Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 70


__ADS_3

"Kalau tidak ada pilihan tidur saja," jawabnya cepat. Inggit terlelap begitu saja dengan kepala menyandar dada bidang suaminya, rambut yang bergerak nyangkut seakan menyatukan mereka.


Diam-diam Biru tersenyum mendengar lontaran istrinya, sepertinya ia harus banyak bersyukur, karena insiden itu membuat hubungan mereka yang panas dan rumit terasa lekas membaik. Biru pun tak menyia-yiakan kesempatan itu, ia begitu bahagia istrinya tidur dalam dekapannya, tepatnya Inggit menempatkan dadanya sebagai tumpuan.


Inggit yang cepat terlelap, mungkin istrinya itu lelah karena banyak menangis dan marah-marah seharian. Jadi, ia pasrah dan tak lagi menjadikan masalah perkara rambut yang bergerak menyatukan mereka. Biru meneliti istrinya, setelah dengkuran halus itu tercipta, Biru memberanikan diri untuk mengecup puncak kepalanya, rasanya seperti mimpi, mimpi yang indah lagi mendamaikan, ia berharap akan menemukan malam-malam lain yang sama.


Rupanya hanya mencium tak akan cukup puas, anggap saja Biru terlalu serakah dan begitu merindu belaiannya. Pria itu memberanikan diri untuk memeluk tubuhnya dengan nyata, ia mendekap begitu erat, sembari terus mendaratkan kecupan sayang di keningnya. Inggit tidak bereaksi apapun, sepertinya perempuan itu benar-benar lelah. Inggit terlelap damai.


Rasa tenang lagi damai membuat pria itu ikut terlelap. Ia tidur dengan memeluk istrinya semalaman. Saat pagi menyapa, Biru terjaga lebih dulu, ia meneliti dirinya dan juga istrinya yang masih setia terpejam, Inggit masih di dunia mimpinya. Perlahan Biru membenahi rambut istrinya yang masih nyangkut, dengan hati-hati dan sedikit repot, pria itu mengurai lilitannya. Sebenarnya gampang saja jika kancing itu terlepas mungkin, atau menggunting ujung rambut Inggit, tapi Biru tidak ingin sampai mengusik ketenangan saat istrinya itu terbangun.


Setelah berhasil, Biru tetap tidak menjauh. Ia bergerak perlahan, memberi jarak antara mereka, namun masih tetap dekat, perlahan tangan pria itu bergerak membenahi anak rambut yang jatuh ke pipi yang menghalangi wajah ayunya. Biru pun tak puas menatap bidadari halalnya yang telah sempurna memikat hatinya saat ini, bagaimana bisa ia berpaling, jika cinta itu malah tumbuh semakin kuat.


"Morning!" sapa Biru begitu mendapati mata lentik istrinya terbuka. Inggit yang sepertinya kaget, seakan tak begitu sempurna mengingat kejadian semalam langsung bergeser menjauh.


"Jangan terlalu dekat, kamu membuat aku kaget," ucap perempuan itu merona.


"Aku lebih suka yang bahkan tidak ada jarak di antara kita, Inggit, maafkan aku, aku mohon jangan katakan atau memerintah untuk aku menjauh."


Inggit bergeming, kilasan di kampus tentang semua yang menimpa dirinya kembali membuat ia terluka. Lalu bergerak sedikit yang terasa nyeri dan kaku pada kakinya.


"Inggit, apa masih sakit?" suara khawatir itu nampak jelas bertandang ketelingannya. Laki-laki itu ikut bangkit dan meneliti kaki Inggit yang sakit.

__ADS_1


"Sudah tidak sesakit kemarin, aku mau latihan berjalan, bisa kamu belikan aku kruk untuk membantuku jalan," pintanya yang terdengar cukup natural, sesuai kebutuhan, Inggit memang butuh benda itu, tapi sayangnya Biru terlalu bersemangat menjadi tongkat hatinya, yang akan menjadi kaki sementara untuk Inggit.


"Ya, nanti akan aku carikan untukmu, sekarang kamu perlu bantuanku ke kamar mandi 'kan? Sebaiknya aku gendong."


"Biru, ini terlalu merepotkan, aku mau berjalan sendiri, kamu bisa memapahku, ini sudah tidak sesakit kemarin kalau sedikit bergerak."


