
"Masuk ke kamar, Nggit, jangan keluar sampai semua jelas, terkecuali untuk pergi ke kampus," titah Romo lantang, syarat amarah yang nyata. Hati Biru sakit melihat istrinya kena marah ayahnya yang Biru sendiri belum tahu persis apa penyebabnya.
"Romo, Biru berjanji akan segera menuntaskan masalah ini, bisakah Biru bertemu dan mengobrol dengan Inggit?" mohonnya sendu.
"Inggit! Romo bilang masuk ya masuk!" Inggit yang sebenarnya juga ingin menyampaikan sesuatu pada Biru, menatap sendu pria yang terlihat cemas itu. Inggit tak kuasa menentang Romo, gadis itu menurut, berlari meninggalkan ruangan dengan perasaan hancur.
"Kamu ngapain ke sini, saya tidak mengijinkan lagi kamu menjemput Inggit ataupun menjalin hubungan dengannya. Sudah cukup anak saya menderita. Kami masih punya harga diri Biru, kalau kamu tidak mencintainya setidaknya kamu bisa menghargai pernikahan kalian. Kamu bisa bicarakan semua ini baik-baik. Kamu bisa kembalikan Inggit ke Romo baik-baik. Kamu pikir hanya karena keluarga kamu sudah banyak membantu, terus bisa seenaknya menjadikan anak Romo sebagai tumbal kamu."
"Apa maksud Romo, Biru mencintai Inggit, Romo, Biru ingin menjemputnya." Biru benar-benar tidak paham duduk masalah yang tengah diributkan antara anak dan Ayah itu.
"Kamu tidak perlu repot-repot menjemput anak Romo, Romo salah memilihkanmu menjadi bagian dari keluarga, anak Romo bahkan menderita hanya untuk menjaga perasaan tua bangka seperti diriku, Inggit diam saja dengan ulahmu selama ini. Keluar kamu Biru, urus wanitamu saja!" Romo sampai berdiri, ia menekan dada kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri dan berat.
"Sabar, Mas, kamu tidak boleh terlalu emosi. Nak Biru, sebaiknya kamu pulang dulu Nak, Romo masih syok dengan kejadian dan berita ini."
"Tapi Bu, berita apa, wanita yang mana? Biru tidak mengerti dengan apa yang Romo dan Ibu maksud."
"Kamu!" Romo hendak angkat bicara lagi, namun sepertinya dadanya lebih sakit, alhasil Bu Tami segera memapah ke dalam kamar, sementara Biru sendiri kebingungan, ia tidak tahu harus berbuat apa. Inggit yang menangis tidak bisa ditemui, dan Romo yang murka, dengan jelas meminta untuk berpisah.
"Ya Tuhan ... ada apa ini, aku pikir masalah akan berakhir dan aku bisa hidup tenang dengan istriku, tapi ternyata ujian ini belum berakhir. Sabar sayang, aku akan segera menjemputmu, tunggu aku, Inggit, aku mencintaimu," gumam Biru lirih, meninggalkan rumah itu dan kembali pulang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
Teman-teman Biru juga sudah memberi kabar, mereka pulang terlebih dahulu. Ares berjanji akan menyerahkan bukti itu pada pihak kampus. Pria itu harus bergerak cepat, untuk menuntaskan kasus yang melibatkan seseorang yang berhasil mengusik hatinya. Walaupun tidak sempat memiliki, namun ia bahagia bisa menjadi bagian yang bisa bermanfaat untuk perempuan itu. Cinta sejati, memang setulus itu. Ia akan rela berkorban, demi melihat orang yang ia cintai bahagia.
Sementara Biru yang masih diliputi rasa yang entah, ia pulang berharap menemukan kedamaian dan ketenangan hati. Setelah melihat pujaan hatinya tengah menangis, Biru begitu terluka.
"Ada apa denganmu, Inggit? Kenapa ponselmu mati?" gumam Biru semakin cemas. Tidak mendapat penjelasan, tidak ada komunikasi, dan tidak bisa bertemu, lengkap sudah penderitaan yang tersaji.
"Ini dia anak kurang ajarnya sudah pulang!" seru Papa tiba-tiba. Menghampiri putranya dan langsung menamparnya begitu saja.
"Dasar, anak tidak tahu diri, Papa sudah memperingatkan kamu jauh-jauh hari, kenapa begitu bo*doh dan ceroboh, sampai memalukan Papa sejauh ini! Hah!" Geram Pak Rasdan begitu murka. Entah apalagi yang membuat pria berumur itu sangat marah.
