
"Berangkat Nggit, jangan bengong, ingat semboyan kita, berdua lebih baik, lebih hemat dan harmonis." Tangannya bergerak mengacak rambut Inggit dengan pelan.
Alih-alih bisa mangkir dan menjauh dari pria itu, Inggit malah terjebak dalam kedekatan yang sengaja diciptakan Biru. Gadis itu masih tidak habis pikir, apa yang menyebabkan pria itu kini suka mengulik hal pribadinya. Apakah ada rasa cinta? Inggit rasa, play boy memang menggoda, tapi tentu saja Inggit tidak berniat tertarik dengannya, apalagi semenjak awal sifat pria itu menjengkelkan, tentu saja Inggit membentengi diri, agar hatinya tidak terpaut dan jatuh dalam pesonanya. Jujur Inggit benci, dan sekarang pun kalau ditanya, Inggit lebih benci, mengapa perasaan itu mulai kacau semenjak pria itu selalu bersikap seakan memedulikan dirinya. Inggit benci dengan hatinya yang mulai goyah.
Setelah perdebatan sengit keduanya yang tak berujung, Inggit memperbolehkan mengantar dirinya, walaupun sebenarnya ia malas, tapi waktu memaksa ia harus segera datang.
Biru memperhatikan Inggit yang baru saja berganti pakaian, pakaian renang Inggit cukup sopan, bukan yang terbuka sana sini, Diam-diam Biru pun bernapas lega, entah mengapa pria itu tidak nyaman dan tidak suka, atau lebih tepatnya tidak rela tubuh seksi istrinya dinikmati banyak orang. Pria memang seegois itu, coba tanyakan pada yang pria? Benarkah?
Oke, kembali ke topik!
"Selamat sore adik-adik, bagaimana kabar hari ini?" Itu suara Okta, ia selama ini nyambi mengajar les renang untuk anak-anak kecil di tengah aktivitas padatnya dunia kampus.
"Luar biasa, istimewa!" koor semua anak-anak sebelum mulai masuk praktek.
"Hari ini, kakak bawa teman baru, kenalin ya ... namanya kak Inggit, dia jago banget renangnya, jadi ... nanti kalian bisa minta bantuan kak Inggit juga, oke!" seru Okta semangat.
"Siap! Hallo kak Inggit, salam kenal," sapa seorang anak yang diikuti yang lainnya.
Sesi perkenalan cukup singkat, rupanya di sana bukan hanya Okta dan Inggit yang melatih, tapi ada beberapa rekan lainnya. Satu jam berlalu, Biru menanti dengan sabar, pria itu terus mengawasi gadisnya dari jangkauannya. Ia sengaja mengambil duduk dari arah yang paling fleksibel. Inggit terlihat serius, mengajari anak-anak seusia TK itu dengan telaten. Ia mengambil banyak gambar di sana. Tiba-tiba halunya mulai bersarang, di mana membayangkan mereka tengah berenang bersama, tapi dengan anak mereka sendiri. Biru senyum-senyum kecil terus membayangkan itu bila terjadi.
Selesai kelas berenang, Inggit tak lantas mentas, ia terlalu asyik menikmati air di kolam. Bahkan gadis itu lupa kalau Biru masih menunggunya di sana.
"Nggit, pindah kolam dewasa yok, seru di sana, sekalian bisa cuci mata," celetuk Okta iseng.
"Boleh, gue juga masih ingin bermain." Setelah penat seharian rupanya berbaur dengan air adalah momen yang tepat.
"Lho, Inggit, di sini juga?" Seseorang tiba-tiba menyapanya. Inggit yang merasa tidak kenal, menoleh pada Okta untuk mencari tahu lewat tatapannya, namun perempuan itu menggeleng sebagai jawaban. Seakan tahu raut kebingungan Inggit, pria itu tersenyum tipis dan langsung menyela.
