Diam-Diam Married

Diam-Diam Married
Part 51


__ADS_3

"Pah, kamar sebelah kenapa berisik sekali, Mama jadi kepo sepertinya terjadi sesuatu," curhat Mama Diana.


"Sudah Ma, jangan mikir macam-macam, kali aja mereka sedang berdiskusi," jawab Pak Rasdan datar.


"Pah, Papa gimana sih, coba dengerin baik-baik, sepertinya anak kita ...??" Mereka saling menatap. Mama Diana langsung bangkit dari ranjang dan berhambur ke luar kamar.


"Mau kemana Ma?" tanyanya, tapi ikut juga mengikuti langkah istrinya.


"Ssshhht ... jangan berisik Pah, Mama pingin denger, mereka sedang ngapain?" Mama Diana dan Papa Rasdan berjalan mengendap mendekati pintu kamar anaknya. Mama bahkan sampai menempelkan telinganya, selangkah lebih dekat hanya untuk mencuri dengar.


"Ma, kita kembali saja ke kamar, Mama ini apa-apa sih, kaya nggak pernah muda saja."


"Ssshhh ... pelankan suaramu Pah, Mama jadi nggak konsen nih," omel Mama seraya menajamkan pendengarannya.


Sementara di dalam kamar, Inggit dan Biru masih setia berebut selimut. Pasangan berlebel halal itu terus menyerukan pergulatan sengit di atas ranjang. Saling menarik satu sama lain, kadang terjungkal ke kanan dan ke kiri, hingga keduanya merasa lelah.


Mereka sama-sama merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king z itu secara telentang. Mengatur napas yang tak beraturan.


"Inggit, aku capek, bisakah kita berdamai untuk malam ini dan berbagi selimut bersama."


"Oh tidak bisa, aku tidak mau!" tolaknya masih ngos-ngosan.


"Aku gerah." Biru mengambil sikap duduk dan melepas kausnya.


"Eh! Apa-apaan? Pakai nggak?!" ancam Inggit ikut bangkit, ia sudah pasang kuda-kuda perlawanan dengan sejuta pikiran negatif bersarang di otaknya.


"Apaan sih, gerah, pasti mikir 'iya iya' ya," godanya menunjuk istrinya.


"Siaga itu perlu Al, mengingat yang di depannya buaya tak berperasaan!"


"Hais ... kamu terlalu jujur menilai diriku, tapi boong. Itu dulu, karena sekarang aku malah pingin jadi singa garang yang bersiap memangsamu. Hehehe." Biru terkekeh devil.


Inggit mendelik waspada. Biru semakin gencar menggoda. Inggit yang masih posisi terduduk di atas ranjang mundur teratur, sementara Biru bergerak mendekat hingga berhasil mengungkung istrinya setengah berbaring, jarak mereka sangat dekat, Inggit gelagapan sendiri dengan Biru yang polos tanpa baju.


Tuhan ... mati aku, tamat riwayatku malam ini.


"Al, aku haus," celetuknya jujur. Susah payah Inggit menelan salivanya gugup, satu tangannya menahan dada bidang suaminya agar tidak ambruk ke atas tubuhnya.


"Sama, aku juga haus, pingin nyusu!" jawab Biru spontan, tidak ada kata yang menyimpang, laki-laki berumur dua puluh satu tahun itu memang doyan susu ketimbang kopi. Namun tentu saja ditangkap lain oleh pendengaran gadis itu.


Inggit semakin melebarkan bola matanya, sementara Biru sendiri sudah menahan tawa melihat istrinya yang mati gaya. Biru melirik tangan Inggit yang menahan dadanya, menempel sempurna di dada pria itu, ia tersenyum menghayati. Cukup lama mereka terdiam, saling tatap hingga suara di luar pintu cukup mengusik. Kedua pasang netra mereka memindai pintu, Biru sedikit bergeser dan keduanya membenahi posisi mereka.


"Ayok!" Mereka bangkit bersama.


"Kemana?" tanyanya bingung

__ADS_1


Klek


Biru membuka pintu cukup lebar dan langsung menganga melihat kedua orang tuanya di depan pintu kamarnya. Sementara Inggit cukup terkejut dengan tingkah konyol mertuanya, seketika ia menjadi malu sendiri dan menunduk sungkan, pasti mertuanya itu berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


Mama Diana dan Papa Rasdan gelagapan sendiri menyusun alasan terciduk mencuri dengar.


"Mama, Papa, ngapain?" tanyanya dengan kening berkerut.


Mama Diana dan Papa Rasdan malah tersenyum kikuk, melongok kamar mereka yang ranjangnya tak ubah kaya kapal pecah, memindai penampilan mereka yang ... ya kalian bisa menyimpulkan sendiri, Inggit yang acak-acakan, dan Biru yang bertelanjang dada, sempurna sudah kecurigaan mereka.


"Emm ... tidak ada sayang, kita hanya sedang gabut, iya kan Pah," jawabnya ambigu.


"Oke sayang, semangat!" Mama Diana mengepalkan tangannya sementara Papa mengerling menggoda menatap putranya. "Lanjutkan! Ayo Pa kita juga lanjutkan tidurnya," pamitnya kikuk seraya mengangkat tangan menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membuat huruf O.


"Pah, sepertinya kita akan segera punya cucu!" pekiknya yang masih bisa didengar Biru dan Inggit dari tempat mereka berdiri sekarang.


Sepeninggalan kedua orang tuanya, baik Biru maupun Inggit saling melirik lalu melempar senyum tertahan. Keduanya baru tersadar, lalu mereka saling menunjuk satu sama lain dengan meneliti penampilan mereka yang antah berantah.