"Kata dokter, biarkan istirahat dulu untuk beberapa hari, ini baru sehari, bertahan sampai besok atau lusa, aku tidak keberatan dan sama sekali tidak merasa direpotkan. Inggit, kamu itu tanggung jawabku, jadi jangan sungkan untuk hal sekecil apapun, tentang foto itu, aku mengaku aku bersalah, aku minta maaf, tapi sumpah bukan aku yang menyebar fitnah. Mana mungkin aku sejahat itu, aku mencintaimu Inggit."


"Kamu sedang menembakku? His, tidak ada romantis-romantisnya sama sekali," cibir Inggit mrengut.


"Kamu ingin aku melakukan apa, untuk membuktikan bahwa aku ingin berubah dan serius untuk mempertahankan dan membina rumah tangga kita?"


"Aku tidak tahu, sebaiknya tidak usah membahas itu, kalau bukan kamu pelakunya lalu siapa lagi yang mempunyai foto itu?" tanyanya sedikit kesakitan, kejadian itu benar-benar membuat nama baiknya tercoreng sudah, bahkan saat ini Inggit benar-benar malu untuk sekedar menampakkan diri di luar rumah, sudah pasti semua orang yang tahu akan mencemooh dirinya bagai perempuan yang takberahklak.


"Ingin apa?" tanya Inggit mengeryit bingung.


"Ingin menjadikan dokumentasi pribadi, tidak terlalu vulgar untuk penglihatanku, cuma emang sedikit seksi dan membuat Bondan hidup kembali?"


"Bondan?" Kening Inggit berkerut-kerut indah mendengar nama itu.


"Umm ... itu ... maksudku, nama panggilan sayang pada sesuatu yang paling vital dalam diriku," ucap Biru kebingungan, takut salah ngomong juga dan membuat Inggit beranggapan bahwa ia menggemari sesama jenis, cepat Biru menunjuk sesuatu yang di bawah sana, dan seketika Inggit mengikuti arah pandang suaminya.

__ADS_1


"Dasar mesum!" Inggit mendelik, dan hendak memukul, namun tangannya langsung ditangkap Biru, pria itu menggenggam lembut.


"Jangan marah, aku hanya berfantasi terhadapmu, itu akan aku sudahi setelah kamu menggantinya dengan yang sesungguhnya," ucapnya seraya menatap lekat mata indah istrinya. Sontak perempuan itu berpaling dengan wajah merona, mungkinkah Inggit malu, rasanya imut sekali wajah itu kalau bersemu.


"Sayang, Inggit ... tatap mataku?" pinta Biru sedikit memaksa.


"Nggak mau akh ... kamu mesum, aku tuh sedang marah sama kamu, minggir sana!" Perempuan itu kembali ketus.


"Jangan mengusirku, nanti kalau aku jauh manggil-manggil, 'kan repot," selorohnya mengulum senyum.


"Itu beda cerita, ah ... aku merepotkan sekali, aku pingin pulang saja ke rumah Ibu," celetuk Inggit tiba-tiba.


"Nanti setelah sembuh, kita berkunjung ya, aku juga kangen sama mereka," ucapnya sendu.


"Ngomong-ngomong kapan hukuman kita berakhir, sampai kita lulus dulu? Itu masih lumayan lama," keluhnya terdengar rengekan yang sangat lucu.


"Mungkin Ayah dan Romo sengaja memberi jeda waktu yang lumayan lama agar kita punya banyak kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi kalau dalam waktu yang ditentukan kita sudah berdamai, bahkan atau mungkin kamu mengandung anakku mungkin ceritanya akan berbeda, aku yakin mereka akan cepat mengakhiri hukuman kita."


"Kamu mikirnya jauh amat," ucap Inggit mendadak merasakan hawa memanas di pipinya.


"Kok jauh, 'kan memang harus terencana, bukankah tujuan hidup berumah tangga adalah salah satunya untuk mendapatkan keturunan yang baik dan sholeh sholehah." Inggit benar-benar merasa tabu kalau untuk soal anak-anak untuk saat ini, bahkan ia belum yakin dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Inggit, bagaimana kalau kita ... mencobanya, emm ... maksudku ... menjalani rumah tangga kita layaknya suami istri yang sebenar-benarnya. Aku mencintaimu Inggit," ucapnya sungguh-sungguh. Biru membawa jari-jemari istrinya dalam genggaman, lalu menciumnya dengan lembut.


__ADS_2