
"Sorry, Nggit, sakit ya?" pria itu meniup-niup lembut dengan wajah cemas. Inggit langsung memundurkan tempat duduknya, menghindar dari wajah Biru yang begitu dekat.
"Enggak, nggak pa-pa, ini cuma kena sedikit," jawab Inggit gugup. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Biru dalam diam.
Inggit masuk ke dalam dan menuju kotak obat, saat ingin meraih tak disangka Biru menyerobot dari belakang. Dalam seperkian detik, terjadilah gerakan saling tabrak tangan mereka karena mengambil obat yang sama.
"Biar aku bantu obatin, Nggit. Itu pasti sakit," ujarnya tak mau di bantah. "Kamu cukup diam, dan jangan menyela apapun yang aku kerjakan," imbuhnya lagi.
Inggit menelan salivanya gugup, saat tiba-tiba Biru berjongkok dan mulai mengoles obat pada pangkal p*ha istrinya. Ia menunduk, memperhatikan dengan detail pria di bawahnya yang memberi perhatian cukup telaten. Biru mengoles dengan gerakan hati-hati dan sangat lembut, sesekali meniup barang kali Inggit merasa perih. Biru mencuri pandang pada wanita yang tengah menunduk memperhatikan dirinya.
"Sakit?" tanyanya dengan bibir membuat lengkungan. Inggit hanya menggeleng pelan, terlalu membingungkan perlakuan manis Biru. Setahu Inggit, Biru bukan tipe cowok yang perhatian dengan kekasihnya sekali pun, ia tentu saja tahu dari Hilda. Ngomong-ngomong soal Hilda, Inggit baru menyadarinya.
Deg
Tiba-tiba jantung Inggit berpacu dengan cepat, rasa lembut yang mulai bersarang membuyarkan laju pikirannya, ketika mengingat pria di depannya pacar sahabatnya. Inggit buru-buru mundur selangkah.
"Cukup Al, terimakasih," ucap Inggit sungguh-sungguh. Biru menatap kecewa, Ia tahu Inggit baru saja menghindarinya, entah apa yang bersarang di pikirannya, yang jelas Biru melakukan itu dengan tulus.
Biru berdiri, mengembalikan obat yang menyisakan isi lebih dari separonya ke dalam kotak obat di sana. Berjalan menuju wastafel, mencuci tangannya dengan bersih. Semua ia lakukan dengan perlahan dan pikiran mengambang. Terlalu banyak menerka, hingga pria itu lelah membaca pikiran Inggit. Terlalu sulit wanita seperti dia di pahami hatinya. Galak tak juga takut, lembut tak juga jinak. Inggit terlalu unik, ia sungguh berbeda dari jenis wanita mana pun yang pernah dekat dengannya.
Sementara Biru sibuk dengan pikirannya sendiri, Inggit justru mulai gusar dengan sikap Biru yang tiba-tiba care, dan manis. Hatinya tiba-tiba mendadak nyeri mengingat fakta pernikahan mereka hanya formalitas saja.
__ADS_1
"Nggit, laptop sama handphone kamu aku taruh di sini ya." Biru masuk ke kamar dan menaruh laptop dan lainnya di meja, sebelahan dengan laptop pria itu. Di kamar ada dua meja dan dua kursi belajar, tetapi mereka jarang menggunakannya bersama sebab mereka memang tidak pernah belajar bersama di kamar.
"Iya, makasih Al," jawab Inggit datar. Inggit merasa kesal ketika Biru tak kunjung keluar dari kamar, dan malah duduk dengan tenang di bibir kasur bagiannya.
Ini orang ngapain ngikutin gue mulu sih, mana lihatin gue terus, cewek mana coba yang nggak salting.
"Nggit, hujannya sudah reda, ayo!" seru Biru semangat.
"Ayo?" Inggit membeo dengan kening berkerut.
"Ke rumah mama, Nggit. Mama kangen sama kamu," ujar pria itu menyerukan amanat.
