Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 28


__ADS_3

Sepeninggalan Inggit menjemput Hilda di kantor polisi, Biru langsung menghubungi Nathan dan meminta bantuan sahabatnya itu. Ia terpaksa menyewa orang tua jadi-jadian untuk mengaku menjadi orang tua Biru.


"Parah banget lo, Al, jatuh miskin? Sampai nggak kuat sewa hotel?" tukasnya marah.


"Si*lan, gue nggak ada minat ngelakuin itu tadi, refleks aja si Hilda nyamber gue. Eh, malah kena tilang, mana tuh cewe ninggalin gue sendirian di sini tanpa dosa. Sial!" gerutunya mengomel.


Nathan tertawa sumbang mendapati sahabatnya yang kesal


"Udah, sana lo pulang, gue masih ada urusan," usir Nathan ketus. Setelah drama penjemputan yang mendramatisir, Nathan melenggang dengan lega. Sementara Biru langsung bertolak ke rumah sakit. Sesampainya di sana, ternyata Inggit belum sampai di rumah sakit, itu artinya posisi Biru aman terkendali, istrinya yang menyebalkan itu pasti akan kaget melihat dirinya sudah sampai lebih dulu.


Benar saja setelah dua puluh satu menit berlalu, Inggit datang dengan muka keheranan. Dirinya tersenyum puas mendapati Inggit yang nampak bingung dengan kehadirannya.


"Kok lo di sini?" tanya Inggit heran, menyorot penuh selidik.


"Apaan sih Nggit, emang salah menantu nungguin mertua yang sakit," ucap pria itu tenang, menampakkan deretan gigi putihnya manis.


Oh ya ampun ... sandiwara macam apa lagi yang di lakoni si stone ini. Memuakan sekali, hidupnya penuh dengan drama.


Inggit memang harus waspada, mengingat jenis pria yang tengah dihadapinya, rada-rada lengser otaknya. Mungkin malah sudah berganti dengan otak rongsokan, sehingga hidupnya penuh dengan manipulasi.


Inggit melirik Biru yang tengah duduk di sebelah Romo, ia seperti menantu yang sangat perhatian. Sungguh ini sangat memuakan.


"Buk, nanti Biru nginep di rumah Ibuk ya? Inggit sepertinya ingin pulang ke rumah Ibuk, mungkin ia lagi kangen sama masa-masa dulu," tutur Biru lembut. Pria itu sudah mengantisipasi lebih dulu kemungkinan yang akan terjadi.


"Hari ini Inggit mau jagain Romo di rumah sakit, sebaiknya Ibu saja yang pulang, biar gantian," sanggah Inggit cepat.


"Biar Ibuk saja yang jagain Romo, ndok. Kamu kan besok ada kuliah?" Ibuk benar, Inggit juga ada tugas yang belum dirampungkan. Tetapi pulang dengan Biru sama sekali bukan solusi, ia seperti tengah terancam di tengah gurun yang gersang. Biru diam-diam menghanyutkan.


Cukup malam mereka di rumah sakit, sampai jam besuk habis dan Ibuk mengusirnya secara halus. Tentu saja Inggit bingung.


"Ayo sayang, kita pulang," pamitnya lembut, mencium punggung tangan Ibuk dan Romo lalu berujar pergi dari ruang rawat.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan nak, istirahat lah di rumah." Nasihat Ibuk.


Inggit langsung menghempaskan tangannya yang saling bertautan. Bayangan suaminya yang kegrebek dengan Hilda kembali berputar dan itu membuat Inggit merasa begitu ilfeel dengan pria berstatus suaminya itu.


"Lepas!" ucap Inggit kesal, menghempas dengan kasar tangan mereka yang masih setia digandeng Biru.


"Pulang ke rumah lo sendiri, jangan pernah mengusik hidupku lagi. Cukup drama lo yang menjijikkan itu Biru!" bentak Inggit kesal. Pria itu menatap tajam, kembali meraih tangan Inggit dan sedikit menarik ke luar.


"Lepasin! Gue nggak mau satu mobil sama lo, gue nggak mau satu atap sama lo, dan gue nggak mau pulang bareng lo!"


"Bisa diem nggak sih! Susah banget buat nurut, ini sudah malam Inggit, bahaya pulang sendirian," omelnya terdengar nada khawatir di sana.


Inggit tertawa sinis, "Kenapa emang kalau malam, apa peduli lo, lo itu jahat Biru, dan gue nggak mau berakhir tragis di jalanan kaya kemarin, please gue nggak mau pulang bareng lo," mohon Inggit yang begitu ketakutan. Gadis itu menangis tersedu, muka garang yang selalu ia tampilkan berubah jadi sendu. Biru bingung sendiri dengan perkataan Inggit barusan.


