
"Nggit, masuk! Di luar dingin." Biru menarik lengan gadis itu sampai melewati pintu dan menutupnya.
Inggit bergeming, menatap waspada pria berstatus suaminya itu yang kini tengah menatapnya lekat.
"Kamu bisa gunakan kamar mandi terlebih dahulu, setelahnya aku," ucap pria itu lembut.
Inggit masuk ke dalam kamar dengan pikiran bingung. Mulai dengan cara dia ngomong yang pakai aku kamu, terus sedikit mengalah, dan lebih manis. Inggit pikir, Biru sedang menyusun strategi yang perlu dicurigai.
Jangan-jangan otak tuh anak lengser beneran, nggak ada angin dan badai, Tiba-tiba sok care dan lembut. Hais ... dasar si stone!
Inggit tengah mengambil baju ganti untuk dibawa ke kamar mandi sebelum ritual mandinya dimulai, ketika Biru masuk ke kamar. Inggit tidak menanggapi apapun, ia langsung masuk kamar mandi dengan cepat, mengabaikan Biru yang sepertinya ingin menyerukan sesuatu.
"Nggit!" serunya menghentikan langkah gadis itu yang hampir meraih handle pintu. Inggit menoleh dengan tatapan tanda tanya. "Mandinya jangan lama-lama, sudah malam nanti masuk angin," imbuhnya perhatian. Inggit hanya ngangguk ngerti lalu masuk dengan kebingungan yang semakin nyata.
Tuh kan, perhatian lagi, benar-benar mencurigakan.
Saat perempuan itu tengah di kamar mandi, handphone Inggit berdering. Biru langsung terpusat pada sling bag yang teronggok di atas nakas. Pria itu menyambar begitu saja, tangannya gatal menerima panggilan dari Ares. Dengan ketus dan percaya dirinya Biru menjawab telfon dari pria yang terang-terangan memuja istrinya.
"Malam Nggit, lagi apa?" Terdengar nada lembut dari sebrang sana.
"Woi ... salah alamat lo, ngapain malam-malam nelfonin istri orang," jawab Biru dengan berani.
"Heh! Inggit nya mana? Kok lo yang angkat sih, kasih ke Inggit, gue mau ngomong, awas aja sampai lo nyakitin dia," ancam Ares galak. Biru terkekeh sinis.
"Nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang, asal lo tahu, yang punya handphone sudah tidur, dan kami akan menikmati malam indah ini bersama."
"Bang*sat!!" umpat Ares kesal. Biru langsung mematikan sambungan teleponnya setelah berkata yang membuat Ares cukup emosi.
____
Inggit merampungkan mandi dengan cepat, bukan karena peringatan dari Biru, namun ia merasa sudah bersih dan tak ingin berendam. Ketika gadis itu keluar, ia mendapati Biru yang tengah memegang ponsel miliknya.
"Ngapain lo pegang-pegang handphone gue?" bentak Inggit mendapati Biru yang masih menggenggam ponselnya, mengomel lirih di depan layar ponsel Inggit.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, cuma lihat doang," jawabnya gugup. Inggit langsung merampas dari tangan Biru dengan tatapan curiga. Pria itu berlalu begitu saja dan masuk ke kamar mandi.
Inggit segera mengecek ponselnya, tidak ada pesan masuk yang mencurigakan, hanya grup kelas yang terlihat banyak obrolan. Selebihnya pesan biasa. Ia masih kurang yakin dengan membolak-balikin ponsel miliknya, takut-takut Biru telah berbuat yang merugikan dirinya.
"Nggak jelas banget tuh orang." batin Inggit menggerutu. Berjalan keluar kamar seraya membawa selimut dan bantal. Ritual Inggit setiap malam, yang masih enggan berbagi ranjang dengan pria yang berstatus suaminya itu.
Ia baru saja duduk di sofa dengan selimut yang setengah membungkus badan, ketika suara berat Biru cukup menggema seisi ruangan.
"Nggit, kamu malam ini tidur di kamar saja, biar aku yang tidur di sini," titahnya lembut. Inggit bergeming, menyorot dengan tatapan curiga.
"Nikmati saja tidurmu di kamar Al, gue udah nyaman di sini," jawabnya datar. Biru mengangkat sebelah alisnya, tidak menanggapi penolakan Inggit. Ia mengambil posisi di sebelah gadis itu lalu menyalakan televisi.
"Lo nggak ada tugas?" tanya Biru basa-basi.
"Ada," jawab Inggit irit kata.
"Kok nyantai, udah selesai?" cerocosnya.
"Mau aku bantu?" Inggit menyorot tajam suaminya yang bersikap aneh.