Inggit terlihat bingung, namun Biru tidak mau tahu. Pria itu cuek saja dan menuju lemari mengeluarkan pakaian yang hendak di pakai. Inggit langsung membuang muka begitu melihat pergerakan Biru yang mengganti kausnya begitu saja. Biru melirik gadisnya, dan tersenyum gemas setiap melihat Inggit yang malu karena ulahnya. Tentu saja pria itu sengaja, ia menantikan respon dari Inggit terhadap dirinya.
"Kamu ganti baju dulu, aku tunggu di luar, sekalian jangan lupa membawa jadwal untuk makul besok, siapa tahu mama menyuruh kita menginap, sepertinya kita akan lama, karena mama bilang ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama kamu," jelas Biru panjang lebar.
Inggit beranjak dari kasur, segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan dan menata jadwal seperti yang Biru lakukan. Mereka mengunci pintu terlebih dahulu sebelum beranjak dari rumah.
"Ayo!" seru Biru mengangguk. Inggit segera mengambil duduk di belakang Biru, hari sudah hampir maghrib ketika mereka berangkat. Biru melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setengah perjalanan, pria itu menepikan motornya di halaman masjid yang cukup luas. Inggit diam saja ketika Biru menghentikan laju motornya di sana.
"Maghriban dulu di sini, waktunya cuma sedikit dan kita tidak tahu di perjalanan nanti bakal seperti apa, kita sholat dulu di sini ya?" ujar Biru turun. Inggit cukup melongo di buatnya, ia baru tahu sisi Biru yang lainnya. Inggit mengangguk, ia berjalan ke tempat wudhu bagian wanita, kembali masuk dan menuju saf di bilik kiri.
__ADS_1
Saat Inggit tengah melipat mukena, sudut matanya menangkap bayangan Biru yang sudah beranjak dari sana. Pria itu duduk di undakan teras seraya mengenakan sepatunya kembali. Ia mengangguk dengan senyum tipis yang mengulas di wajahnya. Ke mana Biru yang keras kepala, Biru yang sombong, dan player nomor wahid, nyaris tak terlihat dari sudut pandang manapun. Ada apa dengan anak itu, apa pria itu baru saja jatuh dan mengalami benturan pada otaknya. Atau yang selama ini Inggit lihat kembarannya.
"Nggit, ayo! Kok malah melamun sih," tegur Biru mendapati istrinya diam saja.
"Owh iya." Inggit segera menormalkan ekspresi wajahnya. Giliran Biru yang tak kunjung beranjak, memperhatikan gadis di depannya dengan diam, ia melepaskan jaket yang membungkus tubuhnya dan menyampirkan pada bahu istrinya.
"Udara malam sangat dingin, kenapa nggak bawa jaket, nanti kamu bisa sakit," ucap pria itu perhatian. Lagi-lagi, Inggit di buat bingung dengan perhatian Biru, bahkan Inggit tak pandai menyela saat pria itu bergerak membantu mengenakannya.
"Tapi kamu juga dingin, sepertinya kamu lebih butuh karena kamu mengemudi," tolak Inggit cukup beralasan.
"Kamu bisa menghangatkan tubuhku dengan memeluk aku dari belakang," jawabnya spontan. Inggit mendelik kaget.
"Kamu aja yang pakai," cepat Inggit berusaha melepas jaketnya kembali.
"Eh, jangan! Canda, Nggit, aku bercanda, jangan di lepas nanti kamu masuk angin, kata mama, perempuan tidak boleh sakit."
"Kenapa?"
"Jawabnya nanti aja setelah sampai, ayo buruan, mama sama papa pasti sudah menunggu kita." Baru beberapa detik motor Biru melaju, pria itu menghentikan dengan gerakan mendadak, Inggit di jok belakang sampai hampir oleng, spontan gadis itu mencari pegangan.
"Pelan-pelan dong Al, kalau mau berhenti, emangnya ada apaan sih?" tanyanya kesal. Biru tersenyum senang melirik bagian pinggangnya saat tangan Inggit mencengkram kuat kaus yang ia kenakan.
__ADS_1
"Emm ... tadi lupa belum baca doa, pegangan yang kuat Nggit, aku mau ngebut, sepertinya mau turun hujan lagi." Pria itu mengambil tangan kiri dan kanan Inggit, lalu menautkan jari-jemarinya agar mengunci tubuhnya.