Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 32


__ADS_3

"Astaghfirullah ... Biru! Lo ngagetin aja sih!" Inggit terjingkat kaget mendapati Biru yang tiba-tiba muncul di belakang punggungnya.


Biru bergeming, mengamati penampilan Inggit tanpa berkedip. Pria itu tidak menyadari tindakannya membuat Inggit merasa risih.


"Apa! Lo lihat-lihat!" tegurnya sengit.


Biru terkesiap kaget, memutar otak untuk menyangkalnya.


"Nggak ada ya, nggak usah ge er, dan sok kecakepan," jawabnya menjengkelkan. Selalu ada perdebatan diantara mereka, setiap pertemuan tak ubah kebencian yang selalu menyala.


Inggit mengedikkan bahu acuh, menatap layar ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Sumpah demi apapun, saat ini Biru kepo maksimal.


"Lo jadi pergi? Pakaian lo nggak banget, mending diganti deh, itu bisa membuat orang menatap napsu." Tiba-tiba mulut munafiknya menegur istrinya begitu nyata. Inggit spontan meneliti penampilannya. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang terbuka, hanya sedikit pendek di atas lutut, dan itu terlihat manis di padukan dengan jaket denim.


"Termasuk lo maksudnya?" tuduh Inggit cuek. Biru terkekeh sinis.


"Pede banget sih jadi orang, gue nggak doyan sama lo, nggak usah khawatir lah," sanggahnya cepat penuh ejekan.


"Bagus deh, soalnya gue juga nggak minat sama lo," jawab Inggit sengit. Menyambar sling bag yang teronggok di atas ranjang dan segera meninggalkan ruangan. Satu ruangan dengan Biru selalu membuat frekuensi emosinya tidak stabil, dan memicu pertengkaran yang cukup menguras energi.


"Nggit, gue bilang ganti ya ganti!" Biru mengekor Inggit yang berjalan keluar kamar, menarik gadis itu dan membawanya ke kamar.


"Apaan sih, maksa banget jadi orang, ini tuh udah pas, lagian lo tuh aneh, gue mau pakai baju kaya apa juga terserah gue, kenapa jadi lo yang repot!" omelnya ketus.


"Lo tuh dibilangin ngeyel banget sih, gue cuma ingetin lo, di luar sana banyak cowok yang nggak bener, lo mau tubuh lo jadi santapan mata banyak orang." Biru mendadak kesal karena istrinya semakin pembangkang dan ngeyelan.


"Kok lo ngatur gue sih, hello ... apanya yang berlebihan Biru, lo nggak jelas banget tahu nggak, minggir gue mau lewat," tepis Inggit kesal.

__ADS_1


"Nggak! Pokoknya kalau nggak ganti nggak boleh keluar, terserah!" Biru menghadang Inggit menghalangi jalan.


"Lo emang nggak jelas jadi cowok, rese', ngeselin, bikin bete," kesal Inggit dongkol sekali. Sebentar lagi bahkan ia akan berangkat eh malah gangguan menghadang.


"Iya, gue ganti, PUAS!" jawab Inggit akhirnya mengalah, dari pada gagal pergi, lebih baik gadis itu menurut.


"Terus, ngapain masih di sini? Sana keluar, gue mau ganti!" usirnya ketus.


"Iya, gue keluar, sans dong ... siapa juga yang mau lihatin lo ganti pakaian."


"Awas, jangan ngintip!" Inggit menutup pintu sedikit keras, sekalian menumpahkan kekesalannya yang begitu nyata.


"Tuh orang nggak jelas banget sih, pendek juga masih wajar, ngomel mulu, protes mulu kerjaannya, dasar si batu sialan!" Inggit menggerutu sepanjang di kamar. Dengan malas gadis itu mengganti setelan outfitnya.


Cukup singkat, lima belas menit gadis itu mengubah style penampilannya. Ia mengganti dengan rok plisket yang sedikit panjang di padukan dengan atasan korean blouse. Gadis itu keluar dengan kalem, berharap tidak menemukan suaminya yang mendadak cerewet meneliti dirinya.


