
Biru memeluk istrinya begitu erat, pria itu benar-benar dibuat kesal dengan keadaan tapi tidak bisa berbuat sesuai harapan.
"Aku pusing," keluhnya menatap Inggit sayu.
"Ya ... sorry, kamunya nggak nanya main serang aja," sanggah gadis itu menyela.
"Bantuin mau?" pinta pria itu penuh harap.
"Hah, bantuin apa?" Kening Inggit berkerut indah.
"Senam lima jari, nanti aku bimbing, please ... sayang, mau ya? Kalau tidak aku tidak bisa tidur dan pening sampai pagi."
"Kamu ngomong apa sih, Al, aku nggak ngerti," sela Inggit bingung.
"Sini tak bisikin." Biru menggumamkan kata keramat ditelinga istrinya. Alih-alih menurut, Inggit malah mencubit pinggang Biru dengan gemas.
"Aww ... sakit sayang ....!" desis Biru meringis, saat kedua kalinya Inggit mendaratkan cubitan itu dengan rasa kesal dan geli.
"Kamu mesum, ih ... nggak mau," tolaknya cepat.
"Ya ampun ... Inggit, ah ... aku benar-benar gemas." Biru menyerang istrinya dengan sesi pembuka yang panas. Inggit gelagapan sendiri, perempuan itu nampak pasrah sekaligus waspada.
Setelah sesi pemanasan cukup, pria itu mandi untuk yang kedua kalinya. Inggit dibuat melongo dengan tingkah suaminya yang cukup berani. Gadis itu menutup piyamanya yang nampak berantakan. Lalu, turun dari ranjang dan mengisi minuman. Tenggorokannya terasa kering, butuh asupan air untuk mengaliri kerongkongannya.
"Inggit, panggil suamimu, ajak sekalian makan malam," seru Ibu di ruang makan. Perempuan itu nampak sibuk menata makanan.
"Iya, Bu," jawab Inggit cepat. Gadis itu kembali ke kamar dan menemukan suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Itu kausnya, terus bawahnya pakai sarung." Inggit menginterupsi, pakaian bersih itu ia sodorkan pada suaminya.
"Makasih, sayang."
"Hmm, habis ini, aku tunggu di bawah, sudah ditungguin Ibu sama Romo untuk makan malam."
"Inggit!" serunya menghentikan langkah yang terayun, perempuan itu berbalik, menyororot dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Apa lagi?"
"Tunggu, turun bareng, jangan ditinggal," ucapnya tersenyum. Inggit menunggu suaminya sebentar yang tengah memakai pakaian.
"Mana tangan kamu?" Inggit menengadahkan telapak tangannya, Biru langsung menumpuk jemari tangan itu dan menautkannya.
"Ayo sayang, begini lebih romantis, Romo dan Ibu pasti senang melihat kita sudah baikan." Inggit tersenyum melihat itu, hatinya menghangat seketika. Mereka turun dari undakan tangga dengan langkah seirama dan tangan yang bergandengan.
"Malam Romo, Bu," sapa Biru sopan. Kedua orang tua itu menyorot mereka sekilas, sebelum akhirnya memulai sesi makan malam.
Inggit yang perhatian, malam ini mengisi piring Biru terlebih dahulu. Pria itu tersenyum bahagia, benar saja, ini lah baru rumah tangga yang sebenarnya, saling melengkapi dan memberi perhatian.
"Kalian nginep saja di sini?" tawar Ibu mengemukakan pendapatnya.
"Iya, Bu." Biru melirik Romo yang khusuk menyuap makanan.
"Tidak ada rencana buat liburan kah? Kalian sepertinya butuh waktu untuk berdua," usul Romo di sela makan malam.
"Ada Romo, Biru masih mau menanyakan itu pada Inggit. Rencana liburan ini kami akan mengikuti kegiatan kampus terlebih dahulu. Mungkin setelahnya kita akan memikirkan waktu liburan."
"Iya Romo, libur semester kali ini kami ada kegiatan kampus jadi sepertinya nunggu semua kelar dulu."
"Baiknya kalian saja, pintar-pintar menjaga pasangan, ingat ya Biru, tidak ada kesempatan ketiga, apa yang Romo wejangkan itu harus benar-benar diterapkan, jangan gusrak-gusruk dalam bertingkah apalagi mengambil keputusan."
"Siap, Romo."