"Nggak, terima kasih," jawab gadis itu lalu. Meninggalkan Biru yang mengulum senyum melihat respon Inggit yang kesal.
Inggit sebenarnya ingin rebahan di sofa dan bersantai menikmati sisa malamnya seperti malam-malam sebelumnya. Tapi, kedatangan Biru cukup membuat gadis itu terusik. Alih-alih bisa tiduran dengan nyaman, pria itu malah bertanya terus menerus.
Jarum pendek masih menunjuk di angka delapan empat puluh lima menit. Gadis itu merasa cukup lapar karena melewati makan malam. Gegara Albiru Rasdan, makan malam bersama Ares gagal total. Ia berinisiatif membuat makanan untuk santapan makan malam.
Inggit membuka lemari pendingin, tidak begitu banyak stok bahan makanan yang ia punya. Biasanya Ibu mertuanya itu yang sangat rajin mengirimi. Ia meneliti sayuran yang tersimpan. Hanya ada terong yang terdampar di sana. Ia berinisiatif untuk membuat sayuran ungu itu menjadi cemilan yang enak untuk mengganjal perut yang lumayan keroncongan.
"Masak apa, Nggit? Dilebihin ya, aku juga belum makan malam," kata pria itu nimbyung di dapur.
"Nggak ada bahan, cuma ada ini sama telur," jawab gadis itu seadanya.
"Nasi goreng kamu enak, aku boleh minta satu porsi buat malam ini?" pintanya setengah memuji.
__ADS_1
Mau menolak tapi merasa kasihan. Tak sampai hati Inggit pun mulai menyiapkan bahan untuk keperluan nasi goreng.
"Terong ini mau dimasak? Aku bantuin kupas ya?"
"Eh, bukan gitu, itu di potong stik tangkai aja, mau gue buat cemilan," sergahnya demi melihat Biru yang salah strategi.
"Salah dong berarti, aku ngapain nih," ujarnya meneliti.
"Uleg bumbu buat nasi goreng aja," jawabnya datar fokus dengan apa yang tengah dilakoni.
"Apa aja Nggit, aku nggak tahu," keluhnya.
"Pasti nggak tahu lah, tahunya cuma pacaran doang," celetuk Inggit sedikit kesal. Ada apa dengan Biru, seharian bersikap aneh dan ngrecokin dirinya terus. Perempuan itu cuek saja, tetap melanjutkan keriwehannya di dapur.
Pria berwajah tenang itu tiba-tiba murung dan masam. Mungkin kata Inggit cukup menyinggung, tapi benar adanya.
"Iya, aku cukup sibuk sama Hilda, sampai lupa kalau sudah punya istri di rumah," jawabnya mendrama. Inggit menghentikan kegiatannya, menatap Biru yang tengah menatapnya juga. Terdengar napas lelah pada wanita itu, lalu kembali fokus menyibukkan diri memasak.
"Lo punya hak untuk menentukan pilihan hidup lo yang terbaik. Setiap orang berhak bahagia, jangan khawatir Al, status kita tidak akan merubah apapun, setelah lo mencapai kesepakatan dengan keluarga lo, kita bakalan menjalani hidup kita masing-masing yang lebih baik. Lo berhak bahagia dengan pilihan lo, jujur, gue lelah gue berharap ini cepat berakhir," ucap Inggit tenang. Obrolan paling panjang mengeluarkan isi hatinya. Pernikahan toxic diantara mereka cukup membuat hidupnya tak tenang.
Entah mengapa Biru merasa sedikit ngilu mendengar pernyataan dari wanita berstatus istrinya itu. Ia akui, ia memang masih menjalin hubungan dengan Hilda, tapi mengapa ia merasa ada yang mengganjal dengan perkataan Inggit yang berharap hubungan pernikahannya cepat berakhir.
"Udah belum Al, ngulegnya?"
"Udah," jawabnya lesu. Mereka merampungkan kesibukan di dapur dengan saling diam, Inggit fokus memasak, sementara Biru berdiri tak jauh dari sana memperhatikan wanita itu merampungkan dengan cekatan.
"Selamat menikmati, ini nasi gorengnya udah matang." Mereka tengah bersiap makan malam ketika bel di rumahnya berbunyi. Hari sudah lumayan malam, dan siapakah gerangan tamu yang datang.
Inggit berjalan gontai mendekati pintu, cukup penasaran dengan tamu mereka di malam hari.
"Biar aku aja Nggit, yang lihat. Kamu terusin makan."
Biru berjalan mendahului Inggit, ia membuka pintu utama dan cukup ternganga dengan tamu yang nekat datang ke rumahnya malam-malam.
__ADS_1