Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 40


__ADS_3

"Kumat ya lo, habis manis sepah dibuang!" Devan berkata dengan gamblang. "Lo paling pinter mengobrak-abrik perasaan cewek, setelah membuat anak sastra nangis hampir gantung diri, dengan santai lo lari ke Hilda, dan sekarang lo mau deketin sahabatnya, jempol deh buat lo, player sejati," pujinya tulus.


"Gue nggak seberengsek itu kali, masih normal dan mendingan, dari pada elo yang semakin tidak jelas," cibir Biru mengelak. Mereka tengah berada di student lounge.


"Halah, sok suci. Berapa kali lo buat nangis cewek, gue nggak yakin lo insaf, buktinya tadi ketangkap basah berangkat bareng Inggit, minimal lo jangan main sama sahabatnya lah, bisa berantem mereka," nasihat Devan. Nathan yang sibuk sendiri dengan game di ponselnya langsung menyorot Biru dengan tatapan kepo akut. Biru bergeming, sibuk melamun dengan pikirannya sendiri.


"Gue nggak rela lo deketin Inggit gue, Ares aja belum gue 'hih' lo jangan main serobot."


"Curang dia, Than. Diam-diam main belakang, lo kurang gercep." Devan bagai kompor bleduk.


"Hilda mau di kemanain Kartoyo! Jangan bilang lo bosen, terus ngincar Inggit, gue garda terdepan orang yang paling menentang hubungan kalian."


"Lo bisa pada diem nggak sih!" bentaknya kesal, satu pukulan bolpoint mampir di jidat Nathan.


"Apa? Ingat ya, gue nggak suka lo deketin Inggit, dia terlalu kalem buat lo, sama sekali tidak cocok dan terlalu sayang. Bad boy kaya lo cocoknya emang sama Hilda, kapan nikahnya, nggak sabar pingin lihat pasangan ter the best tingkat kabupaten."


Tidak ada sahutan, Nathan dan Devan semakin yakin kalau Biru dalam masalah.


"Gue nggak tahu sama perasaan gue, sumpah gue bingung." Bukanya mengiba, Nathan dan Devan malah cekikikan tidak jelas. Mereka hampir tidak percaya seorang Albiru Rasdan mendadak galau.


"Dari pada galau, gimana kalau kita malam ini ke klub," usul Devan.


"Gimana Al, lo sepertinya kangen belaian, apa servis Hilda kurang memuaskan?"


"Nggak tahu, udah lama bondan nggak jenguk, malah udah lupa rasanya." Jawaban paling absurd yang dilontarkan Biru, membuat Devan dan Nathan terpingkal-pingkal.


"Sejak kapan lo insyaf, kok lo nggak ngajak-ngajak." Nathan terus membalas dengan guyonan.


"Gue nggak tahu, tapi mendadak mati hasrat ma Hilda, sumpah gue nggak ngerti, ada semacam bentengan di hati kecil gue untuk membatasi. Mungkin sudah sepantasnya kita menghargai wanita dengan menjaganya, bukan merusak."


"Lo beneran insyaf? Dapat pencerahan dari mana lo? Gue nggak yakin lo sadar, salah minum obat pasti nih orang." Nathan menatap curiga.

__ADS_1


"Tauklah, cabut dulu gaes ... petang woi ... pulang!"


"Nanti malam nggak jadi, kabari kalau lo berubah pikiran, gue tunggu di klub biasa."


Biru berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang paling rusuh. Pria itu tak sengaja melewati lobby belakang kampus untuk sampai ke parkiran. Sudut matanya menangkap bayangan Inggit yang tengah bercengkrama dengan banyak orang. Senyum gadis itu tertawa lepas, ia terlihat bahagia.


Biru masih betah berlama-lama menatapnya, sampai sebuah pandangan tak mengenakan tertangkap matanya. Di mana, Ares yang berdiri tak jauh dari sana, mengacak rambut istrinya dengan pelan. Senyum yang sempat terbit, mendadak hilang berganti kesal. Kakinya hampir melangkah mendekat, namun urung demi mengingat Inggit membencinya. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan, dengan perasaan yang entah.


"Beb, ngalamun aja, dari tadi gue panggil dari sebrang lo nggak fokus, lihat apaan sih?" Hilda tiba-tiba datang membuyarkan konsentrasi Biru.


"Eh, nggak ada, lo belum pulang?"


"Mau pulang, besok nggak ada kelas, nanti malam jalan yuk?" ajak Hilda tersenyum.


"Gue ... ada banyak tugas yang belum selesai, lain kali saja ya?"


"Ah, lo nggak asyik, belakangan ini sibuk terus sama kegiatan lo, ini lah, itu lah, lo berubah Biru!" Hilda mrengut.