"Hai, sorry, gue Aldo, teman dekat Ares yang merangkap menjadi asisten pribadinya." Inggit tersenyum simpul, ia pernah beberapa kali bertemu, namun tidak begitu memperhatikan keberadaan pria itu.
"Sekarang Aresnya mana?" Okta malah terlihat begitu antusias.
"Kebetulan, akhir pekan kita sering menghabiskan waktu luang untuk sekedar have fun dan minggir dari kejenuhan. Jadi, Ares sedang ada di rumahnya, mungkin pria itu akan datang kalau tahu kamu di sini," jelasnya yakin, lebih tepatnya tertuju pada Inggit.
"Ngapain di sini, mau berenang juga?"
"Jemput Nara," jawab Aldo tersenyum. "Oke, have fun ya?" pamit Aldo lalu.
"Do, salam buat Ares dong," celetuk Okta malu-malu. Aldo mengangguk dengan senyuman.
__ADS_1
"Ehem, ada yang naksir nih kayaknya."
"Enggak lah, dia cowok able yang pernah gue temui, enak aja dilihat, baik, penyayang."
"Kok lo tahu banyak?" selidik Inggit menyipit.
"Jangan gitu lihatnya Nggit? Dia emang sering ke sini kalau akhir pekan, biasanya yang jemput si Nara juga doi, mungkin sibuk, mengingat nyambi kerja kantoran. Keren ya tuh anak, pekerja keras."
"Dia emang baik banget sih, berarti sama semua orang baik ya?" Inggit manggut-manggut ngerti.
"Nggak tahu lah, kalau sama semua orang, tapi kayaknya sih iya, terlalu manis untuk dilewatkan. Hahaha."
Inggit geleng-geleng kepala mendengar penuturan ceplas-ceplos Okta.
"Anjir! Lo beneran naksir Ares?"
"Nggak, cuma suka doang sama karakternya, suka bukan berarti naksir 'kan?"
"Iya juga sih, penjabarannya banyak." Inggit menghentikan langkah kakinya. "Ta, lo adalah orang kedua yang tahu hubungan gue dengan Biru, tolong jangan ember dulu ya, gue sebenarnya nggak siap buat publikasikan hubungan gue dengannya, gue bener-bener bingung."
"Lo tenang aja, gue orang yang cukup bisa dipercaya kok untuk menjadi tempat curhat." Mereka tersenyum bersama.
Biru yang semenjak tadi memperhatikan Inggit pindah kolam renang, pria itu langsung berinisiatif mengikutinya. Ia berinisiatif nimbrung dengan kegiatan mereka. Saat kembali dari ruang ganti, ia mendapati Inggit tengah berbincang hangat dengan seseorang, dengan Okta di antara mereka berdua, Biru langsung menghampiri setelah sebelumnya melakukan pemanasan kecil.
"Masih di sini? Katanya berangkat kerja?" Inggit menyorot penuh selidik.
"Nanti, petang aku berangkat, pingin berenang dulu sama calon ibu dari anak-anak ku," ucapnya mengerling.
"Cie ... ehem, yang udah halal, dikintilin terus," ledek Okta menggebu. Inggit memutar bola mata malas, menatap Okta lalu berkedip sebelah matanya, tanpa aba-aba ia mendorong tubuh Biru hingga pria itu nyebur di antara cewek-cewek yang lainya. Saat Biru jadi bulan-bulanan para ladies yang tidak dikenalinya Inggit ngakak di pinggir kolam.
"Jail banget lo sama suami sendiri," tegur Okta geleng-geleng.
"Biarin ajalah, biar dia seneng dikerubuti perempuan-perempuan itu," jawabnya enteng.
Biru yang berhasil menepi setelah mendapat bulan-bulanan tak terduga, menarik istrinya agar nyemplung bersama.
"Nggak mau, aku mau pindah tempat, kamu ngapain sih ngikutin aku?" protesnya kesal.
