
"Kata siapa kotor, jelas-jelas mau gue pakai. Gila lo ya!" bentaknya kesal, tangan kirinya mendorong tubuh pria itu hingga mereka terjerembab ke atas ranjang bersama.
Dalam seperkian detik, mereka saling terdiam dengan respon tubuh yang membeku. Mata mereka saling bersirobok mengunci satu sama lain. Tatapan Biru tiba-tiba berpusat pada bibir istrinya yang seakan memanggil untuk mendekat.
Sial! Kenapa Inggit begitu menggoda, oh ... ayolah Biru jangan membuat dirimu malu.
Otak dan hatinya mulai tidak singkron. Desiran nadi yang berpacu mulai membisikan nada yang memacu aliran berbeda. Tubuh Biru merespon aktif, bahkan perasaan lain yang membuat Bondan mulai merengek minta hal yang lebih.
****! Ayolah Bondan, jangan nakal bekerja samalah yang baik!
Biru merutuki dirinya yang hampir menggila. Terlebih melihat Inggit yang sepertinya masih syok dengan posisi yang tengah dialami. Pria itu jelas ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Otak kananya bekerja dengan baik,membangun kreatifitas hati untuk menciptakan suasana hangat lagi harmonis. Saat tiba-tiba Biru mulai mengikis jarak, gadis itu mulai pulih dari rasa yang sesungguhnya. Inggit membuang muka sehingga Biru tidak berhasil menemukan apa yang dia mau.
Scene yang paling dihindari Inggit, terjadi kontak fisik dalam bentuk apapun. Jelas ini membuat Inggit tidak bisa menerima perlakuan Biru yang mendadak aneh. Dirinya bahkan merasa malu, tapi kenapa pria itu malah mendekat, respon paling konyol yang membuat tindakan Impulsif Inggit terjadi dengan terang. Gadis itu bahkan berusaha mendorong tubuh Biru hingga bergeser ke samping.
Inggit langsung berdiri ketika Biru tidak menindihnya lagi. Gadis itu merapikan tatanan rambut yang jelas berantakan, dan pakaian yang sedikit lusuh lalu pergi meninggalkan kamar dengan perasaan yang entah. Gadis itu akhirnya menyambar sepatu sepatu seadanya, yang dianggap paling pas dengan tatanan pakaiannya.
Inggit melangkah gontai, meninggalkan rumah dengan mengatur degup jantungnya yang masih tidak baik-baik saja. Berdekatan dengan Biru kadang membuat gadis itu bingung cara menyikapinya itu. Langkahnya terhenti tepat di samping motor Biru yang terparkir rapi. Otak cerdasnya berfungsi dengan lihai tanpa harus di bantah. Perempuan itu mengulum senyum membayangkan Biru yang uring-uringan.
Sementara Biru masih terdiam di atas ranjang dengan tubuh telentang, dan mata terpejam. Pria itu berusaha menyelami hatinya yang mulai goyah.
"****!" Ia mungumpat kesal merutuki hatinya dan pertahanannya yang hampir saja goyah. Ini jelas memalukan, dalam adegan apapun, Biru tidak pernah di tolak oleh pesona wanita manapun. Tapi sekarang, bahkan istrinya sepertinya tidak tertarik dengan dirinya. Pria itu bangkit dari kasur merasa pening yang luar biasa.
Tubuh naken-nya ia bawa ke kamar mandi. Sesuatu yang di bawah sana meminta untuk dituntaskan. Inggit benar-benar membuat Bondan menjerit dan gelisah. Pria itu mandi untuk yang ke dua kalinya.
"Hanya bersentuhan dengan Inggit sedikit saja, kenapa tubuhku lain, terlebih Bondan nakal sekali," gumam Biru kesal.
Biru merasa harus waspada dengan jenis wanita yang berstatus istrinya itu. Takut-takut salah alamat dan buntu alias tidak bisa pulang, atau secara kasarnya jatuh cinta namun tak terbalas.
Setelah melakukan mandi seasons dua, pria itu segera bersiap dan melangkah ke luar rumah. Ia cukup syok menemukan motor kesayangannya itu tidak baik-baik saja.
"Inggit!!!" pekiknya cukup membuat burung-burung yang sedang bertengger beterbangan kaget. Biru menendang bannya yang kempes dengan sepatu mahalnya.
