Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 98


__ADS_3

"Ayo masuk!" Biru menyeru sekaligus menuntun istrinya. Berjalan mendekati meja resepsionis, memesan layanan kamar, menerima kunci dan membayarnya. Tak lupa pria itu menunjukkan kartu pengenal diri, dan foto buku nikah mereka sebagai tanda mereka halal memesan satu kamar di sana. Mengingat perempuan yang Biru gandeng masih begitu unyu, lebih tepatnya takut dikira pasangan mesum.


Biru memutar kunci dengan cepat, mendorong pintu kayu itu dan segera menempati ruangan. Inggit mengekor di belakangnya dengan tatapan mencurigai.


"Apa lihat-lihat!" kata perempuan itu menahan tawa.


"Halal bagiku atas apa yang melekat pada tubuhmu," ucapnya menatap perempuan itu begitu lekat.


"Hmm ... kamu udah nggak marah?" tanya Inggit dengan polosnya.


"Marah lah, awas aja kalau sampai kejadian tadi terulang lagi, akan aku bunuh pria itu," jawabnya cukup mengerikan.


"Serem amad, masuk penjara dong," celotehnya sukses membuat pria yang tengah melepas sepatu itu mrengut.


"Mandi dulu, gerah," jawab pria itu mulai melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya, dan menyampirkan pada gantungan yang tersedia.


Biru tengah membersihkan diri di kamar mandi, sementara Inggit sendiri sibuk berbalas pesan dengan Okta. Perempuan itu curhat mengenai kejadian tadi, hingga sekarang berujung di penginapan. Mereka mengganti dengan bertelepon, Okta yang paham malah ngeledek habis-habisan tentang Biru yang membawanya ke hotel.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi perempuan yang tengah sibuk curhat lewat benda pipih itu. Biru mencurinya dari belakang.


"Mandi," bisiknya lirih pas di belakang telingannya yang terbebas dari ponsel.


Inggit buru-buru menutup teleponnya, perempuan itu melangkah cepat ke kamar mandi. Rasa penat dan lelah membuat ia betah berlama-lama membersihkan diri.


"Astaghfirullah ... ngagetin aja sih Mas," tegur perempuan itu sembari mengusap dadanya. Menemukan Biru yang berdiri di depan kamar mandi, menyender tembok dengan melipat tangannya.


"Lama amad sih, Dek," katanya seraya menatap perempuan itu begitu dalam.

__ADS_1


Perempuan itu berlalu begitu saja, melewati suaminya yang terus mengekornya. Inggit duduk di tepian ranjang, tangannya yang sibuk mengeringkan rambutnya yang basah digantikan Biru dengan suka rela.


"Mas bantuin ya?" pinta pria itu lembut. Keduanya duduk di pinggir ranjang saling berhadapan. Tangan pria itu masih setia mengeringkan rambut basah istrinya.


"Udah, sayang," bisik pria itu mulai berlabuh di leher jenjangnya.


"Mas, aku masih boleh lanjut kegiatan 'kan?" tanya perempuan itu memastikan.


"Nggak boleh kalau dekat-dekat sama pria manapun, setiap malam aku akan menyusulmu dan memastikan itu," jawab pria itu. Tangannya sibuk membuka tali bathrobe istrinya.


"Mas!" Inggit menahan tangan pria itu yang bergerak nakal.


"Hmm ... kenapa?" Mata mereka saling bersirobok, ada gai*rah yang menyala di sana.


Tak ingin mununda waktu, pria itu langsung menyambar bibir ranum istrinya yang hampir tiga minggu ini tak tersentuh. Al menjeda sebentar, kembali menatap netranya lekat.


"Aku rindu, aku kangen sayang ...." ucap pria itu kembali mempertemukan bibir mereka.


Melihat istrinya yang sudah tidak berdaya karena ulahnya, pria itu tersenyum puas seraya membuai ke alam mimpi.


"Istirahat lah, sisakan energimu untuk besok pagi, Mas akan meminta kembali," ucapnya gemas sendiri.


Inggit tidak merepon apapun, perempuan itu sudah setengah di ambang mimpi. Merasakan lelahnya tubuh di sana sini. Al memintanya berkali-kali.


Pagi harinya, saat perempuan itu terjaga, suaminya sudah lebih awal membuka mata.


"Morning sayang," sapa pria itu langsung menghadiahi dengan kecupan mesra.


"Kamu udah bangun, jam berapa ini, kita harus kembali ke posko," ucap Inggit mengingatkan.

__ADS_1


"Kamu bisa jalan nggak?" selorohnya tersenyum.


"Hah! Sepertinya susah, ah ... ini masih terasa nyeri," keluh perempuan itu ketika bangkit dari pembaringan.


"Gimana dong, aku masih mau sekali lagi," ucap pria itu tanpa dosa. Inggit yang sudah lemes tambah tidak bersemangat.


"Ikh ... kok jahat!" kesal perempuan itu merajuk, satu cubitan mendarat di pinggangnya hingga membuat gelak tawa pria itu pecah.


"Aww ... sakit sayang, kok KDRT sih, ayo ... pelan-pelan saja," ujarnya mengerling.


"Mas ... nanti malam kalau memungkinkan, aku hari ini ada kegiatan, jangan mencuri energiku untuk siang nanti," negonya.


Pria itu giliran yang mrengut.


"Jangan ngambek dong Mas, semalam udah minta banyak, emang nggak capek pagi harus ngulang lagi?"


"Nggak," jawab Biru semangat.


Perempuan itu pun pasrah ketika suaminya sudah bergerak sesuai instingnya. Menyambangi lautan madu miliknya yang tak pernah puas pria itu rasakan. Bahkan merasa enggan untuk berpisah di pagi ini. Jika bukan karena waktu yang membatasi, keduanya masih ingin merajut sungai madu pernikahannya.


"Jangan cemberut gitu, senyum sayang, Mas jemput besok malam minggu," ujar pria itu menatap wajah ayu istrinya yang terlihat lelah. Berbeda dengan Biru yang semangat empat lima.


"Maaf, aku terlalu bersemangat, jangan nakal lagi, ingat pesan aku!" tegasnya sekali lagi sebelum pria itu melajukan motornya.


Biru mengantar istrinya ke posko kelompoknya. Sepanjang perjalanan pulang, Inggit menyender di punggung pria itu, kedua tangannya memeluk erat dari balik punggungnya. Tangan kanan Biru sibuk mengatur gas dalam stang sementara tangan lainyya bertumpu pada genggaman tangan istrinya. Sudut bibirnya tak henti menampilkan senyum.


Pria itu cukup mewanti-wanti pada Tama untuk meminimalisir kegiatan yang hanya berdua saja. Terutama untuk perempuan dan laki-laki dengan statusnya sudah menikah, tentu saja untuk menghindari fitnah. Tak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Walaupun khawatir, dan merasa cemburu harus mengembalikan istrinya pada kelompoknya, setidaknya ia masih mempunyai percaya penuh dalam hatinya.


"Baik-baik di sini sayang, aku kembali ke kelompokku ya, kabari setiap waktu, setelah berkegiatan, dan jangan coba-coba memberikan ponsel itu pada orang lain," peringatnya.

__ADS_1


"Hmm ...." jawab Inggit menerima uluran tangan suaminya dengan takzim. Pria itu mengacak lembut puncak kepalanya dengan senyuman menghiasi wajahnya.


__ADS_2