"Iya deh, nanti gue kabarin bisa apa nggak, gue kelarin tugas gue dulu, nanti gue telfon."


"Lo nggak mau masuk, gue masih kangen Al," ucapnya dengan berat melepas Biru yang masih bertengger di atas motor.


"Lain kali, Da, udah sore gue balik dulu," tolaknya halus. Hilda ngangguk saja, ia baru menyadari, Biru mengantar dirinya dengan motor yang tidak biasa ia pakai, sekilas perempuan itu membatin motor yang baru saja mengantar dirinya. Namun, bisa saja orang lain punya dengan merk dan warna yang sama.


***


Bus yang akan membawa rombongan field trip sudah sampai di halaman kampus. Kegiatan belajar ini sangat dinantikan oleh sebagian mahasiswa pada umumnya, selain menambah wawasan dan ilmu, mereka bisa lebih dekat sesama mahasiswa lain dan dosen-dosen yang menemani. Ada tiga dosen yang mendampingi jalannya field trip kali ini. Mereka langsung mengambil duduk tenang setelah memasuki Bus.


"Inggit, sini agak di belakang lebih nyaman," Ares nge-tag kursi di sebelahnya. Dosen Darren menatap putranya penuh tanda tanya, ada apa dengan anak sulungnya. Ares hanya tersenyum tipis, hubungan anak dan Bapak itu tidak banyak yang tahu, Ares tidak begitu suka mempublikasikan dirinya.


Ares dan Inggit duduk satu kursi, mereka menghabiskan waktu di jalan dengan menonton film di tabnya.

__ADS_1


"Kamu mau nonton apa? Perjalanan jauh, kamu bisa tidur kalau merasa ngantuk," ujar Ares memberikan rasa nyaman ke Inggit. Inggit hanya mengangguk dengan senyuman. Perjalanan malam hari membuat suasana sunyi di sekitaran. Hanya terdengar suara musik pengantar yang distel dari audio bus.


"Nggit, aku seneng hari ini kita bisa sedekat ini, aku ingin waktu tiga hari ke depan tidak cepat berlalu." Ares menatap Inggit lekat, perempuan itu terdiam sesaat sebelum mengalihkan tatapan matanya yang bertautan.


"Kamu tahu status aku, Res. Biarlah mengalir saja seperti air, kamu bisa pergi jika merasa bosan atau tidak nyaman. Aku belum tahu sama perasaan aku." Inggit jelas bingung.


"Maaf, jika aku gagal memahamimu, ya sudah lah kita nonton film lagi aja," ujar Ares menginterupsi. Mereka sepakat untuk tidak membahas apapun yang bersangkutan dengan urusan pribadi mereka.


"Kamu suka nonton apa?"


***


Biru memasuki rumah mungilnya, sepi seperti biasanya. Namun, malam ini ada yang berbeda, bayangan pertengkaran keduanya masih terasa. Sikap dingin Inggit, tangis perempuan itu masih begitu nyata.


"Gue kenapa sih, mikirin dia mulu." Biru menggetok-getok kepalanya sendiri. Deringan handphonenya berbunyi, panggilan dari Hilda terpampang di sana. Dengan malas pria itu menggeser tombol hijau, setelah mengobrol singkat, mereka akhirnya memutuskan untuk bertemu malam ini. Dari pada di rumah sendiri dan merasa sepi, mungkin pergi keluar bisa sedikit menghibur diri.


Biru sudah bersiap, pria itu tengah menunggu Hilda bertemu di sebuah kafe. Tangannya sibuk memainkan ponsel untuk menghindari kejenuhan. Hilda yang membuat janji tapi perempuan itu yang terlambat.


Mata Biru menatap jeli ketika membuka sosial media, melihat postingan Bram dengan rombongan field trip tengah berfoto bersama.


"Ares?" gumamnya lirih. "Kenapa dia ada di salah satu rombongan mereka, jangan-jangan bareng." Biru langsung bingung, ia mendadak kesal dan tak tenang. "Kok bisa mereka bareng?" batinnya penuh tanda tanya.


Biru hendak meninggalkan kafe pas Hilda datang. Perempuan itu sedikit tergesa, terdengar deru napas yang sedikit tidak beraturan.


"Sorry, Al, gue telat," sesalnya seraya mengambil duduk.


Biru kembali duduk, namun hati dan pikirannya tidak tenang.


"Lo nggak marah? Seharusnya lo jemput gue, Al, bukan malah nunggu."


"Motor gue lagi di bengkel," jawan Biru jujur.

__ADS_1


"Ish ... alesan aja lo, tadi emang bukan motor lo?" Hilda akhirnya mengeluarkan rasa penasarannya.


"Punya siapa, Al?" selidiknya.


__ADS_2