Sementara Inggit tertawa puas seraya menuju tempat lokasi. Ares sudah lumayan lama menunggu, pria itu langsung tersenyum semangat melihat kedatangan Inggit yang menghampirinya.
__ADS_1
"Sorry, lama ya?" sesal Inggit mengambil duduk di depan Ares.
"Sedikit kesal, tapi banyak senengnya setelah lihat kamu datang."
"Ish ... mulai deh, gombalan bang Ares bikin adek nggak kuat." Mereka terkekeh bersama.
"Langsung jalan, atau mau makan dulu," tawar pria itu.
"Terserah kamu aja Res, ngikut aja aku mah."
"Nggit, panggilan kita biar tetep kaya gini ya, aku kamu, jangan pakai lo gue lagi, biar makin dekat," ujar Ares tersenyum.
"Iya, semoga nih lidah nggak keseleo."
"Kalau keseleo panggil sayang juga nggak pa-pa," jawab Ares antusias.
"Duh ... gue berasa obat nyamuk di sini," celetuk Edo yang sedari tadi berdiam diri.
"Lo pulang aja sana, gangguin orang kencan aja," usir Ares.
Ares mengangguk, sebenarnya ia tidak pernah berlaku formal selain di kantor. Edo sahabat Ares yang merangkap sebagai asisten ya itu yang membantu Ares di kantor. Usia mereka beda dua tahun, mereka berteman semenjak kecil.
"Edo kenapa di usir, biarin nonton bareng kita," ujarnya merasa kasian.
"Biarin lah, tuh anak banyak chanelnya. Kuy lah, udah beli tiketnya belum, mau nonton apa?"
"Aku tim hore aja lah, mengikutimu kemanapun kamu pergi."
"Beneran, gue bawa ke pelaminan mau nggak?" tanyanya mendadak serius.
"Ish ... becanda kamu nggak lucu," Inggit mencebik dengan muka manyun.
Ares tersenyum lalu mengekor Inggit yang berjalan mendahului. Mereka menuju gedung bioskop tempat yang menjadi tujuan mereka.
__ADS_1
"Ini kencan pertama kita kah?" tanya Ares basa basi.
"Kapan kita jadian, gue berasa kaya lagi selingkuh," jawab Inggit jujur. Perempuan itu terkekeh sendiri.
"Anggap saja begitu, suami di atas kertas kamu tahu kita di sini?" tanyanya penasaran.
"Mungkin," jawab Inggit sambil menerawang. Perempuan itu telah Mengempeskan motor Biru, jadi kemungkinan pria itu akan berangkat terlambat atau bahkan sama sekali tidak berangkat.
Inggit tiba-tiba tersenyum sendiri membayangkan kejahilannya terhadap Biru. Dirinya jelas dendam dengan manusia batu itu.
"Kamu kenapa senyum-senyum?"
"Lagi pengen senyum aja."
"Manis," celetuk pria itu.
"Jangan lihatin terus entar naksir, istri orang loh dosa."
"Biarin aja, yang punya juga nggak peduli," jawabnya sekenanya.
"Duh ... kasian banget ya aku, mengsedih," jawab Inggit mendrama.
"Inggit!" seru Nathan menghampiri mereka. Nathan datang bersama Hilda dan juga Biru. Devan dengan kekasihnya.
"Kok lo bareng sama Ares?" tanya Nathan menyorot sedikit kesal.
"Cie ... diam-diam kalian janjian," ledek Hilda. Perempuan itu menggandeng lengan Biru.
Biru tidak menanggapi, masih kesal, marah ditambah melihat Inggit bersama Ares membuat pria itu menahan gondok yang melingkupi hati.
"Sorry Than, kalah cepet lo, gue udah ajak Inggit duluan," ucap Ares percaya diri. Melirik Biru acuh dan sama sekali tak peduli dengan tatapan tidak ramahnya.
"Ayo, Nggit, masuk, beli cemilan dulu ya buat teman nonton." Ares menarik tangan Inggit dan menggandengnya.
__ADS_1
Mata Biru menyorot tajam tangan mereka yang saling bertautan. Bahkan, Inggit sama sekali tidak melihat dirinya sedikit pun, perempuan itu berlalu dengan muka ceria.