"Apa! Belum pernah lihat cewek cantik, nggak usah protes, karena ini udah style gue yang paling pas, lo mau nyuruh sampai mulut lo berbusa pun gue nggak mau denger," jelas gadis itu menatap Biru sengit, syarat akan permusuhan.


Biru bergeming dengan cengiran di hatinya. Sepertinya tidak ada hal yang menarik dalam hidupnya selain membuat kejailan terhadap istrinya. Ia tersenyum melihat Inggit yang mondar mandir nggak jelas.


"Katanya mau berangkat, kok belum pergi?" selorohnya. Ini jelas ledekan paling menyebalkan sepanjang seatap.


"Lo lihat sepatu gue nggak? Lo sengaja umpetin 'kan?" tuduh Inggit to the point.


"Kurang kerjaan banget ngumpetin sepatu lo, salah naruh kalee," jawab pria itu cuek.


"Nggak mungkin lah salah naruh, udah jelas-jelas tuh di sini di depan pintu sini gue taroh, mana? Lo sengaja 'kan ngerjain gue?"

__ADS_1


"Nggak usah asal nuduh, mana tahu lo lupa." Biru malah rebahan di sofa tanpa dosa.


"Biru! Di rumah ini tuh cuma ada kita berdua, artinya ... kalau barang-barang gue ada yang ilang, itu pasti ulah lo, lo yang nyolong 'kan? Balikin nggak!" Nada bicara Inggit sudah naik beberapa oktaf, memekik dengan keras di depan pria yang terlihat teramat santai itu.


"Ish ... nggak percaya ya sudah, ribet amat jadi orang," jawab Biru cuek meninggalkan Inggit di ruang tengah dalam kebingungan.


Biru masuk ke kamar dan melesat ke kamar mandi, ia menyalakan keran air dan tertawa puas tanpa dosa.


"Syukurin nggak jadi pergi, enak aja jalan sama cowok lain! Eh, kok gue seneng kalau Inggit nggak jadi pergi, ada apa dengan otak gue??


Inggit masih menggerutu, ia bersumpah akan membalas bila benar ini perbuatan Biru. Bisa-bisanya itu orang rese' dan tak berperikemanusiaan. Apa motif dari semua ini? Sepertinya pria itu memang senang melihat Inggit yang uring-uringan. Gadis itu terus mencari sepatu yang sudah di siapkan, itu sepatu kesayangannya. Ada banyak sepatu yang lainnya, tapi Inggit sudah memilih sepatu yang ingin di pakai, tetiba hilang rasanya jadi kesal sendiri.


Inggit berjalan gontai kebelakang, mengambil minum dan menetralkan emosi jiwa yang melanda. Ia memberi pesan untuk Ares bahwa dirinya sedikit terlambat, sebab ada sesuatu yang harus diselesaikan. Mereka sudah mengatur waktu untuk bertemu di tempat yang telah disepakati.


"BIRU!!!" Inggit memekik kesal menemukan sepatu dirinya sudah berada di dalam ember berisi air. Ia mengangkat sepatu tersebut dan sudah basah.


"Astaghfirullah ... " Inggit mengelus dadanya dramatis. Ingin sekali membalas dengan menjambak dan mencakar muka tampannya yang teramat menyebalkan itu.


Gadis itu membuka pintu dengan kasar dan melempar sepatu miliknya yang basah ke tubuh pria yang baru selesai mandi itu.


"Aww ... sakit Inggit!" desis Biru mengaduh, tubuh polosnya tertimpuk sepatu yang lumayan keras. Pria itu baru saja selesai mandi dan masih bertelanjang dada. Hanya berbalut handuk saja, namun karena kesal Inggit langsung menyerang.


"Itu ulah lo 'kan? Rese' banget jadi orang." Inggit maju lebih dekat, tangannya bersiap menampar Biru yang berdiri dengan muka songong dan dingin tanpa dosa.


"Sepatu lo kotor, ya gue rendam aja," jawabnya datar. Menangkap tangan Inggit yang mengudara.


"Kata siapa kotor, jelas-jelas mau gue pakai. Gila lo ya!" bentaknya kesal, tangan kirinya mendorong tubuh pria itu hingga mereka terjerembab ke atas ranjang bersama.

__ADS_1


__ADS_2