"Nggit, gue cuma mau nganter lo pulang kenapa lo setakut ini, oke gue minta maaf soal kemarin yang nurunin lo di jalan, tapi itu kan juga gara-gara lo yang pembangkang, coba kalau lo tuh nurut, kalem, pasti nggak bakalan gue turunin lo di jalan. Ayo pulang, jangan bikin gue kesal karena terlalu lama menunggu."


Inggit mengusap pipinya yang basah secara kasar. Dirinya sudah tidak percaya lagi dengan Biru, dan pulang bersama pasti akan tidak baik-baik saja. Inggit memutar badan, ia lebih baik kembali ke rumah sakit dari pada pulang dengan Biru yang tak jelas.


"Lepasin! Gue nggak mau Biru, lepas! Breng*sek!" geram Inggit memberontak.


"Diem Nggit, nanti dikira orang yang melihat gue mau apa-apa lo, masuk, dan duduk dengan tenang!"


"Gue nggak mau jahatin lo, bisa tenang nggak sih!" bentaknya kesal, menenangkan Inggit yang terus berusaha menjauh dari jangkauan Biru.


"Lo kenapa sih! Gue nggak akan nyakitin lo, kenapa lo setakut ini pulang bareng gue?!" Biru akui kemarin sempat sedikit memaksa istrinya, tetapi tentu saja itu cuma sebuah gertakan. Perihal menurunkan istrinya di jalanan ia hanya terlalu kesal, tidak menyangka respon Inggit begitu ketakutan.


"Lepasin!!" Suara berat khas laki-laki nampak menginterupsi di sekitar. Keduanya saling menatap kaget melihat seseorang yang berdiri tegap sudah berada di antara mereka menyerukan suaranya.


"Ares?" ucap Inggit mendongak, gadis itu refleks berlari ke arahnya. Entah ada dorongan dari mana, tetapi Inggit merasa lebih nyaman berada di dekat pria itu.


"Woho ... pahlawan kesiangan!" tukas Biru menyorot sengit.

__ADS_1


"Lo nggak pa-pa Nggit, ayo pulang gue antar!" Ares nampak meneliti penampilan Inggit yang berantakan dan ketakutan.


"Inggit! Lo nggak boleh pulang bareng Ares!" sergah Biru murka.


"Inggit berhak menentukan ia akan pulang dengan siapapun yang bisa membuatnya nyaman."


"Banyak ba*cot! Lo nggak usah ikut campur!" bentak Biru mulai tersulut emosi, melihat pria itu menarik tangan Inggit dan mengarah ke mobilnya.


Biru menarik bahu Ares dan menghempaskan tangan mereka yang saling bertautan.


"Lo nggak berhak bawa istri orang pulang!" geram Biru teramat kesal.


Inggit melotot geram, sementara Ares datar saja menyikapi ocehan Biru.


"Mimpi aja sana! Gue nggak peduli istri orang, dasar pria tak tahu malu, setelah begini baru kamu mengakuinya!" ucap Ares kalem.


Biru tidak tahan dengan sikap songong Ares yang nampak tenang, pria itu tanpa pikir panjang langsung meringsek Ares dan melawannya. Keduanya adu kekuatan di tengah malam, saling memukul menunjukan kehebatannya.


Inggit menjerit histeris, sebelum terjadi gulatan yang cukup sengit nampak security di lokasi langsung datang melerainya.


"Kalian ini apa-apaan, mengganggu ketertiban tempat, ini area rumah sakit!" murka security garang.


"Maaf Pak, kita cuma mau pulang tapi dengan tidak tahu dirinya laki-laki itu hendak membawa istri saya," ucap Biru membela.


"Sebaiknya kalau ada masalah di selesaikan di rumah, ini sudah larut malam dan jangan membuat keributan di sini!"


Tiba-tiba terdengar deringan handphone Inggit yang memecah kesunyian. Ibuk Inggit yang menelpon dan menanyakan apakah mereka sudah sampai apa belum? Biru langsung menyerobot ponsel istrinya dan mengobrol dengan mertuanya begitu tenang.


"Ini sedang pulang Buk, sebentar lagi sampai."


Inggit nampak bingung dengan situasi yang terjadi, ia menutup panggilan dan pasrah ketika Biru menarik tangannya untuk masuk ke mobil pria itu.

__ADS_1


Sementara Ares, menatap khawatir kepergian mereka yang pulang bersama. Pria itu sudah sedikit banyak tahu tentang Inggit setelah mendapatkan informasi dari asistennya, Edo.


__ADS_2