Inggit langsung membuang muka sengit melewati Biru begitu saja. Sementara Biru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Gue salah apa? Sabar Al, orang sabar pasti tambah ganteng.


Biru kembali ke kamar setelah sebelumnya pergi ke dapur untuk mengambil minum. Inggit bilang haus, jadi pria itu berinisiatif mengambilkan minuman untuknya. Sampai di kamar, ia menemukan istrinya sudah berbaring di sofa dengan posisi memunggungi arah masuk. Biru mendes@h pelan.


Tak ada jawaban, Biru sedikit mengintip dan ternyata istrinya itu sudah terlelap, dengkuran halusnya menunjukkan gadis itu sudah menyambangi alam mimpi.


"Dibilangin tidur di ranjang, bandel banget malah tidur di sofa," omelnya seraya memindah tubuh istrinya dengan hati-hati.


"Lucu sih, manis banget walau lagi tidur." Biru meneliti tubuh Inggit dari atas sampai ke bawah, hingga ke atas lagi. Ia memperhatikan detail lekuk tubuh istrinya. Ada hasrat yang seakan menarik untuk mendekat, entah apa yang terjadi dengan tubuhnya, ia merasakan Bondan mulai berulah.


"Astaghfirullah ... " Biru menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Merutuki hati dan pikirannya yang berani berpikir liar. Segera ia menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut, lalu meninggalkan jejak sayang di keningnya.


"Selamat beristirahat istriku, mimpikan aku ya," gumam pria itu lalu bangkit dari ranjang, ia memilih tidur di sofa demi menyelamatkan dirinya dari kejailan Bondan.


Pagi harinya saat Inggit terbangun, ia mendapati dirinya di ranjang, sementara Biru yang berada di sofa. Inggit ingat betul, semalam setelah membuat kerusuhan dengan Biru, cukup kelelahan dan langsung terlelap, sejenak Inggit berpikir, berinisiatif mengabaikan saja dan menuju kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, menemukan Biru yang baru saja bangun.


"Pagi bestie ... !" sapanya seraya menggerakkan otot-otot tangannya melentur ke kiri dan kanan. Inggit tidak menanggapi panggilan itu, ia kembali fokus meneliti isi tasnya menyiapkan untuk dibawa ke kampus.


Biru merampungkan mandi pagi dengan cepat, kebiasaan pria itu selalu bertelanjang dada setelah membersihkan tubuhnya. Sementara Inggit sendiri tengah merapikan ranjang yang teramat berantakan.


"Nggit, makul pagi jam berapa?" tanyanya di sela memakai baju yang baru saja pria itu ambil dari lemarinya.


"Setengah sembilan," jawab Inggit tanpa mengalihkan tatapan.

__ADS_1


"Nggit!" serunya sekali lagi.


"Apa sih, pagi-pagi berisik banget!" Inggit menyorot kesal.


"Bantuin, rapihin kancing kemeja aku," pintanya ngarep diperhatikan.


"Ogah!" Inggit meninggalkan kamar begitu saja, dan langsung bergabung di ruang makan. Mama dan Papa sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.


"Sayang, bantuin." Tiba-tiba Biru menyusulnya dengan merengek lebay. Inggit ingin menyela dan marah tapi tak enak hati ada Mama dan Papa mertuanya di sana.


Ini orang kesambet apaan sih manja banget, awas aja kalau bertingkah, dasar kang modus!


"Iya sayang, sini aku bantuin," jawab Inggit dengan senyum kepaksa, mendelik kesal saat sudah ada di hadapan suaminya.


"Makasih," jawabnya tersenyum tanpa dosa. Tubuhnya sedikit membungkuk dan hendak mendaratkan kecupan. Inggit langsung mengancam dengan mengangkat kepalan tangan. Biru terkekeh sendiri, mengalihkan rencananya dengan mencupit hidung istrinya dengan gemas.


"Kamu berkali lipat menggemaskan kalau sewot kaya gini." Inggit bergeming, kembali dengan posisi duduk di bawah tatapan mertuanya yang terus menatapnya dengan senyum penuh arti. Mereka sarapan dengan diam, dan suasana mendadak canggung.


"Sayang, sering-sering menginap di sini ya?" pinta Mama yang dibalas anggukan kecil. Mereka berpamitan ke kampus dengan motor yang sama.


"Al, gue turun depan halte dekat kampus ya?" ujar Inggit.


"Kenapa?" tanyanya mulai tak suka.


"Kok kenapa sih, ya gue nggak mau ada gosip yang beredar tentang kedekatan kita, aneh aja kalau gue dan elo tiba-tiba bareng."


"Kalau gue nggak mau, gimana?"


"Harus mau lah, kita kan 'diam-diam married' jadi mengikuti cara gue lebih aman."


"Segitu takutnya ya jalan sama orang ganteng."


"Iya, takut jadi bahan ghibah seantero jagat kampus."


"Percaya sih, secara 'kan gue ini tampan, mapan, tajir dan baik hati serta tidak sombong."


"Serah lo deh, ngomong apa, yang jelas gue nggak mau pernikahan kita tersebar di kampus tercinta ini."


Biru manggut-manggut tapi ia sama sekali tidak berinisiatif menurunkan Inggit di depan halte, Biru bahkan sudah sangat siap publish tentang hubungan mereka.


"Al, gue udah bilang turun di depan kenapa sampai sini sih," omel Inggit seraya membuka helmnya. Biru menurunkan di depan parkiran gedung fakultas.


"Selamat belajar bestie .... " ucapnya tersenyum lembut.


"Kok kalian bisa barengan?"

__ADS_1


__ADS_2