"Pingin berenang bareng bidadari surgaku, gimana kalau kita balapan, yang menang boleh nyuruh nglakuin apa saja dalam satu minggu selama di rumah!" tantang Biru. Inggit terdiam sesaat, ia belum tahu persis pria itu mahir atau malah sebaliknya.
__ADS_1
"Nggak berani ya? Ah cemen, aku yang nggak jago aja berani," ucapnya sengaja membuat pancingan.
"Oke siapa takut." Inggit merasa tertantang. Okta yang menjadi jurinya. Keduanya tengah bersiap, di manapun berada, pasangan halal itu pasti bersiteru.
"1 2 3!" Okta berseru di garis star. Inggit mengerahkan semua tenaganya, ia akan mengalahkan Biru, satu minggu membuat pria itu tertunduk dengan omongannya akan sangat seru, bayangan itu terpatahkan saat sampai garis finish menemukan Biru sudah sampai di ujung sana.
"Ihk ... curang, kamu pasti separo arah belok ya?" tuduhnya mrengut.
"Nggak lah, sportif banget malah, tanya tuh Okta," jawabnya tersenyum bangga.
"Capek ah, mau udahan." Inggit berujar mentas, namun Al menahannya. Ia menarik tangan Inggit dan memeluknya.
"Tantangannya mulai dari sekarang, selama satu minggu kamu harus nurut sama perintah aku," ujar Biru seraya membingkai wajah gadis itu, suasana mendadak diam, Okta pun meninggalkan pasangan halal itu menikmati waktu.
"Apaan sih, nggak mau!" jawab Inggit mengalihkan tatapannya.
"Inggit, tatap mata aku, coba kamu lihat lebih dalam, kalau kamu tidak mampu melakukannya berarti kamu cinta sama aku tapi menyangkalnya."
"Apaan sih, ge er banget, siapa yang suka sama cowok nyebelin kaya kamu."
"Oke, berarti nggak masalah dong, kalau aku minta kamu tatap mata aku, tiga puluh detik saja kamu bisa melewatinya, aku anggap omongan kamu benar."
Inggit paling tidak suka diremehkan, ia lekas menatap pria itu. Tatapan mereka terus bertemu, momen yang paling langka, di dalam kolam renang, dengan jarak mereka sejengkal napas dengan saling bertukar pandang.
5 detik aman, 10 detik, Inggit mulai gusar, ada perasaan aneh yang muncul di relung hati terdalamnya, 15 detik, terasa berjalan melambat, dadanya berdegub lebih kencang dari normalnya. 20 detik, Inggit semakin merasa waswas, dan tidak enak dengan praduga seonggok daging yang mulai nglunjak. Entah mengapa, mendadak baper, dan terhipnotis dalam suasana yang mengiringi. Tanpa sadar adegan uwu tersebut diabadikan Okta yang berniat menghampiri, gadis itu sudah mentas sedari tadi dan mengganti pakaiannya dengan yang kering.
25 detik, Inggit seakan menyerah, namun sesaat ia merasakan kakinya mulai terasa kram dan dingin melanda.
"Aku mau minta kamu mengabulkan hadiah tantangan yang kedua," ucapnya seraya mengikis jarak. Biru hampir saja mempertemukan bibir mereka sesaat terjeda karena Inggit mengeluh rasa kram di kakinya.
"Kaki aku, kram," keluh gadis itu mengaduh, Biru langsung membantu Inggit keluar dari kolam renang. Ia memeriksa dengan cekatan, setelah beberapa saat memberikan pijatan lembut pada telapak kakinya.
"Masih nyeri, coba gerakin?" Inggit mengangguk kecil. Biru langsung mengangkat tubuh gadis itu ke ruang ganti.
"Masih sakit, nggak?" cemas, ia meneliti istrinya yang hanya diam.
Inggit menggeleng.
Tbc
__ADS_1
.
Sedikit info gaes ... buat kalian yang menantikan squel dari ONS With Dosen udah launching gengs ... ayo kepoin cari author Asri Faris, atau klik judulnya "Noktah Merah"