malah membangkitkan sisi kelakian Biru, tanpa permisi, pria itu langsung menyambar bibir istrinya dan Mel*mat lembut.
"Al ...." panggilnya, di sela napas yang memburu, memerlukan banyak pasokan oksigen karena ciu*man panas itu.
"Kenapa?" tanyanya bingung saat Inggit menghentikan gerakan tangannya yang bergerak membuka kancing piyama istrinya.
"Hmm ... belum boleh," jawab Inggit meragu.
"Kenapa, sayang ...." Biru menyorot bingung.
"Aku sedang ada tamu bulanan," cicit Inggit merasa tak enak.
"Hah! Masa periode?" tanyanya tak percaya. Inggit mengangguk jujur.
"Ya ampun ... kenapa nggak bilang dari tadi, aku udah semangat gini coba, dighostingin," keluhnya lengkap nada kecewa dan lesu.
"Kamu marah?"
"Enggak, tapi gumush ... udah tegang gini, gimana jinakinnya ini. Ah ... pening kepalaku."
Sabar
__ADS_1