Mereka makan malam dengan sedikit intimidasi pada Biru. Namun, tentu saja dengan maksud kebaikan untuk mereka sendiri.
"Sorry, Al, kalau kata-kata Romo cukup keras," maklum gadis itu merasa tidak enak. Mereka sudah kembali ke kamar dan bersiap istirahat.
"Nggak pa-pa lah, itu 'kan demi kebaikan kita berdua, aku yang minta maaf, sudah bikin huru-hara selama ini. Maaf, ya, bikin kamu nangis, kesal, bahkan tega banget nih aku dulu pernah ninggalin kamu di suatu malam. Itu selalu aku ingat, dengan rasa bersalah yang besar. Aku benar-benar berhutang budi pada Ares."
"Sudahlah, aku sudah melupakan kejadian itu. Ya walaupun jujur aku sempat benci dan tidak ingin memaafkan dirimu, benar banget untung ada Ares, semoga dia mendapatkan jodoh yang baik. Eh, aku deketin sama Okta aja kali ya, siapa tahu cocok."
"Jangan dijodoh-jodohin, biarkanlah mereka memilih jalannya sendiri. Tapi mereka kelihatan serasi. Nggit, sini dong, duduknya deketan, jauhan mulu kaya lagi berantem." Biru menepuk lengannya sendiri.
__ADS_1
"Nggak mau ah, kamunya mencurigakan," jawab Inggit lalu.
"Apa sih, sumpah nggak nakal, paling cuma dikit doang nakalnya. Hehehe."
"Hmm ... kamu tidur di kamar tamu saja, aku tidak mau terlalu dekat."
"Astaghfirullah ... dosa lah, sini ayang." Biru menarik tubuh istrinya agar mendekat.
"Kamu lucu, masa' sama suami aja takut dimesumin, 'kan lucu."
"Dalam konteks dan waktu yang berbeda dan tidak tepat, sudah ah ... tidur."
"Aku belum ngantuk, Nggit, kalau KKN kita beda kelompok, gimana ya, masa' berjauhan lagi selama hampir dua bulan. Oh, no. Aku nggak kuat," curhat pria itu cemas.
"Ya ... jalani saja, belum juga ada pengumuman, lusa mungkin."
"Jangan berpikir yang belum jelas terjadi, tidur, Al!" Biru semakin mengeratkan pelukannya, kemesraan ini janganlah cepat berakhir. Pria itu sangat bersyukur bisa memeluk istrinya dengan nurut.
"Nggit, sudah bobo?"
"Hmm, bentar lagi, kenapa, Al?"
"Peluk aku, sayang," ucapnya di tengah rasa kantuk yang mulai menyerang. Mereka tidur dalam dekapan bersama.
Keesokan paginya, saat Inggit terbangun, Biru sudah tidak ada di ranjang. Rupanya pria itu bangun di waktu subuh, dan di ajak Romo ke mushola.
Inggit sendiri masih bermalas-malasan di ranjang. Iseng-iseng ingin melihat jam, menyambar ponsel suaminya. Banyak sekali panggilan dan pesan dari Hilda di sana. Rupanya semalaman perempuan itu menelfon Biru, tapi karena di silent tentu saja pria itu tidak notice.
Penasaran, membuat Inggit lancang membuka benda pipih itu. Merasa berhak atas apapun yang berhubungan dengan suaminya. Begitu dibuka, Inggit cukup melongo dengan isi pesan yang dikirimkan. Banyak sekali rengekan dan pesan ancaman yang tercetak jelas di sana. Tak ingin membuat Biru kepikiran, Inggit menghapus semua pesan yang dikirim ke suaminya. Tanpa jejak satu pun, lenyap pesan Hilda di sana. Ia baru mulai akan membina rumah tangga yang sebenarnya, berharap tidak ada lagi yang berusaha menyerang atau sengaja memisahkan mereka.
"Sayang, muka kamu kenapa? Siap-siap ya, terus mampir dulu ke rumah Mama, aku mau ganti baju," ujar pria itu setelah memasuki kamar.
"Hmm," jawab Inggit hanya dengan gumaman. Mereka meninggalkan rumah Romo masih terlalu pagi, rencananya menumpang sarapan di rumah Mama Diana pagi ini.
Suasana dingin membuat Inggit mengeratkan pelukannya di atas motor. Tanpa dikomando, mereka sudah saling menempel tak terpisahkan. Jatuh cinta indah sekali, yang lain ngontrak saja.
__ADS_1