"Jangan kasar, Pah, tolong kendalikan emosi Papa!" Bu Diana berseru lantang.
"Pah, ini kenapa? Tolong, Biru tidak mengerti dengan apa yang Papa katakan, yang halal, yang haram? Apa maksudnya, Pa?" Biru masih belum jelas ke arah duduk permasalahannya. Pria itu semakin bingung dan dibuat pusing.
"Mantan pacar kamu hamil, dan meminta pertanggung jawaban ke sini?" ucap Mama Diana seraya berkaca-kaca.
"Apa?" Biru syok seketika, ia tidak menyangka wanita binal itu berani mendatangi rumahnya dan membuat pengakuan senekat itu.
"Ma, Pa, Biru memang pernah salah, tetapi Biru berani bersumpah, semejak Biru menikah dengan Inggit, Biru tidak lagi tidur dengan wanita lain manapun. Itu tidak mungkin anak Biru, Ma, Pa, tolong percaya."
__ADS_1
"Papa benar-benar tidak tahu lagi cara mengajarkan kamu, Papa menyerah, kalau benar wanita itu terbukti mengandung anakmu, silahkan kamu angkat kaki dari rumah dan jangan pernah kembali, Papa tidak mempunyai anak yang bejad, Papa masih mentolerir sikap kemarin-kemarin kamu Biru, tetapi untuk kasus ini, Papa benar-benar marah, selain karena kamu mencoreng nama baik keluarga, kamu menghancurkan kekeluargaan Papa dan Pak Tama."
"Asal kamu tahu Biru, walaupun Papa banyak membantu keuangan keluarga istrimu, itu sama sekali tidak sebanding dengan balas budi yang telah Tama lakukan, kita berhutang budi banyak Biru. Kamu tahu, saat awal-awal Papa masih susah merintis karir, hanya Tama yang menerima dengan tangan terbuka uluran kasih sayangnya. Waktu itu, kamu sakit, kamu kecil sakit-sakitan, saat Papa sibuk mencari pinjaman ke sana ke mari, Tama yang nolongin kami dengan memberi pinjaman, padahal itu adalah tabungan beliau yang ia kumpulin dengan susah payah untuk sekolah Inggit melanjutkan sekolah."
"Dengan adanya kasus ini, Tama begitu kecewa dan marah dengan Papa, dan memutuskan kekeluargaan. Kamu benar-benar membuat Papa kecewa."
"Maafkan, Biru, Pa, maaf, Biru bersalah. Tapi Biru akan membuktikan, kalau itu bukan anak Biru." Biru bersimpuh di lantai dengan tangis sesenggukan. Hatinya hancur tak berbentuk, harapan untuk merajut asa setelah mendengar bukti pengakuan Hilda seakan tak berarti. Hubungan mereka tetap ditentang.
Pak Rasdan meninggalkan putranya begitu saja yang masih memohon ampun nelangsa. Sementara Mama Diana, mencoba membantu putranya berdiri.
"Bangun sayang, laki-laki tidak diciptakan untuk cengeng, Mama tidak membelamu, kesalahanmu sungguh fatal, Mama juga tidak akan merestuimu, sama seperti Papa. Tapi, Mama tidak ingin membuat anak Mama menjadi pengecut dan tidak bertanggung jawab, kalau memang itu terbukti anakmu, kamu harus berani bertanggung jawab."
"Ma, Biru yakin seratus persen itu bukan anak Biru, Hilda itu tidur dengan banyak pria, jadi ... Biru tidak mau bertanggung jawab," jawabnya yakin.
"Mama tidak tahu seperti apa kenyataannya, tapi yang jelas, Mama kecewa dan sakit hati. Mama pikir, kamu hanya bermain, bukan membuat anak orang hamil? Itu namanya kelewat batas, Biru! Jika Mama di posisi Inggit waktu itu, sudah dari sejak awal Mama meninggalkan pria seperti dirimu."
"Ma, tolong percaya, Ma, Biru beneran sudah bertaubat, Biru hanya mencintai Inggit dan akan menjalani rumah tangga dengan sebenar-benarnya. Tolong, bantu Biru buat yakinin semua orang."
"Yang bisa yakinin masalah ini, kamu sendiri Biru. Kamu sudah membuat banyak hati terluka."
__ADS_1